
kembali ke rumah setelah melalui perjalanan panjang menyebrangi perairan Italia bukanlah sesuatu yang mengasikkan, aku bahkan tidak bisa menikmati pemandangan pantai dan tepian pantainya yang indah karena mabuk laut
Elio.....?
dia masih bisa bercanda dan bahkan tidur dengan nyenyak
berbeda dengan ku yang sudah pasrah pada keadaan dan menyerahkan tubuh ku sepenuhnya dalam pengawasan Louis
bahkan hanya sekedar untuk duduk pun aku tak sanggup
jangan di tanya bagaimana aku bisa melintasi jalan panjang dari dermaga kecil tempat kapal itu sandar hingga kini berdiri di depan pintu rumah
tentu saja aku tidak berjalan dengan kaki ku yang masih lemas, sepertinya arus laut bisa membawa pergi sebagian besar tenaga ku
Elisa datang menyambut kami, mengambil Elio yang tertidur dalam dekapan Luca, batita menggemaskan itu tadi bahkan sampai menarik leher Louis dengan tangan mungilnya saat Louis membantu ku
dan itu sukses membuat Luca kewalahan untuk memegangi tubuh Elio yang bergerak lincah
"Hi, Zu...bagaimana tadi perjalanan pulang, lancar kan, ombak teduh kan....?"
"teduh, tapi karena kapal kecil jadi guncangannya lebih terasa, mi"
aku menjawab setelah mendudukkan tubuhku di atas sofa ruang keluarga
"kalian mau makan dulu, atau istirahat.....? Mommy sudah siapkan makanan untuk kalian....?"
"kita sholat dulu mom, waktu dhuhur sudah tinggal sedikit, sebentar lagi Ashar"
kali ini Louis yang menjawab pertanyaan Mommy, aku tidak tau jika waktu sholat ashar hampir tiba dan dhuhur akan segera habis
tinggal disini rasanya aku buta waktu dan buta arah, bagaimana nanti kalau Louis meninggalkan aku di rumah sendirian untuk bekerja di kantor......?
sepertinya aku harus mulai belajar waktu dan arah di sini
"ya sudah kalian naik dulu istirahat, nanti kalau mau makan langsung ke meja makan saja, makanan sudah siap tinggal nanti di panaskan kalau dingin"
"terimakasih, mi, Zu ke atas dulu"
"ok, How about you Luc....?" (bagaimana dengan mu Luc....?
Mommy bertanya pada Luca yang saat ini tengah merebahkan kepalanya di sandaran sofa, sedangkan Elisa lebih dulu pergi kelantai atas untuk menidurkan Elio
"I wanna take shower fist, then eat, I am starving" (aku mau mandi dulu, setelah itu makan, aku lapar)
"ok, I will prepare it" ( ok, akan Mommy siapkan)
satu hal lagi yang paling aku suka dari Mommy, walaupun dia orang berada dan sibuk dengan banyak bisnis yang di gelutinya, dia masih menyempatkan waktu untuk menyiapkan makanan, walau dia bukan yang memasak makanan itu langsung
namanya orang kaya, ya tinggal tunjuk
tapi Mommy mengawasi dan memilih apa yang akan di santap anggota keluarganya sendiri, apalagi jika Louis dan Leo ada disini
katanya 'biar bisa lebih terjamin'
bahkan Mommy memberi tanda khusus untuk setiap peralatan yang akan mereka gunakan agar tidak tercampur dengan peralatan yang lain
kalau cara memasak jangan di tanya bahkan Mommy mendatangkan koki khusus jika Louis meminta makanan yang mengandung daging
terimakasih pada Leora yang sudah berbaik hati mau membocorkan hal itu pada ku, setidaknya itu membuat ku tenang
hidup dalam satu atap dengan anak yang memiliki keyakinan yang berbeda memang membutuhkan pengorbanan dan kelapangan hati orang tua, pengertian dan toleransi harus di tempatkan sesuai dengan porsinya
saling memahami dan menempatkan peran, disini sangat di butuhkan, Louis yang harus bisa menyampaikan apa yang boleh dan tidak boleh sesuai aturan Islam kepada orang tuanya, yang belum mengambil Islam sebagai agama dan aturan hidup, dia harus tetap memberikan hak mereka sebagai orang tua, dan melakukan kewajibannya sebagai seorang anak
juga Mommy dan Daddy yang harus berlapang dada dengan menghargai dan tidak memaksa Louis untuk melakukan sesuatu yang memang dilarang di dalam Islam
jika mereka tidak bisa saling menghargai akan sangat susah menjalin keharmonisan seperti saat ini
beruntunglah Islam sudah mengatur semuanya dengan sangat lengkap dan sempurna, bagaimana kita harus memperlakukan orang tua, bagaimana kita harus toleran terhadap apa-apa yang memang Allah perbolehkan, kapan kita bersikap keras, kapan kita bersikap lemah lembut dan berkasih sayang, Islam sudah mengatur semuanya
tak heran dulu saat Islam berjaya, tiga tempat ibadah bisa hidup berdampingan dengan damai dalam satu tempat
sekarang.....?
