
Nafas Zaya terengah-engah setelah Xi melepaskan ketiga jarinya dari keningnya, dia menerima sebuah mangkuk berisikan ramuan yang telah di ambil pria berkulit biru itu untuknya.
“Ikuti kata hatimu Zaya, jangan biarkan sesuatu yang kau anggap berarti membutakan pandanganmu”
Ucapan terakhir master dari bangsa Shint itu masing saja terngiang ditelinga Zaya, terlebih gadis itu bisa melihat kesungguhan dari sorot mata dalamnya. Zaya meneruskan perjalanannya kembali ke sektor Y dimana Gorg telah menunggunya disana, gadis itu juga harus merahasiakan apa yang dilihatnya tadi bersama dengan Xi atas permintaan pria berkulit biru itu.
“Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan Ra?” Zaya mengelus pundak serigala besar itu, dia lalu menyandarkan tubuhnya disana dan membiarkan sang serigala membawanya pulang.
Entah apa yang ada didalam pikiran gadis itu hingga perlahan membuat air matanya berlinang dan mulai membasahi pipinya, ini baru pertama kalinya Zaya menangis selama kurun waktu dirinya berada jauh dari Mars. Terakhir kalinya dia menangis adalah ketika melihat sang mama yang diam-diam menangis pada malam hari sebelum wanita itu membawanya pergi dari rumah tersebut.
Rasa sesak di dadanya tak kuasa dia tahan hingga membuat tubuhnya bergetar saat terisak dan mulai menangis tanpa mengeluarkan suara.
“Ini tidak adil….” Isak Zaya seraya memegangi dadanya.
Bak mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Zaya, Ra pun memelankan langkah kakinya. Serigala besar itu tetap berjalan menelusuri jalan menuju sektor Y dengan tubuh gadis itu di punggungnya, tertelungkup dan sesekali meremas rambut putih tebalnya sambil menangis tersedu-sedu.
Brugh!
Langkah serigala itu terhenti, seketika Gorg berdiri di hadapannya. Entah darimana datangnya pria besar tersebut, dia langsung meraih tubuh Zaya dari punggung sang serigala lalu membawanya dalam pangkuannya dan kembali melompat jauh bersamaan dengan Ra yang berlari menyusulnya.
Tangis Zaya semakin pecah saat dia menyadari tubuhnya telah berada dalam pangkuan pria yang belum lama ini telah melakukan penyatuan dengannya, sementara Gorg semakin mengeratkan pelukannya di tubuh mungil gadis tercintanya.
Dia harus merahasiakan semua itu dari Gorg, meski gadis itu tidak yakin jika pria besarnya ini belum mengetahuinya. Tetapi sesuai dengan pesan Xi yang mengharuskan Zaya untuk bungkam meski nanti Gorg memaksanya untuk memberitahunya, maka dia pun memutuskan untuk diam dan hanya mencurahkan perasaannya melalui tangisan.
Zaya terhenyak saat tahu kemana Gorg akan membawanya, dia menatap wajah pria besar tersebut tanpa berani menanyakan kenapa dirinya membawanya ke tempat yang menyeramkan itu. Disana tempat para monster berkaki delapan itu berkumpul, tetapi anehnya binatang buas yang tidak pernah berkurang jumlahnya itu tidak melakukan apapun saat Gorg melompat diantara mereka memasuki goa yang ada dibelakangnya.
“Aku tidak akan bertanya mengapa kau membuang air matamu, bahkan jika air mata itu adalah untukku” Gorg meletakkan tubuh Zaya di atas sebuah batu besar dengan permukaan datar yang ada didalam goa tersebut, lalu mengambil sesuatu dari kolam mata air disana.
“Minumlah…” Gorg meraup sebuah benda bersinar dari dalam kolam kecil tersebut bersama dengan airnya, lalu mendekatkannya kehadapan mulut Zaya agar gadis itu membuka mulutnya.
Meski pada awalnya sempat merasa ragu, tetapi tak membuat gadis itu tetap menutup mulutnya. Rasa percayanya yang besar terhadap Gorg, membuat dirinya membuka mulutnya dan membiarkan pria tersebut mengucurkan air tersebut kedalamnya.
