
Abilerdo masuk kemar aina, dia kaget melihat aina yang tidak ada di tempat tidurnya.
[Dimana dia??] gumam abilerdo dalam hati yang celingak celinguk mencari aina.
"Ai...." panggil abilerdo yang terhenti dan kaget.
Aina keluar merangkak keluar dari kamar mandi yang masih memakai gaun. Aina yang merangkak itu, mengangkat kepalanya dan menatap abilerdo.
"Hai...Pria arogan!!" sapa aina yang masih terlihat mabuk.
"Apa yang kau lakukan disitu??" tanya abilerdo dengan ekspresi suram.
Aina hanya tersenyum dan "Hoekk" Suara aina yang seperti ingin muntah. Abilerdo terdiam dengan ekspresi suram.
Abilerdo mendekati aina dan membantunya untuk berdiri.
"Dasar gadis pemabuk!!" gumam abilerdo sambil memapah aina.
"Aku tidak mabuk, bodoh!!" kata aina dengan nada suara yang mabuk.
"Kau!!!" kata abilerdo yang terdengar kesal.
Abilerdo membantu aina untuk berjalan kearah tempat tidur aina. Namun, sebelum sampai ditempat tidur, aina tiba-tiba muntah dan membuat gaun yang di pakai nya terkena muntahnya sendiri.
Abilerdo nampak diam dengan ekspresi dingin karena aina. Setelah muntah, aina sudah tidak bertenaga lagi. Dia mulai merosot perlahan, Namun abilerdo menahan tubuhnya agar tidak jatuh kelantai yang penuh muntahan itu.
Abilerdo yang sudah tak tahan lagi, mengangkat tubuh aina dan membawanya masuk ke kamar mandi. Dengan perlahan, abilerdo menaruh aina dalam bak mandi.
Abilerdo kelihatan bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa melihat tubuh aina yang kotor karena muntahan aina.
Abilerdo pun berinisiatif sendiri untuk membuka gaun aina yang sangat kotor dan bau itu. Dengan perlahan, abilerdo mulai membuka gaun aina.
"Apa yang kau lakukan??" tanya aina yang sedikit sadar sambil menahan tangan abilerdo.
"Diamlah..." kata abilerdo dengan lembut sambil melepaskan tangan aina.
Aina pun tertidur kembali. Dengan wajah yang merona, abilerdo melanjutkan membuka pakaian aina. Terlihat jelas, wajah abilerdo sangat merah saat melihat aina yang sudah tidak memakai pakaian satupun.
Walaupun abilerdo sangat malu melihat tubuh aina, tetapi didalam hatinya, dia tidak ingin membiarkan aina dalam keadaan seperti itu.
Abilerdo pun mulai membersihkan tubuh aina dan memandikannya dalam bak mandi dengan ekspresi malu dan wajah yang sangat memerah.
Setelah selesai, abilerdo mengambil handuk dan menutupi tubuh aina. Abilerdo menggendong aina dan berjalan kearah tempat tidur aina.
Dengan wajah yang sangat memerah, abilerdo memakaikan pakaian tidur kepada aina. Abilerdo sendiri lah yang membersihkan lantai yang penuh dengan muntahan aina.
Setelah semuanya sudah nampak bersih, abilerdo duduk di tempat tidur aina dan menatapnya dengan tatapan lembut.
"Dasar gadis bodoh!!" gumam abilerdo sambil menyentuh pipi aina dengan lembut.
Setelah melihat aina yang sudah tertidur pulas, dengan perlahan abilerdo berdiri dari tempat tidurnya.
Saat hendak berdiri, tiba-tiba aina memegang tangan abilerdo dan mengingau.
"Jangan pergi..." gumam aina dengan lembut sambil tidur.
Abilerdo kaget karena aina tiba-tiba saja menggenggam tanganya dan mengigau seperti itu. Abilerdo yang tadinya hendak keluar dari kamar aina, mengurungkan niatnya karena melihat aina yang seperti itu.
Abilerdo duduk kembali di tempat tidur aina dan tersenyum karena merasa aina sangat lucu.
Tiba-tiba aina berdiri dalam posisi duduk di tempat tidur dan perlahan membuka matanya. Mata aina yang masih terlihat sayu menatap abilerdo dan tersenyum.
"Pria arogan, kau sangat lucu!!" kata aina yang belum sadar sepenuhnya.
Aina menyentuh pipi abilerdo dengan kedua tangannya dan dengan lembut "cup" , Aina mengecup bibir abilerdo.
Abilerdo sangat kaget dan merona karena aina tiba-tiba saja berdiri dan mengecupnya. Abilerdo berusaha untuk melepaskan ciuman aina tanpa harus menyakiti tubuh aina.
Namun, aina sama sekali tidak melepaskan ciumannya terhadap abilerdo. Abilerdo pun mulai merespon kecupan aina dan mencium balik aina dengan penuh kelembutan sambil memeluk tubuh aina.
Setelah beberapa menit, mereka berdua melepaskan ciuman itu secara perlahan. Abilerdo langsung memeluk aina dengan penuh kehangatan, namun aina tidak merespon pelukan abilerdo karena dia tertidur.
Abilerdo pun secara perlahan membaringkan kembali tubuh aina dan menyelimuti tubuh aina dengan selimut sambil tersenyum lembut.
Keesokan harinya.
Matahari mulai menyinari kamar aina dari balik jendela kamarnya.
"Hmm..." Suara aina yang mulai terbangun.
