
langkah ku sudah semakin dekat dengan Louis yang berdiri di sebrang sana, menyandar pada kap samping mobil, sebelum sebuah mobil Van menghalangi pandangan ku dan dengan cepat seorang laki-laki keluar dari pintu penumpang, mendekap ku dengan kain yang menutupi mulut dan hidung ku, aku mencoba menahan nafas dan meronta semampu ku, berteriak memanggil nama Louis dalam teriakan tertahan, tapi dengan perlahan kabut hitam menghalangi pandangan ku, dan tubuh ku perlahan-lahan kehilangan Energi
di tengah kesadaran ku yang terbatas aku mencoba untuk berfikir positif di tengah kepanikan yang menyerang ku
'inikah jawabannya, apakah aku akan berpisah dengan Louis dengan cara ini.....?'
******
kesadaran ku benar-benar sudah berada di ambang batas hingga membuat mereka dengan mudah mengikat kedua tangan ku dan membekap kepala ku dengan kain tebal, bibir ku terkunci rapat dengan kain yang menyumbat sempurna di dalam mulut ku, aku bahkan sering kali ingin mengeluarkan isi perut ku saat kain itu mendesak refleks muntah yang terletak di langit-langit mulut
air mata ku mengalir dengan deras bukan karena rasa takut yang membanjiri benak ku, walau itu juga merupakan faktor yang cukup berpengaruh, tumpahnya air mata ku karena aku harus menahan refleks muntah yang kerap mendesak sedangkan tubuh ku sudah banyak kehilangan energi
aku mencoba menenangkan semua saraf ku yang menegang, hingga mengakibatkan seluruh indra ku tidak berfungsi dengan baik, aku bahkan masih bisa merasakan telingaku yang berdenging nyaring hingga tidak mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, apalagi untuk mendengar teriakan Louis di luar sana, itupun jika dia sadar bahwa aku tengah di sekap oleh segerombolan orang yang sudah pasti tidak ku kenal
entah apa motif yang mendorong mereka untuk menculik wanita dengan kualitas yang kurang menjual seperti ku, atau mungkin yang mereka incar adalah organ....? ya Allah dunia sudah benar-benar gila, hingga manusia tak lagi memiliki simpati dan empati yang melekat dalam dada mereka
aku ini wanita loh!
kurus lagi!
pendek juga!
apa untungnya coba menculik ku, organ ku juga tidak akan sesuai dengan ukuran mereka yang tinggi besar, organ mereka lebih besar dari punya ku
jadi tidak cocok!, di cangkok-pun percuma, kita beda ras, tidak adakah teori seperti itu....?
aku masih mencoba menenangkan sara takut ku dengan pemikiran konyol yang melintas dalam benak, tidak hanya itu aku juga berusaha membuat Indra ku bekerja dengan baik di balik keterbatasan yang di paksakan ini dengan mencubit keras paha ku untuk menimbulkan rasa nyeri pada syaraf nyeri ku yang sudah mulai kebas
'ya Allah kesadaran ku sudah hampir sepenuhnya hilang'
'tidak jangan tidur dulu!'
'jangan!'
'jangan sekarang!'
'ya Allah jangan buat Zu tidur sekarang'
aku merapal do'a itu dalam benak bagai mantra yang terucap berulang-ulang, semakin kantuk itu datang semakin kencang pula tangan ku mencubit paha ku yang terbungkus jilbab, sayangnya sekuat apapun aku mencubit paha ku, rasa nyeri itu tak kunjung datang menampar kesadaran ku yang berada di ambang batas, hingga akhirnya aku harus menyerah pada gelap yang datang menyelimuti kesadaran ku yang terlahap habis
gelap!
******
kesadaran ku datang dengan tiba-tiba bagai kilat yang menyambar cepat bersamaan dengan wajah ku yang basah tersiram air dingin
dan dengan tanpa belas kasihan mereka meninggalkan ku seorang diri di dalam tempat yang jauh dari kata layak untuk di tempati manusia ini, jangankan untuk manusia, untuk binatang-pun rasanya masih jauh dari kata layak
Astaghfirullah
'Zu masih manusia kan ya Allah....?'
