The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 16



Damian berdiri di ambang pintu dan melihat semua kekacauan yang terjadi didalam rumah wanita yang masih dia anggap sebagai selirnya itu, pria tampan berbalut pakaian diplomat lengkap tersebut memasuki rumah mungil itu serta menuntut jawaban dari Melinda yang tengah ditemani oleh seorang wanita tua disana.


Untung saja Siron sudah terlebih dulu pergi meninggalkan rumah itu, jika tidak keributan pasti akan terjadi disana. Dan itu akan membuat Melinda merasa malu di hadapan Petunia.


“Sebaiknya aku pergi, kau boleh mengirimkan pesanan ku nanti sore sayang” Ucap Petunia , lalu meninggalkan keduanya disana. Suasana canggung yang terjadi membuat wanita tua itu lebih memilih untuk pergi ketimbang harus tetap berada disana dan menyaksikan pertengkaran yang akan terjadi.


“Baik Petunia, maafkan atas apa yang terjadi…” Melinda mencium pipi kanan dan kiri wanita tua itu.


“Tidak apa-apa Melinda sayang, jangan sungkan…Selamat datang tuan Damian” Petunia mengangguk dan menyilang kan tangan kanannya ke hadapan Damian lalu pergi meninggalkan ruangan kecil setengah rapih tersebut.


“Kau belum menjawab pertanyaan ku Melinda, katakan padaku apa yang telah terjadi di sini?” Damian kembali mengarahkan perhatiannya kepada Melinda setelah membalas penghormatan yang diberikan Petunia kepadanya dan setelah memastikan wanita itu telah pergi serta menutup kembali pintu rumah kecil tersebut.


“Tidak apa-apa Damian..” Kilah Melinda lalu merapihkan kembali meja dan kursi didekatnya. “ Sebaliknya, apa yang sedang kamu lakukan disini?” Lanjutnya, berusaha untuk tidak terlalu memperhatikan keberadaan Damian.


“Jangan berkilah Melinda, kau tahu benar kalau  kau tidak akan pernah bisa berbohong di depanku” Damian meraih tangan Melinda saat wanita itu akan meninggalkannya untuk pergi ke dapur.


“Siron baru saja pergi dari sini, apa kalian tidak bertemu tadi? Atau ini semua merupakan rencana kalian?” Kali ini Melinda memberanikan diri untuk membalas tatapan mata tajam milik pria yang dulu sempat menjadi suaminya itu.


“Apa maksud ucapan mu?! Dan berani-beraninya kau menatapku dengan cara seperti itu!” Damian mengeratkan genggaman tangannya dari lengan Melinda hingga membuat wanita itu meringis menahan sakit.


“Kau sudah mendengar ku tadi Damian, istri kesayanganmu itu baru saja meninggalkan rumah ini! Dia mencari mu kemari dan dia bilang jika kau tidak pulang sejak semalam dan menemukan ini di kamarmu! Apa kau sudah puas?!” Melinda mencoba untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan Damian, tetapi rasanya itu percuma karena pria tampan itu malah menariknya kembali.


“Siapa yang kau bilang istri kesayangan Melinda?” Damian menurunkan kembali intonasi suaranya setelah dia mengambil foto itu dari tangan selir kesayangannya.


“Sudahlah Damian, tinggalkan aku sendiri…” Melinda mengurungkan niatnya untuk meneruskan kembali pekerjaannya di dapur, wanita itu memutuskan untuk pergi ke kebun dan memetik beberapa jenis sayuran dan akan mengirimkannya langsung kepada Petunia.


Melinda berharap kepergiannya akan membuat Damian bosan hingga pria itu memutuskan untuk pergi meninggalkan rumahnya, dia tidak mau berada dekat dengan pria yang masih membuat jantungnya berdegup kencang ketika berada dekat dengannya.


“Kau akan selalu menjadi wanita kesayanganku mahluk bumi” Batin Damian. Pria itu memang tidak pernah berniat untuk pulang dalam waktu dekat, dia memutuskan untuk menunggu Melinda di kamarnya dan beristirahat disana.


“Demi roh agung! Aku di perintahkan untuk menghadap panglima tinggi!” Pekik Zaya, gadis itu terbangun dari tidurnya karena sebuah pemberitahuan dari AI virtual yang ada di atas mejanya.


