The Legend Of Sun Queen

The Legend Of Sun Queen
Terhempas



Aina menatap ke kanan, ke kiri, bahkan menatap seluruh kamar Kimberly, namun dia tidak melihat sosok Kimberly.


“AINA!!!” teriakan Kimberly dari luar balkon kamar Kimberly.


Dengan cepat aina berlari kebalkon kamar Kimberly yang sudah terbuka itu. Aina sangat kaget karena Kimberly tergantung di bawah balkon dengan memegang tiang balkon dengan satu tangan.


“Kimmy, apa yang kau lakukan disitu??” tanya aina dengan ekspresi khawatir.


“Aku...aku...” kata Kimberly yang terdengar panik.


“Cepat raih tanganku!!!” kata aina yang terdengar khawatir.


Aina meraih tangan Kimberly dan berusaha sekuat tenaga menarik Kimberly naik keatas.


“Kimmy, kenapa kau tidak menggunakan soul energy milikmu??” tanya aina sambil berusaha menarik Kimberly.


“Aku..aku juga tidak tahu!! Soul energyku sama sekali tidak bisa digunakan.” Kata Kimberly yang terdengar panik.


[Apa??] gumam aina dalam hati dengan ekspresi kaget.


Aina terus bersusaha menarik tubuh Kimberly.


Tak...tak..tak.. Bunyi langkah kaki yang terdengar sangat cepat berlari mendekati kamar Kimberly.


“Apa yang terjadi???” tanya erik yang masuk kedalam kamar Kimberly.


[Aina??] gumam dalam hati erik yang sedikit terkejut.


Erik kaget melihat aina yang sudah berada dibalkon kamar Kimberly dan sedang berusaha menarik Kimberly naik keatas.


“Erik.....tolong Kimberly!!” teriak aina.


Dengan cepat erik berlari kebalkon dan membantu aina untuk menarik Kimberly. Karena bantuan erik, aina berhasil menarik Kimberly naik kebalkon.


Desahan nafas lega dan lelah terdengar dari aina dan Kimberly sambil duduk dilantai balkon.


“Untung saja kau tidak apa-apa!!” kata erik sambil mengusap kepala aina.


[Eh..bukankah aku yang nyaris jatuh tadi??] gumam kimberly dalam hati dengan ekspresi suram.


[Sepertinya pangeran.....] gumam Kimberly dalam hati sambil menatap erik.


“Kimmy....!!!” teriak abilerdo sambil masuk kedalam kamar Kimberly.


Dirk, elbert dan kinsey juga mengikuti abilerdo yang masuk kedalam kamar Kimberly.


“Kimmy, apa yang terjadi???” tanya kinsey sambil masuk kedalam kamar Kimberly.


[Eh..situasi apa ini??] gumam elbert dalam hati dengan ekspresi bingung


Abilerdo menatap dalam tangan erik yang mengusap kepala aina dengan tatapan lembut dan lega dari wajah erik.


“Kakak....” panggil Kimberly sambil berdiri dan berlari kearah kinsey.


Kimberly langsung memeluk kinsey karena merasa ketakutan. Aina yang menyadari kedatangan abilerdo, langsung berdiri dan menatap abilerdo seperti salah tingkah.


Tangan erik terhempas dari kepala aina, karena aina yang tiba-tiba berdiri. Erik sedikit bingung dengan sikap aina yang seperti itu.


[Kenapa aku bersikap seolah-oleh aku tertangkap selingkuh?? Bukankah aku tidak punya hubungan apa-apa dengan abilerdo?!] gumam aina dalam hati.


[Lagipula, erik hanya memegang kepalaku saja. Tak ada yang spesial juga!!] gumam aina dalam hati.


“Kimmy, apa yang terjadi?? Kenapa kau teriak??” tanya kinsey dengan ekspresi khawatir.


“Aku juga tidak tahu, saat aku ingin menutup pintu balkon, ada angin yang sangat kencang dan aku..aku.. Aku hampir saja jatuh dari atas balkon.” Kata Kimberly dengan ekspresi takut.


