The Legend Of Sun Queen

The Legend Of Sun Queen
Siapa gadis ini?



KERAJAAN KUNSTKRING


“Abi...abilerdo, Tolong!! Tolong aku!!”, kata seorang perempuan yang menangis dalam mimpi abilerdo.


“Tidak...tidak...TIDAK!!!!”, teriakkan abilerdo dalam mimpi.


Tiba-tiba abilerdo terbangun dalam tidur nya, seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, rasa kesedihan yang selama ini dia pendam kembali muncul hanya karena mimpi itu. Dia berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menuju balkon kamarnya untuk menenangkan diri. Dia berdiri di balkon sambil melihat kearah langit yang di penuhi bintang-bintang yang indah, tetapi keindahan langit dan kerajaannya tak memudarkan kesedihan yang terpancar jelas di wajahnya, sosok yang selalu dia rindukan entah ada dimana.


Pagi hari.


Abilerdo masuk ke ruangan raja, tempat itu sering dia gunakan untuk mengatur strategi disaat akan menyerang musuh, juga salah satu tempat pribadinya, hanya orang kepercayaan saja yang dapat masuk ke ruangan itu. Abilerdo pun berjalan ke arah tempat duduknya, di mejanya bertumpuk dokumen-dokemen yang harus dia cap memakai s’tempel kerajaan dan beberapa informasi penting


Tok..tok..tok!!! Bunyi pintu terdengar.


“yang mulia, saya dirk!”


“masuk!!”, kata abilerdo.


Dirk pun membuka pintu dan masuk ke ruangan raja. Dia berlutut dan memberi salam pada yang mulia raja.


“berdirilah! ada informasi apa?”, tanya abilerdo.


“kinsey mengirim informasi, katanya desa A di serang oleh segerombolan orang yang tak di kenal. Orang-orang itu sangat kuat menurut cerita orang di desa itu”, kata dirk.


“kumpulkan beberapa pasukan!!! Kita akan berangkat kesana’, kata abilerdo dengan tegas.


“Baik yang mulia”, jawab dirk.


“Katakan pada Elbert, dia juga harus ikut bersama kita”, kata abilerdo.


Sejenak dirk begong, dan merasa heran kenapa yang mulia memerintahakan dia dan elbert sekaligus, biasanya yang mulia hanya membawa salah satu dari mereka.


“Sepertinya yang mulia tahu siapa di balik penyerangan di desa A, disana juga masih ada dirk”, kata dirk yang bergumam dalam hati.


“Kenapa kau masih begong?”, kata abilerdo.


“Sa..saya.. Eh hamba akan melaksanakan perintah yang mulia!! Hamba permisi dulu.”, kata dirk yang terbata-bata.


Abilerdo menghela nafas melihat dirk yang keluar dengan gugupnya.


“haaiis..Bocah itu! Mengapa dia harus gugup didepanku?!”, gumam abilerdo.


Sejak abilerdo diangkat jadi raja dan ke 3 sahabatnya di angkat sebagai pengawal khusus, Mereka memang sudah tak seperti dulu lagi, meraka bertiga secara otomatis menghargai dan menghormati abilerdo sebagai seorang raja, mereka hanya mengingat tugas dan tanggung jawab mereka dengan baik, sampai sikap disiplin pun terus mereka lakukan walaupun hanya mereka yang bertatap muka dengan abilerdo, Tapi salah satu dari ketiganya masih menonjolkan sikap kekonyolannya.


“Sepertinya yang mulia kurang tidur, matanya terlihat sedih, apa dia masih merindukan gadis itu?” gumam dirk di depan pintu.


Hari dimana mereka berangkat pun tiba, abilerdo bersama pasukannya berangkat menuju desa A. Dalam perjalanan beberapa kali abilerdo memikirkan musuh dibalik penyerangan desa A, dia sangat mencurigai bahwa yang menyerang desa A adalah pasukan yang pasti sangat terlatih yaitu pasuka raja melville karena tak ada pasukan yang berani masuk ke wilayah kekuasaannya sekalipun itu pemberontak. Abilerdo pun menyuruh elbert untuk mengirimkan pesan pada kinsey untuk tetap berjaga di desa A sampai meraka tiba.


Tuk..tuk!!! Seekor burung hinggap ke pipi aina. Aina membuka matanya perlahan, dia pingsan sambil memegang erat kalung yang dia temukan di hutan belakang sekolahnya saat kejadian itu terjadi.


“hhmm..”, suara kecil aina yang mulai sadar.


“ouch.. pinggangu sakit!”, gumam aina sambil berdiri menyentuh pinggangnya.


Dia melihat kesekitar, yang dilihatnya adalah padang rumput hijau, dia merasa sangat asing dengan tempat itu. Dia tersadar ketika dia melihat kalung yang dia pegang dan mengingat kejadian cahaya putih yang menyeretnya bersama yuki.


“Dimana ini?? Dimana yuki??”, gumam aina dalam hati sambil melihat kekiri dan kekanan.


Aina memakai kalung yang dia temukan itu dan berjalan perlahan memasuki hutan dan terus meneriaki nama yuki sambil merasa kekatukan dan khawatir.