Aina membuka matanya perlahan. Dalam keadaan masih setengah sadar, dia melihat sosok pria yang disampingnya sambil memeluk tubuh aina.
Rambut perak yang bersinar terang karena pantulan cahaya mentari pagi dan wajah tampan yang tertidur sangat pulas.
Dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, aina menyentuh lembut rambut perak yang terlihat menawan itu dan perlahan jemari aina turun ke pipi abilerdo dan menyentuhnya dengan lembut.
Sambil menyentuh pipi abilerdo yang tertidur itu, aina menatap abilerdo dengan sangat dalam.
[Pria arogan!!!] Gumam aina dalam hati yang sadar sepenuhnya dengan ekspresi kaget.
Dengan cepat aina langsung berdiri dalam posisi duduk di tempat tidur karena kaget.
"Ke...kenapa kau disini??" Tanya aina dengan nada dan ekspresi kaget, dan wajah yang merona.
Abilerdo pun bergerak perlahan, Dia terbangun karena aina yang bergerak secara tiba-tiba.
"Kau... Kau sudah bangun??" tanya abilerdo dengan nada suara yang terdengar masih setengah sadar sambil membuka matanya.
"Kenapa kau terdengar santai?? Apa yang kau lakukan disini??" tanya aina dengan nada suara kaget.
Abilerdo pun berdiri dan menatap aina dalam posisi duduk yang sama dengan aina.
"Kenapa kau teriak-teriak?? Ini masih sangat pagi." tanya abilerdo dengan ekspresi bingung menatap aina.
"Kenapa kau bisa ada di kamar ku?? dan..dan.. kau juga tidur disampingku!!" tanya aina yang sedikit gugup.
"Apa kau sama sekali tidak ingat??" tanya abilerdo sambil menatap aina.
[Aku?? apa yang terjadi?? aku sama sekali tidak ingat apapun.] Gumam aina dalam hati yang nampak bingung dan gugup.
"Kau sendiri yang menahanku disini." kata abilerdo sambil menatap aina.
[Apa??] gumam aina dalam hati dengan ekspresi kaget.
Aina pun memalingkan wajahnya karena merasa sangat malu. Abilerdo tersenyum kecil melihat tingkah aina.
"Kenapa?? Apa sekarang kau tidak ingin melihatku?? Semalam, kau tidak ingin melepaskan tanganku." kata abilerdo dengan nada suara menggoda aina.
"Ka..kau.. Berhenti menatapku seperti itu." kata aina dengan nada suara yang terdengar gugup dan malu.
Abilerdo tersenyum dan memegang wajah aina sambil membuat wajah aina berbalik padanya secara cepat.
Aina sangat kaget dan malu, melihat wajah abilerdo yang sangat dekat dengan wajahnya itu.
"Apa kau tahu, apa yang terjadi semalam??" tanya abilerdo sambil memegang wajah aina dan terdengar menggoda aina.
[Apa..apa yang terjadi??] Gumam aina dalam hati dengan ekspresi gugup.
Abilerdo tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya dari wajah aina, dan dengan perlahan abilerdo mendekatkan wajahnya kekuping aina dan berbisik.
"Semalam, kau menciumku dengan lembut." bisikan abilerdo ditelinga aina dengan nada suara yang lembut menggoda.
Dengan cepat, wajah aina berubah menjadi seperti tomat yang sangat merah, bahkan memerah sampai ke kuping aina.
Setelah mengatakan itu, abilerdo berbalik dan beranjak dari tempat tidur aina sambil tersenyum kecil melihat aina yang memerah bagaikan tomat.
"Kau!! Pria brengsek!!" kata aina sambil menutup bibirnya dengan tangannya sendiri dan wajah yang merona.
"Brengsek?? Aku bahkan membersihkan tubuhmu yang bau muntah itu." kata abilerdo sambil merapikan pakaiannya.
[Tubuh...??] Gumam aina dalam hati yang nampak bingung.
Aina menatap tubuhnya sendiri, dia baru sadar bahwa dia sudah berganti pakaian, mengingat semalam dia masih menggunakan gaun.
"Ka..kau... Apa kau yang menggantikan pakaianku??" tanya aina yang terdengar malu dan gugup.
"Bukan hanya menggantikan pakaian mu yang kotor itu, Aku juga memandikan tubuhmu yang bau muntah itu." kata abilerdo sambil tersenyum menggoda aina.
"Cihhh..." gumam aina yang nampak kesal namun gugup dan sangat malu menatap abilerdo.
Abilerdo pun berbalik dan berjalan kearah pintu kamar aina dengan santai.
"Jangan lupa, sebentar lagi kita akan sarapan bersama raja aeres." kata abilerdo dengan nada suara dingin.
Aina sama sekali kehabisan kata-kata, dia hanya diam melihat abilerdo yang keluar dari kamarnya.
"DASAR PRIA BRENGSEK!!!" gumam aina yang terdengar marah.
Setelah bergumam seperti itu, aina membaringkan tubuhnya ketempat tidur dan menutupi tubuh sampai wajahnya dengan selimut.
"Memalukan..." gumam aina dibalik selimut dengan wajah yang merona.
Disisi lain.
Abilerdo masih berdiri dibalik pintu kamar aina.
Dag..dig...dug.... Terdengar detakan jantung abilerdo yang sangat cepat diikuti dengan wajah yang merona.
....................................
Nantikan kelanjutan episodenya ya.
Maaf kalau ada salah kata.
Terima Kasih sudah membaca