Thaha

Thaha
This is crazy



Siang yang terik kini telah mengalah pada fajar yang berkilau kemerahan di ufuk barat, cahaya senja yang memancarkan semburat merah kekuningan bagai selendang yang membentang di ujung langit, menari bersama udara sore yang membelai awan mencetak lukisan indah yang memanjakan setiap saraf yang berada di ujung mata, kilas keindahan dunia yang akan selalu mengiring manusia di setiap denting perputaran jam bagai pengingat alami yang kian waktu kian tertinggal, tersamarkan hiruk pikuk dan gemerlap fatamorgana hedonisme yang mulai menyusup dan bersemayam di dalam jiwa dan benak masyarakat yang katanya telah maju, mereka tenggelam dalam kesenangan dunia melupakan senja yang selalu berteriak di ujung hari, memanggil dan merintih, berbisik pada setiap Indra tentang akhir semua kesenangan itu, bagai hari yang kian redup tergantikan gelap malam yang sunyi dan senyap


cepat sekali rasanya hari berlalu, setiap detiknya bagaikan kilas cahaya yang menerobos setiap ruang dengan kecepatan kilat, kadang aku merasa jika hari berlalu lebih cepat dari yang seharusnya, tak ubahnya hari ini, aku bahkan rasanya baru memejamkan mata sesaat setelah berbincang dengan Elisa dan saat terbangun hari sudah menjelang senja


tak ingin membuang waktu dengan hanya berbaring di atas tempat tidur yang ternyata sudah ku tempati hampir tiga hari ini aku memutuskan untuk bersiap untuk menjemput janji yang telah kami sepakati tadi , pulau ini terlalu indah hanya untuk di acuhkan dengan bersemedi di dalam kamar tanpa melakukan apa-apa


"waktunya menjelajah"


aku melangkah dengan sedikit menggeret langkah ku karena kakiku yang masih gemetar, tertidur selama dua hari bukalah hal yang mudah untuk kembali menggunakan otot-otot ku yang sepertinya sudah menjadi pemalas sejak menjejakkan kaki ku di pulau ini, di tambah dengan ruang kamar yang luasnya tidak manusiawi, bahkan untuk menggapai daun pintu saja aku harus mengeluarkan tenaga yang harusnya cukup untuk ku gunakan saat mendaki bukit kecil di belakang rumah nenek di kampung, aku tidak mengada-ada tentang itu, aku bahkan hampir berciuman mesra dengan lantai yang dingin di beberapa langkah awal, jangan tanya bagaimana aku bisa sampai saat membutuhkan kamar mandi, karena nyatanya aku menghabiskan waktu yang lumayan panjang untuk menginjakkan kaki ku di sana, sepertinya aku harus mengucapkan terimakasih pada dinding yang mau menjadi tumpuan ku tanpa banyak protes


aku menyeka butir-butir keringat yang mulai mengintip malu-malu di permukaan kulit, aku bahkan mulai merasa kurang nyaman dengan tangan yang sudah mulai berkeringat padahal pendingin ruangan bekerja dengan sangat baik saat ini, jangan heran jika saat ini mereka menyalakan pendingin ruangan karena di sini sudah memasuki musim panas yang sedikit terik walau tidak sepanas di Surabaya, atau mungkin kerena hari sudah sore dan aku masih di dalam rumah...? entah dengan besok siang...?, aku akan mencari tau tentang itu nanti


entahlah lebih baik aku kembali melanjutkan langkah ku dengan hati-hati dan jangan sampai tersandung kaki ku sendiri atau yang lebih mengerikan lagi terlilit jilbab yang ku kenakan, bisa berguling ria saat menuruni tangga nanti


aku membuka daun pintu dengan sedikit usaha, padahal aku sudah mengira akan mengeluarkan sedikit energi yang lebih banyak dari yang seharusnya karena daun pintu dihadapan ku saat ini lumayan cukup lebar dan sedikit lebih tinggi dari pintu kamar yang biasa aku jumpai di Surabaya, tapi ternyata tidak, mereka menggunakan benda ajaib yang bisa membuka pintu dengan sentuhan tangan saja, kecanggihan teknologi sepertinya tidak main-main


