The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 57



Dhar dan Hira tiba dalam satu ruangan besar dimana terdapat tabung-tabung besar berisikan mahluk kuno dari bangsa Homobien, tinggi tabung tersebut mencapai lebih dari dua meter! Jika Hira perkirakan tinggi mereka kurang lebih hampir sama dengan tinggi badan orang-orang Amarath.


“Kita harus mencari dimana tempat untuk meletakkan batu kristal ini Hira” Dhar tetap memapah tubuh gadis dari klan serigala tersebut, dan melangkah lebih dalam lagi di ruangan itu.


Deretan tabung-tabung tersebut tertata begitu rapi, dengan mesin-mesin penyangga kehidupan berteknologi tinggi. Disini Dhar serta Hira bisa menebak betapa peradaban mereka sesungguhnya sudah sangat maju sejak dulu, tetapi apa yang membuat mereka malah memilih untuk tertidur? Ataukan seseorang telah membuat mereka tertidur selama ini?


Sepanjang jalan tadi keduanya melihat ada banyak relik peninggalan dari bangsa ini, disana Dhar bisa melihat bentuk mahluk yang sangat mirip dengan bangsa Amarath dan Omarath sedang memegang kristal bersama dengan salah satu mahluk dari bangsa ini. Pria berkulit biru tersebut bisa memperkirakan jika ketiga mahluk tersebut merupakan para pemimpin dari bangsa mereka masing-masing.


Tiba di ujung ruangan Hira dan Dhar dibuat kagum dengan satu tabung berukuran paling besar! Di ujung tabung tersebut, tepatnya pada bagian kepala tabung itu terdapat sebuah tempat berbentuk dan berukuran sama dengan kristal yang mereka bawa.


“Sepertinya disana kita harus meletakkan kristal biru ini Hira” Dhar meletakkan tubuh hira pada bagian kaki tabung itu, gadis itu harus menekan sebuah tombol saat Dhar meletakkan batu kristal itu disana.


“Jangan pernah bermimpi untuk melakukan itu!”


Dhar dan Hira dikejutkan dengan kedatangan Peet, dia menyandera pilot wanita yang membawa keduanya ke sana. Penghianat itupun tak hanya datang seorang diri, dia membawa serta seorang supreme leader bersama dengan pasukannya.


“Jadi kau yang selama ini selalu membocorkan pergerakan kami?” Dhar tetap melangkahkan kakinya mendekati ujung tabung tersebut meski perlahan, meski kecurigaannya terhadap pria tersebut telah lama dirasakannya tetapi pria berkulit biru itu ingin agar sang pengkhianat menunjukan batang hidungnya sendiri.


“Berhenti pria biru! Jangan pernah menguji kesungguhan ku!” Peet menekan belatinya ke leher sang pilot wanita, hingga membuat wanita itu meringis karena takut jika benda tersebut benar-benar melukainya.


"Jangan hiraukan aku!" Ucap sang pilot wanita dengan nafas yang tertahan.


Dhar terkekeh, selama hidupnya dia tidak akan pernah takut akan ancaman sebesar apapun meski hal itu mengharuskan jatuhnya korban. “Kau pikir aku takut Peet?? Jangan bermimpi…”


Peet memberikan isyarat kepada pasukan yang datang bersamanya agar mereka segera menyandera Hira, gadis itu dalam keadaan lemah saat ini. Tetapi mereka tidak tahu jika lemahnya seorang klan serigala tidak bisa diukur dari luka yang sedang di deritanya.


Hira berdiri secara perlahan, meski Peet sudah mengetahui tinggi tubuh gadis itu, tetapi tidak bagi seorang supreme leader dan pasukannya. Mereka menengadah dengan mulut yang menganga, sambil menatap wajah gadis yang sedang menatap mereka seraya menyeringai saat ini.


Dhar memanfaatkan situasi tersebut dengan baik, secepat mungkin dia mendekati ujung tabung tersebut dan menekan sebuah tombol guna membuka sebuah ruang kecil untuk batu kristal itu lalu meminta Hira untuk menekan tombol didekatnya.


“Sekarang Hira!”


Brak!


Sssshhhhh…..Ssssshhhhhh…..