aku cukup salut pada otak ku yang sepertinya sedikit bergeser karena masih sempat-sempatnya menanyakan hal yang cukup konyol untuk di tanyakan dalam kondisi sadar
tidak heran pertanyaan itu bisa muncul dalam benak ku, saat melihat keadaan ku sekarang....? bahkan perlakuan terhadap hewan masih lebih baik dari pada perlakukan mereka pada ku saat ini
aku menggeliat di atas tanah kotor yang dingin, dengan tangan dan kaki terikat, mulut yang masih tersumbat, setidaknya mereka membiarkan Indra pengelihatan ku bekerja sebagaimana mestinya, dengan lapar aku mengedarkan pandangan ku ke setiap penjuru yang mampu di jangkau oleh luas pandang mata ku
pemandangan pertama yang hinggap di lensa ku adalah tanah yang basah dan kotor tentu saja, tumpukan jerami tipis yang di tumpuk di sudut besi yang mengurung ku saat ini
dengan mudah aku bisa menebak jika mereka tengah mengurung ku di dalam kandang berukuran besar, atau penjara bawah tanah.....?
'aku belum berubah menjadi sapi kan....?'
ya Allah bagaimana mereka bisa tega memasukkan manusia, yang jelas-jelas sama penampakannya dengan mereka, kedalam di kandang sapi....?
ya Allah, ya Mushawwir, engkaulah sebaik-baik pembentuk rupa
aku menggeliatkan tubuh ku dan mencoba untuk duduk dengan baik di atas tanah becek di bawah ku, dengan pelan aku menggeser tubuh ku untuk bersandar pada dinding lembab yang dingin, mencoba untuk mengatur nafas ku yang masih terasa sulit, aku butuh menghemat energi ku untuk bisa berfikir jernih, atau sekedar untuk memikirkan bagaimana caranya untuk bertahan hidup
satu hal sangat ku perlukan saat ini adalah petunjuk waktu, aku butuh untuk mengetahui apakah saat ini sudah masuk waktu sholat ataukah tidak, jangan sampai aku meninggal dalam keadaan meninggalkan kewajiban ku kepada Allah, aku mencoba mencari di setiap cela yang memancarkan cahaya, mengabaikan pemandangan mengenaskan di depan ku yang sangat menyayat hati, tidak hanya aku yang terkurung dan terkungkung di dalam sini, ada sekitar lima orang yang memiliki nasib sama seperti ku, walau aku harus bersyukur karena Allah masih melindungi ku
mereka belum mati, aku yakin itu, tapi aku tidak yakin apakah mereka akan tetap bertahan hidup di hari-hari selanjutnya
seberkas cahaya jingga melintas di sudut ruangan yang gelap, memancar redup mengukir garis tegas di langit-langit ruangan yang di penuhi anai-anai
mungkin sudah waktunya sholat Ashar atau mungkin sudah mendekati magrib, hanya berpatokan pada insting dan kesadaran ku yang tidak bisa dikatakan sadar sepenuhnya
aku meluruskan kaki ku, menghadap pada arah mana saja yang aku anggap lebih bersih dari pada tanah becek tadi, tempat yang lebih kering di ujung ruangan, aku tidak bisa bertayammum apa lagi berwudhu dalam keadaan tangan yang terikat kuat, tidak ada baju bersih, tidak ada tempat suci, hanya bermodalkan keimanan yang tumbuh di dalam hati aku bertasbih dan berdo'a dalam gerakan sholat yang terbatas, semoga Allah meringankan hisab ku kelak, dan semoga keadaan ku saat ini menjadi saksi jika hanya Allah-lah yang aku sembah dalam kondisi lapang dan sempit yang menimpa ku, dalam kondisi bebas dan terkurung, dalam kondisi kuat dan lemah, dalam kondisi sehat dan sakit dan dalam kondisi apapun yang menyelimuti takdir ku
aku menangis dalam ruku' dan sujud ku yang sangat terbatas, menangisi setiap dosa yang mungkin telah ku lakukan dan bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan, setidaknya aku masih beriman, aku masih mengingat Allah dalam keterbatasan ku untuk beribadah kepadanya
belum selesai aku menunaikan sholat, seorang laki-laki dengan badan tinggi besar datang menarik ku dengan kasar dan menggeret ku keluar dari sel, aku berusaha menyeimbangkan tubuh ku yang limbung, berusaha keras agar tubuh ku tidak membentur benda apapun yang menghalangi langkahnya, aku tidak meronta, tidak untuk saat ini, aku butuh menghemat energi dan berfikir jernih walau sebenarnya batin ku sudah menggila ingin memberontak dan berteriak, jika iman ini tidak menemani ku, aku yakin saat ini sudah menggila, atau mungkin akan tergeletak lemas karena kehabisan tenaga
dalam diam aku mengingat bagaimana teguh-nya Sumayyah dan Khawla binti Azwar dalam melawan kemungkaran dan berlaga di medan peperangan, tenang, penuh taktik dan perhitungan, itu yang coba ku lakukan saat ini, walau keadaan ku saat ini tidak bisa di bandingkan dengan keadaan para shohabiyah yang luar biasa itu
'tidak sekarang!'
