Thaha

Thaha
Salah Paham 2



aku tidak tau berapa jam telah berlalu saat aku tertidur, atau bahkan berapa hari telah berlalu....? yang ku tau bahwa Louis tak pernah beranjak dari sisi ku, dia selalu ada di samping ku untuk mengajak ku berbicara walaupun dia tau bahwa aku tidak akan pernah menjawabnya, lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang merdu selalu ia lantunkan dengan suara merdunya seakan merayuku untuk cepat terbangun untuk bergabung dengannya dan aku selalu suka saat Louis membacakan Al-Qur'an untuk ku


Mommy kadang datang kemari hanya untuk memastikan Louis menyantap sesuatu, itu juga yang ku khawatirkan, aku takut Louis akan mengabaikan kesehatannya dan hanya berkutat pada masalah pekerjaan dan juga mengurusi ku, tidak hanya Louis yang mengajak ku untuk berbicara Mommy juga selalu menyapa, dan menceritakan tentang kejadian yang Louis lalui di masa lalu walau lebih di dominasi oleh keluhan Mommy karena sikap Louis yang pendiam dan terlalu jaga image, di akhir kalimatnya Mommy tak pernah bosan meminta ku untuk segera terbangun, tentu aku sangat ingin terbangun dan kembali bercengkrama dengan mereka, tapi saat mendengar panggilan itu, membuat ku kembali takut untuk terbangun, seperti halnya saat ini, anak kecil itu kembali datang dengan suara imutnya yang menggemaskan namun menyimpan duri tak kasat mata yang dengan gerakan lambat merambat menikam hati ku, entah apa yang akan dia bicarakan dengan Louis kali ini


"Daddy, can I stay with you, Mommy want to see big Daddy today" akhirnya setelah sekian lama ada juga orang di sini selain Mommy dan Louis yang berbicara menggunakan bahasa yang bisa ku mengerti


rengekan manja itu terdengar sedikit menyakitkan bagi ku, tapi juga menumbuhkan rasa bersalah yang cukup dalam di benak ku


rasa bersalah kerena telah hadir di antara mereka, dan dengan tidak sengaja aku telah memaksa mereka untuk berbagi kasih orang yang mereka cintai, mata ku memanas saat kembali mengingat kenyataan itu, butir kristal bening yang coba ku tahan akhirnya tertumpah kembali membasahi pelupuk mata dan mengalir membentuk aliran anak sungai yang membentang di atas pelipis ku, aku menangis dalam rasa bersalah yang menyesakkan dada,


ya Allah bagaimana aku akan menghadapi mereka saat bangun nanti.....?


"it's ok, you can stay, come here" aku merasakan tempat tidur disebelah ku yang kosong kini melesak karena tekanan lutut mungilnya, dia merangkak naik hingga dapat ku rasakan tubuh mungilnya rebah di samping ku


"Daddy why little Mommy crying....? are she in pain" aku dapat merasakan tangan mungilnya yang berusaha menghapus butiran air mata yang membasahi peluk mata ku, tangannya bergerak lembut menyapu butir kristal yang bercucuran dengan derasnya itu


"pain, pain, go away, fuuuuu, fuuuuu, fuuuu" dia tidak hanya meniup mata ku yang terpejam, tapi dia juga memberikan ciuman lembut pada pipi ku, perlakuan yang begitu manis, dan saat aku mendapat perlakuan yang begitu manis dari seorang anak yang tanpa sengaja ku renggut kasih sayang seorang ayah yang harusnya dia bisa miliki sepenuhnya, membuat rasa bersalah itu memuncak hingga dadaku terasa sesak, aku menangis tergugu dalam diam ku, aku menjerit sekuat yang ku mampu untuk menghilangkan rasa sesaknya, dalam tubuh yang kini terbaring tenang di dalam sana jeritan rasa bersalah itu bergemuruh


ya Allah apa yang harus Zu lakukan.....? aku mencoba untuk berfikir jernih di saat benak ku tengah kalut, kacau balau bagai benang kusut yang ujungnya tidak aku ketahui ada di bagian mana


