The Legend Of Sun Queen

The Legend Of Sun Queen
Berpura-pura cuek, tetapi ekspresinya..??



Abilerdo menyuapi pil penyembuh kepada aina dengan menggunakan mulutnya sendiri.


Bibir abilerdo dan aina bersentuhan dengan lembut. Abilerdo nampak merona, pipinya terasa terbakar dengan sentuhan bibir aina yang terasa sangat lembut.


Ciuman ini terasa sangat lama, karena abilerdo tidak bisa langsung pengeluaran semua obat yang ada di mulutnya ke dalam mulut aina.


Abilerdo menahan rasa malu dan gugupnya karena bersentuhan dengan bibir aina.


Malam yang terasa dingin dan panjang itu akhirnya berakhir.


Keesokan harinya, matahari yang bersinar di pagi hari yang hangat itu membuat pemandangan istana kunstkring terlihat berkilau indah, mengingat hujan deras dan petir yang menakutkan semalam.


Aina mulai sadarkan diri, dia membuka matanya dengan perlahan.


[Kenapa aku bisa berada dikamar??] Gumam aina dalam hati yang masih melihat langit kamarnya dengan samar-samar.


Tubuh aina masih terasa lemah karena demam semalam yang dia rasakan.


Masih dalam keadaan berbaring, aina memalingkan tubuhnya ke kanan, itu karena dia merasa sedikit keram semalam tidur dengan satu posisi saja.


Dengan kesadaran yang samar-samar, aina melihat seorang pria yang tidur disampingnya itu.


[Siapa pria tampan ini??] Gumam aina dalam hati yang masih dalam keadaan setengah sadar.


Aina mengangkat tangannya dengan perlahan untuk menyentuh wajah abilerdo yang terlihat pulas dalam tidurnya.


[Tunggu dulu!! pria??] Gumam aina dalam hati yang mulai sadar.


Aina memfokuskan pandangannya dan menatap abilerdo yang tertidur itu.


[A..a..APA!!!!! PRIA AROGAN!!!] Gumam aina dalam hati dengan ekspresi terkejut.


Dengan sangat terkejut aina terbangun dan sadar 100%, Wajahnya memerah bagaikan tomat. Sambil dengan ekspresi yang terkejut aina duduk diatas kasur nya sambil menatap abilerdo dengan kebingungan.


Gerakan tubuh aina yang secara tiba-tiba membuat abilerdo terbangun.


"hmm..kenapa kau sudah berisik sekali pagi-pagi??" kata abilerdo sambil bangun dengan posisi duduk di atas kasur juga.


"Ka..ka..KAU!!! Apa yang kau lakakun di tempat tidurku??" tanya aina dengan nada terkejut sambil menunjuk abilerdo.


Abilerdo hanya menatap aina dengan kebingungan, dia belum menyadari setuasi yang terjadi padanya.


Tiba-tiba abilerdo tersadar.


"Kau.. Kau sudah sadar?? Bagaimana keadaanmu??" kata abilerdo yang terlihat sedikit khawatir dan memeriksa dahi aina.


"Apa yang kau lakukan??" kata aina yang terlihat kesal.


Abilerdo mengabaikan pertanyaan aina, dia terus menyentuh dahi aina dan kemudian menyentuh tangan aina.


Aina merasa malu dengan sentuhan abilerdo, dan juga masih berada dalam satu tempat tidur dengannya membuat wajah aina memerah seperti tomat.


"Kenapa wajahmu memerah?? Apa kau demam lagi??" kata abilerdo yang menatap wajah aina sambil menyentuh dahi aina.


[Pria ini!! Dasar......] Gumam aina dalam hati yang terlihat kesal.


"Singkirkan tanganmu dari tubuhku!!!" kata aina dengan nada kesal sambil menyingkirkan tangan abilerdo dari dahinya.


"Dan sampai kapan kau akan duduk di tempat tidurku?? DASAR PRIA BRENGSEK!!!" Kata aina dengan tatapan amarah dan wajah yang memerah.


"Brengsek???" gumam abilerdo dengan nada kecil.


Abilerdo turun dari kasur aina dan menatap aina dengan tatapan dingin.


"Apa yang kau lihat??" tanya aina sambil menarik selimut.


"Sepertinya sekarang kau sudah baik-baik saja!!" kata abilerdo sambil menatap aina.


Abilerdo memalingkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu keluar.


"Aku pergi dulu!! Jangan lupa untuk sarapan!! Jika urusanku sudah beres , aku akan kesini." kata abilerdo sambil membuka pintu kamar aina.


Abilerdo keluar dari kamar aina, wajahnya terlihat merona saat keluar dari kamar aina.


Abilerdo juga merasa malu dan sedikit canggung karena bisa tertidur semalaman dalam satu tempat tidur yang sama dengan aina.


Abilerdo bisa menahan apa yang dia rasakan saat bersama aina di dalam kamar tadi. Abilerdo memang hanya terlihat biasa-biasa saja saat bangun, tetapi sebenarnya dia sekuat tenaga untuk mengontrol perasaan malu dan canggungnya itu.


"Apa?? dia hanya pergi begitu saja??" gumam aina dengan ekspresi terkejut dan kesal.


"Apa dia benar-benar sudah gila!!! Dasar Brengsek!!" gumam aina dengan ekspresi yang sangat kesal.


"Sebaiknya kau jangan datang kesini lagi!!!" gumam aina yang terdengar kesal.


Abilerdo yang masih berdiri didepan pintu kamar aina, dihampiri oleh karin yang hendak membawakan sarapan untuk aina.


