
“Tanda pengenal anda tuan-tuan..” Seorang petugas pemeriksaan meminta satu persatu tanda terima dari antrian penumpang dan awal pesawat yang baru saja mendarat, mereka harus melewati check point sebelum memasuki wilayah perkotaan di ibukota Yorkshire di planet Mars.
Satu persatu dari orang-orang itupun menyerahkan tanda pengenal serta beberapa bukti perjalanan mereka kepada sang petugas, dengan teliti dia memeriksa keaslian identitas setiap dari mereka saat mereka berjalan melewati sebuah gerbang pemindaian.
“Tunggu!” Sang petugas menemukan sesuatu yang mencurigakan pada saat seorang pria setengah android melewati gerbang tersebut, pasalnya alarm pada alat canggih tersebut langsung menyala.
“Ahh kau setengah robot rupanya…Matikan alarm itu!” Ucapnya setelah dia melihat lebih cermat lagi apa yang membuat alat tersebut mengeluarkan bunyi yang sangat nyaring, lalu meminta pria tersebut untuk melewatinya.
Selesai melalui proses pemeriksaan yang cukup rumit dan menegangkan, rombongan itupun bergegas menuju sebuah stasiun kereta cepat menuju salah satu wilayah di sekitar sektor industri. Kedatangan mereka disana telah dinantikan oleh sekelompok orang yang akan membawa mereka ke suatu tempat di tengah gurun.
Hira boleh bernafas lega setelah dia berada didalam salah satu gerbong kereta cepat itu bersama dengan Dhar, ini baru pertama kalinya bagi gadis itu berada jauh dari keluarganya dan ini pun merupakan pengalaman pertama baginya melakukan tugas penyamaran.
Beruntung Dhar selalu berada dekat dengannya, hingga rasa cemas yang sempat hadir dalam dirinya seakan sirna.
“Kau masih gugup?” Dhar menatap Hira, gadis itu saat ini terlihat seperti seorang pria Mars yang cukup tampan. Begitupun dengan Dhar saat tanpa sengaja melihat pantulan dirinya dari kaca gerbong tersebut.
“Aku akan lebih gugup jika ada gadis yang mendekatiku” Hira menggelengkan kepalanya, saat diapun melihat tampilan dirinya dari kaca disampingnya. Alat penyamaran buatan bangsa Cosmix ini hampir membuat HIra tidak mengenali dirinya sendiri!
“Setidaknya aku tidak harus cemburu” Batin Dhar.
Hampir saja Hira mencubit pria yang kini terlihat menggelikan itu karena mendengar suara hati Dhar, kalau saja dia tidak ingat siapa dirinya saat ini.
“Aku akan membalas mu nanti” Batin Hira.
Dhar hanya tersenyum menanggapi tingkah Hira yang masih terlihat gugup ketika berada dekat dengannya, atau apakah karena memang ini merupakan pengalaman pertama baginya? Entah pikir Dhar. Yang jelas saat ini dia begitu menikmati kebersamaannya dengan gadis itu, meski bahaya besar saat ini tengah mengincar keduanya.
Pria berkulit biru tersebut telah merasakan jika seseorang telah memperhatikan gerak-gerik mereka sejak tadi, andai saja Hira menyamar sebagai seorang wanita Mars mungkin akan lebih memudahkan dirinya untuk menciptakan keadaan yang jauh lebih berbeda. Mereka bisa saja berpura-pura sebagai pasangan yang tengah melakukan perjalanan, dan lebih banyak melakukan interaksi ketimbang berada di situasi canggung seperti ini.
Tak berselang lama mereka pun tiba di tempat tujuan bersama dengan rombongan yang datang bersama ke planet merah tersebut, keduanya memutuskan untuk tetap berada diantara rombongan tersebut dan mengikuti arah sang pemandu membawa mereka dan menunggu saat yang tepat untuk memisahkan diri nantinya.
