The Love Of Zaya

The Love Of Zaya
Part 48



Saat ini hampir setiap hari telah terjadi peperangan di atas planet Mars, pasukan musuh berusaha untuk keluar dari planet tersebut menuju planet Neuro untuk membantu rekan-rekannya disana. Selain itu mereka pun berupaya keras untuk mengambil alih kembali stasiun luar angkasa di kedua planet itu.


Musuh tidak hanya mengerahkan pasukan intinya saja, mereka pun menjalin kerjasama dengan para tentara bayaran juga musuh-musuh dari pasukan revolusi. Ini sempat membuat Gorg dan rekan-rekannya kewalahan saat menghadapi mereka, tetapi dengan menggabungkan kekuatan yang ada dengan kecerdasan para kesatria langit yang bergabung dengan mereka akhirnya musuh pun bisa dikalahkan.


Dan bukan hanya itu saja, musuh telah menyebarkan sayembara siapa yang bisa menangkap ketua pasukan revolusi maka mereka berhak mendapatkan hadiah yang jumlahnya fantastis! Tak tanggung-tanggung supreme leader akan memberikan satu peti besar adamantium juga kedudukan tinggi disampingnya.


“Gorg, kita harus menggabungkan kekuatan!” Dhar memasuki ruangan sang panglima, dia telah melihat pasukan musuh yang semakin hari semakin bertambah banyak. Belum lagi dia telah menerima kabar bahwa The One akan menurunkan pasukan terkuatnya dari salah satu mata-matanya di planet mars.


“Jika kita tetap berada disini, kita hanya tinggal menunggu waktu hingga seluruh persediaan amunisi dan pasukan kita habis” Lanjutnya.


Gorg memang telah merencanakan untuk bergabung bersama dengan anggotanya yang lain di stasiun luar angkasa neuro, tetapi dia masih mencari waktu yang tepat untuk mereka meninggalkan pesawat mega besar ini bersama. Lagipula jika tetap membiarkan stasiun ini tetap beroperasi itu sama saja bohong, Gorg berencana untuk menghancurkan tempat ini.


“Serangan berikutnya, biarkan mereka tahu jika kita semua mati bersama dengan stasiun ini” Balas Gorg, lalu meminta semua awak kapalnya untuk mempersiapkan diri melalui Dhar.


“Ide yang cukup brilian…” Sanjung Zaya, tetapi kita semua sama-sama tahu jika Gorg tidak akan puas jika hanya mendengar kata cukup dari mulut gadis itu.


“Cukup katamu??!” Gorg menggerakkan tangannya, seakan menarik tali kasat mata yang mengikat Zaya hingga tubuh gadis itu tertarik dan duduk diatas pangkuannya.


“Sangat brilian…” Zaya hampir saja menyentuh bagian penting dari tubuh pria tersebut karena berusaha untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak mendarat dengan kasar disana, jika saja dia tidak dengan cepat melakukan manuver dengan memutar tubuhnya. Tapi sayangnya tanpa sadar bagian bokong gadis itulah yang mendarat tepat disana, hingga membuat Gorg menahan nafasnya seketika.


“Kau baik-baik saja Gorgen? Wajahmu seperti buah peach” Dengan polosnya Zaya menatap wajah Gorg sambil menggerakkan tubuhnya.


“Aku baik-baik saja…” Gorg membuang nafasnya dengan susah payah, dia tidak mau membuat Zaya terkejut dengan miliknya dibawah sana.


Cup!


“Baguslah…Aku pikir kamu sakit” Zaya mencium pipi pria gagah tersebut, lalu menggerakkan tubuhnya kembali agar dirinya merasa lebih nyaman bersandar di dada milik Gorg.


Zaya mengerutkan keningnya saat merasakan sesuatu yang mengganjal di bokongnya, dia mengira itu adalah pedang milik Gorg yang telah menghalanginya untuk duduk dengan nyaman di sana. Zaya bermaksud untuk memindahkan pedang tersebut dengan tangannya, tetapi langsung mengurungkan niatnya setelah mendapatkan peringatan dari pria tersebut.


Dan untungnya kehadiran Hira kedalam ruangan itu telah menyelamatkan Gorg dari peristiwa memalukan yang hampir saja terjadi.