kesan pertama yang menyapa benak ku saat pertama kali indra penglihatan ku menyapa dan menelisik setiap celah yang mampu terjangkau oleh mata ku adalah kesan mewah dan elegan yang tidak berlebihan dengan sentuhan ornamen sewarna emas seperti yang sering kulihat di pemberitaan tentang kehidupan glamor orang-orang timur tengah yang selalu berkutat dengan emas, bahkan tisu toilet terbuat dari emas...? ok, itu sedikit berlebih mengerut ku, tapi mau bagaimana lagi, uang milik mereka


dan sepertinya aku tidak akan menemukan itu semua disini karena rumah ini di dominasi oleh warna abu-abu, silver, putih dan sedikit warna biru kelam sebagai pemanis, nuansa modern yang kental tersaji di hadapan ku, aku bahkan dapat melihat kaca-kaca berukuran besar menyajikan pemandangan di luar ruangan yang di dominasi oleh warna hijau pohon yang tumbuh rimbun dan menjulang langit dan juga hamparan laut biru yang membentang luas seakan mengundang ku untuk bermain-main di jernihnya air yang mengarung tenang, benak ku langsung menjelajah pada kilas ingatan tentang laut biru dan kapal ketinting kecil yang mengayun lembut dan menari mesra dengan arus laut yang tenang, buaian hembusan angin yang menyapa permukaan kulit mengantarkan suasana damai yang menyenangkan, membayangkan semua itu membuat ku tidak sabar untuk segera menjelajah, pulau ini luar biasa indah


kembali aku melangkah dengan pelan dengan ujung mata yang meneliti dengan lapar setiap ornamen rumah yang pastinya baru pertama kali ku jumpai, aku berhenti sejenak saat sudut mata ku menangkap layar transparan berukuran raksasa yang menampilkan gambaran seluruh penjuru rumah dengan sangat jelas


jangan bilang itu layar cctv......?


dengan panik aku meneliti setiap bagian dan potongan-potongan gambar yang tersaji dan memastikan bahwa di dalam sana tidak sedang menampakkan kilas satu-satunya kamar yang aku kenali di rumah ini, akau seandainya ada bukankah itu sedikit melanggar hak privasi.....? dan aku perlu menuntut hak kebebasan ku disini


aku bernafas lega saat tidak menemukan gambaran sebuah kamar tidur terpancar di sana, tidak ada satupun kamar tidur yang tampil di layar, itu bagus, setidaknya kita masih memiliki sedikit privasi, Alhamdulillah


baru kali ini aku berni mengakui tentang kegilaan para konglomerat yang kadang di luar nalar, mana ada orang di dunia ini yang menjadikan video hasil cctv di jadikan tontonan, seperti halnya tontonan drama film.....? sepertinya hanya keluarga Louis saja yang melakukan itu


aku kembali melangkah mencoba mencari tanda-tanda kehidupan yang belum ku jumpai dari sejak aku terbangun tadi, mencoba mengabaikan setiap benda aneh yang bergerak dan mengerjakan tugas layaknya asisten rumah tangga dengan bantuan energi listrik yang mengalir melalui sel Surya kecil yang terletak di bagian tengah atas, aku kembali menggelengkan kepala melihat kecanggihan yang terjadi hampir di setiap benda yang menghiasi rumah ini


walau aku sangat penasaran dengan kondisi di lantai atas apakah sama seperti di lantai yang aku pijaki saat ini atau tidak, entah aku berada di lantai berapa.....? sepertinya di lantai satu, walau aku tidak begitu yakin, hanya yang pasti aku tidak menjumpai tangga yang mengarah naik kelantai ini, yang ku jumpai malah tangga yang naik kelantai berikutnya, mungkin aku berada di lantai satu....? mungkin saja, kecuali ada kegilaan lain tentang tangga rahasia tersembunyi untuk menuju ruang bawah tanah


"oh,  Mrs.Ferrero, you are wake up...? need some help Mrs.....?" suara seorang wanita yang menyapa Indra pendengaran ku membuat ku terkejut luar biasa, aku bahkan hampir berteriak dari saking terkejutnya


"are you ok Mrs.....? I am sorry to surprise you, I'm really sorry about it" dia bertanya sambil menghampiri ku dengan panik saat menyadari dia telah membuat ku terkejut


"it's ok, I'm ok, eeemmm just call me Zu, not Mrs.Ferrero, ok, what's your name....?" aku mencoba bertanya dengan nada ramah, aku tidak ingin membuatnya semakin ketakutan, saat ini saja dia sudah hampir menangis dengan mata abu-abunya yang bersinar redup, apakah aku semenakutkan itu......? hingga membuatnya hampir ingin menangis....?


