The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 8



“Kau Zaya?” Seorang kesatria Phoenix bertanya kepada Zaya saat gadis itu memasuki pesawat, lalu menduduki kursinya di samping wanita berkulit pucat dengan bola mata biru dan tanda bintang di keningnya.


Hari ini Zaya mulai berlatih menerbangkan pesawat tempur secara langsung, setelah sebulan lamanya dia belajar menerbangkan pesawat di ruang simulasi.


“Iya aku Zaya” Jawabnya sambil melakukan penghormatan dengan menyilang kan tangan kanannya di dada dan mengangguk.


“Aku Xande, aku akan menjadi lead phoenix mu hingga kedepannya” Balas Xan lalu meminta Zaya untuk menyalakan mesin pesawat dan menyebutkan titik koordinat tujuan mereka.


“Kau hafalkan titik koordinat itu Zaya, kita akan ke planet Neuro” Lanjutnya, lalu mengarahkan kemudi pesawatnya keluar dari hangar setelah mendapatkan ijin terbang dari AI.


“Menyalakan mode kecepatan cahaya” Ucap Zaya sambil menekan beberapa tombol yang ada di atas dan depannya.


Pesawat itu pun melesat dengan kecepatan cahaya menuju planet Neuro, disana dia akan bergabung dengan para kesatria daratan untuk berlatih perang di sebuah gurun. Zaya akan menghabiskan sisa waktunya disana hingga nanti dia lulus ujian akhir dan mendapatkan ijin untuk menerbangkan pesawatnya sendiri serta terjun langsung ke medan perang.


 Tidak sampai satu jam penerbangan mereka tempuh untuk bisa sampai di planet berwarna merah itu, padahal jika menggunakan pesawat komersial menuju planet tersebut membutuhkan waktu hingga satu bulan penuh untuk bisa sampai disana.


“Whoa…Ini luar biasa keren!” Tanpa sadar ucapan tersebut terlontar begitu saja dari mulut Zaya. Dihadapannya saat ini terdapat sebuah stasiun luar angkasa yang tidak kalan besarnya dengan stasiun luar angkasa di luar planetnya, bedanya stasiun besar ini lebih mirip dengan pesawat perang berukuran mega besar.


“Tunggu hingga musuh menyerang, baru kau akan tahu kehebatan sesungguhnya dari benda itu” Ujar Xan, lalu meminta ijin kepada AI disana untuk mendaratkan pesawatnya didalam hangar.


Mereka akan beristirahat semalam diatas stasiun besar itu, sebelum keesokan paginya Zaya dan Xande turun ke planet Neuro dan akan kembali ke markas pada malam harinya untuk mengisi bahan bakar dan memperbaiki kerusakan mesin.


“Seperti apa dibawah sana Xande?” Zaya melihat planet merah tersebut dari balik jendela kamarnya, dia akan tinggal bersama dengan lead phoneix nya hingga lulus nanti.


“Disana hanya ada hamparan gurun dan beberapa goa bawah tanah, konon ada sebuah tempat yang indah dengan banyak pepohonan disana tetapi hingga saat ini tidak ada satupun dari kami yang bisa menemukannya” Balas Xande dengan mata tertutup dan posisi terlentang.


Xande berasal dari suku bangsa Babilon dari planet Aurora yang merupakan sekutu bangsa Sinth di planet Neuro, mereka memiliki keunikannya sendiri di tubuhnya. Jika Fin sangat sensitif saat bersentuhan dengan orang lain hingga bisa melihat gambaran hidupnya, maka Xande bisa mengenali seseorang itu berniat jahat atau tidak hanya dengan merasakan energi orang tersebut meski tidak bersentuhan dengannya.


“Kau gadis istimewa Zaya, sebaiknya kau rahasiakan ini dari semua orang” Xande membuka matanya dan memperbaiki posisi duduknya.


“Kami orang-orang Babilonia dan Sinth akan selalu menutup rapat mulut-mulut kami, tetapi tidak dengan bangsa yang lainnya” Lanjutnya, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dia taruh diatas meja disamping ranjangnya.


“Gunakan ini, besok kita akan bertemu dengan seorang tabib Sinth yang akan membuatkan sesuatu di tubuhmu” Xande memberikan sebuah kalung dengan batu kristal berwarna hitam sebagai liontin nya kepada Zaya, dan memaksa gadis itu untuk langsung mengenakannya.