jangankan berdampingan dengan damai, untuk mendapat keamanan dan ketenangan saja, sangat susah untuk di dapat
******
aku tidak ingat bagaimana aku bisa tertidur pulas dengan Elio yang sedang tengkurap di samping ku, tangannya tengah sibuk mencocokkan potongan-potongan pazzel
tapi entah bagaimana ceritanya aku bisa berakhir terbaring di tengah kasur.....?
dan Elio, sejak kapan dia merambat naik ke atas kasur....? bukannya tadi dia tertidur di kamar nya bersama Elisa....?
"Elio....? where's Daddy....?"
aku bertanya pada pada Elio setelah menyelesaikan rutinitas bangun tidur ku
dia merangkak ke arah ku dan merebahkan kepalannya di atas dada ku
"Daddy....?"
dia bertanya dengan sorot mata yang menggemaskan, ini lah susahnya jika paman juga dia panggil ayah, bingung akhirnya ayah yang mana yang di maksud
"little Daddy"
"ooowwww Daddy, he's with Daddy"
aku menepuk dahi ku dengan pelan saat mendengar jawabannya, jika sedang bersama Luca kenapa pula dia tadi mikirnya lama....? ya Allah
"ow, ok, let's go to Daddy"
aku membawanya menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan kumur-kumur, menggenakan jilbab dan Khimar bersih yang sudah di letakkan di meja samping tempat tidur, seperti bisa
baru kali ini aku merasa tidak butuh lemari pakaian
entah siapa yang menyiapkan, mungkin Louis atau Berta....? entahlah
setelah merasa semuanya telah siap, aku membawa Elio dalam gendongan ku menuju ruang keluarga, di sana hanya ada Mommy seorang diri yang di temani Berta, memilah dan memilih sesuatu di dalam tablet
aku mendekat dan duduk di samping Mommy
"Hi, honey, sudah bangun....?"
Mommy mengalihkan perhatiannya dari tablet yang di pegang Berta dan menghadap kearah ku dan Elio
"sudah mi, yang lain mana, mi....?"
aku mengedarkan pandangan ku pada setiap penjuru ruangan, seberapa keras pun aku mencari sudah pasti tidak akan ku temukan orang lain di ruangan ini kecuali kami berempat
"biasa, lagi di arena, Zu mau makan....?"
"nanti sekalian makan malam mi"
"eehhh, Zu kan seharian belum makan, memang tidak lapar....?"
"mungkin karena kebanyakan tidur kali ya mi, jadi Zu masih belum merasa lapar, Mommy lagi milih apa....?"
aku mengalihkan pandangan ku pada tablet yang berada di genggaman Berta
" oh, ini baju untuk acara besok lusa, Zu juga pilih ya"
Mommy meminta Berta untuk menunjukkan isi tablet itu pada ku
di dalamnya ada katalog pakaian lengkap dengan aksesoris nya, dan uniknya katalog ini persis seperti permainan kecantikan dan dress up yang sering ku mainkan
kita tinggal mencocokkan pakaian apa yang akan kita gunakan
"ini Mommy lagi main game...?"
dengan polosnya aku bertanya, pasalnya katalog itu di design seperti permainan Dress Up
"bukan, ini koleksi butik Mommy, Zu pilih yang cocok dengan selera Zu, untuk penutup kepalanya, Zu bisa pakai yang ada di walk in closet yang ada di kamar Zu"
walk in closet....?
sejak kapan aku punya itu....?
lemari pakaian yang ada di kamar saja aku tidak tau bentuknya, apa lagi walk in closet
"iya mi, nanti Zu pilih, tapi ini untuk acara apa mi....?"
ini nih yang penting, acara yang akan dihadiri nanti, jangan sampai acara yang di hadiri nanti acara yang aneh-aneh
...~TBC~...