
Tak..tak..tak.. suara langkah kaki yang sangat cepat ke arah kamar aina.
" Yang Mulia, ramuan penghangat tubuhnya sudah selesai." kata ireine sambil membawa mangkok ditangannya.
"Cepat berikan padaku." kata abilerdo.
Ireine memberikan mangkok yang berisi ramuan kepada abilerdo.
Abilerdo beranjak dari tempat tidur aina dan duduk disamping aina. Abilerdo meminum ramuan itu dan menyuapi aina lewat mulutnya.
Wajah panik dan khawatir dari mereka semua yang ada di kamar aina, berubah menjadi terkejut dengan wajah yang sedikit merona.
Namum disisi lain, mereka mengerti bahwa aina tidak bisa meminum ramuan itu sendiri.
Abilerdo terus menerus menyuapi ramuan itu pada aina lewat mulutnya sendiri sampai habis. Dia sama sekali tidak memperdulikan pandangan dan tatapan mereka semua.
Sayangnya, walaupun ramuan itu sudah habis diminum oleh aina, tetap saja tubuhnya dingin.
"Ireine, kenapa bisa begini?? suhu tubuhnya tetap saja dingin." kata abilerdo dengan wajah panik.
Ireine langsung memeriksa tubuh aina.
"Yang Mulia, denyut nadi dan jantung tuan putri sudah semakin melemah. Sepertinya jantung tuan putri mulai membeku." kata ireine dengan ekspresi khawatir dan panik.
"Apa maksudmu?? itu tidak mungkin!!" kata abilerdo yang terlihat kesal karena ketakutan yang dia rasakan.
Dirk, elbert, kinsey dan Kimberly terdiam tanpa mengatakan apapun, Namun, rasa sakit hati dan khawatir tidak bisa mereka tutupi dari wajah mereka.
Abilerdo tidak sanggup melihat aina yang perlahan membeku didepan kedua matanya. Abilerdo duduk di kursi samping tempat tidur aina sambil menggenggam tangan aina.
Tubuh aina perlahan mulai membiru dalam tidurnya. Abilerdo hanya bisa menundukkan kepalanya sambil menggenggam tangan aina dengan erat.
"Sepertinya, aku terlambat membawa ramuan itu." gumam ireine dengan nada suara yang merasa bersalah dan terdengar sedih.
Mereka semua sama sekali tidak mampu menatap aina yang mulai membiru. Beberapa dari mereka hanya berdiri sambil menundukkan kepala dengan ekspresi menyedihkan, dan yang lain membalikkan badan dan meneteskan airmata tanpa bersuara.
Putus asa dalam kesunyian, itulah gambaran suasana kamar aina.
Ditengah-tengah putus asa yang abilerdo rasakan. Muncul sebuah cahaya di atas tempat tidur aina.
Cahaya itu bagaikan harapan yang muncul dalam keputusasaan.
Didalam mimpi aina.
"Yuki..Yuki..Yuki!!" suara tangisan aina sambil memanggil nama yuki.
Aina terperuk dalam kesedihan melihat yuki yang jatuh dari atas tebing.
Aina menangis dengan tubuh yang gemetar dan rasa sakit yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Aina yang awalnya tersungkur dengan tangisan kesedihan, perlahan mulai berdiri.
"Yuki.. aku akan mengikutimu!! Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu sendirian." gumam aina dengan wajah yang terlihat putus asa.
Aina melangkahkan kaki secara perlahan, dia bermaksud untuk melompat dari tebing, mengikuti yuki.
Dengan airmata yang bercucuran, aina mulai melompat dari tebing itu. Saat dia hendak melompat, ada sebuah tangan seorang pria yang meraih tangan aina dan menarik aina kembali.
"Siapa yang tadi menarik ku??" gumam aina dengan wajah bingung.
Orang itu hilang saat tubuh aina kembali dan berbalik.
"Aina... aina..." suara panggilan seorang gadis.
[Suara ini?? Sepertinya aku pernah mendengarnya!!] Gumam aina dalam hati sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
"Siapa kau sebenarnya??" tanya aina dengan ekspresi bingung.
Sosok seorang gadis yang samar-samar mulai muncul dihadapan aina, semakin lama sosok itu semakin terlihat jelas.
Rambut gold yang terurai indah, wajah yang sangat cantik bagaikan bidadari dan suara yang lembut terdengar seperti seorang malaikat.
"Kau.. siapa??" tanya aina sambil menatap gadis itu dengan bingung.
Gadis itu hanya tersenyum menatap aina tanpa menjawab pertanyaan aina.
"Aina..." panggil gadis itu sambil tersenyum dengan hangatnya.
[Suara ini..??] gumam aina dalam hati.
"Aku pernah mendengar suara ini!! Aku ingat, suara dan panggilan ini terdengar saat aku dan yuki tersedot masuk ke dimensi ini, dan saat aku dalam kegelapan di desa A waktu itu." Gumam aina dengan suara kecil.
[Aku bisa merasakan, gadis ini tidak akan menyakitiku.] gumam aina dalam hati.
