Thaha

Thaha
resah



...~**🦛**~...


...**...


...*...


Memang benar apa yang di katakan orang-orang jika semua tempat adalah tempat bermain bagi anak-anak, baik di dunia nyata maupun dunia maya


seperti saat ini misalnya, saat orang dewasa seperti kami sudah lelah karena terlalu lama menatap layar canggih, tidak dengan dua krucil ini


mereka tengah asik bercanda dengan bahasa mereka yang membuat telinga gatal


kadang mereka dengan tingkahnya yang menggemaskan menjadi pelipur lara bagi orang dewasa yang tengah memikul segudang beban


aku hanya memperhatikan bagaimana Elio berbicara dengan Egan, saat ini di layar tengah menampilkan Egan yang sedang menangis karena ditinggal Abinya. lucunya Elio yang melihat hal itu, bukannya prihatin dengan temannya yang menangis, sifat kepo dan jahilnya malah muncul


"Ido, nanic.....?" Elio bertanya pada Egan yang masih di banjiri air mata.


jangan heran dengan panggilan baru Elio untuk Egan, aku harus memutar otak untuk memberikan Egan panggilan yang pantas agar bisa di tiru oleh Elio. setelah revisi beberapa kali barulah Elio mau memanggil Egan dengan panggilan Ido.


"hiks....iyaaaaa....hiks...." Egan yang masih menangis menghentikan sejenak teriakannya untuk berbicara dengan Elio


"why.....?" anak ini temannya nangis bukannya di bujuk untuk berhenti menangis, malah terus di tanya


" hiks ILO, Egan, hiks... nanis dulu ya.....hiks"


"ok, nanti cudah, bilan ya...?"


"ok"


setelahnya Egan kembali menangis dengan suara yang cukup melengking


ibunya....? ustadzah ku malah dengan santai mengawasi, membiarkan Egan menangis menghilangkan kekesalan yang masih bercokol di hatinya.


Elio....?


dia tengah asik mengambil dan memakan cemilan yang ku siapkan untuk Elio sebelum kajian tadi


aku menggeleng dengan prihatin pada nasib Egan.


aku selalu mempersiapkan segala kebutuhan Elio sebelum kajian. mulai dari makanan, mainan, buku atau kebutuhan lain yang sekiranya Elio butuhkan. jadi saat kajian Elio bisa duduk tenang atau bermain dengan tenang


tangis Egan terdengar lirih, hanya menyisakan segukan yang tampaknya sebentar lagi akan berhenti


"ILO, cudah" Egan memberitahu


"oh, cudah....? nanic ladi Ndak'o....?" aku melongo di tempat melihat bagaimana Elio menawarkan pada temannya untuk kembali menangis


"tidak"


"mau....?" kini Elio malah menawarkan biscuit bayi kesukaannya. iya dekatkan pada layar yang menampilkan wajah Egan


bisa begitu.....?


kadang dari tingkah Elio aku banyak belajar, bagaimana kita harusnya menghadapi orang lain, atau bagaimana kita harus bersabar dan bersyukur dengan apa yang menjadi ketetapan Allah


seandainya aku yang saat ini berada di posisi Elio dengan teman ku yang menangis di depan ku, mungkin aku tidak akan menanyakan 'apakah kamu masih mau menangis....?' bahkan aku akan dengan cepat memintanya untuk berhenti menangis.


