
“Yang mulia…” Damian berlari kecil untuk mengejar Gorg ketika pria besar itu sudah meninggalkan gedung persidangan bersama dengan kedua temannya, dia sangat berharap untuk bisa berbincang dengan pria besar tersebut.
Selain dirinya sangat merindukan putrinya, Damian juga ingin membicarakan perihal kenapa Sabath membubuhkan kata mendiang sebelum menyebut nama anaknya tadi selain berbicara lebih jauh lagi mengenai tuduhan-tuduhan di arahkan kepadanya.
Gorg menghentikan langkahnya begitupun Dhar dan Sabath, dia hampir melupakan Damian dalam wacananya. Mau tidak mau pria itupun terpaksa meladeni Damian dan mengundangnya untuk berbicara secara pribadi di ruangannya.
“Maafkan saya yang mulia, tapi…Apakah benar apa yang telah diucapkan oleh teman anda tadi? Bahwa putri kami….” Damian tidak kuasa meneruskan ucapannya, karena saat ini selain kepada Zaya, pikirannya pun tertuju pada Melinda. Apa yang harus dia ucapkan kepada selir tercintanya itu? Pikirnya.
Gorg menatap lekat wajah Damian, bagaimanapun saat ini Zaya memang pastinya telah mengalami perubahan yang sangat drastis pada tubuhnya. Gadis itu sudah tidak lagi bisa dikatakan sebagai bagian dari bangsa bumi maupun mars, Zaya sudah terikat secara darah dengannya begitu pula dengan klan nya.
“Iya..” Jawab Gorg singkat.
“Benarkan ucapan anda tadi bahwa anda akan menikahi putri kami, jika dia masih hidup saat ini?” Bagaimanapun Damian adalah ayah biologis Zaya, adalah suatu kebanggaan baginya jika putrinya di pinang oleh pria terhormat seperti pria besar yang saat ini tengah berdiri dihadapannya.
“Aku sudah menandainya” Batin Gorg.
“Iya..Aku akan menikahinya, aku mencintai putri anda”
Gorg bisa melihat gurat kebahagiaan di wajah Damian, mungkin jika Zaya ada ditengah-tengah mereka saat ini Gorg akan secara resmi melamarnya. Sayangnya Zaya masih harus berada di kedalaman planet hingga kedua bangsa kuno itu menyelesaikan pekerjaannya.
“Terimakasih…Terimakasih yang mulia” Damian membungkukkan tubuhnya berkali-kali, meski pada kenyataannya Zaya sudah tidak ada lagi dalam hidupnya tetapi setidaknya dia merasa bahagia karena pada akhirnya sang putri mendapatkan cinta yang besar dari seseorang seperti Gorg.
Damian pun melanjutkan pembicaraannya, dia ingin tahu bagaimana tuduhan itu sampai mengarah kepada Gorg. Kali ini pria besar itu tidak sendiri, Sabath dan Dhar pun ikut membuka suaranya meski informasi yang mereka berikan tidak sepenuhnya diterima oleh Damian. Meski pria tersebut adalah ayah biologis dari Zaya, tetapi Gorg masih belum yakin apakah dirinya bisa memercayai pria tersebut. Alasan Gorg cukup logis, selain pria itu adalah anggita dewan parlemen, dia juga pastinya termasuk orang-orang dalam sekte The One.
“Semoga aku bisa memberikan bantuan untukmu yang mulia” Ucap Damian sesaat setelah dirinya meninggalkan ruangan pribadi pria sang panglima. Damian berniat akan mencari tahu kenapa kasus ini bisa tiba-tiba muncul, padahal di pertemuan terakhir dengan Gorg semua masalah telah terselesaikan dan peraturan yang belum disahkan tersebut memang telah disepakati untuk di revisi.
“Apa kau yakin bisa memercayai pria itu yang mulia?” Sabath memberanikan diri untuk membuka suara, meski dirinya yakin jika Gorg maupun Dhar belum bahkan tidak memercayai pria tersebut.
“Tidak” Ucap Gorg, lalu meninggalkan Dhar bersama dengan pria berkepala aneh itu disana. Gorg sudah sangat ingin menyendiri dan merasakan kehadiran Zaya, meski gambaran yang dia terima hanya sekilas saja.