'belum saatnya!'
aku terus merapal dalam benak ku saat muncul dorongan kuat untuk memberontak
aku tengah mencoba memikirkan setiap kemungkinan yang ada dan strategi terbaik untuk melakukan teknik "langkah seribu" saat tubuh ku di lempar begitu saja ke bangku penumpang
telinga ku berdenging nyaring hingga membuat ku tidak bisa mendengar beberapa saat, jangan lupakan kepala belakang ku yang berdenyut nyeri, aku rasa aku akan terkena gegar otak ringan setelah ini
dia dengan santai melenggang dan berbicara dengan seseorang di sebrang sana melalui telfon genggam yang menempel di telinganya, hal yang membuat ku frustasi kembali datang menyapa saat aku tidak bisa memahami apa yang dikatakan laki-laki yang menggeret ku tadi, jaraknya yang cukup jauh dengan ku karena dia sudah berpindah duduk di kursi depan, diperparah dengan bahasa Italia yang sama sekali tidak ku mengerti dan denging di telinga yang belum juga hilang, fix aku butuh ke dokter THT setelah ini
suara mesin mobil meraung halus dan getaran dari mesin tua mobil ini mengguncang tubuhku dengan pelan, aku tau kita akan berpindah lagi, entah pada tempat yang lebih baik atau tempat yang lebih buruk dari tempat tadi......? itu-pun jika masih adalah tempat yang lebih mengerikan dari tempat tadi.....?
ya Allah, ya Robbi
'tolong Zu'
dia membawa ku menjauh dari, mansion.....? mansion sebagus ini memuat tempat mengerikan seperti tadi.....? aku akan mengingatnya dengan baik, jika Allah mengizinkan, dan semoga aku bisa menolong mereka yang terkurung di dalam sana, untuk sekarang aku harus memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup terlebih dahulu
mobil melangkah dengan kecepatan sedang, membelah kerumunan jalan yang penuh dengan mobil yang lalu lalang, aku menunggu datangnya lampu merah di depan sana, jika berhasil aku bisa setidaknya meminta tolong dengan menggedor pintu mobil, sayangnya harapan ku harus pupus saat mobil ini berbelok tajam menghindari beberapa mobil polisi yang melintas, bukan hanya beberapa, aku melihat banyak mobil polisi yang beroperasi
apakah ini hal yang wajar di kota ini.....?
aku tidak pernah menemukan patroli polisi yang sebanyak ini di Surabaya sekalipun Poslantas sedang bertugas
aku yakin ini hampir semua polisi turun kejalan, bahkan mobil yang aku tumpangi beberapa kali memotong jalan dan masuk ke area perumahan warga, entah kemana orang yang menggeret ku tadi akan membawa ku
perjalanan yang kami tempuh seakan tak berujung, setiap mobil polisi melintas mobil ini akan memotong arah dan melintasi jalan kecil di antara rumah-rumah warga
aku berdo'a dalam hati semoga orang yang menyetir terserang panggilan alam dan kita berhenti entah dimana saja
alhamdulillaah aku tidak makan dan minum terlalu banyak tadi, setidaknya aku bisa mengurangi masalah ekspresi alamiah tubuh ku
pucuk di cinta ulam pun tiba, akhirnya kami berhenti di tepi jalan perkampungan yang sedikit padat, entah ini dimana ini.....?