“Bukankah kau bisa menggunakan soul energy??” tanya elbert dengan ekspresi bingung.


“Aku juga tidak mengerti, aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan soul energy. Jika aina dan pangeran erik tidak datang, aku pasti....” kata Kimberly yang terlihat ketakutan.


“Kimmy....” gumam kinsey dengan ekspresi khawatir.


“Kakak, aku sangat takut. Aku teringat dengan angin yang sama saat aku dan victoria berada di kamarnya waktu itu.. Aku...” kata Kimberly sambil memeluk kinsey.


[Kimmy... Pantas saja dia terlihat sangat panik!! Ternyata, bukan hanya abilerdo saja yang merasa trauma dengan kejadian itu tetapi Kimmy juga...] gumam aina dalam hati dengan ekspresi sedih.


Aina menatap abilerdo, Dirk, elbert dan kinsey. Tatapan mereka mengandung kesedihan sambil menatap Kimberly yang memeluk kinsey dengan ketakutan.


[Tidak, aku salah! Mereka semua masih trauma dengan kejadian victoria. Sangat jelas, mereka begitu peduli dengan tunangan abilerdo itu.] gumam aina dalam hati yang nampak sedih.


Tiba-tiba, aura aneh di rasakan oleh abilerdo, dirk, elbert, kinsey dan erik.


[Ini...??] gumam abilerdo sambil menoleh kearah balkon.


[Aura ini...] gumam erik sambil melihat keluar dari balkon.


[Ada apa dengan ekspresi mereka?? Kenapa mereka menatap kearahku?? Tetapi mata mereka tidak menatapku.] gumam aina dengan ekspresi bingung.


Aina dan erik masih berdiri dibalkon, namun secara refleks, erik berbalik dan menatap keluar karena merasakan aura yang aneh.


“Erik, ada apa??” tanya aina dengan ekspresi bingung.


[Erik??] gumam abilerdo dengan ekspresi dingin.


[Baru seminggu tidak bertemu, ternyata aina sudah dekat dengan pangeran erik. Bukankah aina selalu bertengkar dengan pangeran?? Tetapi sekarang, aina bisa dengan mudah memanggil namanya.] gumam elbert dengan ekspresi suram.


Dirk dan Albert menatap abilerdo. Aura dingin abilerdo serasa merusak mata mereka. Dengan cepat mereka berdua mengalihkan pandangan dari abilerdo.


[Aura ini?? Sepertinya, aku pernah merasakannya.] gumam erik yang nampak bingung.


Tanpa mereka sadari, tiba-tiba angin yang sangat kencang menyambar balkon kamar kimberly, bahkan masuk kedalam kamar.


Kreekk...kreekk... Bunyi retakan balkon.


“Aina, cepat pergi dari sini!! Balkon ini sepertinya retak!!” kata erik dengan ekspresi panik.


[Ai..aina..] gumam abilerdo dalam hati dengan ekspresi khawatir.


Angin itu sangat kencang, mereka semua sama sekali tidak bisa bergerak karena harus bertahan agar tidak terpental.


“Ba..bagaimana bisa aku pergi?? A..anginnya sa..sangat kencang..!!” kata aina dengan nada suara yang terdengar berat.


Aina memeluk erat tiang balkon yang ada didepannya itu. Sedangkan erik memegang sisi kiri pintu balkon untuk bertahan dari kekuatan angin itu.


“Aina, cepat raih tanganku!!” kata erik yang terdengar berat dan panik.


Abilerdo pun berusaha untuk mengeluarkan soul energy miliknya, tetapi dia tidak bisa mengeluarkan kekuatan apapun. Begitu juga dengan Dirk, elbert dan kinsey.


“Kenapa bisa begini?? Aku tidak bisa menggunakan soul energi.” Gumam elbert yang terdengar panik.


“Aina.. Ayo cepat raih tanganku!!” kata erik.


Aina mencoba meraih tangan erik, tetapi dia tidak bisa karena kekuatan angin itu sangat kencang.


“Aku.. Aku tidak bisa!!” kata aina dengan ekspresi panik.


