Thaha

Thaha
Elio still a Baby 4



...~**🐆**~...


...**...


...*...


Bunyi Alarm yang berdering ribut mengusik ku dari buayan tidur lelap beberapa saat lalu


aku terbangun dengan dada yang terasa sesak, sebuah benda seperti tengah bertengger dan menekan dadaku


saat mata ku terbuka, fokus pandang ku mengarah pada sebuah gundukan yang menggunung di hadapan ku, antar lucu dan sedikit prihatin


di sana tepat di atas perut ku Elio tertidur dengan memasukkan badannya kedalam baju ku, dia hanya menyisakan kepalanya agar tak tertutup selimut yang menempel pada dadaku dan jangan lupakan jari telunjuk Elio yang menyumpal mulut mungilnya



ya Allah bagaimana bisa Elio tidur dalam posisi itu....?


sejak kapan....?


dengan pelan aku pindahkan Elio agar bisa tidur dengan nyaman, entah bagaimana ceritanya Elio berpindah tempat seperti itu, aku menutupi badan Elio yang hanya memakai celana panjang sedangkan baju dan juga kaos dalamnya sudah tergeletak di atas lantai


selesai dengan Elio, aku menatap penampilan ku yang juga tak kalah membuat ku menggeleng prihatin, kancing baju yang hilang bertambah satu....?


sebenarnya tadi malam aku tidur atau pingsan.....? sampai tidak sadar jika kancing baju ku lepas dari tempatnya.....?


tangan ku terulur untuk mengambil botol susu Elio yang tergeletak mengenaskan bersama baju dan juga kaos dalamnya miliknya


aku melangkah menuju dapur menggalakan Elio yang masih lelap dalam buaian semilir angin pulau kapuk, sekarang masih terlalu pagi untuk membangunkan Elio, biarlah dia menikmati mimpinya sampai nanti adzan subuh berkumandang


saat tengah memasuki dapur aku dibuat terkejut dengan kak Abyan yang berjongkok di depan lemari pendingin entah apa yang tengah kak Abyan lakukan


"astagfirullah hal'adzim kakak ngapain....?" aku bertanya dengan suara yang sedikit keras, aku masih belum bisa menetralkan rasa terkejut yang membuat jantungku berpacu dua kali lebih cepat


Duk!


terdengar bunyi benturan yang tidak terlalu keras tapi cukup membuat sang empunya berseru cukup lantang


"aduh!, Astagfirullah adek, kaget dek!" kak Abyan berdiri dengan tangan yang masih mengusap bagian belakang kepalanya


"lah lagian pagi-pagi buta nongkrong di depan kulkas, ngapain coba....?" aku bertanya dengan suara yang sudah kembali normal


"main angklung masak....? tadi Kakak mau ambil kurma, sampai jatuh kebagian belakang kan, adek ini mah"


kak Abyan masih bersungut-sungut dengan tangan yang berada kulkas di bagian belakang mencari sang idaman hati yang menggelinding dan nyempil di bagian belakang buah salak


"ambil yang baru aja, nanti Zu bantu carikan, lagian kak, kalau mau ambil buah itu bawa piring, atau dikeluarkan dengan tempatnya, biar tidak jatuh"


aku malah dengan senang hati menambah kekesalan kak Abyan yang masih belum terima kesayangannya menghilang di balik tumpukan buah salak


"iya, terimakasih sudah mengingatkan, walaupun sangat terlambat, Zu tumben bangunnya telat, sudah Qiyamullail....?"


mendengar pertanyaan kak Abyan membuat ku seketika menepuk dahi, aku sampai lupa dengan tujuan ku


"Astagfirullah, adek lupa, adek mau buatkan susu Elio, dari semalam dia belum minum susu, kan kakak sih, adek jadi macet di sini"


aku berjalan sambil masih menyanyikan lagi kebangsaan para ibu-ibu (ngomel) meninggalkan kak Abyan yang hanya menggeleng pasrah


dengan cepat tangan ku meletakkan cucian kotor Elio di dalam keranjang, dan beralih untuk membuatkan Elio susu yang baru, setelahnya aku kembali menuju kamar untuk melakukan Qiyamullail, ya Allah ini sudah di penghujung sepertiga malam terakhir


aku masih sempat muroja'ah beberapa hafalan sebelum adzan subuh berkumandang


waktunya membangunkan Elio


"sayang, Baby bangun. subuh, Elio...." dengan lembut aku mencoba membangunkan Elio yang masih betah bergelung di dalam selimut


