The Legend Of Sun Queen

The Legend Of Sun Queen
Ciuman dan pelukan..?? HAH!!!



Suasana yang putus asa dan menyedihkan itu berubah menjadi penuh dengan perasaan lega dan bahagia.


Aina tiba-tiba melirik tangannya yang di pegang oleh abilerdo.


[Kenapa dia menggenggam tanganku seperti ini??] Gumam aina dalam hati yang nampak bingung.


[Tunggu..tunggu... tangan??] gumam aina dalam hati dengan wajah merona dan sedikit gugup.


"Apa yang kau lakukan??" tanya aina sambil menarik tangannya dari genggaman abilerdo dengan wajah yang merona.


"Ai..naaaa..." panggil Kimberly sambil berjalan ke arah aina dan langsung memeluknya.


Aina nampak bingung karena Kimberly secara tiba-tiba memeluknya sambil menangis.


Aina juga melihat abilerdo dan yang lainnya, Ekspresi mereka nampak seperti senang dan lega.


"Kenapa kalian semua menatapku seperti itu??" tanya aina dengan wajah bingung.


"Tuan Putri.. syukurlah!!" gumam ireine sambil tersenyum.


Abilerdo masih menatap aina dengan perasaan lega. Kesedihan yang membuatnya terpuruk tadi, seperti hilang dalam sekejap karena melihat aina yang sudah bangun dari tidurnya.


Aina yang terlihat baik-baik saja, membuat hati abilerdo sangat senang, mengingat rasa sakit yang dia rasakan saat aina tidur dan membeku.


Mereka semua menatap dengan penuh perasaan lega melihat aina yang sudah kembali seperti biasanya.


"Aina... tadi.. tubuhmu.." kata Kimberly yang masih menangis karena lega.


"Tuan putri, apa anda tidak menyadarinya?? tubuh anda, tadi sangat dingin dan mulai membeku." kata karin.


"Membeku??" gumam aina yang nampak bingung.


[Aku ingat!! tadi aku memimpikan yuki] gumam aina dalam hati yang seperti teringat sesuatu.


[Aku ingat juga dengan gadis cantik yang ada di mimpiku!! Gadis itu sepertinya, mengingatkan aku bahwa semua itu hanya mimpi.] gumam aina dalam hati yang nampak sedih dan sedikit bingung.


"Aina.. ada apa?? apa yang kau pikirkan??" tanya Kimberly.


Aina kembali menatap mereka semua.


[Dari wajah mereka, aku tadi pasti dalam bahaya] gumam aina dalam hati.


"Aku baik-baik saja." kata aina sambil tersenyum.


Melihat senyuman aina kembali, membuat abilerdo sedikit merona dan tenang. Dia pun tersenyum kecil melihat aina.


Aina sekali lagi merasa bersyukur, ada begitu orang yang mengkhawatirkannya.


[Aku bahkan tidak pernah melakukan sesuatu yang baik untuk mereka, tetapi mereka bisa menerima dan mengkhawatirkan aku seperti ini!!! Kenapa aku merasa sedikit malu ya!!] Gumam aina dalam hati sambil tersenyum menatap mereka semua.


Kimberly yang tadinya sangat ketakutan dan gemetar, sekarang tersenyum dengan perasaan yang lega.


Elbert dan kinsey mulai menggoda aina, sesekali aina terlihat cemberut, Namum aina dengan mudahnya membalas elbert dan kinsey.


Dirk dan ireine hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka yang terlihat sangat konyol, Namum tersimpan perasaan lega dan bahagia.


Abilerdo hanya diam dan perlahan mulai meninggalkan kamar aina tanpa ada yang menyadari.


Abilerdo keluar dari kamar aina dan berdiri di balik pintu kamar aina, dan tersenyum kecil mendengar suara aina yang nampak kesal yang terkesan malu-malu karena di goda oleh Dirk dan kinsey.


"Syukurlah aina..." gumam abilerdo yang memegang dadanya sambil tersenyum di balik pintu kamar aina.


Beberapa hari kemudian.


Seperti biasa aina duduk di taman rose pink sambil makan cemilan dan teh yang dibawa oleh karin dan lyli.


"Abilerdo terlihat sangat sibuk!! Bahkan dia tidak menemaniku sejak kejadian itu." gumam aina yang nampak kesal.