Abilerdo pun berusaha berjalan kerarah balkon untuk menolong aina. Namun, kekuatan angin itu sangat kuat dan tidak beraturan.


Dirk, elbert, kinsey dan Kimberly pun terpental ke dinding kamar. Pintu kamar yang tadinya terbuka, sekarang tertutup karena angin itu.


[Angin ini... Sepertinya sengaja mengincar kita semua.] gumam abilerdo dalam hati.


Abilerdo masih bertahan dengan memegang kaki tempat tidur. Abilerdo pun berusaha berdiri dan perlahan berjalan mendekati balkon tempat aina dan erik berada.


“Yang..Yang Mulia..” gumam Dirk dengan ekspresi panik.


“Aina, cepat raih tanganku!!” kata abilerdo sambil menjulurkan tangannya.


Abilerdo sudah berada disisi kanan pintu balkon, tepat didepan aina.


[Sejak kapan pria arogan ini berdiri disini??] gumam aina dalam hati yang nampak bingung.


Erik sedikit terkejut karena abilerdo bisa berjalan sampai disisi pintu balkon, ditengah-tengah angin yang sangat kuat itu.


Erik melirik kebawah,dia sangat kaget melihat taman yang berada dibawah. Diapun melihat ke sekeliling diluar balkon. Dia sangat kaget dan bingung karena diluar seperti tidak terjadi apa-apa.


[Angin ini, Seperti hanya terjadi dikamar ini saja!! Kenapa bisa begini??] gumam erik dalam hati.


Aina pun berusaha meraih tangan abilerdo, tetapi tubuhnya sangat berat untuk digerakkan karena kekuatan angin itu.


[Sial!! Aku tidak bisa meraih tangannya.. Ada yang aneh dengan angin ini.] gumam aina dalam hati sambil berusaha meraih tangan abilerdo.


[Aina..] gumam abilerdo yang nampak panik.


[Seharusnya, aku sudah terpental kedalam kamar, tetapi kenapa aku sepertinya akan terpental keluar balkon. Angin yang menyebalkan!!!] gumam aina dalam hati dengan ekspresi panik dan sedikit kesal.


“Apa yang kau pikirkan?? Ayo cepat raih tanganku!!” kata abilerdo yang terdengar panik dan sedikit kesal.


“Sudah kukatakan, aku tidak bisa. Ini sangat sulit!!” kata aina dengan nada kesal.


Tiba-tiba, angin itu menyambar tubuh erik dengan sangat kuat. Erik pun terpental kedalam dinding kamar.


Aina sangat kaget melihat erik yang terpental dengan tiba-tiba.


[Sial!!!] gumam erik dengan ekspresi kesal.


[Kenapa hanya dia yang terpental??] gumam aina yang nampak bingung.


Aina pun mulai semakin panik. Dia yakin bahwa angin itu bukanlah angin biasa. Dengan sekuat tenaga, aina mencoba merah tangan abilerdo.


Kreekk..Kreekkk.. Bunyi retakan balkon yang semakin banyak.


“Balkonnya semakin retak!!” gumam aina sambil melirik kelantai balkon.


“Jangan khawatir.. Aku pasti akan mengeluarkan mu dari sini.” Kata abilerdo sambil menatap aina.


[Abilerdo...] gumam aina dalam hati yang tertegun.


Aina dan abilerdo berusaha sekuat tenaga saling meraih tangan mereka.


[Se..sedikit lagi!!] gumam abilerdo dalam hati.


Ujung jari mereka berdua pun mulai bersentuhan. Sedikit lagi mereka bisa saling meraih tangan mereka, namun..


KREE..KREEAAKKK..!!! Bunyi balkon yang mulai terbelah.


[Oh tidak..] gumam aina dalam hati dengan ekspresi kaget.


KRAAKKKK!!!! Bunyi balkon yang terbelah dua dan diikuti oleh suara teriakan aina.


“AIINNAAAA!!!” Teriakan abilerdo dengan wajah yang sangat panik.


..........................................


Nantikan kelanjutan episodenya ya.


Maaf kalau ada salah kata.


Terima Kasih sudah membaca