
Pasukan yang di pimpin oleh Drax sedang menghadapi pasukan musuh saat Gorg bersama dengan pasukannya tiba disana, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan mereka pun langsung membantu Drax untuk mengalahkan mereka. Gorg dan kawan-kawannya menembakkan sinar laser nya dengan keadaan pesawat masih dalam mode siluman, hingga membuat musuh kebingungan dan pada akhirnya mereka lebih banyak menembaki teman-temannya sendiri.
Zaya dengan lincahnya melakukan manuver-manuver sambil menembaki musuh, tak jarang dia dan Gorg menggerakkan tangannya dengan gerakan menyapu hingga membuat pesawat musuh saling bertabrakan.
“Sejak kapan mereka bisa melakukan itu?!” Seru Hira, saat tanpa sengaja dirinya melihat pelaku dibalik peristiwa tabrakan pesawat yang menimpa musuh didepannya.
Dhar tersenyum lalu meraih tangan Hira, dia meminta gadis itu untuk menutup matanya dan mengucapkan kata perintah sambil membayangkan pesawat musuh yang ada dihadapannya hancur. Dan benar saja ketika gadis itu membuka kembali matanya, pesawat musuh yang ada dihadapannya sudah meledak dan hancur menjadi abu!
“Wow! Itu sangat luar biasa!” Seketika bola mata gadis serigala itu membulat sempurna.
“Aku akan mengajarimu nanti” Dhar kembali menempati posisinya, saat ini musuh telah menarik mundur pasukannya. Dia pun meminta ijin kepada Drax untuk memasuki stasiun luar angkasa Neuro bersama dengan rekan-rekannya yang lain.
“Terimakasih kawan!” Drax menyambut mereka dengan gembira, untung saja mereka hadir tepat pada waktunya jika tidak kemungkinan besar stasiun luar angkasa tersebut mengalami kerusakan yang lebih parah lagi.
“Apa yang terjadi?” Zaya memandangi seisi hangar, disana para kesatria langit tengah memperbaiki pesawat-pesawat mereka bersama dengan para teknisi.
“Musuh lebih sering lagi mengirimkan serangan dengan jumlah pasukan yang lebih banyak setiap harinya, kami lumayan lelah menghadapi mereka” Drax menghela nafasnya kasar, bagaimanapun jika dibandingkan dengan musuh jumlah mereka memang lebih sedikit.
Gorg meminta kepada seluruh pasukannya untuk berkumpul, hanya ada satu cara untuk mengalahkan mereka dan itu tidak mungin dilakukan jika mereka masih menggunakan cara yang sama seperti yang mereka lakukan selama ini.
Musuh memang terkenal dengan kelihaiannya dalam berperang menggunakan senjata-senjata canggih, mereka pun selalu menyerang dengan mengerahkan banyak pasukan dalam satu kali serangan. Meski pada akhirnya mereka menarik mundur pasukannya, tetapi mereka akan kembali dalam jumlah yang lebih banyak. Sementara pasukan revolusi menghadapi mereka dengan jumlah pasukan yang sama bahkan mungkin berkurang.
Segigih apapun mereka berjuang bersama, jika jumlah mereka semakin sedikit bisa dipastikan lambat laun mereka pun akan mengalami kekalahan. Dan itu merupakan satu hal yang tidak diinginkan oleh mereka saat ini.
Tapi yang masih menjadi pertanyaan adalah bagaimana mereka bisa menyelamatkan planet Neuro sekaligus menghabisi musuh secara bersamaan? Sementara keadaan planet tersebut masih jauh dari kata pulih. Hanya sektor Y saja yang mengalami perubahan secara signifikan, sementara sektor-sektor yang lain masih kurang lebih dalam keadaan yang sama.
Gorg berpesan kepada semua pasukan yang berkumpul disana agar tetap menghadapi musuh sepeninggal dirinya dan Zaya, diapun berpesan agar mereka menunggu aba-aba darinya.
Pria gagah berambut panjang serta beralis tebal itu menyuruh seluruh awak stasiun untuk melakukan apa yang mereka lakukan terhadap stasiun luar angkasa Mars di hari ke tiga, lalu berbondong-bondong turun ke planet Neuro dengan titik koordinat yang sudah dia tentukan.
