The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 42



"Kemana kau akan membawaku?" Hira mengikuti Dhar dan tetap berjalan disampingnya, sejak tadi dirinya terus melangkahkan kakinya tanpa tahu arah tujuannya kemana.


"Ke suatu tempat, aku yakin kau akan menyukai tempat ini" Dhar menjawabnya dengan hanya menoleh sekilas ke arah gadis cantik tersebut, dia bukan tidak suka kepada Hira, tetapi dia tidak kuasa menahan sejuta rada dihatinya.


Hira hanya menghela nafasnya secara perlahan, dia tidak mau Dhar menyadari kesalahannya karena sejak tadi hanya jawaban itu yang diberikan oleh pria berkulit biru tersebut. Selama hidupnya di kedalaman planet ini dirinya bahkan sudah sangat hafal dengan seluk-beluk tempat ini, tempat mana lagi yang Dhar maksud? Pikirnya.


Hingga tiba di suatu tempat yang Hira sudah ketahui, Dhar menghentikan langkahnya lalu menyodorkan kembali tangannya ke hadapan gadis itu. Di perjalanan tadi Hira melepaskan genggaman tangannya karena merasa malu.


"Percayalah, bukan tempat ini yang aku maksud"


"Lalu?" Hira mengerutkan keningnya, dan dengan terpaksa menyambut kembali genggam tangan milik Dhar.


Dhar hanya menjawab dengan lirikan matanya yang mengarah kedalam celah diantara pepohonan dan bebatuan dihadapannya, meski Hira sempat merasa ragu tetapi pada akhirnya dia mengikuti langkah kaki Dhar memasuki celah sempit tersebut. Hira tidak menyangka jika dibalik celah tersebut ada sebuah lorong yang cukup luas untuk mereka lalui, selama ini dia hanya mengira jika dibalik celah tersebut hanya terdapat akar dari pepohonan yang tumbuh didepannya.


Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang serta gelap dan berliku, mereka akhirnya tiba di suatu tempat. Dan Dhar benar, Hira sungguh menyukai tempat ini bahkan dari awal pertama kali dia melihat cahaya dari ujung lorong tersebut.


Hira menutup kedua matanya sambil menghirup udara segar disana, dia pun membiarkan angin semilir menerpa wajah cantiknya. Sementara Dhar memanjakan dirinya dengan menatap Hira dari sampingnya, dengan senyuman manis terlukis diwajahnya.


"Indah sekali...Sejak kapan kau mengetahui keberadaan tempat ini Dhar?" Hira membuka matanya dan mendapati wajah Dhar dihadapannya, gadis itu bahkan tidak sempat mencegah Dhar saat pria itu menautkan bibirnya dengan menarik lehernya terlebih dahulu.


Hira sempat menolak dengan tidak memberikan akses kepada pria biru tersebut saat pertama kali bibir mereka beradu, ini merupakan pengalaman pertama baginya. Tetapi akhirnya dia membiarkan Dhar melakukan apapun yang diinginkannya dan memutuskan untuk menikmati setiap sentuhan Dhar pada bibirnya.


Terjawab sudah kerisauan hati Hira selama ini, dia sempat mengira jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan karena sikap Dhar yang tak acuh setiap kali dirinya berada dekat dengan pria pujaan hatinya itu.


"Aku...." Hira kembali dilanda keraguan saat dirinya akan mengutarakan isi hatinya kepada Dhar, saat pria tersebut mendekatkan kedua kening mereka.


"Aku mencintaimu Hira...Sejak pertama kali kita bertemu..." Ucapnya dengan mata yang tertutup, Dhar benar-benar menikmati kebersamaan mereka saat ini. Dia membiarkan semua rasa didalam dadanya menjalar ke setiap bagian dalam tubuhnya, dan berharap agar gadis yang ada didalam dekapannya saat ini pun dapat merasakan sensasi nya.


