
"Diam kalian semua!" Seru seorang kesatria wanita berambut cepak dan berseragam lengkap seorang perwira level 3.
Baru saja dirinya selesai menjalankan perintah tugas dari Gorg panglima perang kesatriaan udara yang memintanya untuk pergi ke sektor Utara, kini saat Ann Marrie baru saja akan beristirahat dia sudah disuguhi pemandangan yang tidak mengenakkan.
" Perhatian semua instruktur dan komandan untuk berkumpul segera di ruangan pertemuan sekarang!" Lanjut nya dengan intonasi suara yang tinggi sambil memandangi semua perwira level 1 dan 2 juga para kadet dihadapannya.
" Siap Perwira 3!" Jawab mereka serempak.
Ann Marrie meninggalkan mereka dan melangkahkan kakinya menuju ruangan yang dia maksud, diikuti oleh para perwira dengan tertib.
Sementara Zaya dan para kadet diperintahkan untuk kembali ke kamar masing-masing oleh para instruktur dan komandan nya.
Disaat Zaya menunggu dengan harap dan cemas di ruangannya, di ruangan yang lain lebih tepatnya ruangan khusus para perwira tinggi, seorang pria gagah dengan rambut terikat tengah berbincang dengan seorang tabib dari suku Sinth.
"Katakan padaku tabib Dhar, siapa gadis yang memiliki pheromones yang begitu kuat yang aku maksud" Gorg mengulurkan tangannya untuk disentuh oleh tabib berkulit biru tersebut.
Dhar tahu siapa pria yang ada dihadapannya ini sebenarnya, dan dia pula lah yang membuat tanda di tengkuk lehernya sejak pertama kali mereka bertemu. Dhar tidak mau identitas Gorg terungkap karena dia tahu apa yang akan terjadi jika sampai semua orang tahu darimana asal pria gagah berambut panjang ini.
"Seorang master dari suku kami telah membuat tanda pada gadis ini, dia telah terlindungi dengan baik hingga aku tidak bisa mengenalinya" Jawabnya tanpa ada keberanian untuk menatap Gorg lebih lama.
Jika semua orang hanya bisa melihat Gorg dengan penampilan luarnya saja, berbeda dengan Dhar yang bisa melihat sosok Gorg yang sebenarnya. Pria gagah berambut panjang dengan sorot mata elangnya ini telah terlindungi dengan baik oleh tanda yang dibuat olehnya dulu.
"Kita harus menemuinya disana, di sektor Q" Lanjut Dhar sambil melemparkan pandangannya ke arah luar jendela dimana planet merah itu berada.
"Besok kita akan berangkat bersama Dhar, kau tinggallah disini hingga gadis itu berhasil aku temukan" Gorg beranjak dari duduknya, dia melangkahkan kakinya ke dekat jendela dan memandangi planet merah tersebut.
Planet dimana sisa klan nya berada jauh di kedalam planet tersebut, dimana hanya ada tiga klan yang menempati wilayah tertutup itu. Gorg ingat ketika itu dia masih anak-anak saat mereka mencari perlindungan, seorang master dari suku Sinth telah membuat tanda untuk melindungi mereka agar mereka terhindar dari bahaya yang mengancam.
Master itu pula yang menunjukkan arah kemana mereka harus menyembunyikan dirinya, ke sebuah tempat dimana hanya ada dua suku kuno planet Neuro berada. Disana mereka membaur setelah kedua suku kuno tersebut menerima mereka dengan tangan terbuka.
"Apakah master yang dimaksud adalah master yang sama dengan yang dulu menolong kami?" Batin Gorg, karena setelah mereka masuk ke wilayah tertutup itu dirinya tidak lagi bertemu dengan pria berkulit biru yang sangat sakti itu hingga saat ini.
Gorg dan Dhar adalah sahabat baik, pertama kali mereka bertemu adalah ketika keduanya masih menjadi kadet. Seperti halnya Fin yang langsung mengenali Zaya, begitu pula dengan Dhar yang langsung mengenali Gorg.
