
"terus apa hubungannya Zu dengan masuk Islamnya Hubby, jangan bilang kalau Hubby sudah menyukai Zu dari tujuh tahun yang lalu....? Waah... hebat!"
dengan penuh percaya diri aku mencoba menebak kemana kiranya arah pembicaraan ini
aku tidak sungguh-sungguh dalam mengatakan hal itu, aku cukup tau diri, tenang saja, dan aku masih cukup waras untuk mendambakan seorang seperti Louis untuk mencintai ku
dia tampan
kaya juga
pintar, apa lagi
Muslim, sudah pasti
suaranya enak, jangan di tanya
pokoknya Louis itu paket komplit
ibarat mie, Louis itu mie goreng pakai telor
spesial!!!
lah, sedangkan aku...?
cantik.....? biasa aja
kaya.....? biasa juga
pintar.....? biasa aja juga
suara enak....? jauh kemana-mana, fales, iya!
istilah kata, dia di atas langit, sedangkan aku duduk merenung di bumi
aku dan Louis berada di dunia yang berbeda!
kalau seandainya tidak ada kejadian salah faham waktu itu, jangankan untuk menikah dengan Louis, untuk mengkhayalkan Louis saja aku tidak berani
maha besar Allah dengan segala nikmat dan rahasia yang selalu memberi kejutan dalam setiap langkah takdir lah yang kuasa menjadikan hal yang kita anggap mustahil menjadi mudah untuk terwujud
Allah sudah merencanakan dengan begitu sempurnanya setiap pertalian takdir anak Adam
sama seperti terciptanya hawa untuk Adam, perpisahan mereka, hingga perjumpaan mereka kembali pun tak luput dari skenario Allah yang luar biasa indah
kalau sudah bicara takdir, apapun bisa dan mungkin terjadi
bagai garam di laut dan sayur di atas gunung, pasti bertemu jua di panci emak
walau tidak sedikit juga kita jumpai di film yang pernah aku tonton dulu, atau berita infotainment yang sering memberitakan tentang artis tanah air, di sana selalu di tampilkan jika setelah mengenal laki-laki atau perempuan, kemudian mereka jatuh cinta maka akan dengan mudah mereka berpindah kepercayaan jika pasangan yang mereka sukai memiliki kepercayaan yang berbeda dengan mereka
tapi sepertinya hal itu akan sangat mustahil dalam kasus dan kisah ku dengan Louis, seandainya tidak ada campur tangan takdir di sana
"masya Allah, percaya diri sekali istri ku ini"
tuh kan!, bahkan Louis saja sampai bilang seperti itu
bukannya bilang 'iya, aku sudah mencintai mu dari sejak umur 18 tahu' kan bisa melayang binti mabuk kepayang akunya
hhhuuufffftt
suami ku memang makhluk paling peka di bumi
istri inginnya apa, dikasihnya apa
dengan gemas Louis kembali memberi gigitan-gigitan kecil di wajah ku, tapi kali ini yang menjadi sasarannya bukan lagi dagu ku, melainkan pipi ku yang malang
"ya Allah, sudah, sudah, Zu nyerah"
aku mencoba menjauhkan pipi ku dari keganasan gigi Louis yang masih gencar memangsa daging tebal itu
"ya Allah sud........"
"uuuuaaaaaa, Mommy, uuuaaa Daddy don't, uuuaaa"
aku belum sampai menyelesaikan kata-kata ku saat suara tangis yang berdenging nyaring menusuk telinga menginteruksi kami
di sana Elio tengah mencoba untuk turun dari ranjang kecilnya dengan berusaha memanjat pembatas yang tingginya sebatas dada mungilnya
"uuuuaaaaaa, Daddy nooo, uuuaaaa"
Louis dengan cepat berlari ke arahnya saat kaki kiri Elio sudah terangkat dan tersangkut di bagian atas pagar
dengan cepat Louis mengangkat tubuh mungil Elio sebelum tubuh itu terjengkang ke belakang karena Elio yang tengah mencoba menarik kakinya yang masih tersangkut di atas pagar pembatas
"it's ok, Daddy's here" (tak apa, ada Daddy di sini)
Louis mencoba menenangkan Elio yang semakin gencar memberontak dalam dekapannya
Elio mencoba terbebas dan meluncur dari belitan tangan Louis yang melindungi tubuhnya
saat berhasil turun dari dekapan Louis, dengan keras kaki kecil Elio menghentak menginjak kaki kanan Louis
"astagfirullah, anak ini"
hal itu sukses membuat Louis terperangah tak percaya
dan saat melihat hal itu sukses membuat ku menyemburkan tawa, astagfirullah haladzim, lucu sekali batita menggemaskan ini
aku kembali mengalihkan fokus ku dari wajah terkejut Louis yang tetap datar, namun sorot matanya yang tajam menusuk tepat pada tubuh mungil yang saat ini tengah berlari ke arah ku dengan mata yang sudah banjir oleh air mata
kaki mungilnya mencoba memanjat tempat tidur yang tingginya jauh melebihi tinggi badannya
usaha yang patut di acungi jempol, walau ending sudah kita ketahui bersama
gagal
"becarefull baby, don't cry..... let's Daddy help you, eeemmm......? Hubby, anaknya di tolong dong, masak di plototin gitu.....?" ( hati-hati sayang, jangan menangis...... biarkan Daddy membantu mu, eeemm.....?)
aku mencoba menahan tawa ku sekuat tenaga saat melihat Louis yang masih cuek dan membiarkan Elio yang tengah berusaha memanjat dengan mata yang penuh air mata
"biar aja, dia tadi berani injak kaki aku coba!"
