
Green Town adalah kota, dimana Aina dan Yuki tinggal.
“Oke, kita akhiri pertemuan kita hari ini, sampai jumpa besok”. Kata pak dosen.
Kelas pun bubar, terdengar desahan yuki yang seperti menarik nafas panjang, pertanda bahwa dia sangat tidak mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh dosen kimia.
“Aku benar-benar tak mengerti sama s’kali dengan apa yang dikatakan dosen kimia tadi!! Kamu pasti mengerti dengan jelas, benarkan Aina?!, Kata yuki.
Aina tertawa kecil mendengar kata-kata yuki, orang yang melihat aina tersenyum merasa aina sangat manis, tetapi kekaguman itu hanya sesaat saja, karena seberapa manis dan cantiknya aina, mereka tak akan lupa seberapa jutek dan angkuhnya dia sebenarnya. Terdengar suara-suara dari mahasiswi yang iri pada aina dengan nada menyindir, bahkan mereka sengaja membuat aina mendengar sindiran-sindiran itu.
“*coba lihat aina itu, dia tersenyum!”, kata mahasiswi 1 dengan nada menyindir
.
“senyuman kemunafikkan sih, jadi terasa merinding!!”, kata mahasiswi 2.
“tapi dia lumayan cantik pintar lagi”
, kata mahasiswi 3
“Cantik? Pintar? Tapi kalo hatinya busuk bagaimana? Suatu hari nanti pasti tak akan ada satu orang pun yang mendekat”. kata mahasiswasi 1 dengan
tertawa menyindir*.
Yuki yang tak senang mendengar ejekan orang-orang itu, tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya dan hendak menghampiri para mahasiswi penggosip itu. Tapi aina pun berdiri dengan dingin dan mengajak yuki untuk pulang, saat melewati para mahasiswi itu, terdengar suara tak hentinya menyindir aina.
“*coba lihat, dia bahkan mengabaikan sindiran kita”. Kata mahasiswi 1 dengan judes
“ya ialah, mana mungkin dia mengelak dari fakta”, dilanjukatan dengan mahasiswi 2.
Para penggosip itu pun mulai tertawa dengan penuh sindiran, yuki sudah tak bisa menahan emosinya lagi dan membentak mereka.
“kalian benar-benar keterlaluan*!!!...............”
Sebelum yuki melanjutkan makiannya, aina menyelah perkataan yuki.
“Sudahlah yuki”. Kata aina.
“Berlindung di belakang teman manja nya yang kaya raya!!”, sindiran mahasiswi 1
“ta..tapi mereka..” kata yuki sambil menahan amarah.
“*Sudahlah.. jangan habiskan waktu berharga mu dengan para SAMPAH!!!”, kata aina dengan nada tegas yang terkesan dingin.
Sentak membuat para penggosip itu langsung terdiam dan kesal.
“ka...kau ben........”, kata mahasiswi 1 dengan kesal dan belum sempat selesai*.
Aina langsung menyelah perkataan mahasiswi itu dengan tatapan dingin dan kembali melanjutkan kata-katanya untuk para penggosip itu.
“*Kata-kata yang kalian muntahkan itu adalah SAMPAH!! apa kalian mengerti arti dari muntahkan?
Kurasa otak kalian tak mampu untuk berpikir!!
Uupsss aku lupa, otak kalian tertinggal di tempat SAMPAH”, kata aina dengan senyuman mengejek.
“Yuki ayo kita pulang, disini tercium bau busuk yang membuatku jijik!!!”. Kata aina dengan keangkuhannya dan beranjak pergi dengan perlahan*.
Yuki kaget dan terkagum dengan keberanian aina, yang sekali mengeluarkan kata-kata seperti pedang tajam yang ingin membunuh. Disaat bersamaan para mahasiswi penggosip itu kesal sampai terdiam kehabisan kata-kata.
Aina dan yuki menjalanan keluar, sampai saat perjalanan pulang yuki merasa bangga dan tak hentinya mengagumi sikap aina yang seperti seorang ratu memarahi wanita-wanita bangsawan yang berbuat curang.
Yuki yang biasanya di jemput oleh supir pribadi, tidak lagi menjemput atas permintaan yuki sendiri, karena dia tak ingin aina pulang sendiri menaiki kereta atau bus.
Yuki mengerti betul dengan sifat aina, sekalipun orang lain mencibir aina sebagai gadis yang angkuh dan judes, yuki memahami benar dibalik keangkuhannya tersimpan kebaikan dan ketulusan. Karena yuki sempat berteman dengan aina yang polos dan periang itu, sekalipun sekarang aina berubah, tetap saja yuki menganggap aina sebagai sahabat terbaik.
Aina dan yuki pulang sambil bercanda dan tertawa bahagia dan menghabiskan waktunya bersama. Di tengah tawa dan kebahagiaan, aina tak menyadari badai gelap yang akan datang segara dalam hidupnya.
Aina tiba di depan rumahnya saat malam hampir tiba, saat dia hendak mengetuk pintu rumahnya, dia terhenti. Dia mendengar ada suara yang saling teriak satu sama lain di dalam rumahnya, dia mengenal suara-suara ini.
oh..tidak!! itu suara kedua orang tuanya yang bertengkar hebat. Aina pun gemetar!! tangan aina yang gemetar tak mampu digerakkan untuk mengetuk pintu Rumahnya sampai membuat handphone nya jatuh, dan kaki aina serasa tertimpah besi yang sangat berat yang membuatnya tak bisa melangkah masuk ke dalam rumah. Seluruh badannya gemetar kedinginan.