"Sepertinya, kau selalu datang disaat aku dalam bahaya!! Aku mengenal suaramu!!" kata aina sambil menatap gadis itu.
"Kau benar!! Anggap saja, aku teman dalam mimpimu!!" kata gadis itu sambil tersenyum manis.
Sesaat aina terpesona dengan senyuman manis di wajah cantik gadis itu.
[Jadi, semua ini mimpi?? Kalau begitu yuki??] Gumam aina dalam hati.
Gadis itu perlahan mulai menghilang dari hadapan aina.
"Tunggu!! Kau belum mengatakan siapa kau sebenarnya!!" Teriak aina yang mencoba meraih gadis itu.
Gadis itu pun hilang sambil tersenyum menatap aina, dan diikuti oleh cahaya yang menyilaukan mata aina.
Aina menutup matanya karena tidak tahan melihat cahaya yang sangat terang itu.
Disisi lain.
Secara bersamaan Dirk, elbert, kinsey, Kimberly, ireine dan karin menatap cahaya yang muncul di atas tubuh aina.
Abilerdo tetap masih menundukkan kepalanya sambil memegang tangan aina.
Cahaya kecil yang perlahan muncul itu, berbentuk seperti bola.
"Bukankah ini, cahaya yang tadi??" gumam kinsey sambil menatap cahaya itu.
Cahaya itu perlahan berubah menjadi sebuah tongkat yang tidak asing dimata mereka.
"Tongkat?? Bola cahaya itu berubah menjadi tongkat??" gumam Kimberly yang bingung.
Abilerdo langsung menatap tongkat cahaya, saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kimberly.
Sesaat mata mereka seperti terhipnotis melihat keindahan tongkat cahaya yang melayang diatas tubuh aina.
Tongkat cahaya yang legendaris dan selama ini dicari oleh semua orang, muncul dihadapan abilerdo dan yang lainnya.
Tongkat cahaya mulai mengeluarkan kekuatannya dan mengarahkan kekuatan tersebut kepada aina yang mulai membeku.
"A..apa yang dilakukan tongkat itu pada aina??" gumam Kimberly yang nampak bingung.
Entah kenapa abilerdo sama sekali tidak mencegah apa yang dilakukan oleh tongkat cahaya tersebut.
Abilerdo bisa merasakan bahwa tongkat itu tidak memiliki aura yang jahat. Dan dia sangat yakin, tongkat cahaya itu adalah tongkat milik Ratu Alesa (Sun Queen).
Dirk, elbert dan kinsey juga merasakan hal yang sama, karena tongkat cahaya itu sudah menolong mereka dan melenyapkan awan gelap yang tadi.
Tubuh aina perlahan mulai terlihat normal kembali.
"Yang..Yang Mulia, tubuh Tuan putri mulai berubah." kata ireine sambil menatap aina.
Sentak membuat abilerdo dan yang lainnya menatap aina dengan ekspresi terkejut.
"Tongkat ini, sepertinya menyembuhkan aina.." gumam Kimberly yang bingung dan terkejut.
Tubuh aina yang membiru sudah terlihat normal kembali, dan masih dalam keadaan tertidur, aina sedikit menggerakkan jemari tangannya.
"Aina..." panggil abilerdo dengan ekspresi lega sambil memegang jemari aina.
Abilerdo dan yang lainnya kembali menatap tongkat cahaya yang masih melayang diatas tubuh aina.
Saat aina mulai bergerak, tongkat cahaya itu pun berubah menjadi bola cahaya dan menghilang.
"Tongkat itu menghilang!!" Gumam kinsey.
Dirk dan elbert menatap ke kiri dan ke kanan mencari tongkat cahaya itu, bahkan mereka sampai membuka pintu balkon kamar aina untuk mencari kemana perginya tongkat cahaya tersebut.
Namun, tongkat cahaya itu tidak terlihat dimanapun.
"Ehmm.." suara kecil aina sambil membuka matanya dengan perlahan.
"Aina..." Panggil abilerdo sambil menatap aina dan masih memegang tangan aina.
Mereka semua langsung menatap aina dengan wajah yang penasaran dan sedikit khawatir.
"Ka..kalian.." gumam aina sambil membuka matanya dan melihat mereka semua yang masih nampak samar.
"Kalian semua, kenapa bisa ada di kamar ku??" tanya aina dengan ekspresi bingung.
Mereka tidak menjawab pertanyaan aina. Namun, terdengar hela nafas yang lega dari mereka semua.
Mereka semua seperti terlihat senang melihat aina yang sudah membuka matanya, bahkan tubuh aina yang kembali normal menjadi kelegaan tersendiri untuk mereka.
Abilerdo menatap aina dengan senyuman yang sangat lega dan masih memegang tangan aina. Aina pun menatap abilerdo dengan kebingungan.
[Pria arogan ini... tersenyum???] gumam aina yang nampak kebingungan.
..........................
Nantikan kelanjutan episodenya ya.
Maaf kalau ada salah kata.
Terima Kasih sudah membaca