Tabib yang masih belia itu membuat satu lagi tanda di tengkuk leher Gorg dengan alasan satu hari nanti dirinya akan bertemu dengan seorang gadis yang memiliki tanda yang sama dengannya. Sebuah lingkaran merah dengan kepala serigala didalamnya.
" Apa yang membuat planet ini diperebutkan? Disana hanya ada hamparan gurun pasir yang membentang luas...Jika hanya kandungan mineralnya, semua planet pasti memilikinya" Zaya bergumam, dan langsung dikejutkan dengan ucapan yang keluar dari mulut Xande.
"Menurut legenda yang aku dengar dari bangsa ku, di planet merah itu terdapat dua suku kuno yang masih ada hingga saat ini " Xande menghela nafasnya lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang, mendengar omelan dari atasannya membuat dirinya penat.
Zaya memutar tubuhnya dan berjalan mendekati wanita berkulit pucat seperti albino itu. " Siapa mereka?" Tanya nya setelah menduduki tepi ranjang milik Xande.
"Konon katanya kedua suku itu yang pertama kali diciptakan oleh roh agung untuk menghuni planet ini, suku kuno Amarath dan Omarath" Lanjut nya, lalu memejamkan matanya.
Semua anggota suku Amarath berjenis kelamin laki-laki, sementara Omarath berjenis kelamin perempuan. Tingkat kecerdasan kedua suku ini juga gen unggul dari keduanya sempat membuat planet Neuro hidup tentram dan sejahtera, teknologi disini sangat maju hingga membuat penghuni galaksi lain berlomba-lomba untuk merebut planet tersebut.
Hanya empat bangsa dari empat planet yang bersedia untuk bersekutu dengan mereka demi mempertahankan planet yang dulu berwarna hijau tersebut, diantara nya adalah bangsa Babilonia dan bangsa Sinth dari dua planet kecil yang berbeda. Sementara suku bangsa Atlantis dari planet Mars dimana Zaya berasal merupakan planet terakhir yang bergabung dengan mereka setelah suku Arya dari planet kecil Thusk.
"Satu hal lagi, kabar Klan Serigala yang hidup bersama dengan kedua suku kuno itu setelah sisa dari mereka berhasil menyelamatkan diri membuat bangsa-bangsa dari planet lain berlomba-lomba untuk mencari keberadaan mereka hingga saat ini" Xande membuka matanya kembali, lalu membenarkan posisinya dan meraih tangan Zaya.
"Aku tidak mengerti kenapa setiap bangsa begitu mempertahankan kemurnian mereka, jika pada akhirnya mereka akan punah karenanya" Ucap wanita berkulit pucat tersebut sambil menatap dalam manik indah milik kadet nya.
"Aku lebih tidak mengerti Xande, kenapa aku? bukan orang lain yang terlahir dari seorang, bangsawan atau aristokrat" Zaya menundukkan wajahnya.
"Mungkin kau adalah gadis pertama yang telah ditandai oleh pria dari klan Serigala yang sangat legendaris itu" Kekeh Xande, mencoba untuk menghibur gadis belia dihadapannya.
"Jangan bercanda denganku, aku malu..." Balas Zaya dengan wajah yang merona.
Deg.
Gorg memegangi dadanya, seperti ada sebuah getaran halus yang menggelitik jantungnya saat ini. Samar tetapi masih bisa tercium olehnya bau pheromones yang dia kenal baru-baru ini.
"Demi roh agung, tunjukan padaku dimana dia" Batin Gorg
Dhar menghampiri nya dengan segelas ramuan yang dia buat khusus untuk dirinya dan sahabat nya itu.
"Apa yang kau rasakan panglima?" Dhar meletakkan ramuan tersebut di atas meja untuk mereka nikmati bersama sebelum tidur.
"Dia berada dekat denganku Dhar..."