
Malam semakin larut denting jam terus beranjak mengitari setiap angka bagai roda yang terus berputar melaju pada tujuan akhir tanpa batas, meninggalkan kenangan dan kilas-kilas kejadian yang tidak akan pernah terulang kembali, tidak ada seorangpun yang bisa memutar kembali denting waktu yang terlewat walau hanya sekejap mata, waktu terus melaju tanpa ada yang bisa menghentikannya walau aku selalu berharap seandainya waktu bisa di ulang kembali, mungkin aku akan lebih berhati-hati saat itu, atau mungkin aku tidak akan pernah membuat keputusan gila untuk pulang larut malam kala itu, atau aku seharusnya meminta Rama untuk membatalkan pernikahan ku bahkan saat semuanya belum di mulai, banyak pengandaian yang menari-nari di benak ku, tapi bagaimanapun kita memutar otak untuk membuat pengandaian itu terwujud, semuanya hanya sia-sia belaka, seberapa kita mampu memegang kekuasaan atau seberapa banyak uang yang kita miliki sampai kapanpun tidak akan pernah mampu mengulang waktu yang tertinggal yang bisa aku lakukan saat ini bukanlah mengandai, jika atau seandainya lagi, tetapi berusaha menghadapi apa yang telah di tuntun tali takdir dalam setiap langkah yang ku jejaki, yang lalu biarlah menjadi masa lalu, masa depan selalu menantu untuk kita jajaki, kesalahan dimasa lalu untuk kita jadikan pembelajaran berarti dalam hidup sedang masa depan adalah tempat untuk mewujudkan setiap cita-cita untuk mencapai tujuan
aku termenung dalam kamar yang sunyi di atas permadani cantik yang telah disiapkan untuk ku, entah oleh Mommy atau oleh Louis, sujud ku menjadi saksi betapa sudah bulat tekad yang terikat kuat
hati ku meragu dalam setiap langkah yang ku renungkan, bagai setiap jalan terasa buntu, hanya berpegang pada keyakinan dalam hati, jika aku tidak ingin menghancurkan senyum bahagia yang telah terbingkai indah
aku melirik pada Louis yang sudah lelap, mencoba menyimpan sebanyak mungkin potretnya yang tertangkap oleh lensa mata ku
dia yang saat ini tengah mengisi salah satu kotak di hati ku yang semula kosong, darinya aku mengenal banyak rasa baru yang belum pernah ku cicip sebelumnya, bahagianya dimiliki, rindunya menanti, bahkan sakitnya berbagi, sejuta rasa mengajari ku tentang betapa Allah kuasa membolak-balikan setiap rasa dalam jangka waktu yang singkat
tangan ku terulur mengambil benda pipih yang beberapa hari ini terlupakan, Louis menyimpannya dengan sangat rapi di dalam laci yang terletak di sebelah tempat tidur, aku baru mendapatkannya tadi setelah sholat Isyak, dan aku bersyukur karena Louis telah mengaktifkannya agar bisa di gunakan di Itali, tentu di dalamnya sudah terisi dengan provider yang tidak akan bisa di gunakan dimanapun kecuali di sini
aku memandang sebentar pada layar pipih yang kini menampakkan foto Louis yang tengah serius membaca sebuah buku, entah siapa yang memotretnya dan menyetingnya sebagai wallpaper hp ku, mungkin Louis....? karena yang pasti bukan aku
aku berusaha meyakinkan hati ku yang masih saja bimbang untuk men-dailing nomer kak Abyan yang berulang kali ku buka dan ku tutup
"bismillah ya Allah semoga jalan yang Zu pilih adalah jalan yang engkau ridhoi ya Allah" Zu berbisik lirih dan meminta ketetapan hati pada dzat yang menggenggam hati ku, jika Allah memudahkan setiap jalan dan prosesnya, serta sesuai dengan hukum dan syariat nya, in sya Allah jalan yang ku pilih tidak akan meninggalkan penyesalan yang akan membuat ku menangis esok hari
dengan pelan aku menekan tombol panggilan yang akan menghubungkan ku dengan kak Abyan, jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya saat bunyi sambungan itu menggema di telinga ku
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, hello adek, apa kabar....? kakak telfon Zu kemaren tapi tidak bisa...? terdengar suara kak Abyan dari sebrang sana yang tampak khawatir, tidak heran memang karena biasanya aku akan dengan semangat menerim panggilannya dan dengan semangat menanyakan tentang banyak hal yang menurut ku menarik tentang negri dimana kak Abyan sedang menuntut ilmu
"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, Alhamdulillah kak, kabar Zu baik, kemaren Zu tidak pegang HP, Zu ada di rumah Mommy di Itali, kak Abyan apa kabar....?" aku mencoba untuk membuat percakapan kecil sebelum memberi kejutan yang mungkin akan membuat kak Abyan sakit kepala
