The Legend Of Sun Queen

The Legend Of Sun Queen
Teriakan Minta Tolong yang Selalu Terngiang



Keesokkan harinya,


Abilerdo, aina dan yang lain memulai perjalanan mereka ke istana, selama perjalanan, aina dan abilerdo tak pernah saliang bicara.


Dari sifat mereka berdua memang sangat sulit untuk dekat, Abilerdo terkenal dengan sikap dinginnya pada para wanita, sedangkan aina terkenal sebagai gadis yang jutek dan cuek.


Tetapi jauh di lubuk hati mereka tersimpan rasa peduli, yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


[Yuki, aku pasti akan Menemukan mu] Gumam aina dalam hati, sambil menatap langit dari jendela kereta.


Abilerdo, aina dan yang lainnya berhenti sejenak untuk beristirahat.


Sebenarnya mudah saja kembali ke istana, dengan menggunakan portal, tetapi untuk memindahkan rombongan sebanyak itu tidaklah gampang. Apalagi yang bisa membuka portal hanya abilerdo dan Dirk saja.


Abilerdo turun dari kereta yang diikuti aina, begitu juga dengan yang lainnya.


"Enaknya menghirup udara segar!! kakiku bakal lebih keram kalau terlalu lama duduk!!" Gumam aina sambil meregangkan tubuhnya.


Abilerdo menatap aina dengan wajah yang aneh, dan kemudian pergi kearah sungai.


[Apa-apaan sikapnya itu!!] gumam aina yang kebingungan.


Aina melanjutkan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.


Abilerdo yang duduk di tepian sungai diikuti oleh dirk.


"Yang Mulia, saya akan menyiapkan tempat duduk untukmu!!" kata Dirk.


"Tidak perlu!! lebih nyaman duduk seperti ini." kata abilerdo.


"Oh iya.. sebentar lagi makan malamnya akan siap" kata Dirk.


"Baiklah!! pergi tanyakan pada aina, apa dia ingin makan sesuatu!!" kata abilerdo.


Dirk sesaat terkejut, tak biasanya abilerdo seperti ini, dia biasanya terlihat cuek dan dingin pada seorang wanita, tetapi tidak kali ini. Dirk merasa bahwa abilerdo sedikit menaruh perhatiannya pada aina.


Dirk pun pergi meninggalkan abilerdo yang duduk di tepian sungai, dia berjalan kearah aina. Disitu terlihat aina sedang di goda oleh kinsey dan elbert, walaupun terlihat kesal tetapi sepertinya aina tidak begitu marah dengan sikap kinsey dan elbert.


Abilerdo menatap kearah air sungai, wajahnya terlihat murung. Itu karena dia mengingat kembali sosok seorang gadis yang sangat dia rindukan.


Didesa A, Saat aina pingsan dengan tubuh yang kedinginan, abilerdo terlihat sangat panik, semua itu karena abilerdo mengingat sosok gadis yang sangat dia cintai, tertidur tak bernyawa dalam pelukannya.


Kesibukan apapun yang abilerdo rasakan tidak membuat dia lupa dengan gadis itu. Karena suatu alasan abilerdo tidak memakamkan gadis itu dengan selayaknya.


Bukan karena tidak bisa dimakamkan, tetapi saat memeluk gadis yang tubuhnya dingin, kaku dan tak bernyawa itu, tiba-tiba tubuh gadis itu perlahan menghilang. Entah apa yang terjadi.


Sejak saat itu, abilerdo merasa sangat bersalah. Teriakan "minta tolong" yang terngiang di telinganya membuat dia gemetaran tak berdaya.


[Semua ini salahku!!! Seandainya aku bisa lebih kuat saat itu, mungkin dia tidak akan...!!] Gumam abilerdo sambil memegang kepalanya.


Setiap senyuman dari gadis itu, selalu terbayang dalam pikiran abilerdo. Abilerdo semakin larut dalam rasa frustasinya.


"Hei!! Apa yang kau lakukan??" kata aina sambil menepuk pundak abilerdo dari belakang.


Abilerdo terkejut dan menatap aina, aina pun tersenyum. Melihat senyuman aina, abilerdo merasa lega, seperti tersihir oleh senyuman manis aina.


Rasa bersalah yang abilerdo rasakan seperti hilang hanya dengan melihat aina tersenyum. Walaupun kerinduan dan penyesalan sulit untuk dilupakan, tetapi setidaknya membuat abilerdo merasa lega.


