
Tak...tak...tak.. Suara langkah kaki yang menghampiri aina.
Aina manatap sepasang kaki yang sudah di depan matanya. Perlahan dia mengangkat kepala dan menatap orang itu.
"Kau..." gumam aina dengan ekspresi mabuk.
"Aku punya nama!!" kata pangeran aeres dengan nada kesal.
"Iya aku tahu.. namamu pangeran mahkota." kata aina dengan nada suara mabuk.
Pangeran aeres nampak kesal mendengar apa yang dikatakan aina.
"Kenapa kau masih duduk disini??" tanya pangeran aeres sambil menatap aina.
"Apa tidak boleh??" tanya aina dengan nada mabuk dan dingin.
"Apa kau benar-benar seorang gadis?? Kenapa nada bicaramu sangat kasar." kata pangeran aeres.
"Aku?? cara bicaraku memang seperti ini. Apa masalah mu??" kata aina dengan santai nya.
"Kau mabuk!!" kata pangeran aeres dengan nada kesal.
"Apa yang kau lakukan disini?? apa kau membututiku??" tanya aina dengan nada kesal.
"Apa aku sudah gila?? Kenapa aku harus membututi dirimu??" tanya pangeran aeres yang sedikit salah tingkah.
"Kalau begitu, tinggalkan aku sendiri." kata aina dengan nada mabuk yang terkesan dingin.
[Dia mengusirku??] gumam pangeran aeres dalam hati dengan ekspresi kaget dan kesal.
Aina berdiri perlahan dari kursi yang dia tempati. Saat di hendak berdiri tegak, aina kehilangan keseimbangan tubuhnya dan mulai jatuh.
Secara refleks, pangeran aeres meraih tubuh aina dan memeluknya. Walaupun sedikit kaget, tetapi aina sama sekali tidak bisa menghindar karena kondisi tubuhnya yang mabuk itu.
Secara kebetulan, abilerdo yang hendak kembali ke aula istana kerajaan aeres melihat kejadian itu, dimana pangeran aeres memeluk aina.
Abilerdo menatap aina dan pangeran aeres dengan tatapan yang penuh rasa cemburu dan kesal.
Abilerdo merasa tidak enak dengan pemandangan yang dilihatnya. Abilerdo berbalik dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam aula istana dengan ekspresi kesal.
"Apa yang kau lakukan??" tanya aina sambil menghempaskan tubuh pangeran aeres.
"Bodoh!! Aku hanya mencoba menolongmu!!" kata pangeran aeres yang terdengar sedikit kikuk.
"Aku tak butuh bantuan mu!!" kata aina dengan nada dingin.
Aina mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang mabuk itu. Sedangkan, pangeran aeres terlihat sedikit merona karena barusan memeluk aina.
Aina pun berbalik dan mulai melangkahkan kakinya menuju istana. Dan pangeran aeres terus mengikutinya dari belakang.
[Apa yang aku lakukan?? Apa ini karena tanggung jawabku sebagai seorang pangeran?? atau...??] Gumam pangeran aeres dalam hati yang nampak bingung sambil menatap aina.
Pangeran aeres menatap dan mengikuti aina dengan tatapan yang bingung dan khawatir. Dia masih tidak mengerti, kenapa dia begitu mengkhawatirkan aina yang mabuk itu.
Aina terus berjalan tanpa membalikkan tubuhnya kebelakang. Walaupun cara berjalannya tidak seimbang, aina bisa sampai didepan kamarnya dengan selamat.
Saat hendak membuka pintu kamarnya, aina sama sekali tidak memiliki kekuatan lagi, dia tidak dapat membuka pintu kamarnya sendiri. Dia pun tersungkur didepan pintunya.
Aina merasa bahwa, dia sudah tidak mampu lagi untuk berdiri. Pangeran aeres merasa cemas melihat aina yang seperti itu.
Pangeran aeres pun membukakan pintu kamar aina.
"Terima Kasih sudah membukakan pintu kamarku!! Walaupun aku tak butuh." kata aina yang masih tersungkur itu.
[Apa begini caranya berterima kasih??] Gumam pangeran aeres dalam hati.
Aina pun mencoba berdiri sambil memegang pintu kamar yang satunya lagi. Saat di hendak berdiri, tiba-tiba aina terjatuh. Dia sudah tidak bisa lagi untuk menahan tubuhnya.
Dengan cepat, pangeran aeres menopang tubuh aina yang hendak jatuh kelantai itu.
"Ka..u..." gumam aina sambil menatap pangeran aeres.
Setelah mengatakan itu, aina langsung tidak sadarkan diri. Pangeran aeres mencoba membangunkan aina, tetapi aina sama sekali tidak bangun.
Pangeran aeres langsung menggendong aina dengan kedua tangannya dan membawanya masuk kedalam kamar aina.
Dengan lembut, pangeran aeres melepaskan tubuh aina di atas kasur. Sambil berdiri, pangeran aeres menatap wajah aina dengan sangat dalam.
[Jika dia tertidur, wajahnya begitu manis.] Gumam pangeran aeres dalam hati sambil menatap aina.
