
Dag...dig...dug... Suara detakan jantung abilerdo yang sangat cepat.
Dengan wajah yang merona dan detakan jantung yang sangat cepat, abilerdo masih berdiri di balik pintu kamar aina.
Saat bersama aina, abilerdo berpura-pura tenang dan santai. Dia menggoda aina, hanya supaya dia bisa menutupi rasa malu dan gugupnya.
Abilerdo sangat malu mengingat kejadian semalam dikamar aina, wajahnya memerah dan detakan jantungnya semakin cepat mengingat kejadian, dimana aina menciumnya dan memeluknya dengan hangat saat mereka tidur dalam satu tempat tidur.
[Kenapa aku bisa merasa seperti ini?? Bukankah itu hanya ciuman dan pelukan??] Gumam abilerdo dalam hati dengan wajah memerah sambil menyentuh bagian dada tubuhnya sendiri.
[Jika semakin lama di dalam kamarnya, dia pasti akan melihat ekspresi ku saat ini.] Gumam abilerdo dalam hati dengan wajah yang memerah.
Abilerdo pun melangkahkan kakinya, menjauh dari kamar aina dan kembali ke kamarnya sendiri dengan wajah yang masih merona.
Beberapa saat kemudian.
Aina sudah bersiap untuk sarapan bersama raja aeres.
"Tuan Putri, Yang Mulia dan raja aeres sudah menunggu anda di ruang makan istana." kata lyli.
"Baiklah, aku segera kesana." kata aina.
Aina keluar dari kamarnya dan berjalan kearah ruang makan istana. Setelah sampai, lyli dan karin membukakan pintu ruang makan untuk aina.
Aina sangat kaget melihat abilerdo, Dirk, Kimberly, elbert, kinsey, raja dan ratu aeres sudah berada di ruang makan. Bahkan Erik (Pangeran Mahkota Aeres) juga sudah berada disitu.
Aina berfikir, dia hanya akan makan bersama abilerdo, raja dan ratu aeres. Aina menarik nafas panjang dan berjalan ke kursi kosong yang disamping abilerdo.
"Putri, apa tidur anda nyenyak??" tanya ratu aeres sambil tersenyum.
"Ehm.. Iya Yang Mulia." kata aina yang sedikit canggung.
Aina menjawab dengan sedikit canggung, mengingat semalam dia tidur bersama abilerdo. Sedangkan abilerdo hanya nampak santai dan meminum seteguk air saat mendengar ratu aeres bertanya pada aina.
[Pria arogan ini, apa dia batu??] Gumam aina dalam hati sambil melirik abilerdo.
Aina tidak menyadari erik sesekali meliriknya. Sedangkan aina sedikit kesal karena abilerdo hanya terlihat santai dan cuek.
Mereka semua pun melanjutkan sarapan sambil berbincang-bincang sedikit.
Setelah selesai sarapan, ratu aeres menyuruh erik untuk menemani aina berjalan-jalan di taman istana.
Aina sangat tidak ingin berjalan bersama erik. Namun, aina sama sekali tidak bisa menolak permintaan ratu aeres tersebut.
Aina dan erik pun beranjak dari kursi mereka dan keluar dari ruang makan istana. Sesekali abilerdo melirik aina dan pangeran erik yang berjalan keluar itu.
Aina dan erik berjalan mengelilingi taman istana. Mereka berdua sama sekali tidak saling bicara saat berjalan bersama.
[Aku benar-benar bosan!! Pria ini juga sama batunya dengan abilerdo] Gumam aina dalam hati.
[Kenapa aku selalu berurusan dengan pria seperti ini??] Gumam aina dalam hati sambil menghela nafas.
Erik menyadari sikap aina yang seperti itu.
"Putri, apa kau merasa bosan??" tanya erik.
[Bodoh!! Apa kau baru menyadarinya??] Gumam aina dalam hati.
Aina mengabaikan pertanyaan erik. Erik merasa sangat kesal karena aina hanya terlihat cuek itu. Namun, erik mencoba untuk bersabar dan berinisiatif mengajak aina untuk jalan-jalan diluar istana.
"Putri, apakah kau ingin jalan-jalan keluar istana??" tanya erik.
"Apa bisa??" tanya aina yang kaget dengan pertanyaan erik.
"Ikutlah denganku!!" kata erik.
"Kenapa aku harus ikut denganmu??" tanya aina yang sedikit kesal.
"Apa kau tidak ingin melihat ibukota kerajaan aeres??" tanya erik sambil berjalan.
"Cihh..." suara aina yang terdengar kesal.
