The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 29



Xi menyentuh pundak Zaya saat gadis itu berusaha untuk meninggalkan tempat duduknya, dia memberikan gambaran penuh kepada Zaya tentang apa yang telah terjadi di masa silam, masa yang sekarang juga yang akan terjadi masa yang akan datang.


Zaya seperti dibawa menembus ke setiap dimensi waktu, dia bisa melihat kehancuran awal yang terjadi disebuah tempat yang mirip sekali dengan tempat dimana dirinya berada saat ini. Sebuah ledakan besar telah menghancurkan satu wilayah dan berdampak pada keseluruhan wilayah pada planet tersebut hanya dalam waktu sekejap, Zaya melihat banyak sekali korban berjatuhan. Diapun melihat banyak pesawat luar angkasa yang pada akhirnya membawa hampir seluruh penghuni planet bermigrasi ke planet-planet yang tersebar di seluruh galaksi.


Lalu Zaya ditarik kembali pada masa sekarang, dimana tatanan kehidupan telah berubah. Peperangan terjadi dimana-mana, semua orang berlomba-lomba untuk saling menunjukan siapa yang paling kuat dan siapa yang paling berkuasa. Para wanita sudah menyalahi kodratnya, kebanyakan dari mereka tidak lagi memiliki keinginan untuk melahirkan anak karena kekecewaannya terhadap kebijakan yang dibuat segelintir orang dan lebih memilih untuk berada di medan perang sama seperti dirinya saat ini.


Adapun wanita yang masih memiliki harapan besar terhadap perubahan, seperti Melinda sang mama lebih banyak menjadi korban karena banyak dari mereka yang berakhir menjadi selir karena tidak bisa melahirkan anak laki-laki. Parahnya lagi semakin banyak wanita melahirkan bayi berjenis kelamin perempuan saat ini, apa yang menjadi penyebab dari semua ini? Pikir Zaya.


Tak lama sesuatu telah menarik Zaya kembali, kali ini dirinya merasa seperti sedang berada ditempat yang sangat asing. Tempat yang gelap dan hancur!


Zaya melihat sesosok mahluk tengah menduduki singgasananya diantara mayat yang bergelimpangan, dia tidak bisa melihat wajah dari mahluk tersebut karena penutup kepala yang dikenakannya hampir menutupi sebagian wajahnya. Sementara disekitar makhluk tersebut telah berlangsung peperangan.


“Lepaskan dia Xi! Kau akan membuatnya kehilangan kesadaran!” Titah Khan dengan suara beratnya yang hampir mirip dengan Gorg.


Brug!


Dan kekhawatiran pria tinggi besar itupun langsung menjadi kenyataan saat Zaya ambruk dihadapan dirinya dan sisa keluarganya.


“Dia harus tahu semuanya Khan, kau jangan lupa separuh dirinya berasal dari bumi” Xi lalu membawa tubuh Zaya ke dalam ruangan pribadi milik Hira, setelah Seren memerintahkannya.


Mahluk bumi terkenal dengan emosinya yang kompleks, sangat bertolak belakang dengan rasa ingin tahunya yang cukup tinggi. Emosi mereka bisa berubah setiap saat dan sangat sulit untuk di prediksi, apalagi untuk manusia berjenis kelamin perempuan. Parahnya lagi menurut Xi, mereka bisa mengorbankan dirinya demi sesuatu yang disebut sebagai cinta meski mereka hidup menderita.


Sangat jauh berbeda dengan orang-orang dari bangsa lain yang dia ketahui dan dia kenal, apalagi bangsa Sinth atau babilon yang lebih mudah dimengerti.


“Tidak semua mahluk bumi seperti apa yang ada di pikiranmu Xi, kau tidak bisa menyamaratakan mereka seperti itu” Ucap Seren, setelah wanita itu membawa Xi kembali ke ruang pertemuan. Meninggalkan Hira untuk menemani Zaya.


“Apa yang kau tahu Seren, kita bahkan belum pernah bertemu dengan salah seorangpun dari mereka” Khan menyanggah ucapan sang istri, dirinya lebih memilih untuk mempercayai ucapan Xi yang sering kali bertemu dengan mereka saat pria biru tersebut masih berada dipermukaan.


