The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 67



Abram menjalin kedua tangannya di dada, hampir tujuh tahun mereka berpisah pemuda berkulit biru itu menyadari pertumbuhan Khaii yang begitu signifikan. Tinggu badan pemuda berambut putih itu melebihi dirinya, bahkan menyamai tinggi ayahnya sendiri Gorg.


Khaii melemparkan senyumannya kepada keponakan sekaligus sahabatnya itu, dia mendekatinya lalu memeluknya. “Apa kabarmu sobat? Sepertinya kau butuh asupan ikan trout lebih banyak agar tubuhmu itu bertambah tinggi” Goda Khaii sambil menepuk pundak Abram.


“Hei! Kau baru saja tiba di permukaan tetapi sudah berani menghinaku! Dasar mahluk aneh” Balas Abram, lalu membuang mukanya dihadapan Khaii. Tak bisa dipungkiri memang penampilan Khaii terlihat aneh di matanya, pemuda bertelinga runcing itu mengenakan pakaian yang ketat hingga memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang sempurna.


Khaii terkekeh melihat tingkah pemuda berkulit biru tersebut, dan menyadari tatapan matanya meski hanya sekilas. “Apa? Kau tergoda dengan penampilanku?”


“Hentikan kalian..” Hira menghampiri keduanya, lalu memakaikan jubah untuk Khaii. Terlalu lama membiarkan keponakannya itu dengan pakaian ketatnya, bisa-bisa membuat para gadis yang sejak tadi berusaha untuk mencuri pandang darinya semakin tidak fokus mengerjakan tugasnya.


“Apa yang sebenarnya terjadi dengan ibumu Khaii?” Kehadiran Gorg kedalam ruangan dimana sang anak berada, telah membuat suasana menjadi lebih menegangkan.


Gorg baru saja mendapatkan informasi dari Dhar mengenai batu kristal merah yang diberikan oleh sang anak kepadanya beberapa saat yang lalu, pria besar itu tidak habis pikir darimana datangnya benda aneh itu hingga bisa berada didalam tubuh Zaya.


“Sepertinya seseorang telah menaruhnya disana, untung saja energi biru yang ada dalam tubuh ibu telah berhasil menahan pengaruhnya”  Khaii menggerakkan tangannya, seketika muncul gambar virtual dari alat yang melekat pada lengan bajunya. Disana dia memeperlihatkan asal muasal batu merah tersebut, dan hal itu semakin membuat sang ayah tak percaya.


“Itu lokasi dimana mahluk terkutuk itu terkurung selama ini! Bagaimana mungkin Khaii?!”


“Ibu berbagi DNA dengannya ayah, segala sesuatu mungkin saja terjadi..”


Baru saja pemuda tampan itu akan melanjutkan pembicaraannya dengan sang ayah, tetapi seruan dari pasukan revolusi membubarkan mereka. Para serigala pun melolong dan hewan-hewan yang lain pun mulai terlihat gelisah.


“Salah satu pilar telah hancur yang mulia!”


Jauh di planet yang berbeda, tepatnya diantara Mars dan Neuro, disebuah planet kecil nan gelap sekelompok orang tengah mengerahkan seluruh energinya untuk membuka perisai yang menyelimuti sebuah pulau terisolir di sebuah planet besar dimana klan serigala serta bangsa Sinth dan sekutunya bermukim.


Bertahun-tahun mereka telah berupaya untuk menemukan cara agar bisa membebaskan sesosok mahluk yang mereka jadikan sebagai panutan! dan kini setelah mereka berhasil menemukan sebuah cara untuk membuat portal menuju tempat tersebut, mereka pun mengerahkan seluruh kekuataannya untuk membebaskan The One serta tentara black ronin.


“Bangunlah yang mulia! Bangunlah para tentara kegelapan!” Seru seorang wanita berjubah hitam yang berdiri tepat ditengah-tengah lingkaran orang-orang berjubah di puncak gunung berbatu disana.


Bersamaan dengan itu, sebuah pilar di pulau yang selalu dihantam ombak besar itupun roboh.


“Biarkan mereka bangun ayah!” Khaii mencoba untuk menghentikan aksi sang ayah yang sedang berusaha untuk menghubungi kapal induk kyang selalu setia mengelilingi orbit Neuro.


“Percayalah padaku ayah! Untuk apa kau mengirimku ke Colloseum jika kau tidak mau mendengarku?!”


Gorg menghela nafasnya kasar, andaikan saja Zaya sudah bangun dari tidurnya mungkin saja dirinya tidak akan sepanik ini pikirnya. Wanita yang sangat di cintainya itu selalu tahu bagaimana cara menenangkan dirinya dalam kondisi seburuk apapun!


“Percayalah ayah…Aku mohon” Sekali lagi Khaii meminta kepada sang ayah untuk mau mendengarkan perkataannya. Pemuda itu tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan seluruhnya kepada ayahnya itu, mereka tengah berpacu dengan waktu saat ini.


Enam tahun lebih Khaii berada di Colloseum dan mendapatkan gemblengan dari kedua mahluk kuno yang hidup disana, membuatnya cukup paham dengan apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi mahluk mengerikan itu. Dan untuk meleyapkannya dari alam semesta ini dia harus membiarkan mahluk tersebut keluar dari persembunyiannya, sekaligus memancing keluar semua pengikut setianya.


Khai bahkan telah mengetahui dimana planet kecil tempat mereka berkumpul selama ini, dan ditempat itulah dia akan melenyapkan mereka semua.


Gorg terpaksa menarik kembali ucapannya dan meminta kepada seluruh pasukan revolusi untuk kembali ke tempatnya, tak lupa meminta mereka untuk menunggu perintah selanjutnya darinya.


“Ini yang akan kita lakukan ayah…”


Khaii pun mulai membuat rencana dan meminta kepada sang ayah serta para panglima tinggi untuk membuat strategi jitu bagi pasukannya dari rencana yang dia buat. Bagaimanapun disana masih ada mahluk hidup yang harus mereka selamatkan sebelum pada akhirnya nanti mereka menghancurkan planet tersebut.


“Kita harus bergerak lebih cepat sebelum pilar kedua berhasil mereka hancurkan” Pinta Khaii.


Saat paling tepat untuk memasuki planet tersebut adalah ketika mereka sedang melalukan ritual untuk menggabungkan seluruh kekuatan mereka. Selain musuh tidak akan menyadari kedatangan mereka kesana, pasukan penyusup pun lebih leluasa untuk melakukan aksinya.


“Dia masih dalam tahap pemulihan” Hira mengelus pundak keponakan besarnya, saat pemuda tampan tersebut tengah memerhatikan sang ibu dari balik jendela kaca.


“Sebentar lagi dia akan bangun…” Lanjutnya.


“Aunty, bolehkah aku meminta tolong padamu?” Khaii berbicara tanpa melepaskan pandangannya dari ibunda tercintanya.


“Jika sesuatu terjadi padaku, katakan pada ibuku bahwa aku sangat mencintainya” Khaii pun menoleh sesaat, lalu membuang kembali pandangan matanya.


“Kau harus mengatakannya sendiri kepadanya Khaii” Ucap Hira getir. Rencana yang telah lama dia susun bersama dengan suaminya Dhar dengan mencari orang-orang yang bernasib sama dengan Zaya dan sang kakak, akan dia pastikan sendiri keberhasilannya.


Diam-diam dirinya beserta pria berkulit biru itu telah menghubungi mereka semua dan meminta kepada mereka semua untuk datang dan menunggu perintahnya di pesawat induk yang selalu setia mengelilingi planet besar tersebut.