' nangis Mulu, udah malu Uda gede'


mungkin kata itu yang akan terlontar dari lisan ku


"Mommy, Daddy....?" Elio mendekat setelah mematikan sambungannya yang terhubung dengan Egan. aku tidak sadar jika aku sempat melamun beberapa saat lalu


"Daddy.....? Elio rindu Daddy....?" pertanyaan yang langsung diangguki oleh Elio


aku kembali berkutat dengan nomer Louis. yang lagi-lagi hanya menampilkan suara operator yang sudah terdengar sejak tadi pagi


"Daddy kerja. nanti malam kita hubungi Daddy ok....?" aku tidak mungkin memberitahu Elio jika sejak tadi pagi Louis susah untuk di hubungi


"Mommy. Abys....?"


beruntung saat ini dirumah ada Absyar dan kak Abyan. jadi Elio tidak terlalu kesepian. dia masih ada teman untuk bermain


pandemi membuat setiap gerak kita harus menyesuaikan dengan kondisi yang ada, kita tak lagi bisa menikmati untuk bermain diluar rumah. kesalahan penanganan membuat kondisi semakin parah. walau Indonesia adalah negara dengan kepulauan yang terpisah oleh laut. tapi, tak menjadikan virus covid-19 tertahan pada satu pulau saja. bahkan saat ini sudah banyak korban dari pulau-pulau kecil yang mulai berjatuhan.


bagaimana dengan Itali.....?


pulau yang tak lagi terpisah oleh jarak laut....?


aku tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya kondisi disana saat ini. berderet truk tentara di kerahkan untuk mengangkut para korban meninggal


memikirkan hal itu, membuat hati ku semakin ketar-ketir. bayangan tentang kondisi Louis membuat ku sangat ingin menangis. takut, gelisah bercampur menjadi satu, membuat perut ku bergerak cepat dengan gerakan tak teratur. itu membuat ku mual


waktu terus bergerak meninggalkan detik demi detik yang berlalu dengan perasaan gelisah yang makin bertambah. hingga malam menjelma tak satupun dari panggilan ku yang terjawab. kecuali oleh suara operator yang selalu sama


"ada apa ini....?" aku bertanya pada sunyi malam yang tenang, cuaca dingin kini menembus tulang, terasa lebih sejuk dari yang semestinya


layar canggih yang beberapa saat lalu menyala menampilkan panggilan keluar kini hitam kosong tak ada tanda-tanda dari deringnya


kosong


sunyi


Senyap


sama seperti kabar Louis yang hilang ditelan jarak


aku melirik pada Elio yang telah tertidur di atas kasur, aku beranjak mendekat pada Elio yang tengah gelisah


tangan ku dengan cepat menenangkan Elio, tepukan lembut mendarat dengan konstan pada dadanya. bukannya semakin tenang Elio malah terbangun dan menangis dengan kencang


"uuuaaaaa Daddy uuuaaaaa"


"kenapa bangun sayang....?" aku membawa Elio dalam gendongan ku


aku mencoba menidurkannya kembali, tangan ku dengan konstan memberi sapuan lembut pada punggungnya. sedang kaki ku bergerak konstan menimang Elio yang masih memanggil Daddy-nya


walau kita sudah terpisah cukup lama dengan Louis, Elio sangat jarang bangun dan menangis tengah malam begini. walaupun dia terbangun tengah malam, saat dia melihat aku berada di dekatnya. Elio biasanya akan memelukku dan kembali tertidur


aku mencoba menawarkan Elio untuk menyusu, tapi tak sedikitpun Elio gubris. dia masih saja mencari Daddy-nya. dia bahkan memintaku untuk menghubungi Louis


walau aku tidak keberatan untuk melakukan itu, sayangnya sekeras apapun aku berusaha. sambungan itu tak akan mendapat sautan dari Louis


jangankan Louis. keluarga yang lain-pun sama


satu hal yang bisa ku katakan pada Elio untuk saat ini "sabar". sebenarnya kata itu bukan hanya untuk Elio tapi juga untuk ku.


untuk ku yang juga menunggu kabar dari Louis


dimana sebenarnya Louis saat ini.....?


kenapa tak satupun beritanya ku dengar....?


jika telfon tak bisa menyediakan kabar tentang Louis


akankan orang kantornya tau keberadaan Louis saat ini.....?


mungkin aku harus menemui Sam besok....?


harus kah?


sepertinya itu solusi untuk saat ini


...~**TBC**~...


...**...


...*...