“Tembak mereka!” Seru Peet. Dia pun mengarahkan tembakannya ke arah tabung tersebut, guna mencegah agar mahluk kuno itu tidak sampai terbangun dari tidur panjangnya, Setelah menembak mati sang pilot wanita didepannya.


Hira dan Gorg secepat mungkin membalas tembakan musuh untuk melindungi tabung tersebut. Keduanya berpencar guna mengecoh musuh agar Peet dan pasukannya menembaki mereka ketimbang menembaki tabung besar itu.


Diluar sepengetahuan mereka, satu persatu tabung tersebut terbuka dan memperlihatkan tubuh serta wajah dari mahluk kuno penghuni planet Mars tersebut. Perlahan bola mata mereka pun terbuka, dan langsung menarik kabel-kabel yang menempel di tubuh mereka masing-masing.


Dhar dan Hira tengah berlindung dari tembakan musuh, ketika tiba-tiba suasana perlahan menjadi hening setelah keduanya mendengar teriakan musuh. Mereka pun keluar dari persembunyiannya secara perlahan-lahan, dan menyaksikan secara langsung terlepasnya kepala Peet dan sang supreme leader dari tubuh mereka masing-masing.


Sepasang mahluk beda bangsa itu menahan nafasnya seketika setelah semua homobien menoleh kearahnya, lalu memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya ke arah mereka. Dhar tahu saat ini dirinya dan Hira sedang dalam keadaan terancam, para Homobien itu tidak bisa membedakan mana musuh dan mana yang bukan.


“Tunggu!” Seru Dhar dengan menggunakan bahasa suku Amarath, seketika mereka pun menghentikan langkahnya.


Perlahan Dhar merogoh kantung dari kulit grout pemberian Gorg dari balik jubahnya, lalu mengambil isinya dan menunjukkannya ke arah mereka.


“Kami di utus oleh bangsa Amarath untuk membangunkan kalian” Kali ini Hira yang berseru kepada mereka, tentunya masih dengan menggunakan bahasa suku berkulit abu-abu itu. Perlahan gadis itu pun melangkahkan kakinya mendekat kembali ke arah tabung dimana pemimpin mereka masih asik dalam tidurnya, lalu membuka kembali ruang kecil dimana kristal biru itu berada. “ Energi biru..” Ucapnya.


Para pemberontak yang masih berada di planet Mars dan sebagian pasukan revolusi yang berhasil memasuki lapisan udara planet itu tengah berjibaku melawan musuh yang jumlahnya semakin banyak, saat tiba-tiba saja pesawat-pesawat tak dikenal terbang di atas mereka menembaki para musuh yang terdiri dari pasukan kesatria daratan pimpinan seorang Supreme leader dan pasukan Black Horn di sekitar kawah dimana Dhar dan Hira berada saat ini.


Rupanya sinyal SOS yang dikirimkan oleh mendiang pilot wanita tadi telah berhasil terkirim, sebelum akhirnya Peet dan pasukan musuh berhasil menyanderanya.


“Mereka berhasil!” Pekik salah seorang dari pasukan revolusi.


Mereka pun bersorak gembira menyambut bala bantuan besar yang kini hadir dan menghabisi musuh dengan mudah tanpa ampun..


.


.


"Apa kau bilang???!!!!"


"Mereka berhasil membangunkan para Homobien paduka" Seorang Supreme Leader berlutut dihadapan pemimpin tertinggi mereka.


The one semakin murka setelah menerima laporan tersebut, dia langsung menghilang dari hadapan para pengikut setianya dan memutuskan untuk menghentikan perjalanannya menuju Mars!


Mahluk mengerikan itu memerintahkan kepada para dark ronin untuk mengubah haluan pesawat induknya menuju planet Neuro, tidak ada gunanya lagi dia berada di Mars. Rencana besarnya di planet tersebut sudah dianggapnya sebagai sebuah kegagalan.


Dia tahu betapa kuatnya pasukan perang homobien dan berapa jumlah mereka sebenarnya, yang muncul ke permukaan hanya sebagian kecil dari bangsa kuno tersebut. Sementara yang masih tertidur jauh di kedalaman planet itu masih sangat banyak jumlahnya!


"Hancurkan mereka!! Hancurkan mereka!!!"