
...~**🐫**~...
...**...
...*...
Embun sejuk kini memeluk pagi, menebar hawa sejuk yang membuat bulu kuduk meremang. mentari masih berada dalam peraduan, masih enggan untuk menyapa dunia. begitupun dengan sebagian penduduk bumi yang lain, masih banyak yang terlena dalam buaian dunia mimpi
tidur ku yang beberapa hari belakangan tak pernah nyenyak. entah karena demam atau tubuhku yang mulai lelah, semalam tidur ku begitu lelap hingga aku lupa dengan rasa tak nyaman akibat demam dan nyeri
atau karena semalam aku merasa Louis disini bersama ku.....?
aku sangat yakin dia disini tadi malam, walau saat mata ku terbuka yang kulihat hanyalah hamparan selimut yang terbentang memeluk tubuh, mengisi ruang kosong yang semalam membungkus tubuh ku dan juga Louis
semua hanya khayalan yang terasa nyata
semua hanya bayang-bayang mimpi
aku menatap sendu pada tempat Louis hadir dalam bayang-bayang malam
badan ku bergerak, terbangun mengusir kenangan alam mimpi yang terasa nyata. menarik nafas dengan lambat dan membuangnya dengan cukup keras, berharap rasa kecewa karena tak lagi bisa melihat kehadiran Louis secara langsung pergi bersama malam yang kini berganti pagi
aku melirik pada jam yang tak lagi berbunyi seperti hari-hari sebelumnya. mungkin Absyar sengaja mematikan alarm ku tadi malam.
mata ku menatap pada angka yang akan sangat jarang ku jumpai saat bangun tidur, ini terlalu siang. terlalu siang untuk melakukan aktivitas harian yang selalu menemani pagi ku
suara ibu yang biasanya selalu menyapa gendang telinga ku belum juga terdengar. apa ibu sengaja membiarkan aku tertidur menikmati buaian alam mimpi ku...?
ini bahkan sudah jam 03:55.....?
adzan subuh sebentar lagi berkumandang
bagaimana nasib bayi gembul ku semalam...? apa Elio bisa tidur dengan nyenyak.....?
aku bersegera untuk bangkit, berjalan menuju kamar mandi untuk bersih-bersih dan wudhu, sebentar lagi subuh.
mengingat aku melewatkan malam ku dalam buaian mimpi membuat hati ku resah, aku telah melewatkan waktu berharga ku untuk berjumpa dengan Rob ku, kekasih sejati yang tak pernah meninggalkan dan melupakan ku
kepadanya lah aku bergantung atas segala urusan ku, dia yang maha pengasih dan maha penyayang. kepadanya lah ku curahkan rasa rindu ku, dan hanya kepadanya aku serahkan urusan hati ku yang beberapa hari ini sering tak menentu
dan tadi malam ku lewatkan begitu saja.....?
sungguh merugi rasanya
aku tak ingin tertinggal lebih banyak momen perjumpaan ku dengan Rob, bersegera menjemput perjumpaan yang semalam tertunda, tergantikan bayang-bayang ilusi dunia mimpi yang melenakan
saat kaki ku telah menapak kamar mandi, aku merasakan sedikit kejanggalan. ku tundukkan kepala ku untuk melihat pada hamparan kain yang mulai basah, cukup banyak serat-serat kalian yang tergenang cairan
saat melihatnya, perasaan lega, senang dan sedih bercampur memenuhi benak ku.
aku bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian, bersiap menemui keluarga ku, terutama ibu, atau mungkin nanti aku akan menghubungi Louis setelahnya
saat aku menuju mushollah, disana semua orang sudah berkumpul termasuk Elio yang tertidur di samping ibu, aku membangunkan Elio saat waktu sholat di mulai
aku sangat bersyukur Elio tidak terlalu susah untuk di arahkan, walau kadang rewel, manja atau bahkan kadang sering membuat stok kesabaran menipis. tapi apapun itu semua hal patut untuk di syukuri dan di jaga sebaik mungkin
"Bu, tadi saat Zu bangun ASI sudah keluar, lumayan banyak juga yang sebelah kanan, tapi yang kiri masih belum lancar" aku berbicara dengan ibu saat yang lain telah pergi, pagi ini mereka ada kajian online subuh.
bahkan Absyar juga ikut kajian, padahal biasanya Absyar sedikit sulit untuk ikut acara kajian subuh, dia lebih suka waktu subuh ya di gunakan untuk muroja'ah daripada yang lain.
mungkin tema kali ini menarik minatnya.
mungkin saja.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa juga, padahal ibu dulu butuh waktu yang lumayan lama nunggu ASI lancar waktu kak Abyan lahir, ya sudah Zu coba untuk menyusui, nanti agak siangan kita konsultasikan dengan dokter Azura"
"ibu buntu Zu, boleh....? Zu masih takut"
ibu tersenyum menenangkan kan, tangannya dengan lembut menyelimuti tangan ku yang berubah dingin
"panggil Elio-nya" aku melirik pada Elio yang masih mencoba mengambil kitab yang biasa dia gunakan untuk belajar membaca Al-Qur'an.
kak Abyan yang membelikan saat aku masih menjadi penghuni kamar rumah sakit beberapa waktu lalu
"Elio, baby come here" (Elio, baby kemari) aku melambai pada Elio dan memintanya untuk mendekat
"Mommy this" (Mommy ini) Elio tidak langsung menanggapi panggilan ku, dia masih berusaha untuk mengambil kitabnya yang terselip diantara deretan Al-Qur'an
aku bergerak mendekat, menghampiri Elio yang masih duduk didepan rak tempat beberapa kitab dan Al-Qur'an tersusun rapi
dengan lembut aku memegang kedua tangan Elio dan menghadapkan tubuhnya untuk menghadap tepat kearah ku
"baby, can you come to Mommy when Mommy calls you, don't make Mommy wait and call you several times. get it.....?"