Abilerdo merasa bebannya terbagi dalam senyuman aina. Dan entah mengapa, saat melihat senyuman aina, abilerdo merasakan perasaan yang sangat aneh, seperti membuat hatinya yang berat menjadi ringan dan seakan hati abilerdo berkata "Untunglah kau tidak apa-apa".


"Apa yang kau lihat???" kata aina dengan wajah bingung melihat abilerdo yang terlihat bengong.


"Se..nyuman..mu..." kata abilerdo dengan nada yang pelan seperti tidak sadar akan apa yang dikatakannya sendiri.


Abilerdo pun sesaat tersadar, dan dengan cepat berdiri dan memalingkan wajahnya dari arah aina.


Suasana antara mereka menjadi canggung, abilerdo sendiri tidak habis pikir, mengapa dia bisa berpikiran seperti itu.


"Mak..maksudku, senyuman mu sangat jelek!!" kata abilerdo yang ingin menghilangkan suasana canggung itu.


"Apa?? jelek??" kata aina dengan wajah yang tiba-tiba menjadi kesal.


"Iya jelek!!! ditambah wajahmu yang pas-pasan!!" kata abilerdo yang terdengar sedikit menggoda aina.


"Wahh.. kau membuatku tak bisa berkata apa-apa lagi!!!" kata aina dengan wajah yang kesal.


"Kelak jangan tersenyum seperti itu didepan orang lain!! aku akan malu karena wajahmu yang jelek itu!!" kata abilerdo dengan senyuman yang mengejek.


"Jelek atau tidak, aku tidak pernah meminta pendapatmu!! aku tersenyum pada siapapun, itu bukan urusanmu!!" kata aina dengan nada dingin dan wajah yang terlihat kesal.


[Gadis ini!!!] gumam abilerdo dalam hati yang menahan kekesalannya.


Aina pun memalingkan tubuhnya dan berjalan perlahan meninggalkan abilerdo dengan wajah yang kesal.


[Aku benar-benar sudah gila!! kenapa aku bisa tersenyum pada pria arogan seperti dia!! Yaa ampun aina.. dimana sifatmu yang jutek itu?? huft..] Gumam aina dalam hati dan terlihat kesal dan bingung


Saat melangkahkan kaki, aina terhenti.


"Terima Kasih karena sudah menolongku!!" kata aina dengan penuh ketulusan sambil membelakangi abilerdo.


Aina pun pergi meninggalkan abilerdo. Nampak senyuman abilerdo yang terlihat tersentuh dengan beberapa kata dari aina.


Mereka semua makan bersama dan bermalam ditempat itu.


Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan mereka.


Dari kejauhan sudah nampak gerbang masuk ibu kota kunstkring. Jalan, bangunan, dan rumah-rumah yang terlihat elegan seperti jalan yang ada di kerajaan eropa dulu kala.


Kota yang sangat ramai dan elegan itu membuat aina tak henti-hentinya terkagum, mata dan kepalanya melihat kearah kanan dan kiri dari jendela kereta.


Aina menutup matanya dan menghirup udara yang sejuk dan harum itu. Keramaian dan udara ibu kota kunstkring mengingatkan dia pada tempat dia dilahirkan.


Aroma dari ibu kota kunstkring membuat aina rindu dengan green town, tempat dia dibesarkan. Dia merasa senang melihat pemandangan ibu kota kunstkring.


Akhirnya Abilerdo, aina dan yang lainnya memasuki gerbang istana kunstkring.


Aina kagum melihat gerbang istana yang terlihat sangat indah dan kokoh itu. Sesaat setelah masuk, aina terpesona dengan keindahan bunga yang ada disekitaran taman istana.


Kereta Abilerdo pun berhenti tepat didepan, bangunan istana yang sangat megah membuat aina tak bisa menghentikan untuk memandangnya dengan wajah yang terkagum-kagum.


Sesaat terlihat para mentri, bangsawan, prajurit dan pelayanan istana sudah berdiri tegak menyambut kepulangan raja mereka.


[Wahh... jadi ini istana kunstkring?? benar-benar istana yang sangat megah!!] Gumam aina dalam hati dengan wajah yang sangat terkejut.


...................................


Nantikan kelanjutan episodenya ya:)


jangan lupa vote, like dan favorit kan.


maaf kalau ada salah kata.


Terima Kasih sudah membaca