The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 13



"Perwira level 3... Baiklah, apa susahnya..." Gumam Zaya, gadis itu tengah menatap pantulan wajahnya di cermin.


Kata-kata Xande telah menjadi motivasi baginya untuk terus maju, keinginan nya untuk bisa bertemu dengan Gorg telah menjadi motivasi terbesar saat ini. Tidak ada maksud lain, Zaya hanya ingin berterima kasih kepada pria itu karena telah menolongnya.


Dan saat ini 6 bulan sudah berlalu semenjak Zaya bertemu dengan Xande, wanita itu telah merekomendasikan Zaya untuk dapat terjun langsung ke medan pertempuran karena prestasi dan kepiawaiannya dalam menerbangkan pesawat tempur dan strategi perang jitu nya.


Zaya tidak pernah mengetahui bahwa Xande telah menyerahkan data dirinya kepada para panglima tinggi dan dewan pertahanan untuk diangkat langsung menjadi seorang perwira 1 sejak dua bulan yang lalu, wanita berkulit pucat itu merasa jika orang-orang seperti Zaya ini sangat diperlukan di medan peperangan.


Pagi itu ketika Zaya akan bersiap untuk terbang ke sektor Z untuk berlatih kembali bersama dengan para kesatria lainnya, salah satu panglima tinggi memerintahkan kepada seluruh kadet dan instruktur serta komandan untuk berkumpul di aula.


Dari sekian ribu orang yang tergabung sebagai kadet, mereka hanya memanggil sekian ratus orangnya saja untuk turun ke lapangan dan mengangkat mereka sebagai perwira level 1.


Zaya yang dipanggil pada urutan terakhir harus menahan dirinya agar tidak berteriak kegirangan, lalu berjalan menuruni tangga untuk bergabung dengan para perwira baru lainnya dengan sikap layaknya seorang kesatria Phoenix.


Sementara dari atas podium sepasang mata tajam dari pria berambut panjang tengah menatapnya, Gorg sebenarnya enggan untuk menandatangani persetujuan pengangkatan Zaya karena bahaya yang akan dihadapi nya nanti. Tetapi hanya dengan cara itu dia bisa lebih cepat lagi bertemu dengan gadis itu.


Gorg bahkan sudah berencana untuk menempatkan Zaya pada posisi Ann Marrie kelak, menjadi perwira nomor satunya.


Para kadet diperintahkan untuk kembali ke sektor Z untuk berlatih hingga dua bulan berikutnya mereka akan diangkat menjadi perwira level 1 dan siap untuk diterjunkan ke medan perang, sementara para perwira baru diperintahkan untuk segera bersiap dan bergabung dengan para perwira level 2 untuk berperang melawan musuh.


Zaya dan para perwira baru lainnya langsung ditempatkan sebagai co-pilot bagi mereka, sebelum akhirnya nanti Zaya menerbangkan pesawat nya sendiri saat sudah berada di level tersebut.


Perwira tinggi Zaya saat ini bernama Bessara dari suku Babilon, dia merupakan mantan perwira level 1 untuk Xande dulu.


" Selamat Zaya, kau layak untuk mendapatkan nya" Ucap Xande sambil menepuk pundak nya.


"Terimakasih Xande, aku akan merindukan momen kebersamaan kita" Zaya memeluk wanita itu. Enam bulan bersama dengannya dan telah melalui banyak sekali rintangan di medan latihan, sedikit banyak telah membuat ikatan yang kuat dalam hubungan persahabatan mereka.


Kini Zaya harus menerima kenyataan bahwa dirinya pun akan berpisah dengan Xande karena harus menempati sektor barat bersama dengan para perwira level 1 lainnya.


"Hei...Jangan menangis, kita masih berada di satu stasiun...Kau bisa mengunjungi ku kapanpun, sektor barat sangat dekat Zaya" Xande mengelus punggung gadis itu, lalu mengurai pelukannya. Dirinya harus segera kembali ke pos nya dan memantau perkembangan kadet lainnya, dan Zaya pun harus segera terbang bersama dengan Bessara.


" Aku percaya kan dia kepadamu Bessara" Xande menyentuh kening gadis itu, lalu mereka saling memejamkan matanya.


"Aku mengerti Xande" Balas wanita berkulit pucat dengan bekas luka di keningnya itu, seketika mereka membuka kembali matanya.


