
[Aina!!] Gumam Dirk, elbert, kinsey dan Kimberly dalam hati dengan ekspresi kaget dan panik.
“AARRRGGGG!!!!” Suara teriakan aina yang terdengar sangat nyaring.
[Aina!! Sial, aku tidak bisa bergerak bebas!!] gumam erik dalam hati dengan ekspresi panik dan khawatir.
Balkon itupun jatuh kebawah dengan sangat cepat. Wajah abilerdo penuh dengan rasa takut dan khawatir melihat aina yang jatuh bersama balkon kamar Kimberly.
[Tidak!!! Aku tidak ingin mati seperti ini!!] gumam aina dalam hati sambil menutup matanya.
[Tunggu dulu!! Apa lantai dua istana setinggi ini?? Kenapa aku belum jatuh jadi perkedel??] gumam aina dalam hati yang nampak bingung dan masih menutup matanya.
[Tidak!! Bukan lantainya yang terlalu jauh. Tetapi, balkon ini berhenti!!] gumam aina yang nampak bingung.
Aina membuka matanya dengan sangat perlahan karena sedikit takut untuk melihat.
[Bintang yang sangat indah...] gumam aina dalam hati saat membuka matanya.
Aina sejenak tertegun dengan pemandangan langit malam yang terasa sangat dekat dengan matanya. Aina pun tersadar dengan pandangannya itu.
[APA!! BINTANG??? LANGIT MALAM??] gumam aina dalam hati dengan ekspresi kaget.
Aina melihat ke sekeliling, yang dilihatnya hanyalah pemandangan langit malam yang penuh bintang itu. Dengan perlahan aina menatap kearah bawah, dengan sangat cepat ekspresi aina berubah menjadi sangat terkejut.
Aina yang masih berada di balkon dan memeluk tiang balkon seakan melayang diatas istana kerajaan aeres dengan ekspresi yang kaget dan bingung.
“Bukankah tadi, aku jatuh kebawah?? Kenapa aku bisa ada diatas??” gumam aina yang nampak bingung.
“Itu karena, aku masih ingin bermain-main denganmu!!” suara seorang anak.
[Siapa??] gumam aina dalam hati sambil menatap ke kiri dan ke kanan.
Tatapan aina berhenti di satu titik. Aina menatap dalam sosok seseorang yang melayang tak jauh dari aina.
[Orang itu?? Melayang??] gumam aina dalam hati dengan ekspresi kaget.
[Hah!!! Dia???] gumam aina dalam hati dengan ekspresi bingung.
“Bocah..” Gumam aina dengan nada datar.
Anak itu mendengar apa yang digumamkan oleh aina barusan. Dia terlihat kesal karena aina mengatakan “Bocah”.
“Bocah?? Siapa yang kau sebut bocah??” tanya anak itu.
Aina hanya menatap dingin anak itu.
[Tunggu!! Apa dia bisa melihatku??] gumam anak itu dalam hati dengan ekspresi bingung.
“Apa..Apa kau bisa melihatku??” tanya anak itu dengan ekspresi bingung.
“Memang siapa lagi bocah diatas langit ini?!” kata aina dengan nada dingin.
[Ini mustahil!! Kenapa dia bisa melihatku??] gumam anak itu dalam hati dengan ekspresi kaget.
Aina menatap dan memperhatikan setiap gerak gerik dari anak itu.
“Apa yang kau lihat??” tanya anak itu.
“Dengan melihatmu, aku bisa menebak!! Umurmu pasti 13tahun. Benarkan bocah??” kata akan sambil tersenyum sinis.
[Dia..??] gumam anak itu yang terlihat sedikit panik dan bingung.
“Oi..bocah!! Apa kau yang melakukan semua ini??” tanya aina dengan nada datar.
“Cara bicaramu sangat tidak enak didengar!! Dan lagi aku bukan bocah!! Aku punya nama!!” kata anak itu dengan ekspresi kesal.
“Kenapa kau terlihat kesal?? Bukankah yang kukatakan itu benar??” tanya aina dengan nada menekan.
[Dia?? Cara bicaranya saja bisa membuatku terintimidasi!!] gumam anak itu dalam hati dengan ekspresi kaget.
“Namaku evan!! Bukan bocah!! Dasar gadis kasar!!” kata evan dengan ekspresi kesal.
“Aku tidak menanyakan namamu!!” kata aina dengan nada dingin.
“Kau!!” gumam evan dengan ekspresi kesal.
“Begini caramu bicara dengan orang yang lebih tua?? Atau mungkin kau bodoh!!” kata aina sambil tersenyum sinis.
“Benar!! Karena bagiku kau hanya mainan, begitu juga dengan teman-temanmu!!” kata evan sambil tersenyum mengejek.
“Mainan?? Apa kau tidak berpikir?? mainan seperti ini tidak sesuai dengan umurmu, bocah!!” kata aina sambil tersenyum sinis dan nada yang mengejek.
“Kau benar-benar gadis yang sangat kasar dan jelek!!” kata evan dengan ekspresi kesal.
