
Beberapa bulan setelah peristiwa besar itu…
Kondisi Mars sekarang sudah hampir pulih, semenjak para Homobien mengambil alih kembali planet mereka dan mengatur ulang seluruh tatanan kehidupan disana, para penduduknya mulai menjalani kehidupan yang tenang dan tentram. Tidak ada lagi aturan pemerintah yang mengharuskan seorang pria memiliki istri lebih dari satu, atau seorang perempuan akan terbuang jika melahirkan seorang anak perempuan.
Mordor menilai peraturan yang telah dibuat oleh para Sapiens itu sebagai peraturan yang konyol dan sangat merendahkan kaum laki-laki, dengan menjadikan kaum perempuan sebagai kesatria perang yang melindungi mereka.
Mahluk kuno tersebut bahkan saat ini telah memberlakukan sebuah aturan yang mengharuskan para laki-laki untuk pergi dari planet mereka untuk menemukan perempuan untuk dinikahi, dan memperbolehkan pria dari ras manapun untuk menikahi penghuni planetnya. Tidak ada lagi perbedaan ras yang akan menghalangi, ataupun masalah yang akan timbul karenanya.
Lalu bagaimana dengan nasib para istri yang sudah terlanjur dimiliki oleh Damian dan para petinggi sebelumnya?
Berbicara tentang Damian, meski saat ini dirinya telah kembali ke asalnya yakni sebagai budak dari bangsa Homobien, tetapi laki-laki yang ternyata berbangsa Sapiens itu sangat bahagia karena kini dia telah hidup bahagia bersama dengan Melinda di kediaman yang telah dia berikan kepada wanita itu sebelumnya. Meski dia bisa melihat sedikit perubahan kepada wanita yang dicintainya itu.
Melinda seringkali menghabiskan waktunya seorang diri didalam kamar mereka, dengan termenung hingga bergumam seorang diri.
“Apa yang terjadi denganmu sayang? Apa ini karena kau sangat merindukan Zaya?” Batin Damian, hal ini tidak bisa dipungkiri jika dirinya pun saat ini sangat merindukan anak gadisnya itu.
Sementara itu di planet Neuro,
“Sayang, apa kau akan menghabiskan semua grout panggang itu?” Gorg menelan saliva nya dengan susah payah, pasalnya Zaya belum lama ini telah menghabiskan satu ekor ikat trout panggang berukuran cukup besar. Untuk seorang wanita bertubuh mungil seperti dirinya, Zaya memiliki selera makan di atas rata-rata akhir-akhir ini.
Bukannya menjawab, Zaya malah menatap sang suami dengan tatapan yang sangat menusuk jantungnya. Di ambilnya daging paha yang baru saja terjadi di atas meja, lalu di makannya dengan sangat lahap.
“Sepertinya akan ada anggota baru dalam keluarga kita Khan…” Bisik Seren, ketika dia menyajikan satu gelas drum pada suami besarnya.
Khan tersenyum tipis ketika sorot matanya tertuju pada anak serta menantunya, dalam hatinya dia tertawa karena mulai saat ini anak sulungnya itu akan menghadapi drama terpanjang dalam sejarah hidupnya. Sama seperti yang dia alami dulu ketika Seren sedang mengandung kedua anaknya.
“Minum!” Zaya mengulurkan tangannya ke hadapan Gorg, gadis itu ingin agar sang suami mengambilkan gelas air minum yang jelas-jelas terletak didepannya.
Gorg berniat untuk mengingatkan sang istri tercinta yang akhir-akhir ini bertingkah sangat aneh, tetapi isyarat sang ibu telah menghentikan aksinya. Pria besar itu pun mengambil gelas tersebut dan menyerahkannya kepada Zaya, dengan seringai tipis di bibirnya. Tentu saja atas perintah tidak langsung yang diberikan oleh wanita itu.
Bukan hanya itu saja yang terjadi di meja makan siang ini, tak lama setelah Zaya menenggak habis air minumnya dia langsung tertidur pulas dengan kepala yang bersandar pada penyangga kursi dan mulut yang menganga. Hal ini tentu saja semakin membuat Gorg merasa gerah, kemana sikap manis Zaya selama ini? Pikirnya.