Cahaya kebiruan mulai memancar dari tubuh Dhar dan menyelimuti keduanya, Hira melenguh saat bilur-bilur dari cahaya tersebut menembus tulang belakang nya hingga tanpa sadar taring pada rongga mulut nya keluar dan menyakiti pria biru tersebut. Tetapi Dhar seakan tidak perduli dengan luka kecil pada bibirnya, dan terus menyatukan diri mereka hingga prosesi tersebut berakhir.


Dhar tahu jika cahaya kebiruan itu sampai muncul dan menyelimuti keduanya, itu artinya Hira adalah pasangan sejati nya. Apalagi hingga menembus bagian-bagian tubuh gadis itu, untuk itulah dia tidak akan mengakhiri ritual tersebut hingga cahaya itu benar-benar menyatu dengan setiap sel dalam tubuh Hira. Begitu pula sebaliknya.


Saat Hira mengeluarkan taringnya dan melukai bibir Dhar, sebenarnya dia sedang memasukkan bisa kedalam tubuh Dhar. Sama seperti saat Gorg menggigit bagian tubuh Zaya, bedanya Zaya akan mengalami sakit yang luar biasa pada tubuhnya tetapi tidak bagi Dhar. Justru Hira lah yang akan merasakan sakit yang luar biasa pada tubuhnya, apalagi saat gadis itu mengalami perubahan pada bagian-bagian kulit nya.


Dhar tetap mendekap tubuh Hira saat garis-garis biru mulai bermunculan pada permukaan kulit tubuh serta wajah gadis itu, dan tetap memancarkan cahaya kebiruan dari tubuhnya untuk membantu Hira melawan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Dimana anak gadisku Xi?!" Khan tahu jika kemunculan Gorg serta Dhar kali ini akan membuat kedua anak gadis dalam keluarga nya menghilang, dan untuk Hira pastilah anak sulung tabib tersebut yang bertanggung jawab atas hilangnya anak tersebut.


"Aku tidak tahu yang mulia" Kilah Xi, sebenarnya dia hanya tidak tahu bagaimana caranya memberitahu pria besar dihadapannya tanpa membuat nya semakin marah.


"Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui keberadaan mereka Xi?! Bukankah kau mempunyai kemampuan untuk merasakan keberadaan mereka saat ini??!" Khan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah tabib tersebut dengan tatapan tidak percaya.


Selama ini bahkan semut dalam lobang sekecil apapun dapat diketahui oleh Xi, apa maksudnya dengan berkata tidak tahu? pikirnya.


"Sebaiknya kita menunggu kedatangan mereka sayang, mungkin Xi membutuhkan sedikit waktu untuk bisa menemukan keberadaan mereka disaat energi biru semakin membesar" Seren terpaksa membantu Xi kali ini, sebagai seorang ibu dia lebih bisa merasakan apa yang sedang dialami oleh Hira saat ini. Dan hal tersebut tidak mungkin bisa dicerna oleh pemikiran Khan, suami besarnya.


Dan benar saja, tak lama berselang kedatangan dua pasang mahluk berbeda bangsa dan suku itupun disambut meriah oleh kedua keluarga besar disana. Gorg berjalan beriringan dengan Zaya dan Dhar bersama dengan Hira dengan perubahan besar pada diri mereka masing-masing!


Gorg dan Zaya dengan pupil matanya yang telah berubah warna menjadi biru, sama seperti pupil mata yang dimiliki oleh bangsa Amarath dan Omarath. Sementara Hira dengan motif biru pada tubuh dan wajahnya mirip loreng pada harimau dan Dhar dengan taring baru menghiasi deretan gigi putihnya.


"Demi roh agung!" Cicit Khan, pria besar itu masih belum bisa membayangkan apa jadinya jika seluruh klan serigala memiliki pasangan dari bangsa Shint. Mungkin mereka semua akan terlihat menggemaskan seperti anak gadisnya saat ini, dan tidak lagi menyeramkan seperti biasanya.


"Owh ayolah sayang, kau tidak perlu berpikir terlalu jauh seperti itu" Kekeh Seren, sambil mendorong tubuh besar nya itu agar mereka turut menyambut kedatangan kedua pasang mahluk tersebut.