
...~**🕊️**~...
...**...
...*...
12.55, dua belas jam lima puluh lima menit bukan waktu yang sebentar untuk di lalui, perjalanan masih sangat panjang. aku mencoba duduk dengan tenang memangku Elio yang masih tertidur, sorot mata ku tak pernah berpindah dari wajah lelapnya, dengan pelan aku menurunkan kepala ku untuk melabukan kecupan ringan pada pipinya yang bersemu kemerahan
aku tidak tau apa yang tengah di lakukan Louis saat ini dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Elisa dan juga Luca saat tau bahwa putra semata wayangnya tengah jauh dari mereka, di bawa oleh orang asing yang belum lama bergabung menjadi anggota keluarga baru. perasaan bersalah itu tak bisa begitu saja ku tepis. aku hanya bisa berharap jika Louis akan segera menyusul kami.
tak ada yang bisa ku lakukan selain membasahi lisan ku dengan bertasbih menyebut namanya, menghilangkan segenap rasa gundah yang dengan perlahan mulai terkikis, terganti perasaan bingung yang mulai bertunas. kebingungan yang menghantarkan ku pada sebuah pemikiran aneh tentang kejanggalan yang terjadi malam ini
aku mencoba mengaitkan satu peristiwa dengan peristiwa lain yang terjadi dalam benak ku, walau aku buta akan petunjuk yang ada, entah mengapa satu kesimpulan melintas dalam benak, jika sejak awal tidak hanya takdir Allah yang mengiyakan setiap kejadian yang kami alami, tapi ada peran seseorang yang cukup berpengaruh di dalamnya
seperti kejadian malam ini misalnya, aku yakin ada seseorang di balik ini semua. walau aku sudah mencoba untuk tidak berprasangka buruk pada orang-orang terdekat ku, tak bisa di pungkiri jika pasti ada salah seorang di antara mereka yang merencanakan sesuatu yang buruk terhadap kami. mungkin lebih tepatnya pada keluarga Louis.
bukan tak mungkin, seperti malam ini misalnya, aku bisa lolos untuk menaiki burung besi ini tanpa selembar kertas dan tanda pengenal yang bawa, bahkan tanpa harus mengeluarkan sepeserpun uang. tak bisa di pungkiri jika saat ini hukum bisa begitu mudah tergadai dengan uang
asal ada uang semua beres, tak ada lagi halal haram, tak ada lagi hukum dan ridho Allah yang di sertakan dalam mengambil setiap keputusan dan kebijakan
tak heran, kita saat ini tak lagi menjadikan Islam sebagai acuan, tak lagi menjadikan Islam sebagai hukum yang harusnya di terapkan.
mungkin akan lebih baik jika aku mendiskusikan itu dengan Louis nanti saat aku bisa menemukan cara bertahan hidup sampai berjumpa dengan orang tua ku.
dan sekarang yang menjadi persoalannya, kemana kami akan mendarat .....? Jakarta....? atau Surabaya....?
pergerakan pelan dari Elio mengalihkan perhatian ku, ku lihat perlahan mata Elio dengan pelan terbuka, seulas senyum ku gantungkan di sudut bibir ku untuk menenangkannya
dan dengan perlahan ku rendahkan kembali kepala ku, memberikan sapuan dan kecupan lembut di dahinya sebelum berucap salam
" assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, my little Aslan, baca do'a setelah bangun tidur dulu ya, baby say Alhamdulillah"
entah mengapa aku sangat ingin membiasakan Elio dengan bahasa Indonesia, walau waktunya tidak akan lama di Indonesia aku hanya berharap saat nanti Louis datang menjemputnya atau orang tuanya datang menjemputnya dia bisa memiliki kenangan yang indah walau hanya sekedar satu kata saja yang dia bisa
"iykum Mommy" Elio menampakkan senyumnya yang secerah mentari sangat kontras dengan mata sembab akibat terlalu banyak menangis sebelumnya
"hamdu-lillah" Elio menirukan ucapan ku dengan memberi jeda di tengah kalimatnya dan dengan pelafalan khas batita
aku sedikit aneh dengan pelafalan Elio, dia sangat lancar dan fasih dalam bahasa Inggris tapi mengapa di bahasa Indonesia dan bahasa Arab tidak demikian, seakan di bahasa lain dia benar-benar melafalkan seperti pelafalan batita usia di bawah dua tahun, bahkan dalam bahasa Italia. pelafalan Elio tidak sebagus bahasa Inggrisnya
aku kembali melanjutkan untuk membantu Elio membaca do'a setelah bangun tidur
" say, hilladzi " aku kembali menuntunnya untuk mengikuti ucapan ku
"Hi-lla-dzi"
"ahyânâ"
"ahyana"
"ba‘da mâ"
"Ba'da maaaaa"
"amâtanâ"
"Amanata"
"amâtanâ" aku mengulang kembali kata yang Elio ucapkan dengan terbalik