“Kami sudah menempati posisi, sebentar lagi musuh akan tiba…Dan kau tidak akan percaya dengan siapa telah yang menyertai mereka sekarang” Ucap Hira, setelah gadis itu mengangguk pelan saat memasuki ruangan tersebut.


Gorg berusaha menyembunyikan sesuatu dari pandangan sang adik dengan melakukan hal tersebut, tetapi sayangnya malah membuat keadaan menjadi semakin buruk bagi dirinya. Bayangkan saja benda yang masih mengeras itu tertimpa oleh bobot tubuh Zaya sekaligus!


Hira hanya tersenyum nakal melihat pemandangan tersebut tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu agar keduanya bisa menyelesaikan apapun urusan mereka sebelumnya.


“Demi roh agung” Cicit Gorg, sambil meremas ujung kursinya. Gorg harus menahan dengan sekuat tenaga rasa linu pada benda pusaka nya tanpa membuat Zaya ketakutan, jika saja keadaan memungkinkan mungkin saat ini dia sudah melampiaskan semuanya kepada gadis itu.


“Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?” Zaya memutar tubuhnya, bermaksud untuk menatap wajah Gorg tetapi lagi-lagi pria itu menahan nafasnya bukannya menjawab pertanyaan darinya.


“ Aku mencintaimu Zaya…” Hanya kata-kata itu yang sanggup Gorg ucapkan ketika dia akhirnya membuang nafasnya secara perlahan, bersamaan dengan itu perasaan lega pun hinggap di dalam dirinya. Pria gagah itupun menautkan bibirnya dengan bibir milik gadis kecilnya.


“Biarkan mereka menembakan meriamnya ke bagian kiri pesawat!” Seru Dhar, dia tahu bagian terlemah dari stasiun luar angkasa itu adalah pada bagian turbin yang terletak di bagian kiri pesawat mega besar tersebut.


Sementara dirinya serta Gorg dan sebagian dari pasukannya mengalihkan perhatian para musuh, Zaya serta Hira tengah mengevakuasi para awak kapal. Mereka menaiki pesawat-pesawat phantom saat satu persatu dari mereka keluar dari stasiun yang sudah mulai hancur tersebut tanpa bisa terdeteksi oleh musuh.


Musuh mengundang serta pasukan Jawk dari bangsa Bor! Tentu saja mahluk setengah reptil itu sangat bangga melihat stasiun dimana musuh bebuyutannya berada saat ini sudah hampir hancur karena tembakan meriamnya yang bertubi-tubi, dia tidak mengindahkan sama sekali perintah sang supreme leader yang menyuruhnya agar membuat benda mega besar itu tetap utuh.


“Hira! Apa mereka semua sudah pergi??!” Suara Dhar menggema di seluruh hangar, tepat pada saat pesawat terakhir dari para awak meninggalkan tempat itu.


“Sudah! Cepat nyalakan sistem pertahanan otomatis dan segeralah kesini!” Balas Hira, suaranya pun terdengar dengan jelas di anjungan pesawat besar tersebut.


Dhar pun menyalakan sistem pertahanan otomatisnya, lalu segera pergi meninggalkan tempat tersebut bersama Gorg dan sisa awak kapalnya menuju hangar pesawat. Disana Hira dan Zaya telah bersiap dalam pesawatnya masing-masing, dan menunggu kedatangan mereka.


Mereka pun pergi meninggalkan stasiun luar angkasa tersebut dengan pesawat phantom nya, dan menyalakan kecepatan cahaya segera setelah berhasil keluar dari pintu peluncuran menuju stasiun luar angkasa Neuro.


DUARRR! DUARRR! BUMMMM!


Seketika markas pertahanan pertama dari musuh pun hancur berkeping-keping dengan radius ledakan yang cukup luas hingga hampir menghancurkan pesawat-pesawat musuh jika saja mereka tidak segera pergi meninggalkan tempat itu.


Tanpa memperdulikan kemarahan sang supreme leader, Jawk menarik mundur semua pasukannya dan menghilang entah kemana. Setidaknya dendam kesumat mereka telah terbayarkan saat ini, dia tidak perduli lagi dengan hadiah besar yang telah dijanjikan oleh mereka.


“Rasakan itu serigala laknat!”