Thaha

Thaha
need you 2




...~**🦘**~...


...**...


...*...


irama jantung ku yang semula bertalu lembut, kini berdetak lebih cepat dari langkah kakiku yang bergerak lambat, setiap dentumannya kian bertambah cepat seiring jarak yang terkikis. melodi yang semula harmonis kini tak lagi beraturan membuat skema-skema baru yang membingungkan


"Mommy" tangan mungil Elio menyentuh pipi ku, matanya menatap dengan sorot penuh tanya, kegelisahan yang terpancar membuat ku sadar jika Elio juga bisa merasakan kegelisahan yang aku alami


atau mungkin Elio khawatir dengan kondisi ku yang beberapa hari ini cukup membuat seisi rumah kalang kabut


"yes Baby"


"Daddy....?" aku memang tidak bisa membaca pikiran Elio


tapi karena seringnya aku berinteraksi dengan Elio membuatku paham maksud dan keinginan Elio tanpa harus di ucapkan.


walau kadang terasa sulit memahami maksud yang Elio tuju dengan bahasanya yang tercampur-campur atau dengan kosakata bahasa Indonesia yang sangat minim dan salah pelafalan


"it's ok, Mommy's fine. nanti kita hubungi Daddy" aku mengambil tangan Elio yang bersarang di pipi ku untuk ku bawa mendekat pada bibir ku, satu kecupan lembut ku sarangkan di sana, disusul kecupan berikutnya yang ku labuhkan di pipi gembulnya


ibu duduk lebih dulu di bagian pinggir kasur, kaki ku melangkah mengikuti ibu dan duduk disampingnya


"sayang, kalau mau menyusui jangan terlalu tegang, detak jantung Zu yang tidak beraturan akan membuat Elio gelisah, dan akan susah ASI itu untuk keluar, Zu harus tenang ok ..?" aku mengangguk mengiyakan walau pada kenyataanya jantungku tengah berdisko riang mengikuti irama musik rock


aku mencoba untuk tenang dan mengikuti setiap petunjuk yang ibu jelaskan, step by step, perlahan dengan sabar ibu menjelaskan setiap tahap dan prosesnya sampai Elio bisa menyusu dengan baik, hal pertama yang aku rasakan adalah rasa takut, tapi aku mencoba menekannya agar perasaan itu tidak berdampak pada Elio


pelan tapi pasti, walau Elio sering berkata "there's no milk Mommy" atau "there's no milk uti" namun Elio tetap mengikuti instruksi dengan sabar


saat Elio bisa sabar mengikuti instruksi, aku yang harusnya bisa lebih menerima dan sabar malah menangis dalam diam. rasa bersalah adalah perasaan yang mendominasi saat ini. belum lagi rasa sakit yang luar biasa itu kembali muncul


"Zu, jangan menangis. Zu harus sabar, istighfar sayang, perbanyak menyebut nama Allah" aku memegang tangan ibu cukup kuat tapi tak sedikitpun ibu protes tentang itu


bibirku basah dengan dzikir, meminta agar Allah memberi kekuatan pada ku, aku yakin tak ada cobaan yang akan melampaui kesanggupan kita


saat Allah memberikan ujian untuk ku, maka sejatinya Allah yakin jika aku mampu melewatinya, saat Allah seyakin itu dengan kemampuan ku, mengapa aku harus ragu dengan kemampuan ku sendiri


bukankah, angin berhembus bukan untuk merobohkan pohon, tapi untuk menguji seberapa kuat akarnya.


"Zu mau telfon Louis....?" ibu menawarkan


"jangan Bu, nanti bukannya tambah tenang, Zu malah nangis kalau lihat wajah Louis. kasihan Louis kalau Zu ganggu terus"


aku cukup tau jika saat aku menangis dan sering meminta Louis untuk pulang, Louis akan mengusahakan segala macam cara agar dia segera pulang. yang aku takutkan Louis akan benar-benar nekat untuk pulang ke Indonesia tanpa mendengarkan nasehat Daddy.


kadang Louis bisa sama keras kepalanya seperti Elio. dan kadang dia bisa nekat melakukan hal-hal yang di luar nalar.


darimana aku tau tentang itu.....?


tentu dari mata-mata ku yang cukup setia. hihihi, bercanda. aku mendapat informasi dari Mommy dan juga Elisa.


walau jarak terbentang cukup jauh, tapi tak menjadikan komunikasi di antara kami terputus begitu saja. sama halnya dengan Louis, Mommy dan Elisa kerap menelfon ku. kadang juga Leora juga sering menghubungi ku, walau tak sesering Mommy ataupun Elisa


aku menunduk melihat Elio yang masih betah berlama-lama disana, walau dia sering mengeluh karena ASInya yang tak kunjung ada, tapi dia tetap menikmati aktivitasnya. bahkan kini dia tengah berjuang melawan kantuk. matanya kadang terpejam beberapa saat, sebelum kemudian membukanya lagi. hal itu terjadi beberapa kali hingga akhirnya Elio harus menyerah untuk berlabuh di alam mimpi


"sudah lebih tenang....?" ibu bertanya saat merasakan tangan ku tak lagi menggenggam terlalu erat pada tangannya


"Alhamdulillah, ibu, maafkan Zu Bu, kalau Zu ada salah selama ini. terimakasih suda membesarkan Zu dengan sangat luar biasa sabarnya" aku berkata dengan mata yang kembali berembun.


mengingat betapa luar biasanya pengorbanan seorang ibu. aku baru saja merasakan sedikit dari pengorbanan itu, tapi suaranya sudah ingin mengangkat bendera putih saja. ini baru tentang menyusui, bagaimana dengan hamil dan melahirkan.....?