mata ku memandang awas pada laki-laki yang kini keluar dari bangku pengemudi dan menerima telfon dari entah siapa di sebrang sana
dengan pelan aku memanfaatkan kesempatan ini untuk memetakan tempat, dan merancang bagaimana aku harus kabur dengan kaki dan tangan terikat kuat, aku persis hewan kurban yang akan di sembelih, bahkan nasib hewan-hewan itu masih lebih baik dari nasib ku saat ini
aku melirik pada jurang yang lumayan cukup dalam dengan bebatuan dan pohon rimbun tepat di samping mobil, jika aku bisa selamat dari tempat ini, aku janji akan segera meminta maaf pada Louis, Elisa dan juga Elio dan meminta mereka agar selalu berdo'a yang baik-baik saja tentang ku
ya Allah sepertinya do'a orang terdzolimi memang mustajab
nggak mungkin Elisa mendo'akan keburukan untuk ku kan.....?
ok, cukup berfikir konyolnya, walau aku butuh memikirkan hal-hal konyol untuk menghilangkan ketakutan ku untuk terjun kedalam jurang dalam itu, tapi saat ini aku butuh konsentrasi tingkat tinggi
'ya Allah, Zu tidak bermaksud bunuh diri, ini namanya teknik bertahan hidup, ikhtiar ya Allah!"
dengan gemetar aku memundurkan tubuh ku yang tergelatak mengenaskan di bawah kursi, tangan ku menggapai gagang pintu yang cukup tinggi dengan susah paya, bahkan aku harus merelakan siku dan tempurung kepala ku yang berulang kali terbentur pintu mobil
gagal!!!!
cara ini gagal!!!!
"berfikir Zu, berfikir" aku menyemangati tubuh ku yang kian detik kian melemah
selintas cara merambat di otak ku yang mulai berjalan melambat, mungkin karena sering terbentur.....?
aku mencoba sekali lagi menjulurkan tangan ku yang terikat di balik punggung ku, menekuk tubuh ku se-fleksibel yang aku mampu, aku mencoba menahan teriakan ku yang tersumbat di tenggorokan dengan menekan kain yang ada di dalam muluk ku dengan kencang, mengabaikan dorongan muntah yang kerap datang menghampiri
tak
"aaaaggggrrr" aku berteriak dalam diam saat tulang punggung ku tertarik kencang dak mengeluarkan bunyi, entak bagian mana yang saling bergesekan, berulang kali aku memohon pada Allah agar aku tidak menciderai tulang punggung ku
aku tetap mengulurkan tangan ku menggapai gagang pintu yang tersentuh ujung jari ku mengabaikan sengatan nyeri yang merambat di setiap saraf tubuh ku, hingga saat jari ku bisa menggapai tuas penekan kuncinya aku mendorongnya dengan kuat
pintu mobil terdorong dengan tiba-tiba hingga aku harus berusaha keras mendorong tubuh ku yang sudah melengkung ke arah depan hingga aku harus merelakan pipi ku bersentuhan mesra dengan bagian bawah mobil
aku yakin pipi ku lecet cukup parah, perinya menambah parahnya nyeri yang menyerang tubuh ku dengan bertubi-tubi
'Allahu Akbar'
'ya Allah'
aku menghembuskan nafas pelan melalui hidung untuk mengurangi nyerinya yang kian lama kian perih dan kebas
tubuh ku remuk!
dengan cepat aku melirik pada pintu mobil yang terbuka sambil sesekali melirik pada laki-laki tinggi besar yang tengah asik menelfon di luar sana
dengan pelan aku memundurkan tubuhku sedikit demi sedikit dan berharap mobil ini tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah, hingga tidak menghasilkan bunyi nyaring saat pundak ku menyentuh tanah lebih dulu
boooouuuk
aku terbatuk-batuk dan mengerang tertahan saat punggung ku menapak sempurna di atas tanah, sepertinya tangan ku patah....? atau keseleo.....?
tubuh ku benar-benar remuk!!
dengan was-was aku melirik pada laki-laki yang kini tengah asik duduk di atas cap mobil sembari menghisap sebatang rokok
tak hentinya aku berdo'a semoga Allah menyelamatkan ku dan melalaikan pengawasan laki-laki itu terhadap ku
melihat dia tidak terpengaruh dengan pergerakan ku, dengan pelan aku menarik kaki ku agar tubuh ku terlentang sempurna di atas tanah, bukannya menggantung seperti saat ini
aku dengan pelan menendang pintu mobil dengan kaki yang menggantung setelah sepenuhnya dapat menarik kaki ku
"Shit!!!!!"