"Apa kau sudah berbicara dengannya Dhar?" Gorg mengalihkan tatapannya kepada Bessara, kedua sahabat itu tengah memerhatikan Zaya serta kedua perwira nya dari ketinggian.


"Sudah panglima, setelah anda memilih seorang perwira untuknya" Dhar menunjuk gadis itu dengan gerakkan kepalanya.


Setelah Gorg menandatangani persetujuan pengangkatan level Zaya, Dhar langsung memanggil gadis itu dan berbicara dengannya. Tentu saja Bessara sudah terlebih dulu bertemu dengan Xande dan membicarakan Zaya dengannya, jadi ketika sang tabib memintanya untuk bersumpah tanpa pikir panjang gadis itu langsung menyanggupi nya.


"Hhmmm..." Gorg ingin sekali menyusul gadis itu dan bergabung bersama dengan para kesatria nya untuk berperang saat ini, tetapi dia harus mengurungkan niatnya karena sedikit saja keteledoran yang dia lakukan maka akan berakibat buruk pada banyak bangsa.


Ini bukan hanya menyangkut dirinya dan Zaya saja, tetapi menyangkut keselamatan dan kelangsungan hidup ketiga suku yang hidup tentram jauh di kedalam planet.


Entah seperti apa situasi disana saat ini, dulu saat dirinya meninggalkan tempat rahasia itu tempat tersebut sudah begitu maju. Tingkat intelejensi suku Amarath dan Omarath memang di atas rata-rata, pantas saja teknologi mereka menjadi rebutan banyak bangsa.


"Mengarahkan" Sambung Bessara sambil menekan beberapa tombol untuk mengaktifkan mode terbangnya


"Kau siap Zaya? Ini akan lebih menyenangkan dibandingkan menembaki monster-monster itu" Lanjut gadis berkulit pucat itu kepada Zaya.


"Lebih dari siap Bessara" Balas Zaya, seketika pesawat itupun melesat setelah keluar dari landasan.


"Mengubah mode pesawat menjadi otomatis" Zaya kembali menekan beberapa tombol, lalu melepaskan kemudinya setelah pesawat tersebut terbang secara otomatis.


"Tiga menit lagi kita tiba ditujuan, bersiap lah untuk menembak Zaya" Bessara mengaktifkan sistem persenjataan nya, sementara Zaya menarik tuas untuk melepaskan tembakan laser setelah dia menaikan kursinya.


"Aku sudah siap Bessara!" Seru Zaya.


Posisi Zaya saat ini sedikit berada di atas Bessara, keduanya telah bersiap untuk menembak, hanya tinggal menunggu saat pesawat sudah berada di titik koordinat yang sudah ditentukan sebelumnya.


"Tembak!!" Titah gadis berkulit pucat yang hampir mirip dengan Xande itu.


Zaya pun mengarahkan senjatanya ke hadapan musuh dan mulai menembaki mereka dengan laser, tanpa ampun dirinya melepaskan tembakan-tembakan itu. Gadis itu bahkan sudah tidak lagi punya kesempatan untuk memperlihatkan ketakjuban nya akan pesawat musuh yang bentuknya mirip dengan binatang laut berkaki banyak itu.


"Hati-hati dengan suar yang dikeluarkan oleh pesawat besar itu Zaya, dia akan mengacaukan sinyal!" Bessara mengingatkan, gadis itupun mengarahkan tembakan nya ke arah benda yang lebih mirip dengan meriam tersebut.


"Jangan sampai benda itu menyala!" Lanjutnya.


Zaya berpikir jika hanya suar nya saja yang dia hancurkan, pesawat itu masih bisa membahayakan dirinya dan teman-temannya yang lain. Jadi gadis itu memutuskan untuk menembak langsung lambung pesawat dimana tenaga pendorong berada.


Dengan demikian bukan hanya suar nya saja yang hancur, melainkan seluruh pesawat serta isinya akan ikut lenyap.


Ssiiuutt....


Duarrr!!


BUMM!!


"Yesss!!!" Pekik Zaya, ternyata strategi nya tepat sasaran.


"Bessara! Tembak bagian lambung kapal!" Lanjut nya sambil mengarahkan kembali tembakannya ke arah pesawat musuh yang lain.


"On it Zaya!!! Kamu luar biasa!!" Balas Bessara. Ternyata ucapan Xande tentang gadis itu memang benar adanya.


Ssiiuutt!!!


DUAR!!!


BUMM!!!