(baby, bisakah Elio menghampiri Mommy ketika Mommy memanggil Elio, jangan membuat Mommy menunggu dan memanggil Elio lagi. mengerti... ?)
aku menginginkan fokus Elio, dan aku menginginkan Elio memahami ucapan ku, berharap dia akan mendengarkan dan memahaminya dengan sangat baik, sehingga dia bisa mengingatnya untuk waktu selanjutnya
"ok Mommy. sorry" (ok Mommy. maaf) kepala Elio tertunduk dengan sorot mata sayu
"it's ok, don't do it again. I love you"
(tidak apa-apa, jangan di ulangi lagi. Mommy mencintai Elio)
aku mencium kedua telinga Elio dan berucap dengan lirih "barokAllahu lak"
"I love you Mommy" tangan mungil Elio terentang sebelum kemudian melingkar dengan sangat sempurna pada leher ku. tentu aku membalasnya, menyalurkan rasa cinta ku pada Elio, agar Elio bisa merasakan betapa aku sangat menyayanginya
dan teguran itu adalah bentuk kasih sayang ku padanya
setelah ku rasa cukup, tangan ku dengan lembut kembali mengurangi pelukan Elio dan membawanya duduk dalam pangkuan ku
dengan pelan aku menjelaskan tentang maksud ku memanggilnya, menjelaskan dengan bahasa sederhana agar Elio bisa mencernanya dengan baik
"Baby, Alhamdulillah Allah grant our prayers , and there's milk now, Elio want to drink it....?" (Baby, Alhamdulillah Allah telah mengabulkan do'a kita, sekarang sudah ada susunya, apakah Elio mau meminumnya....?) aku bertanya dengan hati-hati
aku melihat Elio terdiam sebentar sebelum tangannya kembali terentang dan kembali memelukku. sebuah isakan kecil terdengar dari cela bibirnya
"baby what happen....? why you crying....?" (Baby ada apa....? kenapa Elio menangis....?)
aku merasa sedikit bingung dengan reaksi Elio, apakah dia senang atau tidak, aku belum bisa menebaknya, Elio masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher ku
"jangan menangis sayangnya Mommy, Elio tidak mau minum....?, you don't want it anymore....?" aku dapat merasakan gelengan kecil dari kepala Elio yang masih bersarang di ceruk leher ku
Aku menunggu beberapa saat sampai Elio sedikit lebih tenang, baru aku kembali bertanya
"so....?" (jadi....?)
"drink Mommy" suaranya terdengar sangat pelan, belum lagi bibir Elio masih terhalang mukenah yang aku kenakan saat ini
"ok, let's go" aku merengkuh Elio dalam dekapan ku, dan membawanya menuju kamar. sedangkan ibu berjalan lebih dulu menuju kamar ku
aku masih mengingat bagaimana awalnya ibu mengajari ku cara memegang Elio saat proses menyusui dan apa saja yang harus aku lakukan agar Elio bisa menyusu dengan nyaman, kembali muncul dalam benak ku, bagai kembali memutar adegan film yang pernah ku tonton secara otomatis
ibu duduk di samping ku untuk memastikan. setelah menggunakan Nursing cover, cape yang aku gunakan saat menyusui Elio di rumah, tentu saja saat aku sedang tidak menggunakan Khimar seperti saat ini
tidak lucu kalau auratnya sampai terbuka, walau ibu juga perempuan. tapi tetap kita ada batasan aurat yang tidak boleh dilihat oleh perempuan lain. tentu ini berbeda dengan batasan aurat yang menjadi batasan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya
"say Bismillah before drink" aku berucap lembut pada Elio yang masih ragu-ragu
tangan ku dengan pelan memberikan sapuan lembut pada punggung Elio, mencoba meyakinkan Elio jika semua akan baik-baik saja
bibir ku melengkung sempurna saat Elio bisa menyusu dengan lancar, wajahnya berbinar, dan semu merah di pipinya bertambah merah, bulir bening air mata menetes dari cela kelopak matanya yang terpejam
"Alhamdulillah" tak henti-hentinya ku ucapkan segala syukur atas nikmat Allah yang begitu besar
kebahagiaan yang Allah berikan selalu mempu membawa ku pada rasa syukur yang membuat hati ku membuncah dengan eforia menyenangkan
betapa besar nikmat Allah, dan betapa sempurnanya kasihan cinta Allah
walau Louis tidak sedang disini bersama kami, walau ada kekosongan yang belum terisi tapi tak sedikitpun mengurangi rasa syukur yang tengah membuncah dalam taman hati ku yang tengah berada di musim semi
dengan perlahan ku tundukkan kepala ku, mendaratkan kecupan lembut pada pucuk kepala Elio
"Alhamdulillah, Zu lanjutkan menyusui Elio. ibu mau ke dapur dulu. mau buat sarapan"
"iya Bu, insyaAllah nanti Zu bantu ibu"
"jangan lupa beritahu Louis kalau Elio sudah bisa menyusu"
"iya Bu, insyaAllah habis ini langsung Zu telfon "
ibu meninggalkan aku yang masih mengagumi betapa sempurnanya Allah dalam mengatur segala hal, hingga bayi yang tidak bisa berbuat apa-apa, dengan kemurahannya Allah telah sediakan Rezki dengan cara yang sudah Allah tetapkan
...~**TBC**~...
...**...
...*...