[Apa dia sedang menghindar dariku??] Gumam aina dalam hati.


Karin dan lyli sedikit bingung dengan sikap aina yang nampak kesal.


"Bahkan aku dilarang untuk membantu!! Apa dia pikir aku tidak bisa apa-apa?? Menyebalkan!!" gumam aina yang nampak kesal.


"Tuan Putri, saya rasa Yang Mulia mungkin tidak ingin membuat tuan putri kelelahan." Kata karin yang mencoba menenangkan aina.


"Haa.. tidak mungkin!!" kata aina dengan nada dingin.


"Itu... karena, tuan putri baru saja sembuh!! lagipula waktu tubuh tuan putri dingin dan seakan membeku, aku melihat Yang Mulia benar-benar sangat khawatir." kata karin yang sedikit gugup untuk menenangkan aina.


"Jelaslah dia mengkhawatirkan aku, karena aku putri kerajaan ini." kata aina dengan nada dingin.


Karin mendekat kearah aina, dan membisikkan bahwa abilerdo menyuapi ramuan dengan menggunakan mulutnya sendiri pada mulut aina, dan bahkan dia memeluk aina di tempat tidur dan dalam satu selimut yang sama.


Ekspresi wajah aina berubah drastis mendengar bisikan karin. Wajah aina memerah bagaikan tomat dan juga sangat terkejut.


"Itu... itu.... Tidak Mungkin!!!" teriak aina sambil berdiri dengan wajah yang merah bagaikan tomat.


Aina yang terlihat sangat malu itu, berjalan pelan meninggalkan lyli dan karin.


"Aku ingin mencari udara yang segar!! Jangan ikuti aku!!!" kata aina dengan nada suara yang dingin dan nampak merona.


Karin dan lyli tersenyum kecil melihat aina yang berjalan dengan langkah yang kikuk dan wajah yang merona.


"Berani-beraninya dia memelukku di tempat tidurku sendiri!!" gumam aina yang terlihat kesal dengan wajah merona.


"Apa dia sudah kehilangan akal sehatnya??" gumam aina yang kesal dan bingung.


"Pria arogan itu bahkan men..ci..." gumam aina sambil menyentuh bibirnya dengan wajah yang merona.


Aina tidak menyadari bahwa abilerdo menatapnya dari kejauhan, tingkahnya yang imut itu membuat abilerdo tersenyum.


Abilerdo perlahan mendekati aina.


"Pria arogan?? siapa maksudmu??" tanya abilerdo dengan nada yang sedikit menggoda aina.


Aina tidak menyadari bahwa itu suara dari abilerdo.


"Siapa lagi kalau bukan raja arogan i......" kata aina yang tiba-tiba berbalik dan sedikit terkejut.


"Itu.." lanjutan perkataan aina sambil menatap abilerdo.


"Ke...kenapa kau bisa disini??" tanya aina yang sedikit gugup.


"Kenapa?? Apa tidak boleh??" tanya abilerdo.


"Tidak, bukan begitu!! Maksudku..." kata aina dengan wajah yang merona dan sedikit gugup.


Abilerdo menyadari bahwa aina sang gadis jutek bisa gugup. Abilerdo memang tidak sengaja mendengar aina yang bergumam tentang ciuman dan pelukan.


Abilerdo pun mulai menggoda aina dan sedikit mengerjai aina.


"Kenapa kau gugup??" kata abilerdo sambil menatap aina.


"A..aku?? Mana mungkin!!" kata aina yang mencoba santai.


"Benarkah??" tanya abilerdo sambil mendekat kepada aina.


Abilerdo menatap aina, begitu pula sebaliknya. Aina sangat canggung dan malu melihat abilerdo sedekat itu, mengingat pelukan dan ciuman yang diceritakan oleh karin.


"Wajahmu merona..." kata abilerdo sambil menatap wajah aina dari dekat, dan terdengar sedikit menggodanya.


[Di..dia.. kenapa bisa sedekat ini??] Gumam aina dalam hati dengan wajah merona sambil menatap aina.


Aina tiba-tiba tertawa menatap abilerdo. Dia hanya ingin mengalihkan rasa malu dan canggung nya itu.


