Thaha

Thaha
Hujan Pembawa Rindu 9



...~**🌦️**~...


...**...


...*...


suara rintik hujan terdengar memukul atap rumah sakit yang semula sunyi, dentuman kecil yang serempak membentuk melodi yang harmonis, mengantarkan ketenangan pada setiap jiwa yang mendengar


aku memandang pada rintik hujan yang jatuh melalui kaca jendela, betapa sempurna Allah menciptakan setiap harmoni, siang yang berganti malam, matahari yang bersinar terik terganti bulan yang bersinar redup, panas yang berganti dingin. begitupun dengan tangis yang akan terbitkan senyum.


betapa sempurnanya Allah menciptakan setiap hal, sungguh Allah maha mengetahui segalah hal yang terbaik untuk makhluknya, pantaskah aku bersedih atas setiap garis takdir yang sudah Allah rangkai begitu indah.....?


tidak kah cobaan yang datang hanya sebagian kecil rasa sakit dari begitu banyak rasa bahagia yang sudah Allah berikan pada kita....? bagaimana kita akan merasa bahagia jika kita tak pernah mengenal rasa sakit.....?


pantaskah aku mengeluh dan marah pada Allah tentang apa yang menimpa ku.....? sedangkan baby sejatinya bukan milik ku, hanya satu hal yang ku sesali, mengapa aku begitu abai dengan kondisi tubuh ku, hingga mendholimi dia yang tak bersalah


sudah lah, seberapa sedih pun rasa dan penyesalan yang meradang, tidak akan pernah mengembalikan apa yang sudah hilang. walau sangat sulit, sangat sangat sulit untuk mengikhlaskan. tak mudah tapi tak ada yang sia-sia. ini akan menjadi pembelajaran berharga untuk ku. untuk lebih peka, lebih menjaga setiap titipan Allah yang Allah anugrah untuk ku


in sya Allah tidak akan ada kejadian yang sia-sia


"Assalamualaikum" terdengar ketukan pintu yang di susul salam


aku tersadar dari lamunan, berpaling melihat pada ibu yang masih membaca sebuah buku dengan telinga yang tertutup head phone, ya Allah ibu, bagaimana bisa mendengarkan murotal sambil membaca....?


perempuan


multitasking


hhuuuffff, aku membuang nafas berat sebelum menjawab salam entah siapa yang ada di balik pintu, mengingat kondisi saat ini yang tidak sembarang orang bisa keluar masuk rumah sakit, tak ada kunjungan, apalagi kunjungan malam. kaki ku melangkah mendekat pada daun pintu


di sana berdiri seorang laki-laki yang seperti tidak asing, tapi sayangnya aku melupakannya


"selamat malam Mrs. Aslan, saya Syam sekretaris Mr. Aslan" saat mendengarkan langsung bagaimana Syam memperkenalkan diri membuat ku sedikit memutar otak, Syam...? Sam....? sekertaris Louis....? teman Louis.....?


"Syam....? Sam....? teman Louis...?" aku bertanya untuk memastikan


" iya, bisa dibilang seperti itu"


"ada apa....?" aku bertanya maksud kedatangan Sam


"saya datang untuk mengantar pesanan Mr. Aslan dan juga makan malam"


Sam menyerahkan dua paper bag dengan ukuran yang berbeda


"jezakallah khoiran katsiran"


"em, dokter tadi menyampaikan pada Mr. Aslan jika kondisi anda membaik, in sya Allah besok sudah boleh pulang, dan Mr. Aslan tadi meminta saya untuk menanyakan, kapan anda ingin pulang....?"


aku sedikit geli saat mendengarkan orang lain menggunakan bahasa yang terlalu formal untuk berbicara dengan ku, dan lagi kenapa juga harus menggunakan Mr. atau Mrs. ini bukan luar negri, ini Indonesia. ayolah, dan Mr. Aslan.....? bukankah Syam teman Louis....?


sebenarnya bagaimana model pertemanan mereka....?


"besok pagi, jika boleh. dan terimakasih untuk ini" aku mengangkat dua paper bag yang tadi Sam serahkan.


aku tidak lagi memperpanjang percakapan. cukup seperlunya. itu lebih baik dan lebih terjaga


"akan saya sampaikan, dan akan saya usahakan"


"sekali lagi, terimakasih"


itu bukan basa basi, tapi aku mengatakannya dengan tulus


setelahnya Sam kembali beranjak dan menghilang di balik pintu, aku menoleh pada ibu yang mengagetkan ku tiba-tiba dengan suara lembutnya