"ya Allah, ya dibantu dulu ini anaknya, kalau dia tenang, baru nanti di nasehati, kalau anak lagi tantrum mana bisa di nasehati, apalagi cuma di plototi, ya nggak akan ngerti anaknya, suami ku yang pinter, makin cinta deh!"
"Hubby anaknya di bantu sayang ku, boleh....?"
aku sudah tidak bisa lagi tertawa walau hati sangat ingin, aku tidak cukup tega membiarkan Elio menangis histeris sedangkan Louis masih dalam mode diamnya
"By......"
sekali lagi aku meminta dengan nada yang lebih lembut, berharap Louis akan cepat bergerak
hhuufffttt
benar saja, dengan cepat Louis membantu Elio untuk naik ke atas tempat tidur setelah membuang nafas dengan kasar
setelah berhasil naik dengan bantuan Louis, dengan kasar tangan mungil Elio menepis tangan Louis yang masih memegang pinggang mungilnya
mengabaikan Louis yang kembali menatapnya tak percaya, Elio merangkak naik ke pangkuan ku
mencoba mengabaikan Louis yang kembali shock karena mendapat perlakuan semena-mena dari Elio
aku dengan cepat menyambutnya dan merengkuhnya dalam dekapan ku, tangan ku dengan lembut memberi sapuan konstan di punggungnya, berharap dengan itu Elio akan segera tenang
"see!" (lihat)
dengan tidak terima Louis mengadukan tindakan Elio yang tidak sopan kepadanya
"astagfirullah, aku harusnya membiarkan dia tetap menangis dan mencoba memanjat sendiri tadi"
aku dapat mendengar dengan jelas walau saat ini Louis tengah menggerutu dengan pelan
"By, kemari"
aku mengulurkan tangan ku untuk memintanya ikut bergabung di atas tempat tidur dengan kami
saat Louis hendak menyambut tangan ku, kembali Elio menatapnya tajam dan berteriak nyaring
"aaaaaa, nooo"
tangan mungil Elio bergerak ke segala arah, mencoba menghalau tangan Louis yang akan menyambut uluran tangan ku
bahkan kaki mungilnya tak tinggal diam saat melihat Louis mendekat dan hendak duduk di tepi tempat tidur
Elio sudah hendak mengusir Louis kembali, namun dengan cepat aku mencoba untuk menenangkannya
" ya Allah,..... it's ok baby, calm down ok" ( ya Allah,..... tidak apa-apa sayang, tenang ok)
aku mencoba menenangkan Elio terlebih dahulu dan meminta Louis untuk tidak mendekat pada kami dulu dalam bisikan lirih tanpa suaran
kembali Louis membuang nafas dengan berat, seakan ia tengah mencoba membuang segala jengkel yang sempat singgah
Louis melangkah menjauh menuju sofa dan duduk di sana dengan tatapan yang tak pernah lepas dari tubuh mungil Elio, aku tau jika Louis saat ini tengah khawatir dengan kondisi Elio
jangankan Louis aku saja cukup terkejut saat melihat sikap Elio yang seperti ini, selama aku mengenal Elio tak sekalipun dia bersikap seperti ini pada Louis, dan aku yakin Louis bahkan lebih terkejut dari pada aku saat mendapatkan penolakan dari Elio tadi
"what happen baby......?, eeemmm, why our little Aslan crying....?" (ada apa sayang......?, mengapa singa kecil kami menangis......?)
aku mencoba bertanya saat Elio sudah tampak tenang
dia diam
Elio tidak menjawab pertanyaan ku, akan tetapi tangan mungilnya semakin kencang mencengkram baju ku
"can you tell me, what happen.....?" (bisakah kamu memberi tahu ku, ada apa....?)
"Daddy's bad" (Daddy nakal)
"why, bad ...?" (nakal kenapa....?)
"Daddy bit Mommy's face, uuuaaaa" (Daddy menggigit wajah Mommy)
"cup....cup.....cup...., it's ok, no, Daddy just kiding.....baby, like this....." ( cup..... cup..... cup..... tidak apa-apa sayang, tidak, Daddy hanya bercanda..... Sayang, seperti ini)
aku mencoba melakukan apa yang tadi Louis lakukan pada pipi ku pada Elio, hingga membuat Elio yang semula menangis lirih kini tertawa lepas
"no, hahahaha Mommy hahahah, stop..... stop..... stop..... hahaha"
aku menghentikan aksi ku saat aku melihat Elio sudah tak lagi menangis walau matanya masih merah dan sedikit bengkak
huufffttt huufffttt huufffttt
Elio mencoba menetralkan nafasnya yang memburu dengan bibir imutnya yang masih berderai tawa
"Daddy not biting you.....?" ( Daddy tidak menggigit mu.....?)
"nop"
aku dengan mantap menggeleng
...~TBC~...