The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 14



" Perhatian kepada seluruh ksatria Phoenix! Tembak semua lambung pesawat musuh! Dia akan hancur seketika!" Bessara mengumumkan temuan besar Zaya kepada rekan-rekan nya.


Ini merupakan temuan baru yang luar biasa bisa memudahkan mereka untuk menghancurkan musuh, juga lebih cepat bagi panglima perang mereka untuk menarik mundur pasukannya. Dan itu semua langsung terbukti!


Biasanya mereka menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menggempur musuh-musuhnya, tak jarang korban jiwa pun harus berjatuhan hingga terkadang mereka kembali dalam formasi yang tidak lengkap dan dengan jumlah pasukan yang jauh berkurang. Tetapi saat ini setelah Zaya menemukan kelemahan mereka, mereka semakin yakin jika mereka semua bisa menang di setiap pertempuran.


"Whooohooooo!!!! Kita menang! Kembali ke markas teman-teman!!" Ucap salah seorang perwira level 3 ksatria Phoenix lewat pengeras suara didalam pesawat setiap rekannya, setelah musuh menarik mundur pasukannya.


"Dan tolong laporkan siapa yang telah menemukan cara jenius ini kepadaku!" Lanjutnya.


"Well...Zaya, bersiaplah! Kau akan menjadi terkenal mulai saat ini" Bessara mengedipkan sebelah matanya, lalu memerintahkan Zaya untuk mengarahkan pesawat tempur mereka ke markas.


Sekembalinya ke markas berita tentang temuan baru Zaya sudah menjadi trending topik, bahkan saat gadis itu turun dari pesawat nya dengan ditemani oleh Bessara mereka di sambut dengan tepuk tangan yang sangat meriah.


"Selamat Zaya..." Ucap Fin. Ingin sekali gadis berkulit biru ini memeluk Zaya, tetapi peristiwa terakhir kali bersama gadis ini membuat dirinya mengurungkan niatnya.


Fin juga termasuk dalam daftar kadet yang mendapatkan kenaikan pangkat sama seperti Zaya, dan sekarang bahkan kamar tidur mereka pun bersebelahan di asrama.


"Terimakasih Fin..." Zaya menyilang kan tangan kanannya serta mengangguk tanda penghormatan kepada sahabatnya itu, kini dia lebih memahami kondisi Fin yang sangat sensitif dan tidak lagi berani menyentuh gadis itu sembarangan.


Pada saat yang bersamaan Ann Marrie datang menghampiri nya bersama dengan dua orang panglima tinggi, seorang pria bertubuh tinggi besar dengan rambut panjang yang terikat dan alis mata yang tebal juga seorang pria dengan warna kulit yang sama dengan sahabatnya Fin.


Berbeda dengan Fin yang enggan untuk kembali menyentuh nya, pria tersebut langsung meminta Zaya untuk meraih tangannya saat dirinya mengulurkan jemari panjang birunya kepada Zaya.


Zaya sempat terpana melihat betapa gagah keduanya, "Mungkinkah ini panglima Gorg yang telah menolongnya waktu itu?" Pikir nya.


"Aahh...Kau gadis yang sangat istimewa" Ucap si pria berkulit biru sambil tersenyum kepada Zaya.


Zaya melakukan penghormatan penuh kepada ketiganya setelah panglima Dhar melepaskan tangannya.


"Siapa namamu?" Kilah Gorg dengan suara beratnya, padahal jelas-jelas dirinya sudah mengetahui identitas Zaya sejak lama.


"Zaya dari kesatuan satria phoenix yang mulia" Jawab Zaya tanpa berani menatap wajah nya.


"Ikut bersama kami untuk bertemu dengan anggota dewan pertahanan dan pertanggung jawabkan tindakan mu dihadapan mereka"


Riuh suara tepukan tangan kembali terdengar di dalam hangar pesawat itu saat Zaya dan Bessara meninggalkan ruangan yang sangat besar itu, mengikuti ketiga perwira tinggi untuk menghadap para anggota dewan pertahanan.


