
Gorg harus berusaha keras agar kerumunan para hewan buas itu membubarkan diri, mereka tidak terima jika gadis bertubuh kecil dengan suara merdu tersebut harus diambil alih olehnya.
"Dia milikku!" Berkali-kali Gorg harus meyakinkan mereka bahwa gadis yang berada ditengah-tengah mereka adalah miliknya, terbukti dengan pheromones yang ada ditubuhnya. Tetapi bahkan mother dragon mengembangkan sayapnya, karena dia tidak mau Zaya berada dekat dengannya.
Hira tertawa terpingkal-pingkal melihat kejadian bersejarah tersebut dari atas bukit, dia tidak percaya jika para hewan tersebut ternyata merasa cemburu dengan kehadiran sang kakak disana dan tidak mengijinkan dia untuk mendekati Zaya.
Sementara Zaya harus menahan tawanya karena prihatin dengan upaya keras Gorg untuk menghalau para hewan kesayangannya, jika mother dragon mengembangkan kedua sayapnya juga para naga lainnya, maka para kucing besar mendesis dan memperlihatkan gigi-gigi tajamnya. Belum lagi para mamoth yang menyemburkan air dengan belalainya dan aksi menggelikan dari hewan lainnya.
"Zaya, apa kau akan membiarkan mereka bertingkah seperti itu terhadap ku?!" Gorg semakin geram, dia sudah tidak tahan lagi menghadapi tingkah para hewan yang merajuk tersebut.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya membuat mereka mau melepaskan aku" Jawab Zaya dengan jujur, karena dia memang benar-benar tidak mengetahui caranya.
Gorg mendengus kesal, apalagi saat melihat Ru yang malah asik dengan Serigala putih yang sudah pasti milik Zaya. Keduanya saling mengejar untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lainnya.
Tak ada jalan lain bagi Gorg selain memanggil bantuan dari si tukang tidur yang sangat ditakuti oleh mereka, dia meraih sebuah benda yang mirip dengan peluit yang dia buat sebagai bandul dari kalung yang dipakainya lalu meniupnya dengan sekuat tenaga.
Tak lama kemudian suara lengkingan yang memekakkan telinga dari sang naga jantan terdengar bersamaan dengan kemunculan nya dari langit, dan Gorg pun tersenyum puas sebagai bentuk kemenangannya ketika naga terbesar itu mendarat tepat dibelakangnya.
"Kau lihat mother dragon? Dia berbuat curang dengan memanggil pasanganmu" Zaya meletakkan telapak tangannya di kening mahluk besar tersebut, sebelum dia terbang kembali ke sarangnya bersama dengan naga-naga kecilnya. Begitu pun dengan semua hewan yang mengelilinginya, satu perangkat mereka meninggalkan Zaya karena sang naga telah memberikan perintah dengan hembusan nafasnya terkecuali dengan Ru dan Ra.
"Kau merindukanku?" Gorg bertanya setelah dia melepaskan tautan bibirnya, dengan tubuh Zaya tetap dalam dekapannya. Dia menatap wajah cantik gadis itu dengan penuh kehangatan, satu peristiwa langka yang terjadi dalam sejarah kehidupan pria tinggi besar tersebut.
Hira kembali menatap keduanya dengan penuh haru, dia mendaratkan dagunya dikedua telapak tangan yang dia jadikan sebagai penopang.
"Dia benar-benar jatuh cinta kepada gadis itu" Gumamnya dengan senyuman manis mengembang di wajahnya.
"Sepertinya kita sudah tidak lagi dibutuhkan disini kawan, mari kita pergi" Lanjut gadis itu seraya beranjak dari tempatnya dan mengajak serigala miliknya untuk segera meninggalkan tempat itu.
Zaya sudah berada ditangan yang tepat sekarang ini, kembalinya sang kakak kali ini sudah pasti membawa berita besar untuk keluarga besarnya. Terlebih dia pasti mengajak pria biru itu bersamanya, jika tidak mana mungkin radar di tangannya mengeluarkan suara senyaring itu pikirnya.