Khan menepuk bahu sang anak, lalu membisikkan sesuatu kepadanya.
“Kau tidak sedang mempermainkan aku kan orang tua?” Ucap Gorg setengah terkejut, lalu memindahkan tubuh Zaya secepat mungkin kedalam kabin nya.
“Apa yang terjadi?” Seren baru saja keluar dari dalam dapur dengan satu nampan penuh berisi ikan trout panggang, ketika dirinya melihat Gorg yang berjalan tergesa-gesa sambil membawa tubuh Zaya dengan kedua tangannya meninggalkan ruangan besar tersebut.
Baik Hira maupun Dhar hanya mengangkat kedua bahunya, ketika sang ibu memandangi keduanya. Mereka hanya mengulum senyuman lalu meneruskan kembali ritual makan siang bersamanya.
Tiba di dalam kabinnya Gorg meletakkan tubuh Zaya dengan sangat hati-hati, Dia tidak mau mengganggu Gorg kecil yang sedang tertidur didalam perut Zaya. Sang ayah telah memberitahunya jika didalam perut istrinya saat ini telah tumbuh benih cinta diantara mereka, dan dia pun telah memberi peringatan kepadanya agar jangan sampai membangunkan bayi mereka. Karena jika itu sampai terjadi, bahkan dewa perang pun tidak akan bisa menolongnya.
Gorg membersihkan wajah Zaya yang dipenuhi minyak serta bumbu dari grout panggang yang dia habiskan tadi, dilihatnya wajah cantik dan mungil tersebut lalu perlahan dia pun mencium kening, hidung serta bibirnya.
“Aku sangat mencintaimu Zaya, tak akan aku biarkan siapapun menyakitimu…”
Pria besar tersebut bermaksud untuk meletakkan kembali lap yang telah dia gunakan untuk membersihkan wajah sang istri, sebelum dia mendengar ocehan Zaya dalam tidurnya.
“Grout panggang…Tambahkan lagi grout panggang nya..”
Gorg menghela nafasnya panjang, lalu segera pergi meninggalkan Zaya untuk meneruskan kembali makan siangnya bersama dengan keluarga besarnya. Satu tindakan yang akan sangat dia sesali nantinya.
BRAK!
“Apa aku bilang tadi…” Khan menyuruh Gorg untuk kembali ke kabinnya, sebelumnya dia telah memperingatkan sang anak untuk tetap berada bersama dengan Zaya apalagi saat gadis itu terbangun dari tidurnya.
Glek!
Gorg terpaksa menelan bulat-bulat makanan yang baru saja sampai di mulutnya, dia bahkan tidak sempat menenggak minumannya karena harus secepatnya kembali ke tempat khususnya. Untungnya dia masih sempat mengambil sekantung muskus kesukaan Zaya dari tangan Seren sebelum meninggalkan tempat tersebut.
“Demi dewa perang!” Batin Gorg
“Berani-beraninya kau meninggalkan aku sendiri?!!” Geram Zaya, lalu melompat ke tubuh Gorg dan memukulinya. Untung saja pria besar itu bisa menahan bobot tubuh Zaya meski saat ini tenaganya telah bertambah berkali lipat.
Gorg hanya membiarkan Zaya melampiaskan amarahnya, karena sekuat apapun gadis itu tetap tidak akan berpengaruh banyak pada dirinya. Dia memilih untuk membuka bungkusan yang ada ditangannya, lalu mengambil satu buah makanan manis tersebut dan memasukannya kedalam mulut Zaya.
“Muskus!Hhhmmmmm…” Ucapnya, dengan mata yang terpejam. Kelezatan muskus buatan sang ibu mertua memang tidak ada tandingannya! Cita rasa perpaduan dari berbagai jenis berry hutan yang asam bercampur dengan sari bunga crisant yang manis serta aroma khasnya sangat disukai oleh Zaya. Dan ajaibnya selain memberikan rasa segar di mulutnya, makanan manis itupun bisa membuat Zaya kembali tenang.
“Owh no!” Pekik Zaya, saat gadis itu telah membuka kembali matanya. Pasalnya saat ini bukan hanya tatapan mata Gorg saja yang dirasa tengah mengincarnya, tetapi sesuatu yang mengganjal dibawah sana pun telah mengincarnya pula.