Satu jam penuh Zaya bersama dengan Bessara berada di sebuah ruangan dengan dikelilingi para anggota dewan juga para panglima tinggi, keduanya menjawab dengan benar semua pertanyaan yang diajukan oleh mereka kepada dirinya dan Bessara.


Ada yang berkata sinis saat keduanya berbicara, ada pula yang meragukan tindakan keduanya bahkan menuduh nya sebagai sebuah tindakan pelanggaran karena telah menembak tanpa ijin tapi banyak pula yang mendukung keberanian keduanya dan meminta mereka untuk menjelaskan kembali kronologis nya.


"Jika dalam sebuah pertempuran kami diharuskan untuk meminta ijin untuk menembaki musuh, bukankah itu sama saja dengan memberikan musuh kesempatan untuk menembak mati kami terlebih dulu?" Zaya menjawab pernyataan keraguan beberapa anggota dewan dan panglima dengan sebuah pertanyaan yang menohok.


Gorg tersenyum tipis melihat keberanian gadis itu dalam mematahkan keraguan rekan-rekannya, "Adakah diantara kalian semua yang masih meragukan tindakan para perwira ini?"


Seketika keheningan terjadi didalam ruangan tersebut setelah suara berat Gorg terdengar ditelinga mereka masing-masing. "Bagus, aku akan mengakhiri pertemuan kali ini, Dhar akan menerima kesimpulan dari kalian"


Gorg meninggalkan ruangan tersebut, sebagai panglima tertinggi di stasiun luar angkasa itu dirinya mempunyai kewenangan penuh atas keputusan yang telah diambil oleh para anggota dewan dan para perwira tinggi lainnya termasuk keputusan yang akan mereka sepakati bersama saat ini.


Zaya dan Bessara kembali ke asrama setelah sesi menegangkan dengan para petinggi di stasiun luar angkasa itu berakhir, ingin rasanya dia pergi ke planet Neuro dan menyantap daging lezat yang sempat dia nikmati bersama dengan Xande waktu itu lalu menikmati arak dan tidur setelah nya. Tetapi hanya ritual mandi merupakan pilihan satu-satunya disana saat ini.


"Apa kau baik-baik saja?" Fin menghampiri Zaya saat gadis itu akan membuka pintu kamarnya, dia telah menunggu kedatangan gadis di kamarnya dan sudah beberapa kali keluar masuk dari sana.


"Aku tidak baik-baik saja Fin" Jawab Zaya asal, lalu membuka pintu kamarnya dan masuk bersama dengan sahabatnya itu.


"Maksudmu?? Apa yang telah terjadi disana??" Fin mengikuti langkah kaki Zaya, dan hampir bertabrakan dengan nya.


"Aku hanya menginginkan daging groat panggang dan sebotol arak saat ini Fin....Demi roh agung! Aku bahkan sudah bisa merasakan nya di lidah ku saat ini" Ujar Zaya sambil mengecap kan lidahnya beberapa kali, lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.


"Huh! Kau ini....Tapi baguslah, ini berarti kau dalam keadaan yang baik-baik saja" Keluh Fin, lalu memutuskan untuk kembali ke kamarnya sebelum tingkah aneh Zaya membuat dirinya semakin tersiksa.


Banyak dari penghuni planet Mars yang menikah dengan para pendatang dari planet bumi dulu, dan sepertinya nenek moyang Zaya ini merupakan salah satu dari mereka pikir Fin. Karena gadis itu memiliki kepribadian yang aneh menurut nya.


Keberanian serta kepintaran Zaya juga postur tubuhnya merupakan tipikal penghuni planet Mars, sementara sikap anehnya itu pasti diwariskan oleh nenek moyang nya yang berasal dari planet berwarna biru itu keluh Fin didalam hatinya.


"Sungguh gadis yang sangat unik" Gumam Gorg saat dirinya melihat adegan film dilayar monitor kecilnya, diam-diam dirinya meminta sahabat gadis itu untuk memasang sebuah kamera kecil dikamar nya. Tentunya dengan melibatkan pengaruh dari sahabatnya Dhar.


"Daging groat panggang, apa enaknya" Lanjut nya sambil menatap daging paha groat yang telah matang dengan ukuran yang sangat besar yang sudah tersaji dihadapannya.