Jauh di atas permukaan, tepatnya disebuah ruangan virtual disebuah stasiun luar angkasa tempat para kesatria langit berada Gorg sedang berlatih. Lebih tepatnya meluapkan emosinya dengan bertarung melawan robot-robot virtual.


Srak!


Brak!


Brug!


Srak!


Srak!


“Haaaaaa!!!”


Krak!


Musuh terakhir telah dia lumpuhkan dengan memisahkan kepala dari tubuhnya dengan hanya menggunakan kekuatan dari kedua tangannya.


“Cepatlah kalian! Waktu sudah hampir habis!” Batin Gorg, dia tahu akan adanya bahaya yang sedang mengincar dirinya. Jika dulu dia akan langsung menghabisinya seorang diri, saat ini hal itu tidak mungkin lagi dia lakukan karena lawan yang akan dia hadapi bukan satu atau dua bangsa saja.


Ada kekuatan maha besar dibalik semua perlawanan yang sedang terjadi saat ini, hanya sedikit bangsa yang memahami situasi pelik yang sedang terjadi. Gorg membutuhkan lebih banyak dukungan untuk aksi yang akan dia buat nantinya, dia tidak mungkin berharap lebih dari bangsa Amarath dan Omarath yang seumur hidupnya menentang peperangan dan menjunjung tinggi kedamaian serta keselarasan. Terbukti dengan mereka yang memilih untuk membuat kembali tatanan kehidupan mereka jauh di kedalaman planet ketimbang memperbaiki situasi yang ada.


“Energi biru…Sepenting itukah benda itu hingga banyak bangsa yang memperebutkannya?” Gorg bergumam, saat ini dirinya tengah mendinginkan suhu tubuhnya di dalam ruangan uap dingin.


Tapi jika Gorg bandingkan kembali situasi planet Neuro dipermukaan saat ini dengan situasi planet neuro jauh di kedalaman memang sangat jauh berbeda, dan itu berkat energi yang berasal dari sebuah benda biru berbentuk kristal besar yanga ada di inti kedalaman. Belum ada yang bisa menandingi kehebatan energi yang hampir bisa menandingi matahari tersebut, kecuali matahari itu sendiri.


“Apa roh agung sedang bermain-main saat menciptakan mahluk abu-abu yang sangat pintar itu hingga mereka bisa meniru ciptaannya sendiri” Batin Gorg


Deg!


“Zaya…” Gorg bergumam sambil memegangi dadanya, getaran yang sama yang dia rasakan ketika Zaya sedang dalam bahaya.


“Akan aku bunuh pria besar itu jika berani melukainya”


Brak!


Ann Marrie terkejut saat salah satu dinding yang ada didalam ruangan pribadi panglima tingginya tiba-tiba roboh, disana dia melihat pria besar tersebut sedang berdiri sambil mengepalkan tangannya dan menggeram dengan sorot mata mengerikan melihat ke arahnya. Untung saja Gorg tetap mengenakan celana panjangnya, jika tidak sudah bisa dipastikan jika Ann Marrie akan pingsan saat itu juga.


“Demi roh agung! Demi The one! Demi dewa perang!”


Malam itu Ann Marrie harus menyerahkan laporan terakhir mengenai seluruh aktivitas yang dilakukan oleh para kesatria langit dan para perwiranya kepada Gorg. Sebenarnya dia bisa saja memberitahu Gorg keesokan paginya, tetapi karena gadis itu telah melihat sebuah aktivitas yang mencurigakan maka dia memutuskan untuk menemui Gorg di kediamannya dan melaporkannya secara langsung karena Dhar masih belum kembali dari tugasnya.


“Apa yang sedang kau lakukan disini?!” Teriak Gorg dengan suara khasnya.


“Maafkan saya yang mulia saya harus melapor, ini sangat penting” Jawab Ann Marrie, sambil memalingkan wajahnya. Melihat penampilan Gorg saja sudah membuat dirinya ketakutan, ditambah lagi dengan suara beratnya. Saat ini jantung gadis itu bukan saja terasa copot tetapi terasa keluar dari bilik nya.


“Katakan!”