
Tak...tak...tak... suara langkah kaki yang menghampiri aina dan Kimberly.
"Apa yang kalian lakukan??" tanya erik.
"Pa..pangeran?? sa..salam pangeran." kata Kimberly yang kaget sambil membungkuk.
Kimberly secara refleks berdiri dari tempat duduk dengan gugupnya. Sedangkan aina terlihat cuek sambil menikmati secangkir teh yang ada di tangannya.
[Apa gadis ini mengabaikan ku??] Gumam erik dalam hati dengan ekspresi dingin.
Kimberly yang masih dalam keadaan sedikit membungkuk melirik aina sambil memberikan sebuah kode dari matanya. Kimberly sangat gugup dan sedikit panik melihat aina yang hanya duduk santai tanpa menyapa erik.
"Apa kau tuli??" tanya erik yang sedikit kesal.
Aina meletakkan cangkir teh nya dan menatap erik.
"Apa kau tidak lihat?? Kami sedang minum teh. Atau mungkin kau buta!!" kata aina dengan nada yang dingin.
Kimberly sangat terkejut dengan perkataan aina yang terdengar sangat pedas itu. Sedangkan erik nampak suram dengan aura dingin disekitar tubuhnya.
"Ai...!!" gumam Kimberly yang terlihat panik.
"Pangeran, maafkan ai.. maksudku maafkan tuan putri. Akhir-akhir ini moodnya memang tidak bagus." kata Kimberly yang terdengar gugup dan panik.
"Kenapa kau meminta maaf??" tanya aina.
Kimberly dengan cepat berdiri disamping aina.
"Aina.. hentikan!!" bisikan Kimberly kepada aina.
"Kenapa??" tanya aina dengan santai nya.
"Ya Tuhan.. apa kau ingin membuat masalah dengan pangeran erik??" bisikan Kimberly yang terdengar gugup dan panik.
Aina menghela nafas melihat tingkah Kimberly yang terlihat sangat panik dan gugup.
Aina tidak ingin melibatkan Kimberly karena sikap aina yang seperti itu terhadap pangeran. Aina pun mencoba untuk mengalah.
"Maaf dengan perkataanku pangeran." kata aina yang terdengar terpaksa.
Erik hanya nampak dengan ekspresi dingin tanpa mengatakan apapun.
"Bisakah kalian semua pergi??" kata erik dengan nada yang menekan.
Kimberly kaget, namun dengan cepat dia beranjak pergi dari tempat itu dengan ekspresi yang gugup dan panik, termasuk para pelayan istana yang berada disitu.
Aina berdiri dari tempat duduknya dan hendak mengikuti Kimberly juga.
"Kamu, diam disitu!!" kata erik dengan nada menekan sambil menatap aina.
[Apa sih maunya??] gumam aina dalam hati yang sedikit kaget dan kesal.
Kimberly yang sedang berjalan menjauh dari erik dan aina, sesekali dia melirik aina dan memberikan isyarat dari mulutnya "Kumohon, jaga sikapmu."
Aina hanya bisa menghela nafas melihat Kimberly yang memberikan isyarat padanya.
"Katakan, apa maumu??" tanya aina sambil menatap erik.
"Apa kau tidak bisa lebih sopan lagi?? Atau kau lupa siapa diriku??" tanya erik dengan nada kesal.
"Aku tahu dan aku tidak lupa!! Terus kenapa?? Apa sikapku membuatmu terganggu??" kata aina dengan nada dingin.
"Kau..!!!" gumam erik yang terlihat sangat kesal.
"Oh iya.. yang aku dengar, kau sama sekali tidak begitu peduli dengan sikap para gadis padamu!! Kenapa sekarang kau terlihat peduli dengan sikapku padamu??" kata aina dengan nada yang menekan dan ekspresi yang dingin.
"Jangan bercanda!! Siapa yang peduli??!!! Aku hanya ingin kau sedikit menghormati ku." kata erik dengan nada yang dingin.
"Benarkah?? Tetapi menurutku, kau tidak seperti itu!!" kata aina dengan nada dingin.
Erik terdiam dengan ekspresi yang dingin. Dia tidak bisa membalas apa yang dikatakan oleh aina.
"Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi, aku pergi dulu." kata aina dengan nada cuek.
Aina pun berdiri dari tempat duduknya. Saat aina hendak melewati erik, erik meraih lengan aina dan menggengmannya dengan sangat erat.
"Apa yang kau lakukan??" tanya aina yang terlihat kesal.
"Jika kau tidak ingin memanggilku pangeran, tak bisakah kau memanggil namaku??" tanya erik tanpa menatap aina dan masih menggenggam lengan aina.
Aina tertegun dengan pertanyaan erik.
"Ap..apa maksudmu??" tanya aina yang terdengar gugup dan kaget.
Erik melepaskan genggaman aina dan menatap mata aina.
"Tak bisakah kau memanggil namaku??" tanya erik dengan nada lembut sambil menatap mata aina.
Aina semakin kaget dan tak bisa percaya bahwa erik bisa berbicara dengan sangat lembut.
"Kau... apa kau ingin mempermainkan ku??" tanya aina yang terlihat sedikit gugup.
"Tidak!! Aku serius." kata erik dengan cepat sambil menatap aina.
Untuk beberapa saat mereka berdua saling tatap satu dengan yang lain. Karena saking gugupnya, aina memalingkan pandangannya dari erik.