Aina membalikkan badannya dan melihat kearah jalan, dia merasa ada yang aneh dengan perbedaan badannya, saat dia mebalikkan kepalanya kebelakang dan melihat kearah pintu rumahnya ada rasa berat untuk mengarahkan tubuhnya kearah pintu, tetapi saat dia melihat kearah jalan seperti ada perasaan ringan di tubuhnya, dengan pelan aina berjalan meninggalkan rumahnya.
Dalam hati aina bergumam, “Kenapa? Kenapa? Kenapa?”. Langkah kaki aina pun semakin cepat dan akhirnya dia berlari dan terus berlari sambil bergumam dalam hatinya,
“Kenapa mereka seperti ini lagi? Bukankah mereka sudah berjanji tak akan seperti ini lagi? Bukankah mereka memikirkan kebaikkan ku? Bukankah orang tua ingin melihat anaknya bahagia? Tapi kenapa sekarang seperti ini lagi?”.
Tetes demi tetes air mata aina pun mengalir, sambil mengingat kejadian yang terjadi saat dia masih duduk di SMP, yang merenggut senyuman dan kebahagiannya kala itu. Aina tak menyadari bahwa dia berlari ke dalam hutan yang berada di belakang sekolahnya dulu. Kaki aina pun terhenti, disitu dia menangis terseduh-seduh sepert anak kecil.
Tiba-tiba ada kerlap kerlip cahaya kecil yang menyinari matanya, diapun berhenti menangis dan mengikuti cahaya kecil itu, langkah demi langkah mendekati cahaya kecil itu, kemudian Aina menyentuh cahaya itu.
Eh.. ternyata sebuah kalung yang indah tergantung di badan pohon itu. Aina mengambil kalung itu dengan perlahan, rantai kalung yang berwarna silver yang terkesan elegan dan buah kalung yang terlihat berwarna silver karena terkena cahaya bulan dan bentuknya bulat transparan yang terkesan sangat mewah, bisa membuat pasang mata yang melihat tersihir.
Aina seperti tersihir oleh keindahan kalung itu, dan tak hentinya dia memperhatikan kalung itu. Setelah beberapa saat aina tersadar dia merasa lelah kerana berlari seperti tadi, aina pun duduk dan bersandar pada pohon itu, Dia memejamkan matanya sejenak sambil memegang kalung itu dengan erat. Seperti setengah tertidur aina mendengar seorang wanita yang memanggil namanya dengan lembut, “aina...aina...aina...”.
“aina.......AINA BANGUN!!!!!”, teriak yuki dengan ketakutan.
“Yu..yukiii...”, suara aina yang pelan tak bertenaga sambil membuka matanya dengan perlahan.
“*iya.. ini aku yuki”, suara yuki yang akhirnya tenang.
“apa yang kau lakukan disini, yuki? Kenapa kamu tahu aku disni?” tanya aina yang kebingungan.
“... Ibumu menelpon aku, tepat setelah dia melihat handphone kamu ada di depan pintu rumah. Dia khawatir dan langsung menelpon apakah aku bersamamu? Ibumu dengan panik menceritakan apa yang terjadi antara ayah dan ibumu”. Kata yuki
“khawatir? Sudahlah.. aku tak ingin membahas itu”, suara aina yang coba tenang namun mengandung kesedihan*.
“*ohh.. iya, kenapa kamu bisa tahu aku disini?”, tanya aina.
“tentu saja aku tahu, ini kan tempat kita berdua melepaskan kesedihan saat masih sekolah dulu”, jawab yuki dengan tegas dan tersenyum*.
“*aku bahkan membawa bodyguard papa aku kesini. Mereka menunggu di depan, aku takut jika membawa meraka masuk membuat kamu tidak leluasa mengobrol denganku”, kata yuri sambil menghibur aina.
“terima kasih yuki, kamu memang sahabat terbaik aku”, kata aina sambil memeluk yuki*.
Senyuman kecil mulai terlihat di wajah aina. Yuki juga merasa lega karena aina sudah mulai tenang, disaat mereka saling peluk, tiba-tiba hawa disekitar mereka menjadi dingin, dan langsung diikuti dengan angin yang kencang yang membuat mereka berdua terpental membentur pohon.
“*AAAAAAAAHHHHKKKK......!!!!!!”, suara teriakan aina dan yuki.
“YUKI CEPAT RAIH TANGAN KU!!!!!, teriak aina*.
Mereka berdua saling meraih satu sama lain, perlahan demi perlahan tangan mereka mulai dekat, sampai akhirnya tangan meraka mulai saling sentuh satu sama lain, disaat kedua tangan itu mulai terlihat lebih dekat,
tiba-tiba muncul cahaya putih yang sangat menyilaukan mata, cahaya itu berlahan-lahan menjadi semakin besar, dan entah kenapa seperti menarik tubuh aina dan yuki secara perlahan, aina dan yuki tak dapat lagi menahan genggaman tangan mereka di ranting pohon.
“YUKI!!!”.... “AINA!!!!”, suara teriakan terakhir mereka berdua yang saling memanggil. Dan pada akhirnya mereka berdua tersedot dalam cahaya putih yang misterius itu dan mengilang!!!
Waahhh... seru!!
Nantikan kelanjutan episodenya ya...
Jangan lupa like, dan favoritkan juga!
Bisa komen gak thor?? bisa banget...😉
Maaf kalo ada salah-salah kata.