"my apologize Mrs,...Fer...."


"call me Zu" aku memotong perkataannya saat dia akan kembali memanggilku dengan nama belakang yang kemungkinan besar melekat pada garis keturunan Ferrero, mohon maaf aku bukan termasuk di dalamnya, bukan karena apa, di dalam Islam tidak boleh menisbatkan nama orang lain di belakang namanya kecuali nama bapak kandungnya, atau mungkin karena di sebagian daerah hal ini adalah wajar, tapi saat aku di panggi dengan nama itu membuat ku sedikit tidak nyaman, aku seperti menjadi anggota keluarga Louis yang memiliki pertalian darah dengannya dan itu membuat ku sedikit tidak nyaman


" eeemmm Mrs.Zu, my name is Berta, Mrs" dia menjawab dengan pandangan mata yang sedikit menunduk, seperti orang yang sedang takut untuk menatap langsung pada lawan bicaranya


aku sempat berfikir tentang hal aneh yang hanya ku jumpai di film selama ini, tentang asisten rumah tangga yang harus menunduk hormat setiap kali bertemu dengan majikannya, dan itu sedikit aneh menurut ku, kenapa pula mereka harus melakukan itu.....?


oh, ayolah kita sudah berada di zaman modern dan bukan berada di zaman pra sejara sebelum Islam datang


'bahkan Bilal bin Rabah bisa berbincang dengan nyaman saat bersama dengan Abu Bakar atau bahkan dengan Rasulullah, yang merupakan Nabi yang merangkap sebagai kepala negara Islam kala itu......?'


orang kaya dengan kebiasaan anehnya, kadang membuat ku hanya bisa menggelengkan kepala dengan prihatin


"where's everyone, Berta....?" aku bertanya padanya dengan nada yang cukup bersahabat, aku bahkan menyertakan senyum semanis gula yang bisa membuat Louis tetap dengan ekspresi wajah datarnya, apa lagi yang diharapkan dari seorang Louis, dia akan tersipu malu....? jangan harap!


"Mr. Leo and Mrs Elisa, they are on the equestrian arena" di menunjuk ke arah kanan , yang saat di lihat dari jendela besar yang berada dekat dengan area itu hanya menampahkan sebuah bangunan yang terpisah dari rumah utama, dan jarak menuju bangunan itu cukup untuk membuat ku memaku badan di tengah perjalanan dan duduk manis di sana sambil menunggu ada orang baik hati yang mau mengantar ku menuju tempat itu dengan mobil atau motor, itupun kalau di sini ada dua benda itu....?


"and Louis.....?" aku bertanya untuk memastikan apakah Louis masih di rumah sakit atau mungkin tengah bermain dengan Elio


"Mr. Aslan still in hospital" ok dia belum pulang dan sepertinya malam ini juga Louis tidak akan pulang kan.....? dan aku bisa menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan Elisa untuk melihat sunset, tentusaja itu adalah hal yang baik, bukan berarti aku tidak merindukan Louis, hanya saja untuk saat ini aku ingin menata perasaan ku yang sedang tidak stabil


"eemm, Berta can you help me, to meet them at the racetrack.....?" aku bertanya dengan nada yang sedikit ragu, bukan karena aku tidak yakin Berta akan membantu ku, bukan, tapi lebih kepada aku yang tidak yakin bagaimana aku bisa sampai di sana dengan kondisi kaki ku yang hampir menyerupai langkah batita yang baru saja belajar berjalan


"ok, Sure" dia mengembangkan senyum lebarnya yang sangat indah, gadis yang baik.


aku mulai berdo'a dalam hati semoga Allah memberikan kemudahan bagi ku untuk bisa sampai di tepat Elisa Tampa drama yang berlebihan