ya Allah pantaslah Islam sangat memuliakan wanita, karena darinya penerus generasi Allah titipkan


tugas yang begitu mulia


(HR Al Bukhari dan Muslim).


namun sayangnya di era kapitalis sekuler saat ini, peran mulia seorang ibu banyak tergadaikan dengan kesibukan mencari pundi-pundi rupiah


ibu yang harusnya menjadi madrasah ula, sebagai pendidik, tak lagi bisa melaksanakan perannya


seorang ibu yang harusnya mengasuh buah hatinya dengan kasih sayang dan cinta kini tergantikan perannya oleh para babysitter, sedangkan sang ibu kembali sibuk dengan urusan karir dan pundi-pundi rupiah untuk mencukupi kebutuhan keluarga


atau bahkan peran ibu untuk memberikan pengasuhan terbaik, memberikan cinta dan kelembutan tergantikan perannya tergantikan kesibukan untuk mengisi stok-stok kosong lemari di dapur


sistem kapitalis sekuler menjadikan ibu sibuk dengan masalah perut, dengan gaya hidup menjadikan ibu lupa tugas utamanya untuk mendidik generasi agar generasi ini kelak bisa menjadi pemimpin menjadi tonggak-tonggak peradaban dan menjadi hamba terbaik di hadapan sang penciptanya. Allah Al-kholik, pencipta alam semesta


" jangan nangis sayang, kuncinya menjadi orang tua ibu. ikhlas Zu, dan jadikan aturan Allah sebagai pembimbing kita. jadikan kecintaan dan ketaatan kita kepada Allah sebagai pondasi kita mencintai anak-anak kita, jadi saat Zu mulai merasa kesal, marah atau bahkan benci dengan tingkah dan perilaku salah satu dari mereka. ingatlah jika Allah titipkan dia untuk kita asuh, untuk kita didik dan untuk kita sayangi. nasehati dengan cara yang Ma'aruf. marahi dengan cara yang pantas. jika Zu sandarkan semua pada aturan Islam in sya Allah semua akan terasa mudah. mereka hanya titipan sewaktu-waktu Allah bisa mengambilnya. ingat itu selalu"


"insyaAllah Bu, akan selalu Zu ingat. Uhibbuki Fillah ibu. I love youuuu"


"ibu juga cinta Zu karena Allah, sudah sekarang Zu tidurkan Elio dulu. ibu mau masak untuk makan malam. jangan ikut tidur sudah sore tidak baik"


"iya Bu, habis ini Zu nyusul"


ibu melangkah keluar dari kamar meninggalkan aku yang masih menatap Elio dengan takjub, seandainya rasanya tidak sesakit ini mungkin aku akan menangis haru melihat betapa nyamannya Elio dalam dekapan ku


tangan ku bergerak mengusap pucuk kepala Elio dan melabukan ciuman lembut di dahinya


aku sudah bersiap untuk meletakkan Elio di tengah kasur saat telfon ku yang berada di meja berdering


jaraknya cukup jauh, bagaimana aku mengambilnya....?


akhirnya aku memutuskan untuk membawa Elio dalam gendongan ku, mengambil HP yang berada di meja dan membawanya untuk duduk di kursi yang berada di dekat tempat tidur


"assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, iya By....?"


"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, lagi ngapain.....?" Louis bertanya


aku tak langsung menjawab, tapi tangan ku yang bebas dengan cepat mengganti panggilan menjadi panggilan video, setelah Louis menerimanya. tangan ku mengarahkan kamera untuk menangkap gambaran Elio yang tengah menyusu


"hiks.....emm....heeemm, By... hiks..hiks"


tangis ku pecah saat melihat gambaran Louis yang memandang Elio penuh haru


"hey, kenapa nangis.....?"


"nggak ada By, nggak keluar" semakin ditanya aku malah semakin larut dalam tangis ku, walaupun aku sudah mencoba untuk menahannya tapi seperti yang ku katakan sebelumnya, saat melihat Louis aku tidak akan bisa membendung tangis ku


"sabar bi, tidak apa, tidak keluar sekarang, Albi. wanita normalnya membutuhkan proses 9 bulan 10 hari untuk memproduksi air susu, sedangkan kita mencoba memangkasnya dengan sangat singkat. ingat sayang semua butuh proses. bukankah Allah sendiri yang mengajarkan jika semua hal itu butuh proses. sabar ya"


"hik.... hiks, kesian By, Elio sudah nggak minum susu formulanya By, dia nggak mau"


mengadu, hanya itu cara yang paling ampuh untuk menyingkirkan rasa sedih yang terus menggerogoti. rasa yang selalu hadir belakangan ini, walau tidak suka tapi rasa itu tetap datang. ditambah saat tengah menelfon Louis seperti saat ini. sifat manjanya pasti kumat. astagfirullah


"maaf, Hubby belum bisa menemani. apa yang bisa Hubby buat agar Albi bisa lebih baik....?"


kadang aku merasa bersalah jika Louis sudah seperti ini. tapi mau bagaimana lagi, aku tidak bisa berbuat apa-apa dengan sikap cengeng ku yang meningkat dengan sangat menyebalkan


"pulang na, mau Hubby di sini sama Zu"


"sabar sayang, semua bandara menutup akses. bukanya tak ingin pulang" hebatnya Louis yang tak pernah mengeluh dengan sikap ku yang kian hari kian menyebalkan. aku bahkan baru mengetahui jika aku memiliki sifat yang semenyebalkan ini. ya Allah ya rob


...~**TBC**~...


...**...


...*...