The Legend Of Sun Queen

The Legend Of Sun Queen
Kekhawatiran dan ketakutan yang terulang kembali



Aina berusaha untuk menarik yuki keatas, walaupun tubuhnya sudah tidak sanggup menahan beban dari berat badan yuki.


Tenaga aina seperti dikuras habis-habisan, meskipun dia sudah merasa tidak mampu untuk menarik yuki, dia tetap tidak ingin melepaskan tangan yuki.


"Aina..Lepaskanlah!!" kata yuki sambil menatap aina yang kelelahan.


"Yuki??" gumam aina yang bingung.


"Lepaskanlah tanganmu!!" kata yuki yang terdengar pasrah.


"Tidak.. aku tidak akan pernah melepaskan mu!!" kata aina dengan suara lantang.


Yuki menatap aina yang sangat berusaha menolongnya. Yuki merasa aina sudah sangat kelelahan.


Dengan perlahan yuki mulai melepaskan genggaman tangan aina.


"Yuki.. apa yang kau lakukan?? Jangan lepaskan genggaman tanganku!! aku pasti bisa menarik mu!!" kata aina.


"Kau tidak akan bisa!!" kata yuki.


"Tidak.. aku pasti.. bisa!!" kata aina sambil menarik yuki dengan sekuat tenaga.


"Kumohon.. percayalah padaku!! aku tidak ingin berpisah denganmu lagi.. kumohon pegang tanganku!!" kata aina yang terlihat meneteskan airmata.


Namum yuki sama sekali tidak bergeming, dia menggerakkan tangannya yang satu lagi dan berusaha melepaskan genggaman tangan aina dari tangannya.


Aina tetap berusaha tidak melepaskan tangan yuki.


"Yuki.. jangan!! jangan lepaskan tanganku!!" kata aina sambil meneteskan airmata.


"Aina, maaf!! aku sudah tidak sanggup lagi." kata yuki sambil menatap aina.


"Tidak.. yuki yang aku kenal tidak akan mungkin meneyerah begitu saja. Sadarlah yuki!!" kata aina yang meneteskan airmata sambil menatap yuki.


"Seharusnya kau yang menyerah, aina!!" kata yuki dengan tegas.


Yuki mengambil serpihan batu tajam yang dilihatnya, dan menusuk tangan aina.


Tangan aina gemetar dan kesakitan karena luka dari tusukkan itu, darah pun mengalir dari tangan aina dan jatuh di pipi yuki.


Aina tetap tidak melepaskan tangan yuki, meskipun tangannya sudah terluka parah. Namun, genggaman tangan aina mulai goyah.


Yuki menyadari bahwa genggaman tangan aina mulai goyah, diapun dengan cepat melepaskan genggaman tangan aina.


"Tidak!!! Yuki!!!" teriak aina sambil menatap yuki.


Gemanan tangan aina dan yuki pun terlepas. Yuki jatuh dari ketinggian tebing dan ikuti oleh teriakan dan tangisan aina.


Didunia nyata.


Aina yang masih tertidur itu mengeluarkan keriangat dari dahinya, tubuhnya sangat gemetaran, dan ekspresi wajahnya terlihat sangat ketakutan dan khawatir.


Kimberly terbangun karena getaran dari tubuh aina.


"hmm..aina, apa yang terjadi??" tanya Kimberly sambil mengucek matanya.


Kimberly belum melihat aina yang tidur dengan tubuh yang gemetar dan ketakutan itu. Dia perlahan duduk di tempat tidur.


Kimberly menatap arah jendela kamar aina dengan wajah yang masih setengah sadar.


Sesaat kemudian sorot mata Kimberly terlihat sangat ketakutan menatap jendela kamar aina.


Kimberly mengingat kejadian saat victoria meninggal dan seseorang masuk dari jendela kamar victoria kala itu.


Kimberly mengingat kenangan pahit itu sambil gemetaran menatap jendela kamar aina.


"Tidak!! tidak!! Yuki!! Yuki!!" gumam aina dalam tidurnya.


Kimberly tersadar seketika mendengar suara aina. Kimberly pun menatap aina yang tertidur dengan ekspresi ketakutan dan gemetar.


"Aina.. bangun.. aina..." panggil Kimberly yang nampak khawatir.