"anak Sholeh bangun...." perlahan mata Elio mengerjap sebelum akhirnya terbuka sempurna, tangan mungilnya yang semula bersarang di bibirnya kini berpindah untuk mengusap kelopak matanya yang masih berat untuk terbuka


"jangan di kucek matanya, kita wudhu yuk. dengan Mommy" aku menahan tangan Elio agar tidak kembali mengusap matanya. bisa merah jika di biarkan


"sleep Mommy" Elio berkata dengan serak, dia masih berusaha untuk mengangkat selimutnya yang sudah tentu dengan cepat ku pindahkan


"sini Mommy gendong" tanpa menunggu persetujuan Elio yang masih linglung, efek mengantuk. aku dengan pelan membawa Elio dalam gendongan ku dan membawanya menuju musholla untuk bergabung dengan yang lain


mereka sudah berkumpul bahkan kak Abyan dan Rama sepertinya sudah selesai dengan sholat sunnahnya


mengabaikan protestan Elio tentang Air dingin dan mengantuk, dengan cepat aku menyiapkan Elio saat mendengar panggilan Rama


setelahnya, aku memberikan Elio pada kak Abyan berserta sebotol susu (yang sejak tadi Elio tolak) saat sholat subuh hendak di mulai, tidak mungkin aku menitipkan pada Absyar, Elio akan lebih banyak bertingkah saat berada di samping Absyar. kak Abyan lebih aman!


Alhamdulillah sholat subuh berlangsung tanpa drama dari Elio, bukan karena apa, tapi dia tengah tertidur setelah sujud kedua di roka'at pertama. astagfirullah




bahkan Elio tidak menggubris saat kak Abyan membangunkannya untuk tadarus pagi, bahkan susu yang biasanya menjadi favoritnya sampai sekarang tak tersentuh. alhasil sampai sekarang Elio masih tertidur pulas di musholla


mari biarkan Elio kembali berlayar di pulau kapuk, hanya untuk hari ini. mengingat tadi malam Elio tidur terlalu larut akibat drama tentang susu yang menguras banyak kesabaran


kini aku tengah berkutat dengan peralatan dapur, menjadi asisten ibu yang tengah menjadi koki dengan masakan terenak menurut versi kami


aku tengah berkutat dengan sayur mayur di depan ku, saat suara dering telfon yang semula memutar murotal kini berganti dering panggilan masuk, plus suara tangis Elio yang menggema dari arah musholla yang membuat ku kalang kabut


mana dulu yang harus ku selesaikan....?


multitasking


sehingga mudah bagi ibu-ibu untuk melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu


"assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, iya by"


"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh, bi, aku akan keluar bersama Luca, ada beberapa urusan, rencananya sebelum berangkat mau menghubungi Sam untuk mendiskusikan rencana yang semalam, Albi sudah ada jawaban....?"


Louis bertanya tentang masalah Elio semalam, tapi fokusku masih pada kata-kata Louis yang di awal


"keluar bersama Luca....? tengah malam....? di sana masih tengah malam kan....?" bukannya aku tidak percaya dengan Louis tapi lebih kepada khawatir, mengingat kondisi disana sekarang sangat mengkhawatirkan


aku menerima panggilan masuk sambil berjalan menuju Elio yang tengah duduk menangis di dalam musholla, tangan ku mengangkat Elio sedang telfon genggam ku ter-apit diantara kepala dan pundak


"iya, disini sedang ada masalah, jadi harus segera diselesaikan" Louis tidak menjelaskan masalah yang di maksud lebih jauh, itu tandanya Louis tidak ingin aku tau terlalu dalam


"apa tidak bisa di selesaikan besok pagi.....? Baby jangan di tarik sayang, baju Mommy rusak nanti" aku masih berbicara dengan Louis saat tangan ku menghentikan tangan Elio yang mencoba membuka kancing bajuku seperti semalam


bisa copot lagi kancingnya


baju yang semalam saja belum ku perbaiki, ini mau nambah lagi....? mau habis berapa baju....?


