Thaha

Thaha
Kamar Baru



...~**☀️**~...


...**...


...*...


aku melangkah menuju kamar dengan Elio yang berada di dalam gendongan ku, dia tengah mengadu tentang seberapa sering dia menangis saat aku tidak ada, seberapa besar rasa rindunya terhadap Louis dan bercerita apa saja yang Elio lakukan saat bersama Absyar yang sering Elio panggil Abys.


saat aku memasuki kamar yang selama beberapa hari tak pernah ku kunjungi, aku sempat terdiam beberapa saat, meneliti perubahan pada kamar ku yang hampir tidak lagi ku kenali


tidak hanya tata letaknya yang berubah, ornamen dan furniture kamar ku hampir semuanya berubah


warna cat dan ornamen yang semula sangat feminim, di dominasi warna putih dan dan warna pastel lembut, kini berganti dengan warna netral


...kamar Zu sebelum di rombak



...



yang tidak berubah dari kamar ku hanya hanya lantainya yang sewarna kayu, bahkan langit-langit kamar dengan stiker menyerupai bentuk kayu yang menjadi favorit ku kini berganti putih polos


astagfirullah


"dek, ini benar kamar kakak....?" aku masih menanyakan pada Absyar, walaupun jawabannya sudah sangat jelas


"iya tuh, suka nggak....?" Absyar lebih dulu melangkah masuk dan duduk di kursi samping tempat tidur


"suka, cuma warnanya terlalu suram" aku mengikuti Absyar melangkah menuju tempat tidur dan menurunkan Elio disana


"Mommy, berm - berm with Abys..?" Elio kembali berceloteh dengan tangan yang mengarah pada Absyar


"ih, siapa yang mau ngajak Elio, orang Aby jalan-jalannya nanti sama Mommy, sama Atuk, sama uti, sama Abang Abyan. nanti Elio kita tinggal sendirian di rumah" seloroh Absyar dengan lidah yang mencibir ke arah Elio, yang saat ini tengah menggerakkan tangannya ribut sambil terus berucap "Ndak'o, Ndak'o, Ndak'o"


"dek!, Uda ah masak ponakannya di jailin tersus. adek tempat perlengkapan Elio dimana.....? baju-baju kakak juga dimana....?"


aku seperti masuk ke dalam kamar orang lain yang tidak tahu menahu tentang letak barang-barang ku sendiri


"tuh di sana di balik pintu putih" Absyar menunjuk pada pintu yang aku tahu betul bahwa sebelumnya merupakan pintu kamar mandi


" di kamar mandi....?" aku kembali bertanya, bukan karena aku tidak mendengar perkataan Absyar, tapi lebih kepada untuk meyakinkan diriku sendiri


" iya, sebelum masuk kamar mandi. di sebelah kirinya, barang-barang Elio dan Abang Louis, yang sebelah kanan punya kak Zu" Absyar berkata sambil lalu, fokusnya masih tertuju pada Elio yang kini tengah berlarian meletakkan banyak mainan pada tangannya dengan terus merayu Absyar agar mau mengajaknya pergi jalan-jalan


tangan ku dengan perlahan mendorong pintu putih yang di maksud Abyan, di sana terdapat 2 lorong kecil sebelum kamar mandi, kakiku melangkah pada lorong sebelah kanan, disana terdapat satu lemari tanpa pintu yang memuat jilbab dan jaket milik ku, sedangkan pada bagian lemari yang memiliki pintu terdapat Khimar dan juga mihna dan pakaian yang lain di letakkan di bagian bawah


aku tidak melihat lebih jauh, cukup tau jika ada beberapa barang baru yang di letakkan menggantikan pakaian lama ku yang entah kemana perginya


merasa cukup untuk memastikan jika barang-barang ku yang menurut ku cukup penting masih tersimpan dengan rapi, seperti kado dari teman dan juga pemberian dari keluarga ku.



kini aku melangkah memasuki lorong bagian kiri yang memuat lebih banyak lemari, milik Louis dan juga Elio. walau yang lebih mendominasi adalah barang barang persediaan milik Elio, seperti Pampers, tisu, beberapa produk untuk mandi dan perawatan kulit. hey jangan salah, bayi juga butuh skin care.


barang Louis tidak terlalu banyak, bahkan lebih sedikit dari pada milik ku.


fokus ku hanya tertuju pada Raksog troli yang terletak di samping lemari pakaian Elio



aku mengambilnya setelah memastikan barang yang aku butuhkan sudah ada di dalamnya, termasuk baju yang akan Elio kenakan


saat aku keluar dari walk in closet minimalis, jika itu bisa di sebut walk in closet, karena pada nyatanya itu lebih terlihat seperti lemari baju biasa, aku di sambut dengan tangis Elio yang tiba-tiba pecah saat melihat ku melewati pintu


"Mommy" Elio berusaha melepaskan diri dari pelukan Absyar yang membelitnya di atas tempat tidur


Elio berjalan dengan mata merah dan air mata yang mengintip di balik bulu matanya, aku yakin sebentar lagi akan membanjiri pipi gembulnya yang memerah