"Alhamdulillaah, kakak juga baik, gimana Itali...? keren nggak....?" beginilah kita jika sedang tersambung dalam benang penghubung tak kasat mata yang mampu melepas rindu pada seseorang yang selalu kita rindukan, semakin canggih sarana yang di gunakan, semakin dekat jarak semu yang terbentang walau sebenarnya dia jauh berkilo-kilo meter di sebrang sana
aku bercerita sedikit tentang kehidupan kami di sini, tentang alam dan pemandangan yang indah, rumah mewah yang selalu membuat ku bergidik saat memikirkannya terakhir tentu tentang Louis dan keluarganya hingga sampai pada pembahasan yang menjadi maksud tujuan ku
"kak, Zu boleh minta tolong kak Abyan jemput Zu ke Italia.....?" aku dengan hati-hati meminta pada kak Abyan setelah sebelumnya aku sudah menjelaskan tentang posisi ku dalam hal ini
"Zu, yakin dengan keputusan Zu, tidak mau pertimbangkan lagi, ingat Zu, Allah sangat membenci perceraian" kak Abyan memang akan selalu menanyakan setiap tindakan ku, dan dia selalu mengajari ku untuk bertanggung jawab dengan pilihan ku
"Zu tau kan, kenapa hak talak itu ada pada suami....? karena perempuan kerap kali mengedepankan perasaan, dan kakak tidak mau Zu menyesal nantinya, bicarakan dulu dengan Louis ok, hubungi kakak lagi jika Zu sudah mendiskusikannya dengan Louis, ok, ingat kakak melakukan ini semua karena kakak sayang Zu karena Allah, dan kakak tidak akan mendukung tindakan Zu yang akan mendatangkan murka Allah"
satu hal yang paling ku suka dari kak Abyan dia akan selalu memberiku nasehat yang mempu membuat ku tenang, dia akan selalu menuntun ku pada terang yang tersembunyi di balik hamparan gelap yang kelam
"In sya Allah, besok Zu akan diskusikan dengan Louis, apapun hasilnya besok, Zu akan kabari kakak" Aku merasakan ketenangan yang mulai membanjiri relung hati ku dengan perlahan-lahan
"ya sudah, kakak tutup dulu, jangan lupa shalat malam" pesan yang selalu kak Abyan berikan pada ku sejak saat aku mendapatkan haid pertama ku saat sekolah menengah pertama, pesan itu tidak hanya kak Abyan sampaikan pada ku tapi ga pada Absyar
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" sambungan telfon itu terputus setelah aku menjawab salamnya
setelah percakapannya dengan kak Abyan berakhir aku memutuskan untuk mencari benda yang mampu menyelamatkan ku nanti di bandara, walau benda itu tidak ku gunakan saat berangkat ke tempat ini, tapi benda itu akan sangat ku butuhkan saat pulang nanti, kadang aku bersyukur karena pernikahan kami belum di sahkan secara negara, setidaknya aku tidak perlu susah payah mengurus surat-surat yang ku perlukan untuk kebutuhan pengadilan, yang ku butuhkan untuk menyelesaikan ini semua adalah satu kata keramat dari bibir Louis yang akan mengakhiri setiap kegelisahan di hati ku, tentu kalimat itu juga yang akan mengembalikan kehidupan yang sempurna untuk Elio dan Elisa
kaki ku melangkah mendekati lemari kecil di sebelah tempat tidur, laci dimana Louis mengeluarkan hp ku tadi, berharap paspor ku juga ada di sana, beserta dompet kesayangan ku tentu saja
aku membuka setiap laci yang ada di sana namun sayangnya aku tidak menemukan sesuatu apapun di laci pertama dan kedua, harapan terakhir ku adalah laci ke tiga, lagi yang terletak paling bawah di antara dua laci yang lain
dengan merapal do'a aku membukanya sepelan yang aku bisa, saat aku bisa melihat isinya, aku bersorak girang karena semua barang yang aku cari ada di sana, dompet dengan tas selempang kecil satu-satunya yang ku punya, aku membuka dan memeriksa isi dari dompet dan juga tas ku, tentu saja isinya sesuai dengan apa yang ku ingat ada di dalam sana, uang rupiah beberapa lembar dengan nominal yang berbeda, KTP kartu ATM ku dan beberapa kartu member yang ku dapatkan dari tempat langganan ku, ada juga bedak tabur, petroleum jelly dan beberapa skin care sederhana yang ku punya
ternyata Louis memasukkan benda yang sering ku gunakan di dalam tas kecil itu, padahal disini dia sudah menyediakan berbagai macam skin care yang tidak ku sentuh sama sekali, kecuali hand body yang kupakai tadi sehabis mandi, dia bahkan menyediakan baju ganti yang selalu ku dapati sudah tertata rapi di atas meja kamar mandi, tidak bisa di pungkiri itu sangat memudahkan ku, setidaknya aku tidak perlu mengeluarkan tenaga untuk memilih baju apa yang akan ku kenakan untuk hari ini, berdiri di depan lemari dengan banyak baju sering membuat ku pusing
aku sudah hendak membuka mukenah dan kembali berbaring di sebelah Louis saat sebuah ketukan di depan pintu mengurungkan niat ku, samar sama aku mendengar suara tangisan anak kecil yang memilukan dengan cepat aku membuka pintu dan mengurungkan niat ku yang akan membuka mukenah tadi