Walaupun terlihat kesal, aina mengikuti erik dari belakang. Erik menyuruh pelayannya untuk mengambil jubah warna hitam.
Jubah hitam itu dipakai oleh aina dan erik, agar mereka berdua bisa menutupi kepala mereka dan sekaligus menutupi pakaian kerajaan yang mereka kenakan.
Aina dan erik pun keluar dari gerbang istana. Dalam perjalanan, erik sedikit terlihat malu karena aina duduk tepat didepannya. Walaupun sedikit canggung, erik mencoba untuk santai.
Mereka pun tiba di pusat perbelanjaan ibukota aeres. Aina sangat kagum melihat keramaian ibukota aeres.
Erik meninggalkan kuda yang mereka tunggangi kepada salah satu rumah kerabatnya yang berada didekat pusat perbelanjaan.
Mata aina seperti dimanjakan dengan barang-barang dan makanan lezat yang dijual di ibukota aeres.
Selama datang ke istana kunstkring, ini pertama kalinya aina berada dipusat keramaian, mengingat dia hanya terkurung dalam istana yang menurutnya sangat sepi itu.
"Wahhh..." gumam aina sambil celingak celinguk.
Aina menyadari bahwa sikapnya berlebihan dan bahkan erik sedang melihat tingkahnya itu. Dengan Cepat, aina menjaga sikapnya agar terlihat anggun dan cuek.
Namun, sikapnya itu tidak bertahan lama setelah dia melihat makanan yang terlihat lezat yang dijual di pinggiran jalan.
Dengan mata yang berbinar-binar, aina menatap makanan lezat yang didepannya.
[Kelihatannya sangat enak!!] Gumam aina dalam hati dengan wajah yang berbinar-binar.
Aina menyadari bahwa dia sama sekali tidak membawa uang sepeser pun. Wajah aina terlihat kecewa karena dia tidak bisa menikmati makanan lezat itu.
"Aku beli yang ini." kata erik kepada penjual makanan itu.
Aina menatap erik dengan ekspresi kaget.
"Kenapa kau diam seperti orang bodoh?? Cepat ambil makanannya." kata erik dengan nada santai.
[Cihh... Aku tidak akan mengatakan apapun, karena makanan ini terlihat lezat.] Gumam aina dalam hati yang terlihat cemberut.
Walaupun terlihat cemberut, aina langsung mengambil makanan yang sudah dibayar oleh erik dengan ekspresi yang tiba-tiba berbinar.
"Hmm...Sangat enak!!" gumam aina sambil mecicip makanan yang dibelikan oleh erik.
Aina terlihat menikmati makanan itu. Sedangkan, erik menatap aina sambil tersenyum kecil.
"Apa kau tidak ingin mencobanya??" tanya aina sambil menyodorkan makanan yang ada ditangannya.
Erik hanya terdiam menatap makanan yang didepan matanya itu. Walaupun terlihat lezat, tetapi itu adalah bekas gigitan aina.
"Ayo.. cobalah sedikit!! Lagipula, kau yang membelinya." kata aina dengan santai nya.
[Gadis ini, apa dia sudah gila??] Gumam erik dalam hati yang terlihat bingung.
"Ayo.. ini enak loh!! Jika kau tidak memakannya, aku tidak akan jalan-jalan bersamamu lagi." kata aina dengan ekspresi dingin.
[Gadis bodoh!! Masalahnya bukan pada makanan ini. tetapi....] Gumam erik dalam hati sambil menatap makanan yang di tangan aina.
Dengan terpaksa, erik memakan makanan bekas gigitan aina. Setelah erik memakannya, aina melanjutkan untuk memakannya juga.
Erik tersedak melihat aina yang juga memakan bekas gigitan erik sebelumnya.
"uhuk.." suara erik yang terdengar tersedak.
Aina kaget karena erik tiba-tiba tersedak setelah memakan makanan itu. Secara refleks, aina langsung menyapu punggung erik dengan lembut.
"Apa kau tidak apa-apa??" tanya aina dengan nada suara yang lembut dan terdengar khawatir.
Erik tertegun menatap aina yang terlihat sangat khawatir sambil menyapu punggung erik.
"Tunggu disini, aku akan mencari air minum untukmu." kata aina dengan nada khawatir.
Aina langsung berlari mencari air minum untuk erik. Sikap aina yang seperti itu karena dia merasa bersalah telah memaksa seorang pangeran untuk makan makanan dipinggir jalan.
Sedangkan, Erik masih tertegun menatap aina yang berlari karena mengkhawatirkannya.
................................
Nantikan kelanjutan episodenya ya.
Maaf kalau ada salah kata.
Terima Kasih sudah membaca