“Yuki, Kumohon jika kamu mendengar suaraku, teriaklah!! Aku benar-benar ketakutan dan khawatir!!, Suara aina yang perlahan-lahan mulai mengecil.


Aina pun tersungkur dan menangis sambil bergumam dalam hati “Yuki, kamu sebenarnya dimana?”, gumam aina yang menangis dengan secengkang-kencangnya, dia menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa karena dia, yuki terseret dalam kejadian seperti ini.


“Seharusnya aku tidak berlari kehutan waktu itu! seharusnya aku langsung masuk rumah! dengan begitu yuki tidak akan terseret ke tempat yang asing ini!!”, gumam aina yang menyalahkan dirinya sendiri sambil terus menangis.


Aina yang masih menangis pelan, mulai berdiri perlahan, dia menyadari jika dia hanya berdiam diri disini, dia tak akan pernah menemukan yuki, aina pun berjalan melewati hutan, dia merasa hutan yang dia lewati ini seperti tidak berujung, tak ada jalan atau pemukiman yang dia temukan, hanya hutan yang tak kunjung habis.


Aina tersesat di hutan selama dua hari tanpa makan dan minum, dia pun mulai merasa putus asa yang teramat dalam, kakinya yang lemas tak mampu lagi untuk berjalan, dia merasa mungkin ini adalah batas hidupnya, dia pun duduk dan bersandar di sebatang pohon dan mengingat kenangan indah bersama yuki sahabatnya. Perlahan-lahan mata aina pun terpejam.


Di samaping itu, selama 2 hari perjalanan, abilerdo dan pasukkanya mulai dekat dengan desa A, masih butuh waktu 1 hari lagi untuk tiba di desa A. Abilerdo memerintahkan dirk dan elbert memantau di sekitar untuk memastikan apakah aman bermalam disini, setelah beberapa saat mereka kembali dan mengatakan tak ada yang mencurigakan di tempat ini.


Langit pun mulai terlihat gelap, Abilerdo memerintahkan pasukkanya berkemah dan bermalam di tempat ini, sementara itu pasukkannya menyiapkan tenda dan peralatan lainnya, abilerdo berjalan sendiri memasuki hutan dan diikuti oleh Dirk dan Elbert.


“*Aku ingin berjalan sendiri, kalian berdua kembalilah!!”, kata abilerdo pada dirk dan elbert.


“Tapi yang mulia..”, jawab dirk.


“jangan khawatir, bukankah kalian bilang disini aman? Pergilah!” kata abilerdo.


“Memang benar! tapi yang mulia, bagaimana jika musuh tiba-tiba datang menyerang?”, kata elbert.


"iya benar yang mulia, kami tidak akan meninggalkan yang mulia sendiri!!", tegas Dirk dan membenarkan perkataan elbert.


“Apa kalian meragukan kemampuanku?”, tanya abilerdo.


“Ti...tidak yang mulia, tentu saja tidak”, jawab elbert.


“kalau begitu tinggalkan aku sendiri, aku hanya ingin menghirup udarah sebentar”, kata abilerdo.


“Baiklah yang mulia, kami pergi dulu”, jawab dirk walaupun tak rela meninggalkan abilerdo.


“Bagaimanapun juga yang mulia adalah orang yang terkenal memiliki kekuatan yang hebat dan kuat di bandingkan anggota kerajaan lainnya, karena kekuatannya itu dia bisa menjadi raja terkuat yang pernah ada di Kunstkring”, gumam elbert dalam hati sambil berjalan pergi*.


"Mereka terdengar seperti orang tua saja", gumam abilerdo dalam hati sambil tersenyum.


Abilerdo mulai berjalan menjauh dari kemah pasukkannya, sesekali dia melihat ke kanan dan kekiri yang hanya ada pohon, tiba-tiba ada satu kunang-kunang yang terbang mengelilingi tubuhnya. Abilerdo hanya terdiam dan tersenyum melihat kunang-kunang itu.


Setelah beberapa saat Kunang-kunang itu mulai terbang pergi dari abilerdo, entah kenapa kaki abilerdo secara refleks dan perlahan mengikuti kunang-kunang itu.


Abilerdo terus mengikuti kemana kunang-kunang itu terbang, dan akhirnya kunang-kunang itu berhanti di satu pohon dan kemudian terbang berputar-putar di bagian badan pohon, abilerdo mendekati pohon itu dan senyum-senyum sendiri melihat kunang-kunang yang hanya terbang mengelilingi badan pohon saja, tiba-tiba dia kaget melihat ada tangan yang tergeletak di balik pohon, dia pun langsung melangkahkan kaki ke balik pohon itu untuk melihat tangan siapa itu.


Abilerdo kaget melihat sosok seorang gadis yang pucat bagaikan kertas tergeletak di balik pohon itu, secara spontan abilerdo menyentuh nadi yang di leher gadis itu untuk memastikan dia masih hidup atau sudah mati. “ternyata dia masih hidup!, siapa gadis ini? Kenapa pakaiannya terlihat asing?”, gumam abilerdo dalam hati yang merasa sangat bingung.


Terima kasih sudah membaca!


Nantikan kelanjutannya di episode selanjutnya.....


Jangan lupa like dan favoritkan ya..


maaf kalo ada salah kata!