"Yang Mulia, saya membawakan sarapan untuk tuan putri." kata karin sambil membungkuk.


Abilerdo melirik sarapan yang dibawa oleh karin, yang kemudian menyuruh karin masuk ke kamar aina.


Abilerdo kembali ke kamarnya untuk bersiap, karena masih ada sisa-sisa pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


Dikamar aina.


"Aku tidak lapar!!" kata aina yang masih memikirkan kejadian tadi dengan ekspresi marah.


"Tapi tuan putri.." kata karin yang terlihat khawatir.


"Tunggu dulu!!! Bisakah kau tidak memanggilku tuan putri??" kata aina yang menekan.


"Maaf tuan putri, saya tidak bisa." kata karin sambil membungkuk.


"Cihh..." suara aina yang terdengar kesal dan pasrah.


"Tuan putri, sarapanlah dulu! ada baiknya jika makan makanan yang masih hangat." kata karin sambil membuka setiap penutup makanan.


Aroma harum dari makanan itu membuat aina lapar, aina berdiri dari tempat tidur dan duduk disamping meja yang sudah tersedia makanan yang harum dan enak itu.


[Iya aku harus makan dulu!! bukankah, pura-pura bahagia itu juga butuh tenaga!!] Gumam aina dalam hati sambil senyum.


Aina tersenyum kembali melihat makanan yang lezat sudah berada tepat di depan matanya.


"Tuan putri, makanlah yang banyak karena tubuh tuan putri masih sangat lemah." kata karin dengan senyuman.


"Maksudmu... aku..." kata aina yang terhenti.


Tok...tok...tok.. bunyi pintu kamar aina.


"Tuan putri, apakah aku bisa masuk??" tanya lyli.


"Masuklah!!" kata aina sambil makan.


Lyli pun masuk dengan penuh semangat dan terlihat wajah lyli sangat senang melihat aina yang sedang sarapan dan terlihat sehat.


"Tuan putri, aku senang melihat tuan putri sehat kembali!!" kata lyli dengan ekspresi lega.


"Apa semalam aku sakit??" kata aina dengan kebingungan.


Aina belum mengingat apa yang terjadi semalam.


"Benar!! Semalam kami benar-benar sangat khawatir, suhu tubuh tuan putri sangat tinggi dan bahkan tuan putri tidak sadarkan diri." kata lyli dengan ekspresi yang khawatir.


"Tuan putri, kenapa semalam anda berlari di tengah hujan yang deras itu?? bahkan tidak menggunakan alas kaki!!" kata karin yang terdengar khawatir.


Aina termenung dan mengingat kembali kejadian semalam.


[Benar!! semalam aku bermimpi tentang yuki, dan kemudian...] Gumam aina dalam hati sambil mengingat.


"Oh tidak!! aku ingat sekarang!!" gumam aina yang tiba-tiba terkejut.


"Tuan putri, ada apa?? apa anda baik-baik saja?? tanya lyli.


Aina mengingat kembali semua kejadian yang terjadi semalam. Aina dengan sendirinya merasa malu dengan semua kejadian itu.


Aina seperti kehilangan semangat mengingat kejadian semalam saat abilerdo memeluk aina dan menangis seperti anak kecil dalam pelukan abilerdo.


[Oohhh..tidak.. itu sangat memalukan!!] Gumam aina dalam hati sambil menutupi wajah dengan kedua tanganya yang terlihat merona karena malu.


"Tuan putri..???" tanya karin dan lyli dengan nada bingung melihat tingkah aina.


Aina pun kembali ke mode cueknya dalam sekejap, walaupun wajahnya masih terlihat merona, dan kemudian melanjutkan sarapannya.


"Oh iya, tuan putri.. Yang Mulia raja semalam datang dengan wajah yang sangat khawatir, apalagi tuan putri terbaring tidak sadarkan diri." kata lyli.


"Ohh.." kata aina yang terdengar cuek sambil makan.


"Yang Mulia raja akhirnya menyuruh kami semua untuk keluar!! kurasa, Yang mulia menjaga tuan putri semalaman, karena tadi aku melihat Yang mulia keluar dari pintu kamar tuan putri." kata karin.


"Uhukk..." suara aina yang tersedak mendengar perkataan karin.


"Sudah, jangan bahas itu lagi!! lagipula kejadian itu sudah lewat!!" kata aina yang terdengar tidak peduli, Namum dengan wajah yang merona.


Karin dan lyli berhenti berbicara dan tersenyum melihat aina yang terlihat cuek, tetapi terlihat ekspresi malu dari wajahnya.


Aina melanjutkan sarapannya sampai habis. Karin dan lyli mulai membereskan kamarnya.


Aina duduk sambil sesekali melirik lyli dan karin yang sedang beres-beres, sambil memakan makanan penutup yang dibawah oleh karin.


"Tuan putri, ternyata anda telah meminum pil penyembuh! pantas saja anda sembuh dengan cepat dan terlihat sehat." kata lyli sambil mengambil kotak kecil kosong yang sebelumnya berisikan pil.


"Pil penyembuh..?" tanya aina yang terdengar tidak mengerti.


[Tapi bagaiman caranya tuan putri meminum pil ini?? sedangkan semalam tuan putri tidak sadarkan diri.] Gumam karin dalam hati yang terlihat bingung dan berpikir sambil menatap aina yang sedang menikmati makanan penutupnya.


................................


Nantikan kelanjutan episodenya ya:)


Jangan lupa vote, favorit kan dan like setiap episodenya.


Maaf kalau ada salah kata.


Terima Kasih sudah membaca