"mata-na"
"wa ilaihin"
"waaa ila hin"
"nusyûr"
"nyusullllll"
"MasyaAllah, pintarnya anak Mommy" aku memberi pujian dengan di sertai ciuman ringan pada pipi gembulnya yang menggemaskan
"Mommy can i have my milk...?" Elio menatap ku dengan sorot mata yang serat akan permohonan, tangan mungilnya menaikan bagian depan Khimar ku, menggulungnya dengan gerakan asal
tapi sebuah nyeri yang cukup tajam terasa menghujam di bagian perut, rasa kram di perut bagian bawah memperburuk keadaan
aku yang awalnya sudah hendak berdiri, kembali terduduk dengan gerakan cepat hingga membuat Elio mengeratkan genggamannya pada leher ku
"Mommy, you okey....?" Elio bertanya dengan mata yang kembali berkabut siap menumpahkan bulir kristal yang beberapa saat lalu sempat berhenti
aku mendekap nya dengan memberi sapuan lembut pada punggung Elio untuk menenangkannya, dengan gerakan hati-hati ku sandarkan kepala ku di atas dahinya dan mencoba mengatur nafas agar tetap teratur
"eeemm" aku berdehem mengiyakan, kepalaku sedikit pusing, aku tidak ingin saat aku mengeluarkan suara lebih banyak Elio akan mengetahui jika aku sedang tidak baik-baik saja
tangan mungilnya menagkup pipi ku dan bibir mungilnya mencoba memberi kecupan yang hanya sampai pada dagu ku
"it's ok Mommy, you can take a rest, i don't want my milk again"
pelukan hangat Elio memberiku kekuatan untuk melawan rasa lemah yang tiba-tiba muncul, membantu ku untuk bisa mengesampingkan rasa nyeri yang semakin menjadi
ekor mata ku menangkap seorang pramugari yang melintas di samping ku, dengan susah paya aku mencoba menormalkan suara ku agar tidak terdengar lemah
"excuse me Miss, can i have some milk for my son...?"
aku bibir ku sedikit bergetar saat aku mencoba untuk tersenyum
"are you ok, Madam....?" dia bertanya, mungkin untuk memastikan
"I am" aku menjawab dengan pelan, sambil berdo'a di dalam hati agar sang pramugari mendengar ku dengan jelas
"ok, we have fresh milk, is that ok...?"
"yeah, please. eemm can you pour it into a baby bottle, if you have it "
"sure"
"thank you"
tak berapa lama dia kembali dengan memberikan botol bayi ukuran tanggung yang sudah terisi susu dengan penuh
aku dengan hati-hati memberikannya pada Elio yang menerimanya dengan sedikit tidak sabar
"pelan-pelan sayang, say bismillah before you drink" aku menahan botol itu sebelum Elio sempat memasukkan ujungnya kedalam mulut
"bis-mi-llah" baru setelah Elio melafalkan kata yang ku ucapkan sebelumnya aku dengan pelan mengarahkan botol itu ke mulut Elio dengan sedikit tahanan agar Elio tidak tergesa-gesa saat meminumnya
"pelan sayang" tangan ku dengan konstan memberi sapuan lembut pada dada Elio sedang tangan yang satunya menopang tubuh Elio agar berada di posisi duduk
mata Elio dengan gerakan lambat hampir tertutup, namun belum sempat mata itu benar-benar tertutup Elio membukanya kembali dan menatap ku. seakan dia berusaha keras agar tidak tertidur
"tidak apa sayang, Elio bobok yaaa. close your eyes baby" dengan pelan ku lantunkan do'a tidur yang sering ku bacakan saat Elio tidur bersama kami
aku melirik pada jam tangan yang di kenakan oleh Elio, aku tidak memakan aksesoris apapun selain cincin pernikahan dan cincin pemberian Louis, sedikit banyak sangat bersyukur karena Elio menggunakan jam itu, waktu subuh masih lumayan lama
'satu jam lagi' aku membatin
aku masih memiliki waktu untuk memejamkan mata barang sejenak
aku butuh mengusir sara nyeri yang semakin menjadi dan penat yang datang membawa letih
seakan tersadar dengan sesuatu, aku urungkan niat hati yang akan menutup kelopak mata ku, dengan perlahan aku memegang pergelangan tangan Elio dan memastikan jika jam tangan Elio adalah smartwatch, setelah memastikan jika jam itu sangat mungkin untuk di gunakan, hembusan nafas lega berhembus dengan sorak bahagia
walau aku masih belum bisa memastikan jika nanti jam itu akan bisa di gunakan saat kita sampai di Indonesia, tapi tak ada salahnya mencoba, aku hanya berharap jika jam itu memuat aplikasi WiFi, semoga saja
dengan perasaan sedikit lega aku kembali memejamkan mata berharap kami akan segera sampai
rasanya sangat penat. ya Allah
...~*TBC*~...
...**...
...*...