Aina sama sekali tidak bangun, walaupun Kimberly berapa kali memanggil namanya, bahkan aina tidak membuka matanya saat Kimberly menggoyang tubuhnya.


Kimberly mulai terlihat khawatir dengan kondisi aina yang seperti itu.


"Aina.. bangunlah!! apa yang terjadi padamu??" kata Kimberly yang nampak khawatir.


Aina sudah tidak gemetar lagi dan ekspresi wajah aina sudah terlihat biasa seperti orang yang sedang tidur. Namun, suhu tubuh aina perlahan mulai dingin.


"Kenapa begini?? suhu tubuh aina sangat dingin, tetapi detak jantung dan nafasnya masih ada." kata Kimberly yang nampak khawatir dan kebingungan.


Kimberly pun merasakan hawa dingin yang sangat aneh.


"Hawa apa ini?? Kenapa aku bisa merasakan, ada hawa yang aneh di luar sana??" gumam Kimberly sambil menatap jendela kamar aina.


"Apa ada seseorang diluar?? karin, lyli masuklah!!" panggil Kimberly sambil menatap pintu kamar aina.


Dengan bergegas, karin yang menggantikan lyli menjaga aina, masuk kedalam kamar aina.


"Nona, ada apa?? kenapa suaramu terdengar khawatir??" tanya karin.


"Cepat panggil Yang Mulia!! Tubuh aina... tubuh aina seperti ingin membeku!!" kata Kimberly yang nampak ketakutan dan khawatir.


Karin kaget dengan apa yang dikatakan Kimberly, dia menatap aina dengan wajah yang sangat khawatir.


"Tuan putri.." gumam karin yang khawatir sambil menatap aina.


"Apa yang kau tunggu?? cepat pergi!!" kata Kimberly.


Karin langsung keluar dari kamar aina dan bergegas kekamar abilerdo.


Karin melihat bahwa pintu kamar abilerdo terbuka, dan tanpa permisi langsung masuk kedalam kamar abilerdo.


"Yang Mulia!!" kata karin yang nampak khawatir dan nafas yang hosh-hoshan.


"Kenapa kau masuk tanpa menegetuk??" tanya Dirk dengan ekspresi dingin.


[Bukankah dia pelayan aina.] gumam abilerdo dalam hati.


Melihat ekspresi karin yang khawatir, abilerdo langsung berfikir telah terjadi sesuatu pada aina.


Tanpa menunggu karin untuk memberitahukannya, abilerdo langsung lari keluar dari kamarnya.


"Yang Mulia!!!" panggil Dirk.


"Ada apa ini?? kenapa Yang Mulia nampak khawatir??" gumam kinsey.


Dirk, elbert dan kinsey pergi mengikuti abilerdo.


"Aku bahkan belum mengatakan apa-apa." gumam karin dan langsung mengikuti abilerdo dan yang lainnya.


Dikamar aina.


"Aina, bangunlah!! tubuhmu... tubuhmu.." gumam Kimberly yang nampak khawatir sambil menggoyangkan sedikit tubuh aina.


[Kumohon... aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu!! Bahkan istana yang dulunya dingin karena kepergian victoria, mulai hangat karena adanya dirimu!! Senyuman kak abi juga... senyumannya yang dulu sudah tidak pernah kulihat, sekarang bisa.. bisa... Kumohon Sadarlah aina] Gumam Kimberly dalam hati sambil menangis menginat kejadian tragis victoria dimasa lalu.


Tak...tak..tak.. bunyi langkah kaki yang terdengar kuat dan cepat mendekati kamar aina.


"Aina!!" Panggil abilerdo sambil masuk kekamar aina.


"Kak abi..." gumam Kimberly yang menangis sambil berbalik menatap abi.


"Apa yang terjadi?? Kenapa kau menangis??" kata abilerdo yang terlihat bingung.


"Aina.. aina.. tubuh aina.." kata Kimberly yang gemetar.


Abilerdo menatap aina yang tertidur itu. Dengan wajah khawatir, abilerdo mendekati aina dan duduk disamping aina yang tertidur.


"Tubuhnya sangat dingin!!" gumam abilerdo sambil menyentuh tangan aina.


Dirk, elbert dan kinsey kemudian masuk kekamar aina. Dengan cepat ekspresi wajah mereka berubah setelah melihat aina yang tertidur dan Kimberly yang sedang menangis itu.