“Jelek??” gumam aina yang terlihat suram.
Aina menatap evan dengan tatapan dingin.
“Apa yang kau lihat, jelek??” tanya evan dengan ekspresi bingung.
“Apa kau tahu?? Mengatai seorang gadis dengan kata seperti itu bisa melukai perasaan seorang gadis??” tanya aina dengan nada dingin.
“Mengatai apa?? Maksudmu jelek?? Bukankah itu benar!!” kata evan sambil tersenyum mengejek.
Evan terlihat sangat kesal dengan kata-kata aina dan nada bicara aina yang seakan-akan membuatnya tertekan.
“Kurasa kau juga tidak tahu!! Jika membuatku marah, kau akan menanggung akibatnya.” Kata evan dengan ekspresi kesal.
[Apa maksudnya??] gumam aina dengan ekspresi bingung.
“AARRGGG!!” Suara teriakan aina.
Disisi lain,
Abilerdo dan yang lain masih berada dikamar Kimberly. Ekspresi abilerdo yang merasa sangat bersalah karena tidak sempat menolong aina semakin terasa.
Abilerdo dan yang lainnya terus berusaha untuk bergerak walaupun angin kencang itu sangat membebani tubuh mereka.
Tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan aina yang terdengar diatas langit istana kerajaan aeres.
[Aina??] gumam abilerdo dalam hati dengan ekspresi bingung.
Teriakan aina pun perlahan mulai terdengar mendekati mereka semua yang berada didalam kamar Kimberly.
Balkon yang aina tempati berhenti tepat didepan kamar Kimberly. Aina masih memeluk erat tiang balkon itu sambil menutup mata.
[Balkonnya berhenti lagi.. Jantungku hampir copot!! Untunglah aku sudah biasa naik rollcoaster bersama yuki!!] gumam aina dalam hati yang masih menutup matanya.
[Dasar bocah sialan!!] gumam aina dalam hati sambil membuka matanya dengan ekspresi kesal..
[Aina...] gumam abilerdo dan erik sambil menatap aina yang berada dibalkon yang melayang diluar kamar Kimberly.
“Hei..bocah!! Sudah cukup main-mainnya!!” kata aina dengan ekspresi kesal sambil menatap keatas.
“Ai..aina.. Kau tidak apa-apa??” tanya abilerdo yang terlihat khawatir.
Aina tertegun dan membalikkan pandangannya.
[Abilerdo??] gumam aina dalam hati sambil menatap abilerdo.
“Kalian?? Apa kalian baik-baik saja??” tanya aina dengan ekspresi khawatir.
“Bukankah, kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu??” tanya elbert dengan.
“Aku??” gumam aina dalam hati dengan ekspresi bingung.
“Tuan putri, apa kau tidak menyadarinya?? Kau melayang-layang seperti itu, apa kau tidak takut??” tanya elbert.
[Benar juga sih!! Ini sangat aneh. Aku melayang diluar sini tanpa ada angin sedikitpun, tetapi mereka semua tidak bisa bergerak karena angin yang sangat kencang!!] gumam aina dalam hati.
“Aku baik-baik saja!!” kata aina.
Abilerdo, erik dan yang lainnya pun sedikit lega mendengar apa yang dikatakan oleh aina.
Evan turun menghampiri aina dengan perlahan dan melayang disamping balkon aina.
“Wah..wah.. Pemandangan yang sangat indah!.” Kata evan sambil menatap kamar Kimberly.
[Semua ini karena kau!!] gumam aina dalam hati dengan ekspresi kesal.
“Semua ini karena bocah sialan ini!!” kata aina sambil menunjuk evan.
“Aina.. Apa yang kau bicarakan??” tanya abilerdo.
“Siapa maksudmu??” tanya elbert.
“Ini, bocah yang melayang disampingku ini.” Kata aina sambil menatap evan.
Abilerdo, erik dan yang lainnya semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh aina.
“Percuma, mereka tidak bisa melihat dan mendengar ku!!” kata evan sambil tersenyum sinis.
[Apa??] gumam aina dalam hati dengan ekspresi kaget.
Aina menatap abilerdo dan yang lainnya. Sangat jelas mereka terlihat bingung dengan apa yang dikatakan oleh aina.
"Apa kalian tidak bisa melihat bocah ini??" tanya aina dengan ekspresi bingung dan sedikit panik.
"Aku tidak melihat siapapun disitu selain dirimu." kata Kimberly.
Evan tertawa dengan sangat keras seakan mengejek aina.
"Bukan hanya jelek!!! Kau juga akan dianggap sebagai orang gila!! Teman-temanmu sama sekali tidak mempercayai dirimu!! Mereka hanya percaya dengan apa yang terlihat." kata evan sambil tertawa mengejek.
Aina tertunduk dengan ekspresi suram dan aura yang dingin.
................................
Nantikan kelanjutan episodenya ya.
Maaf kalau ada salah kata.
Terima Kasih sudah membaca