Abilerdo terkejut dengan perubahan sikap aina, walaupun tawa aina terdengar sangat dibuat-buat.


"Kau benar-benar lucu!!" kata aina sambil tertawa.


Abilerdo tambah lebih bingung lagi.


[Ya Tuhan.. apa yang aku lakukan?? Entah kenapa, aku tidak mengenal diriku lagi.] gumam aina dalan hati.


Abilerdo menyadari bahwa aina hanya berpura-pura untuk menutupi rasa malu dan gugupnya.


"Berhentilah tertawa!! tawamu itu terdengar seperti dibuat-buat!! Sifat jutek dan ekspresi mu sekarang ini, sama sekali tidak cocok." kata abilerdo sambil tersenyum.


[Lihat senyum liciknya itu!! jadi kau ingin menggodaku?? Baiklah.. aku akan meladenimu!! kita lihat siapa yang akan malu nantinya.] Gumam aina dalam hati.


"Benar juga, apa terlihat jelas ya??" tanya aina sambil tersenyum percaya diri.


"Oh iya!! Kudengar, kau memeluk tubuhku yang kedinginan waktu itu??" kata aina dengan ekspresi berfikir sambil sesekali melirik abilerdo.


Abilerdo sedikit terkejut dengan pertanyaan aina, namun dia berusaha untuk tenang.


"Dan aku juga dengar, kau bahkan menyuapi ramuan padaku dengan menggunakan mulutmu sendiri!! Apa itu bisa disebut ci..u..man??" kata aina sambil menatap wajah abilerdo dengan sangat dekat.


[Ga..gadis ini?? Dengan mudahnya dia mengatakan hal seperti itu pada seorang pria!!] Gumam abilerdo dalam hati yang nampak merona dan sedikit gugup.


[Heehh.. Lihat ekpresimu ini??] Gumam aina dalam hati sambil menatap wajah abilerdo dengan begitu dekat dan tersenyum kecil.


"Yang Mulia, Bukankah itu tidak sopan?? memeluk dan mencium seseorang tanpa persetujuannya sendiri, Apalagi jika orang itu tidak sadarkan diri!!" kata aina dengan nada suara menekan sambil tersenyum dingin.


Abilerdo sangat gugup dengan apa yang dikatakan aina, bahkan abilerdo merasa malu dan canggung karena wajah aina sangat dekat dengan wajahnya.


Aina sangat puas melihat sikap dan ekspresi abilerdo, aina merasa berhasil membuat abilerdo terdiam tanpa mengatakan apapun.


"Sudahlah.." kata aina sambil berbalik.


"Lagipula, kau juga hanya ingin membantuku saja!! Bagiku, itu bukanlah pelukan dan ciuman!!" kata aina yang membelakangi abilerdo dan berbicara dengan santainya.


Abilerdo sedikit kesal mendengar nada suara aina yang nampak santai dan cuek itu, mengingat betapa gugupnya abilerdo saat menyuapi aina dengan mulutnya, bahkan wajahnya terasa terbakar saat bersentuhan dengan bibir aina yang lembut.


Dan juga, abilerdo memeluk erat tubuh aina dengan tubuh yang gemetar karena takut terjadi sesuatu pada aina yang mulai membeku waktu itu.


[Aku berhasil!!] Gumam aina dalam hati sambil tersenyum kecil yang masih membelakangi abilerdo.


Dengan sedikit kesal, Abilerdo menarik lengan aina, dan membuat aina berbalik ke hadapannya.


[Apa yang...] gumam aina dalam hati yang terkejut sambil menatap abilerdo.


"Kau membuatku kesal!!!" kata abilerdo dengan ekspresi kesal.


Setelah mengatakan itu, abilerdo menarik tubuh aina untuk mendekat padanya. Tangan kanan abilerdo menyentuh pipi aina dan tangan kiri abilerdo memegang pinggang belakang aina.


Abilerdo pun langsung mencium bibir aina, dan menekan pinggang aina agar tubuhnya lebih menempel lagi pada tubuh abilerdo.


[A..a..apa... yang......??] gumam aina dalam hati dengan ekspresi yang sangat terkejut dari kedua bola matanya sambil berciuman dengan abilerdo.


..............................


Nantikan kelanjutannya ya.


Maaf kalau ada salah kata.


Terima Kasih sudah membaca