[Ini pertama kalinya aku memeluk seorang gadis.] Gumam pangeran aeres dalam hati sambil menatap tangannya sendiri dengan wajah yang sedikit merona.
[Tidak!! Apa yang aku pikirkan??] Gumam pangeran aeres dalam hati sambil menyentuh kepalanya sendiri.
Pangeran aeres pun tersadar dan tersenyum sendiri. Dia kembali menatap aina dengan tatapan panasaran.
Setelah mengatakan itu, Erik (Pangeran Mahkota Aeres) berbalik dan beranjak dari kamar aina.
Saat hendak menutup pintu kamar aina, secara tak sengaja kinsey yang kebetulan keluar dari kamar Kimberly, melihat Erik dengan wajah bingung.
Erik tidak menyadari bahwa kinsey melihatnya keluar dari kamar aina. Setelah menutup pintu kamar aina, Erik berjalan kembali ke aula istana.
Dari kejauhan, Abilerdo menatap erik yang masuk dari pintu samping aula istana dengan tatapan yang penuh penasaran.
"Aku kembali!!" sapa kinsey sambil menghampiri abilerdo, Dirk dan elbert.
"Bagaimana kondisi Kimmy??" tanya elbert.
"Dia sudah tertidur." kata kinsey.
"Mereka berdua benar-benar mabuk!!" kata elbert sambil menggeleng kepala.
"Mereka berdua?? Siapa lagi yang satunya??" tanya abilerdo yang masih menatap erik dari kejauhan.
"Siapa lagi kalau bukan tuan putri kita, aina!!" kata elbert sambil menghela nafas.
[Apa!!!] Gumam abilerdo dalam hati yang nampak kaget.
Dengan cepat abilerdo berbalik dan menatap elbert dengan tatapan yang sangat kaget.
"Apa aina mabuk??" tanya abilerdo yang berpura-pura santai.
"Iya, dia sangat mabuk!! Bahkan dia menyinggung pangeran erik." kata elbert sambil menghela nafas.
"Untung saja pangeran erik tidak begitu peduli." kata elbert dengan ekspresi lega.
Abilerdo berpura-pura santai sambil mendengarkan apa yang dikatakan oleh elbert.
Kinsey pun teringat dengan kejadian saat erik keluar dari kamar aina.
"Oh iya, tadi aku melihat pangeran erik keluar dari kamar aina." kata kinsey dengan polosnya.
[Apa!!!] Gumam abilerdo, dirk, dan elbert dalam hati dengan ekspresi kaget.
Elbert dan dirk langsung berpura-pura santai dan melirik abilerdo. Aura dingin abilerdo terpancar dari tubuhnya.
Abilerdo sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya saat mendengar bahwa erik keluar dari kamar aina. Mengingat aina yang sangat mabuk sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Dirk.
Tanpa mengatakan apapun, Abilerdo langsung berbalik dan keluar dari aula istana. Terdengar desahan nafas dirk dan elbert saat melihat abilerdo yang berjalan keluar dari aula istana.
"Apa Yang Mulia akan kembali??" tanya elbert dengan ekspresi suram.
Dirk hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi suram. Sedangkan kinsey sama sekali tidak mengerti dengan setuasi yang terjadi.
"Ada apa dengan Yang Mulia?? Apa dia tidak akan mengikuti pesta sampai selesai.
"Semua itu karena kau, bodoh!!" kata elbert sambil menatap kinsey.
"Aku?? Kenapa??" tanya kinsey dengan ekspresi bingung.
"Apa kau sama sekali tidak bisa menjaga ucapanmu?? Apa kau tidak bisa berfikir, mana yang seharusnya bisa kau katakan??" Tanya elbert dengan ekspresi kesal menatap kinsey.
"Apa maksudmu??" tanya kinsey dengan ekspresi bingung.
Dirk hanya bisa menghela nafas sambil menggeleng kepalanya sendiri.
"Ada apa dengan kalian?? Aku semakin tidak mengerti!!" kata kinsey dengan ekspresi tambah bingung.
"Sudah..sudah.. Sebaiknya kau makan saja sana!! Aku sama sekali tidak tahan dengan kebodohkanmu." kata elbert.
Dengan wajah bingung dan cemberut, kinsey berjalan kearah meja makan. Dirk dan elbert hanya bisa diam sambil menghela nafas melihat kinsey.
Disisi lain.
Abilerdo sudah berada didepan pintu kamar aina. Dia sedikit ragu untuk mengetuk pintu kamar aina. Namun, rasa khawatir dan penasaran sangat besar.
Abilerdo pun mengetuk pintu kamar aina, Namun tak ada balas dari dalam kamar aina, suaranya bahkan tidak terdengar.
Karena tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar aina. Abilerdo mencoba pun memberanikan diri untuk membuka kamar aina dan Eh.. Pintunya tidak terkunci, Abilerdo sedikit kaget.
................................
Nantikan kelanjutan episodenya ya.
Maaf Kalau ada salah kata.
Terima Kasih sudah membaca