Dhar hanya tersenyum lalu mengajak Sabath untuk membicarakan kembali kemungkinan-kemungkinan untuk mereka bisa memenangkan kasus tersebut agar dirinya beserta dengan Gorg bisa lebih cepat lagi kembali ke Neuro, pria berkulit biru itu sudah beberapakali mendapatkan panggilan dari sang ayah melalui telepati nya.
Zaya tengah tertidur pulas sambil bersandar pada tubuh serigala putihnya, ketika sang serigala besar membuka matanya dan berusaha untuk terbangun. Pada saat yang sama Ru berjalan menghampiri mereka, lalu mendengus kasar. Serigala besar itupun menundukkan kepalanya lalu pergi dan berlari ke arah hutan.
Tak lama berselang Zaya pun terbangun, lalu meregangkan badannya. Zaya mengedarkan pandangannya ke sekitar dan tidak menemukan keberadaan serigala besar yang terluka itu dimana pun, bahkan dirinya tidak bisa mencium bau dari serigala liar itu.
“Dia sudah pergi” Hira muncul daru arah samping Zaya, dan mengejutkan gadis itu.
“Apa yang akan terjadi dengannya nanti?” Zaya tahu jika serigala besar itu tidak akan lagi menjadi ketua kawanan karena tubuhnya yang terluka, meski mahluk itu sempat akan menyakitinya dan bahkan telah menyakiti Ra, tetapi masih ada rasa kasihan dalam dirinya. Terlebih jika nantinya dia akan dibunuh oleh kawanannya sendiri karena berebut kekuasaan, dia tidak akan lagi dikenal sebagai serigala yang terkuat karena luka yang cukup parah pada tubuhnya akibat semburan api mother dragon.
“Mungkin dia akan tersisih dari kawanannya, tetapi itu merupakan hal yang lumrah dalam kawanan serigala” Jawab Hira, lalu menunjuk Ra dengan mengerucutkan bibirnya.
“Dia baik-baik saja, aku bisa mendengar detak jantungnya yang lebih teratur tadi” Zaya kembali mengelus bulu-bulu halus di tubuh Ra, sekilas dia pun bisa melihat Ru yang berjalan mondar mandir di kejauhan.
“Kenapa dia?” Zaya memicingkan matanya dia tidak mungkin salah mengenali serigala hitam milik Gorg tersebut.
“Aku rasa dia sedang memasuki masa pubertas, dan sepertinya Ru menyukai serigala cantikmu” Hira terkekeh, pasalnya tingkah Ru mengingatkan dirinya kepada sang kakak. Keduanya sama-sama tidak bisa mengekspresikan perasaannya!
Zaya menghela nafasnya lalu berlari menghampiri Ru, dia bermaksud untuk mengajak serigala besar itu berjalan-jalan ke hutan untuk mencari ikan Trout yang besar. Zaya ingin memberikan ikan tersebut untuk Ra, ketika serigala putihnya itu terbangun nantinya.
“Pastikan pulang sebelum malam tiba!” Seru Hira sambil melambaikan tangannya.
Zaya memeluk Ru erat ketika serigala besar itu berlari sangat kencang menuju hulu sungai, andaikan Gorg berada bersama dengannya saat ini pasti dirinya akan sangat bahagia. Entah apa yang membuatnya masih tertahan disana, dia hanya mengikuti perintah Khan yang menyuruhnya untuk menunggu hingga semuanya siap dan akhirnya mereka akan muncul kembali ke permukaan untuk memulihkan keadaan Neuro.
“Ru, Apa itu?” Zaya meminta serigala besar itu untuk berhenti, dari kejauhan dia melihat sebuah kubah dengan cahaya biru memancar dari dalamnya. Dia memang pernah mendengar desas-desus mengenai energi biru yang legendaris itu, tetapi hingga saat inipun dia belum pernah melihat bagaimana bentuknya.
Dan seingatnya baru pertama kali ini Zaya melihat kubah biru besar tersebut, selama dirinya pulang dan pergi ke hulu sungai untuk bermain dengan para naga. “ Kita ke sana Ru!” Pinta Zaya, serigala itupun mengikuti perintah Zaya dan berbelok lalu berlari ke arah bangunan bulat tersebut.