belum lagi saat ini kita tengah berada di dapur, dan ini masih pagi, jadi sudah pasti aku tidak menggunakan Khimar (kerudung) saat ini


"Mommy...." Elio sudah hampir menangis saat aku kembali menahan tangannya


"sayangnya tidak bisa, harus diselesaikan malam ini. jika tidak, kita akan semakin lama berpisahnya" terdengar hembusan nafas berat Louis di akhir kalimatnya


seakan masalah ini benar-benar menguras tenaga dan pikirannya


"Baby, we're outside the room right now, let Mommy put my khimar on, ok...?"


(Sayang, kita sedang di luar kamar sekarang, biarkan Mommy memakai khimar dulu, ok....?)


aku menahan tangan Elio dan membawanya mendekat pada bibir ku, sebuah kecupan lembut ku labukan disana



dan aku yakin Elio dapat memahami jika aku melarang tangannya menarik bajuku, tapi tidak melarangnya untuk mendapatkan apa yang Elio inginkan


"ok" Elio tak lagi menarik baju ku, kini dia berganti menyandarkan kepalanya pada pundak ku


sedangkan kaki ku kembali melangkah menuju kamar untuk mengambil Khimar dan gendongan Elio


"Elio sudah bangun....?" suara Louis kembali terdengar setelah jeda yang tidak terlalu lama


"sudah, dan dia sekarang kembali meminta yang semalam, cukup keras kepala"


"dia masih butuh banyak belajar untuk mengontrol emosinya" Louis mengiyakan dengan cara yang berbeda, walau dia tidak menyukai fakta betapa keras kepalanya Elio


dan Louis benar tentang Elio yang masih butuh banyak belajar, belajar bersabar dan mengontrol emosinya


hampir semua anak-anak begitu, tapi jika orang tua tepat mengarahkannya in sya Allah anak akan mudah mengekpresikan keinginannya dengan cara yang tepat buka dengan menangis tanpa henti atau dengan marah yang berlebihan


"jadi bagaimana.....? mau hari ini ketemu dokter Azura....?"


"boleh, in sya Allah pagi ini Zu hubungi dokter Azura untuk buat janji"


"ok kalau begitu, nanti biar Mai yang antar Zu, rencananya mau berangkat jam berapa....?"


"tidak usah, Zu nanti setelah dari rumah sakit ada janji dengan teman Zu, ini sekalian Zu minta izin. boleh....?"


"teman kajian.....? masih boleh offline....?"


"sepertinya untuk membahas kajian saat PPKM berlangsung, dan mungkin kedepannya akan online"


"boleh, bawa Elio....?"


"tidak, Zu tidak berani bawa Elio keluar. apalagi nanti Zu sedikit lama"


"hati-hati, fi Amanillah, jangan lupa wa kalau mau berangkat"


aku mendudukkan Elio di atas tempat tidur, dan mengambil dua barang yang ku butuhkan, setelah menimbang cukup lama aku kembali setelah menutup panggilan dari Louis


"Hubby juga hati-hati, fi Amanillah. in sya Allah nanti Zu Wa. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh"


"wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh. fi Amanillah"


aku duduk berjongkok di samping kasur tepat di depan Elio setelah meletakkan HP dan barang-barang yang ada di tangan ku


dengan pelan aku membawa tangan mungil Elio dalam genggaman ku, mata ku dengan lembut menatap pada mata Elio yang berbinar tak sabar


aku tersenyum sebelum memulai


"Baby, look. Mommy's gonna let you do it, just like Aunt Diaz's baby did. I said there is no milk yet. But, Mommy promises that if you are patient, in a few days there will be a milk. like Aunt Diaz's. is Elio patient enough to wait .....?" (Baby, dengar. Mommy akan membiarkan Elio untuk melakukannya. seperti yang dilakukan bayinya anti Diaz. tapi Mommy bilang lebih dulu, jika disana belum ada susu. tapi, Mommy janji jika Elio bersabar. dalam beberapa hari akan ada susu disana. seperti milik anti Diaz. apa Elio cukup sabar untuk menunggu....?)


...~**TBC**~...


...**...


...*...