
Tiga puluh menit kemudian mereka baru tiba di titik koordinat tujuan, seketika kecepatan cahaya berganti secara otomatis ke kecepatan normal. Tetapi begitu Shinok baru saja tiba, dia dikejutkan dengan banyak pesawat musuh yang mengitarinya.
"Pesawat tidak mendeteksi adanya mereka yang mulia" Zaya dengan cekatan menekan deretan tombol pada layar monitor nya, untuk mengaktifkan sistem persenjataan pesawat tempur tersebut.
"Aktifkan pelindung pesawat!" Titah Gorg, dan mempersiapkan dirinya untuk kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.
"Mengaktifkan pelindung dan mengirimkan sinyal SOS" Ulang Zaya, dirinya pun mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling buruk yang akan terjadi.
"Ayolah kawan-kawan, kami membutuhkan mu" Batin Zaya. Gadis itu melihat ke sekelilingnya baik melalui jendela pesawat maupun melalui radar, dia mencari celah sekecil apapun untuk melakukan manuver dengan aman dan melarikan diri dari serangan mereka.
Kali ini bukan saatnya untuk bertindak sok pahlawan dengan melayani serangan mereka, dia harus benar-benar berpikir cermat untuk bisa lolos dari kematian.
"Sepertinya aku menemukan celah yang mulia" Zaya berbicara sambil menunjuk ke layar radar, dimana terdapat banyak titik merah disana.
"Lakukan apa yang terbaik menurut mu, dan buka sistem komunikasi...Aku ingin berbicara dengan pemimpin mereka" Gorg sudah tidak tahan mendengar ancaman yang mereka tujukan kepadanya, seenaknya saja dia memerintahkan dirinya untuk menyerahkan diri atau mati.
Tidak ada sejarahnya dalam kamus Gorg dirinya menyerahkan diri, sampai kapanpun dia akan tetap menghadapi mereka meski kesempatan nya kecil untuk bisa selamat.
"Aku panglima Gorg, dan tidak akan menyerahkan diri"
"Kebetulan sekali panglima, kau adalah orang yang sedang kami cari" Pemimpin musuh bernama Jawk dari bangsa Bor memperlihatkan dirinya lewat tampilan video, deretan gigi runcing dan kepala botak serta kulit nya yang bersisik membuat Zaya bergidik.
"Apa yang kau inginkan Jawk, apa kau masih belum puas dengan kekalahan mu!" Geram Gorg dengan suara beratnya.
"Kau! Apa kau tidak melihat ke sekeliling mu brengsek! Kau bahkan sudah kalah!"
"Owh ya??! Rasakan ini!" Gorg menekan tombol yang terhubung dengan senjata laser pada pesawatnya, hingga tembakannya mengenai pesawat paling besar dihadapannya.
"Sekarang Zaya!" Titah Gorg.
Zaya pun melakukan manuver yang tadi telah dia susun, dia menerbangkan Shinok nya dengan kecepatan tinggi sambil meliuk dengan lincahnya menghindari tembakan laser yang mengarah kepadanya.
Tut...Tut ...Tut ...
"Sial! Sayap kiri terkena tembakan!" Umpat Zaya, lalu menekan deretan tombol pada layar nya untuk menstabilkan kembali pesawatnya dan membalas tembakan musuh secara bertubi-tubi.
"Rasakan ini mahluk jelek!!!" Zaya memutar pesawatnya secara vertikal sambil melepaskan tembakan hingga beberapa pesawat musuh hancur seketika. "Yess!! Makan itu!!"
Gorg menatap Zaya dari sudut matanya, meski gadis itu hebat dalam melakukan manuver dan serangan tetapi mulutnya tidak bisa berhenti bersuara. Ini sangat unik menurutnya.
"Hai Zaya! Sisakan sedikit untuk kami!" Tiba-tiba suara Fin terdengar, bersamaan dengan munculnya pasukan ksatria Phoenix yang membantu mereka mengalahkan musuh.
"Fin! Demi roh agung! Dari mana saja kalian!" Pekik Zaya, saking bahagianya dia sampai lupa jika disampingnya saat ini adalah panglima tinggi nya.
"Well...Kami disini sekarang! Wohooooo!!!!"