"Apa maksud perkataan mu tadi pria besar ku?" Zaya mengerutkan keningnya, gadis itu tidak mengerti kenapa Gorg mengatakan bahwa dirinya telah berselingkuh. Sementara tidak ada pria manapun yang berada disana kecuali dirinya saat ini.
"Aku tidak mengerti dengan maksud ucapan mu" Kilah Gorg, lalu membuang pandangannya sekilas dan kembali memandangi wajah cantik yang sangat dirindukan oleh nya.
"Diam lah, aku sangat merindukanmu saat ini" Gorg membawa tubuh Zaya pergi dari tempat itu, menuju sebuah tempat yang akan mempersatukan keduanya secara utuh sebelum pada akhirnya mereka akan muncul kembali ke permukaan.
Sementara di pemukiman klan serigala, Hira tengah menatap seorang pria berkulit biru dari tempat yang tersembunyi. Sengaja dia melakukan hal itu karena khawatir aksinya akan diketahui oleh para ayah, dan pada akhirnya akan menuai banyak pertanyaan dari mereka. Bukan apa-apa gadis itu hanya malas jika harus menjelaskan perasaan yang dia sendiri bahkan belum memahaminya.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Hanya mengamati seseorang" Jawabannya tanpa menoleh bahkan menyadari siapa pria yang telah berdiri dibelakangnya.
"Hhmmm... Sepertinya kau sangat menyukai pria yang sedang kau amati hingga tidak menyadari ketidakhadiran nya disana" Sindir sang pria yang langsung membuat sang gadis tersadar dari dunia khayalnya.
Hira mencari keberadaan sang pria yang sejak tadi diam-diam diamatinya dari jauh, dan baru tersadar jika dirinya telah jauh terjerumus dalam dunia khayalan nya. Hira menoleh ke arah belakangnya, disana telah berdiri di pria berkulit biru yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak kencang.
"Hallo Dhar, sejak kapan kau berdiri disana?" Tanya Hira dengan sejuta rasa malu yang menyelimuti dirinya. Perlahan dia memutar tubuhnya menghadap ke arah Dhar, tanpa menghilangkan senyuman kaku diwajahnya.
"Cukup lama" Dhar menjawab pertanyaan Hira sambil tersenyum, lalu menyodorkan tangannya untuk Hira raih agar dirinya segera membawa gadis itu pergi dari sana.
Sudah cukup lama Dhar menyadari perasaannya terhadap adik dari panglima tinggi nya itu, dia hanya harus membuktikan satu hal sebelum pada akhirnya nanti dia akan meresmikan hubungan nya dengan Hira. Tentunya setelah mendapatkan persetujuan dari Gorg serta keluarga besarnya.
Kembali pada dua sejoli yang baru saja menyelesaikan ritual terakhir nya, yakni menyatukan apa yang ada pada diri mereka hingga menjadi sebuah kesatuan yang utuh.
(Pasti pada ngayal kemana-mana ini 😆 -othor )
Sesuai perintah pemimpin tertinggi dari bangsa Amarath dan Omarath, bahwa Gorg harus membawa Zaya masuk kedalam kubah yang semakin membesar tersebut agar keduanya bisa menyerap sebagian energi biru guna menghadapi The One nantinya.
Mahluk jahat yang kini sedang menyusun kekuatan untuk menghabisi Gorg dan para kaum revolusioner itu telah menghancurkan energi biru dengan menyerap hampir seluruh kekuatan nya dahulu kala, jika saja pemimpin dari kedua bangsa tersebut tidak bahu-membahu untuk menghancurkan nya terlebih dulu.
"Kau harus membawanya langsung ke bulan" Pinta Zorca, sang pemimpin tertinggi dari bangsa Amarath.
Mereka harus berusaha untuk mengalihkan perhatian The One dari planet Neuro sebelum planet tersebut hidup kembali, dan pada akhirnya seluruh penghuni planet meyakini bahwa ramalan yang selama ini hanya dianggap sebagai isapan jempol adalah benar-benar nyata.