"Kakak..." panggil Kimberly sambil beranjak dari tempat tidur dan memeluk kinsey.


"Kimmy, kau kenapa??" tanya kinsey.


"Aku takut.. tiba-tiba saja tubuh aina sangat dingin, awalnya aina terlihat gemetar dan ketakutan." kata Kimberly sambil menangis di pelukan kinsey.


[Sepertinya Kimmy masih sedikit trauma dengan kejadian victoria waktu itu.] Gumam elbert dalam hati sambil menatap kimberly.


"Yang Mulia.. Tuan Putri??" kata Dirk yang terdengar khawatir.


"Tubuhnya sangat dingin, aku juga tidak tahu apa yang terjadi." kata abilerdo yang terlihat bingung dan khawatir sambil menatap aina.


"Kau, cepat panggil ireine dari tim medis!!" kata abilerdo sambil menatap karin.


"Baik, Yang Mulia!!" kata karin.


Karin langsung pergi untuk memanggil ireine.


Nampak jelas, wajah Dirk, elbert, kinsey dan Kimberly sangat khawatir dengan kondisi tubuh aina. Kerena kepergian victoria yang begitu tragis, masih sangat melekat dipikiran mereka.


[Aina, apa yang terjadi padamu??] Gumam abilerdo dalam hati dengan ekspresi yang sangat khawatir sambil memegang erat tangan aina.


Sesaat kemudian ireine masuk kekamar aina, dan mulai memeriksa kondisi tubuh aina.


[Aneh.. tubuhnya..] Gumam ireine dalam hati yang nampak bingung.


"Ireine, apa yang terjadi padanya??" tanya abilerdo dengan nada yang khawatir.


"Yang Mulia, aku... aku tidak mengerti apa yang terjadi pada tuan putri." kata ireine.


Sentak membuat abilerdo dan yang lainnya kaget.


"Apa maksudmu??" tanya elbert dan dirk dengan nada khawatir.


"Suhu tubuh tuan putri memang sangat dingin seperti ingin membeku, tetapi aku sama sekali tidak bisa menemukan penyebab perubahan tubuh tuan putri. Anehnya, kondisi dalam tubuh tuan putri sangat normal." kata ireine yang bingung.


"Bagaimana ini bisa terjadi??" gumam Kimberly yang gemetar dan khawatir.


"Tetapi, kita harus mencoba menghangatkan tubuh Tuan putri. Jika tidak, tubuhnya akan membeku sampai kedalam jantungnya. Bisa-bisa Tuan putri...." kata ireine yang nampak khawatir.


Abilerdo terlihat lebih khawatir mendengar perkataan ireine. Tubuh abilerdo terlihat sedikit gemetar ketakutan.


"Bagaimana.. bagaimana caranya??" tanya abilerdo yang terlihat gemetar dan khawatir.


[Yang Mulia.. anda??] Gumam ireine yang nampak bingung.


Ireine menatap abilerdo, Dirk, elbert, kinsey dan Kimberly secara satu-persatu. Wajah serius mereka saat mendengarkan apa yang dikatakan ireine, tersimpan rasa khawatir dan ketakutan yang sangat dalam.


[Sepertinya.. Bagi kalian, tuan putri sangat penting, ekspresi kalian sama sekali tidak bisa menutupinya. Sudah sekian lama, aku tidak melihat ekspresi kalian yang seperti ini.] Gumam ireine sambil menatap mereka berlima.


"Seseorang harus menghangatkan tubuh tuan putri, dengan cara memeluknya. Setidaknya suhu tubuh salah satu dari kalian, bisa sedikit menghangatkan tuan putri." kata ireine.


"Aku saja." kata Kimberly.


"Baiklah, peluklah tuan putri!! aku akan menambah selimut, agar lebih hangat lagi." kata ireine.


Kimberly berjalan ketempat tidur aina.


"Tidak!! Biar aku saja!!" kata abilerdo dengan tegas sambil mengepalkan jemarinya.


Sentak membuat mereka semua kaget dan menatap abilerdo dengan ekspresi kebingungan.


.................................


Nantikan kelanjutan episodenya ya.


Maaf kalau ada salah kata.


Terima Kasih sudah membaca.