Jawk dan pasukannya merasa kebingungan! Mereka seperti nyamuk yang terbang dengan suara yang sangat mengganggu ditelinga, belum lagi cara mereka mengecoh lawan. Pasukan Bor lebih sering salah sasaran dan berakhir menembaki temannya sendiri ketimbang lawannya.
"Mundur!! Mundur!!" Seru Jawk
" Urusan kita belum selesai Gorg! Kita akan lanjutkan nanti!"
"Aku akan tetap disini dan menunggu mu Jawk!" Balas Gorg, lalu memerintahkan seluruh pasukannya untuk kembali ke markas.
Disaat semuanya bersorak dan berbahagia karena merayakan kemenangan mereka, Zaya terlihat memisahkan diri setelah dia keluar dari pesawat dan membalas pelukan teman-temannya.
"Kenapa mereka bisa berada disana? Dan kenapa mereka tidak terdeteksi dalam sistem?" Batin Zaya, gadis itu memilih untuk mengikuti langkah Gorg menuju ruangan nya untuk menerima perintah selanjutnya.
Gorg tersenyum tipis mendengar suara-suara di kepala gadis itu, kecurigaannya serta pemikiran lainnya membuat Gorg semakin yakin untuk menempatkan Zaya pada posisi perwira pertama nya. Juga agar Gorg bisa tetap berada dekat dengannya tentunya.
Dhar menyambut kedatangan keduanya di ambang pintu, pria berkulit biru itu telah mengetahui berita tentang kemenangan mereka secara langsung. Dhar lah yang memerintah pasukan Phoenix untuk segera terbang dan membantu mereka, setelah sistem menerima sebuah sinyal SOS yang dikirim dari Shinok milik Gorg.
"Apa yang ingin kau ketahui?" Gorg menggerakkan kepalanya, memberikan tanda kepada Dhar agar pria tersebut memberikan penjelasan seputar kecurigaan Zaya.
Secara tidak sadar Zaya menjawab pertanyaan Gorg tanpa berbicara kepadanya, karena saat ini gadis itu masih memikirkan kenapa mereka bisa berada disana dan sistem tidak mendeteksi keberadaan mereka saat itu. Zaya bahkan menatap kosong benda-benda yang menghiasi meja kerja Gorg.
"Yang mulia, dia..." Dhar berbicara kepada Gorg dengan bahasa Sinth, begitu pula Gorg yang membalas ucapannya.
"Dia memiliki kemampuan tersebut secara alami Dhar, dan aku telah menaruh Xin di tengkuk lehernya"
Xin adalah ekstrak pheromones milik seseorang dari klan serigala, dan yang telah Gorg tanam disana merupakan ekstrak pheromones miliknya.
"Gorg itu adalah merupakan sebuah tindakan yang sangat besar, apa kau tahu resikonya? Dia akan selalu dikelilingi orang-orang dari klan mu selama hidupnya" Dhar menggelengkan kepalanya.
"Sebaiknya kita bicarakan lagi nanti Dhar, untuk sekarang ini jawablah semua pertanyaan nya" Gorg mengarahkan pandangannya kepada Zaya, gadis itu kini terlihat mengerutkan keningnya karena tidak mengerti sedikit pun percakapan diantara kedua pria berbeda bangsa dihadapannya.
Kembali ke planet Mars dimana Melinda saat ini berada.
Wanita itu tengah menangis haru setelah menerima sebuah benda dari Damian, emblem yang telah diberikan oleh Zaya untuknya.
Melinda sempat tidak percaya saat Damian meminta nya untuk mengemas semua makanan yang telah dia buat untuk anak gadisnya "Kau tidak sedang bercanda kan Damian? Kau tahu kan dimana anak kita berada saat ini?"
"Percayalah padaku Melinda, Zaya sedang berada di gedung parlemen...Anak kita saat ini adalah seorang perwira pertama untuk panglima tinggi Gorg, aku akan berusaha untuk mendekati nya" Damian bersikukuh dan tetap meminta Melinda untuk mengemasi semua makanannya.
"Dia benar-benar ada disini?" Kini Melinda baru yakin setelah Damian kembali dengan membawa sebuah benda untuknya.
"Sekarang mereka telah kembali ke Neuro Melinda, tetapi dia mengatakan akan kembali secepatnya setelah menyelesaikan semua tugasnya" Damian meraih kedua bahu Melinda, lalu menatap manik indah milik wanita itu.
"Melinda...Dia memelukku...."