"Elisa, Elio" aku mengambil Elio dari gendongan Elisa dan mendekapnya dalam gendongan ku, batita menggemaskan yang kini tengah menangis dengan hidup merah dan mata yang berlinang air mata langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ku dan bergelung manja di sana
"he's up and looking for Louis, and say that he wanna sleep with you guys, I am sorry to disturb you at this hour" Aku bisa melihat dengan sangat jelas rasa bersalah yang terpancar dari wajah Elisa, walau sebenarnya akulah yang paling merasa bersalah melihat ini semua
"it's ok, It's fine, I'll try to wake him up and ask him to calm Elio's down, or you guys can make Elio calm together.....?" aku mencoba menenangkan Elisa yang masih merasa bersalah dengan senyum hanya yang coba ku ukir di bibir ku
"Zu, ada apa....?, Elisa what's wrong...?" Louis mendekat ke arah kami, mungkin dia terbangun karena mendengar suara tangisan Elio
"he's can't sleep and looking for you guys" Elisa coba menjelaskan pada Louis tentang keberadaannya di depan pintu kamar kami
" where's Matteo....? he's still not home yet....?" Louis sepertinya tidak masalah dengan hal tersebut, tidak mungkin juga kan dia merasa keberatan untuk menemani anaknya yang sedang terbangun dan anehnya Louis malah menanyakan tentang metteo, entah siapa Metteo yang di tanyakan oleh Louis
" he still in Japan" Elisa tampak murung saat mengatakan hal itu, surat kerinduan terpancar dari sinar matanya yang tampak redup
" kemari" Louis mencoba memindahkan Elio dalam gendongannya namun Elio malah menolak dan semakin mengencangkan dekapannya pada leher ku
"tidak apa, biar Zu yang gendong" aku mencoba menenangkan Elio yang kembali mengeraskan tangisannya saat hendak di gendong oleh Louis sedangkan Elisa kembali ke kamarnya setelah menitipkan Elio pada kami
aku mencoba menimangnya dalam dekapan ku, tangan ku dengan lembut memberi sapuan halus di sekitar punggunggnya, mencoba bersenandung dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang sudah ku hafal
aku tetap dalam posisi berdiri menimang Elio dalam dekapan ku meninggalkan Louis yang kini tengah duduk memandangi kami
"capek....?" dia bertanya dengan suara lirih, berusaha sepelan mungkin agar tidak membangunkan Elio, tapi suaranya masih sasih dapat ditangkap dengan jelas oleh Indra pendengaran ku
"tidur dulu aja, nanti Zu sama Elio menyusul" bukannya kembali berbaring Louis malah beranjak dari duduknya dan menghampiri ku
tangan besarnya melingkar di perut ku dan dagunya ia letakkan di pundak ku yang kosong, dia bergelayut manja dengan memeluk ku dari belakang, satu tangannya terangkat untuk ikut mengusap lembut punggung Elio
"Zu mau punya satu yang seperti Elio...?" aku terdiam dan menghentikan senandung ku beberapa saat sebelum kemudian berdehem panjang, tidak bermaksud mengiyakan atau tidak juga menolak, aku hanya tidak tau harus menjawab apa....?
"kalau aku mau punya yang seperti Elio, atau perempuan juga tidak masalah, Zu mau kan...? usaha sama-sama...?" aku kembali berdehem panjang sebagai tanggapan
mata ku sudah berembun, aku yakin satu pertanyaan lagi dari Louis yang menyangkut tentang masa depan kami, aku tak yakin aku mampu membendung tangis ku
"besok, Zu boleh minta untuk di antar jalan-jalan ke kota...?" aku memberanikan diri dengan hati-hati meminta pada Louis, aku tidak akan sanggup jika harus berada dalam posisi ini lebih lama
aku mendekap dua buah yang akan mengantar ku pada penderitaan tanpa ujung, Louis yang mendekap ku dengan lembut seakan menjanjikan masa depan yang bahagia, sedangkan Elio yang ku dekap selalu menyisip belati yang menggores hati ku dengan sayatan senyum yang menghantarkan pedih
mendekat mereka seperti ini seakan membakar ku dalam kubangan rasa bersalah yang kian hari kian memuncak
"boleh, besok ku temani, sekalian kita mampir ke rumah sakit untuk jenguk Ale" aku sepakat untuk ikut dengannya menjenguk paman Ale, walau sebenarnya aku tidak ingin mengenal lebih banyak lagi dari anggota keluarganya, semakin banyak aku mengenal keluarganya akan semakin sulit untuk ku untuk meninggalkannya, aku akan semakin merasa bersalah, dana kan memikirkan ulang bagaimana aku harus mengambil keputusan untuk berpisah
"Ahibbaki Fillah"
saat Louis mengatakan kalimat itu dengan tulus, aku tak lagi mampu membendung air mata ku, tangan ku mendekap Elio dengan erat dan menyembunyikan tangis ku di sana