“Kau adalah orang kedua yang mengatakan hal ini kepadaku, aku hanya anak dari seorang selir Xande…Tidak mungkin aku seistimewa itu” Keluh Zaya, meski terpaksa tetapi dia menuruti wanita berkulit pucat itu untuk mengenakan kalung pemberiannya.


“Apakah temanmu itu dari bangsa Sinth?” Xande mengerutkan keningnya, dia tidak memiliki alis mata saat melakukan hal itu hingga terlihat lucu dimata Zaya.


“Baguslah, kau akan aman berada dekat dengannya…Ingat Zaya, jangan biarkan seorangpun tahu tentang hal ini” Xande menepuk bahu Zaya, dia semakin bisa merasakan energi yang sangat besar dari juniornya itu.


Keesokan paginya Zaya dan Xande sudah berada didalam pesawatnya, mereka bahkan melewatkan sarapan pagi karena Xande akan mengajak Zaya untuk bersarapan di planet merah itu. Keduanya memeriksa kembali kondisi pesawat mereka sebelum pesawat tersebut membawa mereka turun ke planet Neuro.


Sniff…Sniff…


Dari kejauhan seorang pria berambut panjang terikat dengan seragam lengkap seorang perwita tinggi mencium bau khas yang sangat kuat hingga membuat jantungnya berdegup kencang, pria tinggi besar berotot itu harus mengontrol andrenalin nya agar tidak ada seorangpun yang tahu apa yang sedang dia rasakan saat ini.


“Hemmmhhhh…”


Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hangar besar tersebut untuk mencari pheromone milik siapa yang telah berhasil membuat adrenalin nya naik, yang dia tahu ini merupakan pheromone yang  berasal dari seorang perempuan dan dia harus segera menandainya ( Imprint ).


Tetapi dia harus ekstra berhati-hati agar identitas aslinya yang telah lama dia sembunyikan terbongkar, karena ancaman bukan hanya berasal dari suku nya saja melainkan dari semua suku bangsa.


Bertahun-tahun dia berhasil mengelabui orang-orang dari suku bangsa Sinth dan Babilon serta suku bangsa asalnya, akan sangat konyol jika hanya gara-gara pheromone yang dia cium semuanya akan hancur berantakan.


“Panglima Gorg, jadwal latihan semua kadet akan berlangsung dalam waktu dua jam dari sekarang…Apakah anda akan turun langsung ke lapangan?” Seorang wanita berambut cepak menghampirinya dan memecahkan lamunannya.


“Tidak Ann Marrie, aku akan beristirahat hari ini” Jawabnya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya, seperti yang biasa dilakukan para pria di seluruh galaksi ini.


“Baik Panglima, apakah anda membutuhkan sesuatu untuk menemani istirahat anda hari ini?”


“Panggilkan tabib Mink, dan suruh dia untuk menemui ku di kamar” Gorg meninggalkan Ann Marrie dan melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dia tidak berhasil menemukan sang pemilik pheromone hari ini. Tetapi mulai besok dia akan berusaha untuk menemukannya.


“Baik Panglima” Ann Marrie tetap melakukan penghormatan kepada atasannya tersebut meski pria itu sudah berlalu dari hadapannya.


Jika saja Gorg bukanlah mahluk berjenis kelamin laki-laki yang sangat di istimewa kan oleh bangsanya saat ini, dan bukan pula atasannya mungkin dirinya sudah menghajarnya karena ketidaksopanan pria gagah tersebut.


Ann Marrie menghela nafasnya kasar, pasalnya untuk menemukan tabib sialan itu dia harus masuk ke koloni Sinth yang berada di ujung utara stasiun luar angkasa tersebut. Bukan hanya jaraknya saja yang jauh tetapi dia malas jika harus bertemu dengan koloni bangsa yang terkenal sangat sensitif itu, jika saja dia bisa menyuruh seseorang untuk mencari pria tua tersebut dia akan rela membayarnya dengan uang berapapun jumlah yang dia minta.


Tetapi sayangnya ini merupakan tugas yang diberikan langsung oleh Gorg kepadanya.


“Huuffhhh….”