Dia melihat jam menunjukan pukul 7.15 menit, itu artinya dia hanya mempunyai sedikit waktu untuk bersiap karena pada pemberitahuan yang didengarnya panglima Gorg memintanya untuk menghadap pada pukul 7.00 di ruangannya.


Zaya hanya mencuci mukanya lalu menggosok giginya dan secepat mungkin mengenakan seragam lengkapnya, gadis itu bahkan tidak ingat dengan sarapan pagi rutinnya. Dia berlari secepat mungkin setelah keluar dari dalam kamarnya menuju  lift yang akan mengirimnya ke ruangan Gorg di lantai paling atas di sayap selatan.


“Zaya telah tiba panglima” Dhar memasuki ruangan itu bersama dengan Zaya yang berjalan dibelakangnya.


Zaya melakukan penghormatan penuh kepada Gorg dan menyapa panglima tingginya tersebut dan meminta maaf karena telah lancang  dengan datang terlambat dan membuatnya menunggu.


“Permintaan maaf dikabulkan” Ucap Gorg dengan suara beratnya. “ Apa kau pernah menerbangkan sebuah Shinuk?” Lanjutnya setelah dirinya kembali ke kursinya dan memutar kursi tersebut hingga membelakangi Zaya, sebelum gadis itu menyadari kecanggungan yang dirasakan olehnya.


“Hanya dalam simulasi yang mulia” Ucap Zaya tanpa ragu. “Apa anda ingin saya menerbangkan sebuah Shinuk?” Lanjutnya.


Pesawat tempur berjenis Shinuk adalah pesawat jet dengan teknologi paling tinggi, tidak banyak ksatria yang bisa menerbangkan pesawat ini karena kerumitan pada sistem pengoperasian dan persenjataannya. Dulu Zaya sempat belajar menerbangkan pesawat ini meski hanya dalam sebuah simulasi, dan ternyata dulu dia masuk dalam jajaran para kesatria yang berhasil menerbangkannya dengan baik.


“Kau akan menggantikan perwira tinggi ku selama satu minggu, dan kau akan menerbangkan pesawat itu bersamaku dimulai saat ini” Jawab Gorg dari balik kursinya. Andai gadis itu tahu saat ini dirinya tengah menahan sekuat tenaga keinginannya untuk mengendus pheromones miliknya pikir Gorg.


“Pergilah dan siapkan pesawat ku”


“Baik yang mulia, saya undur diri” Zaya mengangguk serta menyilang kan tangan kanannya di dadanya, lalu memutar tubuhnya untuk meninggalkan ruangan tersebut menuju hangar dimana pesawat sang panglima berada.


Gorg menyadari bahwa rasa menggelitik yang selama ini hadir di jantungnya kembali terasa saat berada dekat dengan Zaya, dia sudah bisa menyimpulkan bahwa saat pertama kali dirinya merasakan keanehan di dadanya itu adalah saat pertama kali dirinya mencium Pheromones yang sudah pasti berasal dari tubuh Zaya.


“Aku hanya harus memastikan tanda di tengkuk lehernya” Batin Gorg, lalu mencoba untuk menetralkan kembali irama jantungnya sebelum dirinya terbang bersama dengan gadis itu menuju sebuah tempat.


“Apa kau sedang menguji kekuatanmu Gorg?” Dhar menghampirinya dengan sebuah mantel yang akan dikenakan pria gagah tersebut lengkap dengan senjata andalannya, sebuah pedang besar dan senjata laser berkekuatan tinggi yang juga berukuran besar.


“Kau tidak memberikan aku pilihan lain pria biru, hanya cara ini yang ada di pikiranku saat ini” Gorg menyeringai, lalu meniggalkan Dhar yang sedang menggelengkan kepalanya.


“Semoga roh agung melindungi kalian” Batin Dhar.


Zaya telah bersiap di kursinya saat Gorg memasuki pesawat tersebut, tanpa basa-basi pria yang terkenal penyendiri itu mengucapkan sebuah koordinat. Disaat bersamaan gadis itu pun mulai menggerakkan jemari tangannya di atas layar dan memasukan titik koordinat yang diucapkan oleh Gord padanya “ Pesawat siap untuk meluncur, menunggu perintah dari AI” Ucap Zaya, lalu menekan tuas yang ada dihadapannya.


Tak lama suara AI terdengar didalam pesawat berjenis Shinok itu dan mengijinkan benda itu untuk meninggalkan hangar.


“Yang mulia, apa kita akan pergi ke planet Mars?”