Seketika tubuh Zaya mengejang, dan dengan pandangannya yang mulai memudar dia melihat Gorg yang tetap berdiri tak bergeming seraya memandanginya. Dalam hatinya Zaya berteriak merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya dan bertanya mengapa pria tersebut tega melakukan hal tersebut kepadanya.
Perlahan Zaya membuka kembali matanya yang terasa berat, sama halnya dengan rasa berat pada kepalanya. Dilihatnya ke sekeliling ruangan kecil itu, dan diapun mulai menyadari jika dirinya sudah tidak lagi berada di tempat menyeramkan itu.
“Kau sudah bangun sayang?” Seren memasuki ruangan dengan satu nampan berisi makanan dan minuman untuknya, lalu meletakkannya di atas meja di samping tempat tidurnya.
“Apa yang telah terjadi denganmu? Gorg membawamu dalam keadaan tidak sadarkan diri kemarin…” Seren membantu Zaya terbangun dari tidurnya, wanita itu merapihkan surai rambut yang menutupi wajah cantik gadis tersebut.
“Kemarin?” Zaya mengerutkan kedua alis matanya, seingatnya baru beberapa saat yang lalu dirinya mengalami hal mengerikan itu didalam tempat gelap tersebut.
“Iya Zaya, kau telah tertidur sejak kemarin siang…Apa kau baik-baik saja nak?” Kembali Seren mengulangi pertanyaannya, dia ingin memastikan bahwa gadis kesayangan putra sulungnya itu benar-benar dalam keadaan yang baik.
“Aku baik-baik saja…” Zaya menghela nafasnya berat, saat ini dia belum memahami mengapa Gorg tega menyakitinya saat itu. Tetapi dia tahu jika Seren bukanlah orang yang tepat untuk dia menanyakan hal tersebut, Zaya harus menanyakannya langsung kepada Gorg.
Satu hal yang dia sadari adalah rasa sesak di dadanya seakan sirna, dia bahkan tidak lagi ingin menangis meski mengingat kembali apa yang telah dia lihat bersama dengan Xi kemarin.
“Apa ini…?” Batin Zaya
“Syukurlah jika kau baik-baik saja…Gorg sebentar lagi akan menemui mu, aku harus segera kembali”
Dalam sekejap mata kehadiran Seren telah berganti dengan kehadiran Gorg, ingin rasanya Zaya langsung menghajar pria besar tersebut saat dia memasuki ruangannya. Tetapi urung dia lakukan karena Gorg langsung menciumnya saat dirinya tiba disana dan mendekatinya.
“Mulai saat ini rasa sakit di tempat ini akan hilang..” Gorg meletakkan jari telunjuknya diantara dua gundukan milik Zaya, dengan kening yang tetap beradu.
“Aku tidak tahu apakah efeknya akan sama denganku atau tidak, setidaknya untuk saat ini aku tidak harus melihat air matamu lagi”
Entah ucapan pria ini atau karena hembusan nafasnya di wajah Zaya, hingga membuat amarah yang sempat bergemuruh di dadanya sirna dan berganti dengan rasa tenang bercampur bahagia. Itupun Zaya mulai mengalami kesulitan untuk menunjukan perasaannya, tidak seperti yang biasanya terjadi.
“Apa kau telah membuatku seperti dirimu sayang?”
Seketika bulu-bulu halus di sekujur tubuh Gorg berdiri, dia menjauhkan keningnya dari kening Zaya dan mendapati tatapan menyeramkan dari gadis bertubuh mungil itu.
“A…aku tidak mengerti dengan ucapan mu..” Gorg membuang pandangannya, dirinya pun mulai meragukan keputusannya untuk memberikan enzim monster itu kemarin jika ternyata efeknya se-menyeramkan ini pikirnya.
Zaya menarik baju yang dikenakan Gorg dengan kedua tangannya hingga membuat wajahnya kini berada sangat dekat dengan wajah pria besar tersebut, lalu memalingkan pandangan Gorg agar mengarah kembali kepadanya dengan tangannya.
“Jawab pertanyaan ku…”
Deg!
“Aku harus segera pergi…Khan membutuhkan…”
Grep!
“Hentikan Zaya…” Ucap Gorg lirih, saat salah satu tangan Zaya meremas dada bidangnya yang menonjol.