[Aku memang sedikit kesal padanya karena makan malam waktu itu, tetapi dia sudah berbaik hati mengajakku jalan-jalan keliling ibukota aeres. Tidak ada salahnya juga aku membalas sedikit kebaikannya.] Gumam aina dalam hati sambil berpikir.
"Ba..baiklah.." kata aina sambil memalingkan wajahnya.
"Mak..maksudku.. aku akan memanggil namamu, er..erik!!" kata aina yang terlihat sedikit gugup dan wajah yang merona.
Erik tersenyum melihat wajah aina yang dianggapnya sangat imut yang juga memanggil namanya.
"Ap..apa kau sudah puas??" tanya aina yang sedikit kikuk.
"Ternyata kau memiliki sisi imut juga!!" kata erik sambil tersenyum menatap aina.
[Pria batu ini tersenyum??] Gumam aina dalam hati yang sedikit tertegun.
"Tentu saja.. Apa kau pikir aku batu sepertimu??" kata aina yang terdengar malu-malu.
[Sekarang aku mengerti!! Dibalik sikap dingin dan cueknya, gadis ini memiliki aura lembut dan wajah terlihat manis.] gumam erik dalam hati sambil menatap aina.
"Oh iya, kau juga harus memanggil namaku." kata aina dengan nada santai.
"Apa boleh??" tanya erik yang terdengar menggoda aina.
"Tentu saja." kata aina dengan penuh semangat.
[Tunggu.. Apa dia sedang mencoba menggodaku??] gumam aina dalam hati sambil menatap ekspresi erik.
"Terserah kau saja!!" kata aina yang terlihat cemberut.
[Dia sangat imut.] Gumam erik dalam hati sambil tersenyum.
"Apa yang kau pikirkan?? Ah.. sudahlah... aku pergi dulu." kata aina dengan nada cuek.
Aina pun beranjak dan berjalan kearah pintu samping istana aeres, sejenak aina terhenti dan membalikkan badannya.
"Oh iya.. aku hampir lupa." kata aina yang sedikit menjauh dari erik.
Erik menatap aina dengan ekspresi bingung.
"Selamat datang kembali, erik." kata aina sambil tersenyum manis.
Erik tertegun mendengar apa yang dikatakan aina. Dan untuk pertama kalinya, erik melihat senyuman tulus dari wajah cantik aina untuk dirinya.
Setelah mengatakan itu, aina berbalik dan meninggalkan erik yang berdiri sambil menatap aina.
[Ternyata, dia cantik jika tersenyum.] gumam erik dalam hati sambil tersenyum kecil.
[Aina.. Apa kau tahu, senyumanmu itu bisa membuat hati orang lain menjadi tenang?? Kenapa kau bisa menyembunyikan sifatmu yang sebenarnya dibalik sikap dingin dan jutekmu itu?? Apa yang sudah terjadi padamu??] Gumam erik dalam hati.
[Mungkin saat ini, aku harus menyimpan pertanyaan ini!!] gumam erik dalam hati.
Aina masuk kedalam kamarnya dengan perasaan yang tenang sambil berdiri menatap jendela kamarnya.
[Yuki, aku memiliki seorang teman lagi.] gumam aina sambil menatap langit dari jendela kamarnya.
"Oh iya, kenapa akhir-akhir ini aku sering tersenyum pada orang lain?? Apa otakku mulai bermasalah??" gumam aina dalam hati sambil berpikir.
Kreeaakkk.... Bunyi pintu kamar aina yang tiba-tiba terbuka.
"AINA!!! Apa yang sudah kau lakukan lagi??" tanya Kimberly sambil masuk kedalam kamar aina.
[Ada apa dengan wajahnya??] gumam aina sambil menatap Kimberly.
"Aina, apa kau mengatai pangeran lagi?? ayo cepat jawab." kata Kimberly yang terlihat panik.
"Kimmy, kenapa kau begitu panik??" tanya aina dengan ekspresi bingung.
"Ya ampun aina, aku yang seharusnya bertanya. Apa kau tahu, aku sangat ketakutan melihat ekspresi pangeran saat kau mengatai dirinya seperti itu." kata Kimberly yang terlihat sedikit takut.
"Aku merasa, kau bisa membuatku mati muda karena sikap dan kata-kata mu itu pada orang lain." gumam Kimberly dengan ekspresi sedih.
"Sudah..sudah.. jangan dipikirkan!!" kata aina sambil tersenyum.
"Aina.. sebenarnya, apa yang kau makan sampai-sampai membuatmu selalu berkata pedas pada orang lain??" tanya Kimberly sambil menatap aina dengan bingung.
"Jika mengingat kejadian tadi, aku terlalu takut untuk bertemu pangeran." gumam Kimberly yang terlihat takut.
Aina tersenyum melihat sikap Kimberly yang seperti itu, yang tiba-tiba terlihat takut dan sedih, dan tiba-tiba terlihat marah-marah terhadap aina.
[Bukankah yang menyinggung erik, itu aku?? Kenapa Kimmy yang terlihat panik dan gugup?? bahkan dia terlihat seperti ibu-ibu yang mengomel.] Gumam aina dengan ekspresi bingung.
[Tetapi... Aku tahu, dia seperti ini karena dia sangat peduli padaku.] Gumam aina dalam hati sambil tersenyum.
.....................................
Nantikan kelanjutannya ya.
Maaf kalau ada salah kata.
Terima Kasih sudah membaca