"makan malam....? Louis selalu saja, padahal ibu sudah bilang jika ibu bisa membelinya sendiri, ibu sampai kasihan dengan Syam yang harus bolak-balik kantor-rumah sakit"


ibu menjelaskan, walau terdengar nada protes dalam suaranya tak urung tangannya terulur meminta paper bag besar yang berisi makan malam


aku ikut berjalan di samping ibu menuju sofa dengan bertumpu pada tiang infus


"Zu tau, dari awal Zu sampai Syam, dan sekretarisnya sudah lebih dulu menunggu di bandara, dan saat tiba di rumah sakit mereka yang mengurus setiap keperluan Zu, walau kasihan tapi ibu juga bersyukur atas bantuan mereka, bicara soal Louis, apa Zu tau bagaimana Louis berinteraksi dengan rekan kerjanya....? kenapa ibu merasa mereka tampak sangat takut dengan Louis....?"


wajar saja ibu merasa bingung, ibu belum tau jika Louis adalah atasan mereka, bukan rekan kerja biasa


"ya gitu, mantu ibu, pendiam, agak jutek, susah senyum, gitu pokoknya"


aku sampai bingung sendiri bagaimana harus menggambarkan sikap Louis yang sangat jauh dari kata ramah apada orang lain


"masak sih....? pendiam iya, tapi mantu ibu itu nggak jutek kok" ibu merasa tidak terima mendengar perkataan ku tentang Louis


"iya deh, mantu ibu memang paling the best,


" Zu mau makan yang mana....? ini Louis belikan bubur ayam dan nasi Padang"


"Zu, nanti ada jatah makanan dari rumah sakit Bu, untuk ibu saja. itu Sam yang belikan bukan Louis, mantu ibu ada di Itali mana bisa kirim makanan"


"bisa dong, mantu ibu kan banyak akal"


ibu dengan cuek membuka dan menyantap nasi padang yang katanya dari si Abang mantu


mari tinggalkan ibu yang tengah menikmati makanan gratis dari menantu laki-laki satu-satunya.


tangan ku aku kini membuka bungkusan yang satu lagi, yang ukuran paper bag-nya lebih kecil. di dalamnya terdapat dompet dengan warna pastel yang cantik dan juga HP baru,


saat aku membukanya, di dalam dompet sudah terdapat beberapa kartu dan uang tunai, bahkan kartu identitas yang sebelumnya hilang di Italia kini sudah berganti dengan kartu baru, beberapa kartu debit dan satu kartu yang sedikit berbeda dengan yang lain, hal itu tentu membuat ku mengerutkan kening, kartu nama dengan nama DR. Azura Khalil, entah untuk apa Louis meletakkannya di dalam dompet ku....?


aku beralih pada HP baru yang ternyata sudah terisi beberapa aplikasi yang aku butuhkan, kartu dengan kuota yang cukup untuk beberapa bulan. saat aku menilik kontak, terdapat beberapa nama yang sudah menempati list, nomer kedua orang tua ku, kakak dan adik, serta nomer keluarga Louis, ada satu nama yang membuat ku sedikit geli saat membacanya


"My everything" tanpa melihat nomernya-pun aku sudah tau milik siapa nama itu di tujukan


ada-ada saja, mau ku ganti tapi kasihan juga Louis yang dengan bangga menuliskan nama itu, jadi biarkan saja lah, walaupun aku sangat gatal untuk menggantinya dengan nama Mr. Aslan


pasti lucu saat Louis melihat itu


aku melihat nama Elisa tertera dalam list, setelah menimbang cukup lama akhirnya aku memutuskan untuk menekannya


" Hallo, Zu" tak perlu menunggu lama, sapaan akrab Elisa menyapa gendang telinga ku


"hallo, Elisa, how are you....?"


(hallo Elisa, apa kabar.....?)


aku bertanya dengan hati-hati


"pretty good, how about you, is everything ok.....?"


(baik, Zu sendiri bagaimana, apakah semuanya baik-baik saja.....?)


"not bed, Elisa about Elio, I am sorry"


(tidak buruk, Elisa tentang Elio, aku minta maaf)


aku tidak tau bagaimana harus mengatakannya, tapi sungguh aku tidak pernah memiliki niat untuk membawa Elio bersama ku


"Zu, you are also Elio's mothers, it's ok, i am also great full that Elio with you right now, you know, we need to get our honeymoon, so it's ok. i feel happy, if Elio happy with you"


(Zu juga ibunya Elio, tidak apa. aku malah bersyukur kalau Elio bersama Zu sekarang, Zu tau, aku dan Luca butuh untuk pergi honeymoon, jadi tidak apa-apa. aku senang jika Elio senang)


saat mendengar perkataan Elisa membuat ku sedikit lebih tenang tentang Elio


kami berbicara cukup lama, bahkan Elisa juga menceritakan kisahnya tentang dia dan Luca dan bagaimana dia dan Elio tidak terlalu dekat, dan malah Elio lebih dekat dengan Louis


semakin aku mendengar ceritanya, semakin rasa sayang ku bertambah pada Elio, keinginan kuat untuk menjaganya semakin besar, dan rasa rindu untuk memeluknya semakin menggerogoti benak, aku sangat ingin siang segera datang agar aku bisa segera pulang dan memeluk baby gembul ku


...~**TBC**~...


...**...


...*...