Tiba disebuah musium teknologi, kesempatan mereka untuk memisahkan diri pun mereka dapatkan. Dengan memanfaatkan banyaknya pengunjung yang mendatangi tempat tersebut serta hilir mudiknya mereka, Dhar menggerakkan kepalanya bermaksud untuk mengajak Hira menuju toilet.
Sementara Dhar dan Hira melihat kejadian tersebut dari kendaraan yang telah mereka naiki dari balik jendela kaca besar gedung itu.
“Apa yang membuat kalian begitu lama? Kami hampir saja meninggalkan kalian tadi” Keluh Peet, salah seorang utusan yang dimaksud oleh Gorg yang akan membawa mereka ke tempat dimana bangsa Homobien tertidur saat ini. Pria berkebangsaan setengah Mars dan setengah Babilon tersebut sempat akan meninggalkan titik penjemputan, setelah salah seorang petugas keamanan menyuruhnya untuk pergi dari tempat itu karena kendaraan yang di terbangkan nya telah menghalangi para pengunjung.
Beruntung Dhar dan Hira keluar dari tempat tersebut dan langsung menaiki pesawatnya, meski pada awalnya sempat terjadi perdebatan diantara mereka karena tampilan Dhar dan gadis itu telah berubah.
“Kami harus melepaskan diri dari dua orang yang mengikuti kami sejak di stasiun pemeriksaan tadi” Jawab Dhar, lalu meminta Peet untuk segera meninggalkan tempat itu secepatnya. Perjalanan menuju tempat dimana para manusia kuno itu tertidur masih sangat panjang, mereka harus menukar kendaraan yang mereka gunakan terlebih dulu karena medan menuju tempat tersebut cukup berat.
“Tapi bagaimana mungkin? Tidak ada yang mengetahui kedatangan kalian selain aku dan kedua temanku ini” Peet menoleh ke arah kedua co-pilotnya, mereka segera mengangkat kedua tangannya pertanda mereka pun tidak tahu menahu tentang masalah tersebut.
“Antarkan saja kami ke sana secepatnya sebelum mereka semakin mencurigai hilangnya kami dari rombongan” Pinta Hira, yang saat ini telah mengembalikan tampilannya ke penampilan aslinya.
“Whoa, kau lebih keren dengan tampilan aslimu nona!” Ucap salah seorang rekan Peet yang juga memiliki gen campuran Mars dan Babilon, yang tentunya telah membuat Dhar mendeham cukup keras.
Hira tertawa melihat kecemburuan pria nya, apalagi saat Dhar mengembalikan tampilannya ke penampilan aslinya. Kedua rekan Peet langsung bungkam melihat betapa menyeramkan nya wajah pria berkulit biru tersebut, apalagi kini bola matanya telah berubah seperti Se, serigala milik Hira.
Sementara itu di planet Neuro…
Radius pancaran energi biru semakin meluas, kini bukan hanya sektor Y saja yang telah berubah menjadi hijau dengan banyak pepohonan rindang serta sungai yang mengalir. Tetapi sektor X yang sebelumnya lebih banyak di kelilingi oleh bebatuan dan padang tandus, perlahan telah ditumbuhi rumput yang hijau dan bunga-bunga cantik.
“Demi roh agung! Planet ini perlahan telah hidup kembali” Gumam Zaya, saat ini dia beserta Ra tengah berjalan menelusuri tempat itu. Hira hendak mengunjungi kediaman Xi dan kaum Shint disana, dia ingin mengetahui apa yang terjadi di masa depan melalui penglihatan tabib sakti tersebut.
Seingatnya saat pertama kali dirinya mengunjungi sektor tersebut ketika Xande mengajaknya dulu, dan ketika dirinya terdampar bersama Bessara disana hanya terdapat bebatuan dan pasir tandus.
“Semoga planet ini tidak akan pernah hancur kembali..” Batinnya.
Zaya bisa membayangkan akan seindah apa tempat ini jika energi biru telah menjalar ke seluruh penjuru planet, bisa dipastikan kondisinya kurang lebih akan sama seperti keadaan di kedalaman planet itu saat ini.