"ya Allah Zu, kenapa nangis...? Zu bangun kasih tau sakitnya dimana, kalau Zu tetap tidur kita tidak akan pernah tau apa yang Zu ingin kan" tangan besar Louis kini ikut menghapus butir bening yang masih saja mengalir di pelipis ku, aku tau dia bingung saat ini dan aku tau bahwa aku tidak seharusnya terus diam dan melarikan diri


Ada waktu dimana kita butuh untuk menenangkan diri, tapi bukan berarti kita malah melarikan diri dari masalah yang kita hadapi, seberat apapun masalah yang menimpa ku saat ini, aku yakin jalan keluar itu pasti ada, dengan keyakinan ini aku mencoba menguatkan hati ku, tak ingin terus berlarut dalam pelarian panjang tanpa ujung, aku lebih memilih sakit yang kurasakan dalam satu waktu tapi masalah yang ku hadapi mampu ku gapai ujungnya dari pada bersembunyi berkawan gelisah sepanjang waktu


dengan segenap keinginan itu aku mencoba untuk mengetuk pintu bawah sadar ku agar terbuka, jalan panjang yang membentang di hadapan ku coba lalui walau kaki terasa kebas untuk mencapai ke sana, perlahan aku mulai mencari bibit-bibit kesadaran yang coba ku sembunyikan di balik laci terdalam benak ku, tangan ku dengan cepat membongkar setiap laci itu untuk menemukan kesadaran ku, hingga tenagaku mulai terkuras tak satupun dari laci yang berderet panjang itu memuat biji-biji kesadaran yang entah ku lempar pada laci yang mana.....?


"Louis, Ale had an accident, we must to go to hospital, right now, your Daddy need you" Mommy datang dengan suara panik dan meminta Louis untuk ikut menemui Ale, entah siapa Ale yang Mommy maksudkan, mungkin salah satu dari saudara Louis yang saat ini tengah di rawat di rumah sakit


aku tidak tau apa yang Louis rasakan sekarang, apakah dia sedang kebingungan, ataukah rasa khawatir di hatinya lebih mendominasi, aku hanya berharap semuanya akan baik-baik saja dan aku bisa segera menemukan apa yang kucari agar bisa cepat terbangun dan menemani Louis, walau aku tau bahwa di sana dia pasti tidak akan sendiri, akan ada di yang lain yang akan senantiasa si sampingnya


mengetahui hal itu, membuat ku semakin yakin dengan keputusan ku, dan mungkin ini yang terbaik dari setiap jalan keluar yang coba ku fikirkan sebelumnya


"ok, I Will go with you, give me a moments mom" aku dapat merasakan sentuhan lembut Louis di pipi ku sebelum sebuah bisikan lirih di telinga ku mengalun merdu, dia berbisik bahwa dia akan segera kembali, dan di akhiri dengan ciuman ringan yang dia sematkan di dahi ku


aku mendengar Louis berbicara dengan anak kecil yang masih setia di samping ku dalam bahasa Italia yang sudah pasti tidak ku fahami, sebelum Louis benar-benar pergi seorang wanita datang menyapa, wanita yang anak kecil itu panggil Mommy, dan dengan penuh kebaikan yang sebenarnya sangat jauh dari bayangan ku akan dia berikan untuk menyambut ku, hal itu bukan membaut ku bahagia tapi malah menambah tumpukan rasa bersalah yang sudah tersusun tinggi hingga memenuhi ruang benak ku


kamar berubah sunyi, sepi, tidak ada kata yang terucap hanya sentuhan hangat tangan mungil yang menggenggam tangan ku, yang menyalurkan rasa hangat pada relung jiwaku yang tengah kedinginan dan kebingungan


betapa murninya cinta kasih anak ini, bahkan tidak sedikitpun di hatinya terbersit rasa tidak suka pada ku, dia malah dengan manja bergelung tanpa rasa takut pada orang asing seperti ku, seakan dia sudah mengenal ku lama, dan seakan aku bukanlah hal asing yang harus dia waspadai


"Elio, you can sleep with little Mommy if you sleepy" wanita itu berbicara dengan suaranya yang lembut menggunakan accent British yang kental, mungkin dia orang Inggris asli....? atau dia orang Italia yang pandai menggunakan accent British....?