Gorg dan Zaya menaiki pesawatnya kembali setelah keduanya berpamitan kepada Hira dan Dhar serta kawan-kawannya yang lain.
Gorg tahu serangan pada hari ketiga merupakan serangan paling besar yang akan dilakukan oleh pihak musuh, jika melihat dari jumlah pesawat yang semakin bertambah. Dia yakin seluruh pasukan revolusi akan sanggup menghadapi mereka, apalagi sebelumnya dia telah meminta kepada Sabath untuk meminta bantuan kepada pasukan militer di planet nya untuk segera datang dan membantu mereka.
Disinilah Sabath sekarang, di tanah kelahirannya di planet Cosmix. Dia sedang berada ditengah-tengah sidang dihadapan para tetua agung.
“Dia telah berbohong yang mulia! Kita semua tahu jika bangsa Amarath dan Omarath telah musnah ratusan tahun yang lalu!” Seru salah satu utusan dari dewan sejarah. Pria yang sama-sama memiliki bentuk kepala yang aneh seperti Sabath itu membuka buku sejarahnya kembali.
“Hampir seratus tahun, tepatnya 99tahun 99 hari terhitung hari ini yang mulia” Sanggah Sabath, dia tetap dalam kondisi yang tenang meski dia tahu waktu tetap berputar dan semakin berkurang. Sabath harus sesegera mungkin meyakinkan para tetua agung agar mereka menyetujui permohonannya untuk membantu pasukan revolusi.
Toh mereka sama-sama menentang kebijakan yang diberlakukan oleh The one dan para supreme leadernya, jadi apa yang masih menjadi pertimbangan mereka saat ini? Pikirnya.
“Yang mulia, ijinkan saya memperlihatkan sesuatu kepada anda” Pinta Sabath, lalu menunggu mereka untuk mengijinkan dirinya untuk mendekat.
“Ijin diberikan!” Ucap salah satu tetua dengan suara yang menggema di seluruh ruangan.
Sabath mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, sebuah kotak kecil yang melindungi benda tersebut agar tidak memaparkan pancaran radiasinya ke tubuh pria berkepala lonjong ke atas itu. Gorg memberikan benda tersebut kepadanya sebelum dia pergi, dan berpesan agar dia memperlihatkan benda itu ke hadapan para tetua agung.
Sejak dulu bangsa Cosmix dan bangsa Amarath serta Omarath telah menjalin persahabatan dalam bidang kebudayaan, jika kedua bangsa kuno tersebut terkenal dengan kejeniusannya, maka bangsa Cosmix terkenal dengan kekayaan budayanya serta budi pekertinya.
“Ini!…Demi roh agung! Mereka masih hidup!” Seru salah seorang tetua agung yang duduk di samping tetua pertama. Mereka pun berlomba untuk melihat benda tersebut dari jarak yang lebih dekat lagi.
“Ekhem! Tetua, kembali ke topik utama?” Sabath baru saja akan memaparkan pertemuannya dengan klan serigala, berharap agar para orang tua itu lebih yakin lagi dengannya.
“Ijin diberikan! Segera persiapkan pasukan untuk menolong pasukan revolusi, dipimpin langsung oleh Sabath!” Sang tetua agung langsung memberikan keputusan tanpa mempertimbangkannya kembali bersama dengan rekan-rekannya sesama orang tua, meninggalkan mulut Sabath yang masih terbuka.
Sabath menoleh ke arah sang dewan sejarah, lalu mengedipkan sebelah matanya. Sudah cukup selama seminggu berturut-turut dia membuatnya malu dihadapan para tetua dengan mengatakan bahwa dirinya telah mengada-ada, dengan mengatakan bahwa tidak mungkin kedua bangsa kuno itu tiba-tiba hidup kembali setelah beratus-ratus tahun mereka dinyatakan musnah.
Kurang ajarnya lagi dia telah membuka aib Sabath dihadapan para orang tua itu dengan tujuan agar mereka semakin meragukan ucapannya! Mahluk berkumis aneh itu telah menunjukan video Sabath ketika dirinya tengah mabuk bersama dengan para wanita! Konyolnya lagi mereka semua adalah robot android!
“Sekarang siapa yang terlihat konyol hah??!”