"but Daddy told me to take care of little Mommy until he comes back" jawaban yang pastinya tidak pernah terpikirkan oleh benakku akan keluar dari anak kecil yang baru pertama kali ku jumpai, di tambah dengan situasi dan kondisi yang seperti saat ini


"ok, up to you, but if you really want to sleep, just go ahead, Mommy Will take care of her" hati ku menghangat mengetahui betapa baiknya wanita ini, dan aku juga yakin jika wanita ini akan menjaga Louis dengan baik seperti yang dia lakukan sebelum aku datang, keputusan itu sudah bulat, dan aku semakin yakin dengan jalan yang akan aku pilih


aku berusaha keras untuk semakin berusaha mencari kesadaran ku yang tak jua ku temukan, aku berusaha membongkar satu demi satu setiap laci yang tersusun berbaris di hadapan ku, hingga akhirnya ku temukan juga laci itu, laci yang akan membawaku pada kenyataannya yang sudah siap ku hadapi


berkas sinar yang mulai menusuk mata dengan perlahan merambat dengan sinar buram memenuhi penglihatan ku, dengan dorongan kuat aku coba untuk mengangkat kelopak mata ku yang sudah lama beristirahat hingga dengan perlahab samar-samar bayangan buram sebuah kamar mewah yang di dominasi warna abu-abu menyambut penglihatanku dengan hangat


"oh my God, she's wake up" samar-samar Indra pendengaran ku menangkap suara merdu yang menyapa tulang-tulang pendengaran ku dengan samar hingga berubah menjadi jelas dan bisa ku pahami maknanya


aku memalingkan wajah ku menatapnya, dia wanita yang cantik dan anggun dengan garis wajah khas Eropa, kulit seputih salju, hidung yang mancung, mata biru yang indah bak langit siang yang cerah, bibir yang terpoles lipstik sewarna darah, sangat cantik, dan tentu saja sangat bertolak belakang dengan diriku yang sederhana dan apa adanya, kulit sawo matang khas Asia tenggara, dengan bibir pucat sudah jelas bukan tandingannya, ibarat langit dan bumi, kita jelas berbeda


aku kembali mengedarkan pandangan ku meneliti setiap detail dari ruangan yang tidak bisa di katakan kecil, bahkan ruangan ini lebih besar dari kamar ku yang di satukan dengan ruang keluarga dan mushollah di rumah orang tua ku


pandangan ku beralih pada mahluk mungil dengan wajah yang sangat menggemaskan dan tampan pada saat yang bersamaan, aku dapat melihat kilas bayangan Louis yang membingkai wajahnya, tak heran dia begitu tampan


dia tertidur dengan sangat pulas, padahal aku ingat betul betapa keras kepalanya dia saat menolak untuk tidur dan bersikeras untuk menjaga ku hingga Louis kembali


"want some water, oh let me help you up" dia membatalkan niatnya yang hendak mengambilkan segelas air untuk ku, dan beralih membantu ku untuk memposisikan tubuhku agar tidak sepenuhnya terlentang


dia sudah hendak kembali mengambilkan air untuk ku sebelum tangan ku menghentikan langkahnya


"it's ok, can we talk" aku tidak bisa menunda lagi, aku takut jika aku berniat menunda lebih lama akan semakin memudarkan keberanian ku untuk menjalankan keputusan ini


"eeemmm, ok"