"kenapa sayang....?" aku merengkuhnya dalam gendongan ku dan melihat pipinya yang terdapat bekas gigi yang membayang samar. pasti perbuatan Absyar, astagfirullah


"Abys...., bite me"


(Abys.... menggigit ku)


Elio menunjuk pada Absyar yang saat ini tengah tertawa


"ya Allah adek, iseng banget sih" aku menatapnya dengan tajam


"habisnya, gemes banget loh kak. pipinya kayak bakpao" bukannya takut Absyar malah mendekat dan semakin gencar mencubit pipi Elio


"sudah dong dek, kasian anak kakak kamu jailin terus"


"iya, iya maaf, baby, Aby minta maaf yaa" Elio dengan gerakan cepat memeluk leher ku mengabaikan Absyar yang mencoba untuk berdamai


"tu kan ngambek, adek sih jail, om Aby jahat ya...? nanti Mommy pukul biar tidak jail lagi ya...? sekarang baikan dulu dong dengan om Aby"


aku mencoba membujuk Elio yang masih setia mengabaikan Absyar, walaupun aku yakin seratus persen jika Elio tidak akan faham dengan maksud ku


"can you forgive me, please....? (bisakah kamu memaafkan aku....?) nanti Aby tidak ajak jalan-jalan loh, naik berm-berm keliling kompleks" saat mendengar kata "berm-berm" dari Absyar Elio langsung berpaling menghadap Absyar dengan matanya yang berbinar penuh harap


"berm-berm....?" Elio bertanya memastikan


"iya, nanti jalan-jalan sore naik berm-berm, mau ikut nggak....? kalau mau baikan dulu" Absyar mengulurkan tangannya untuk berbaikan dengan Elio


"promise....?" Elio kembali bertanya untuk memastikan


"astagfirullah, kapan coba aku tuh perna bohong, liatin nih, anak kakak, nuduh sembarang, iya promise" walau berkata demikian tak urung Absyar tetap mengiyakan pertanyaan Elio


"bukannya nuduh adek, tapi Elio masih belum paham dengan kata-kata adek, dia hanya tertarik dengan kata berm-berm, memangnya berm-berm itu apaan....?"


aku bertanya dengan kaki yang terus mendekati tempat tidur, membaringkan Elio dan memakai pakaiannya


"motor kak, anak kakak kecanduan naik motor kayaknya" tangan jail Absyar tidak pernah diam, jika tidak mencubit pipi Elio yang langsung di tepis oleh empuhnya dia akan berganti menggerak gerakkan kaki atau tangan Elio


walau Elio cukup kesal dengan tingkah Absyar tapi Elio tidak pernah berteriak seperti sebelumnya saat tidak menyukai sesuatu


"memangnya boleh naik motor keliling-keliling, katanya PPKM sekarang....?" aku membawa Elio dalam gendongan ku setelah selesai merapikan rambutnya, membawanya meninggalkan kamar untuk menuju ruang keluarga


Absyar....? tentu saja dia mengikuti ku dari belakang dengan masih menjaili Elio


"keliling-keliling kompleks kak, nggak jauh-jauh, paling jauh sampai gerbang atau nggak taman kompleks"


"memang masih rame....? jangan ah kalau rame, naik motornya depan rumah aja"


"nggak rame banget kak, lagi juga kita pakai masker kak"


"iya kakak tau, tapi kalau terlalu ramai kakak khawatir, bayi daya tahan tubuhnya tidak sekuat kita dek"


"ih, kakak nggak seru ah, padahal cuma bentar doang" Absyar berpindah untuk mendahului duduk di karpet ruang keluarga


"nanti kalau situasinya sudah aman, baru bisa ke taman kompleks, sekarang sabar dulu yaaa, oh ya kak Mai sudah pulang belum....? minta tolong lihatkan kak Mai di depan dek...?"


aku meletakkan tubuh Elio pada bantal yang sudah ku tata, matanya tampak sayu dan sesekali mulai terpejam


"Mommy..." Elio masih memaksakan diri untuk tetap terjaga padahal aku sangat yakin jika dia saat ini tengah di Landa kantuk yang cukup berat


"it's ok baby, Mommy's here" aku mencoba menenangkannya dengan memberi sapuan lembut pada dahinya


"hug Mommy" Elio merentangkan kedua tangannya meminta ku untuk ikut bergabung berbaring dengannya di atas karpet


aku berbaring di sampingnya dengan tangan yang ku letakkan di atas dadanya, memberinya sapuan lembut untuk memudahkan Elio menjemput mimpi


"sudah pulang kak"


aku meletakkan telunjukku di depan bibir, memberi isyarat pada Absyar agar tidak berisik


"jangan berisik"


Absyar mendekat dan duduk di samping Elio


"tumben nih bocah tidur, biasanya paling susah di suruh tidur, paling pinter kalau nangis" aku menepuk tangan jail Absyar yang tengah gemas mencubit pipi Elio


"jangan, nanti bangun, Rama sama kakak belum selesai.....? ibu mana....?"


"belum, masih di dapur, ibu mandi bersih, bersih, lah kakak belum mandi habis datang dari rumah sakit, astagfirullah kak kuman semua tuh"


Absyar memandangku dengan tatapan ngeri


"lah iya, adek juga kenapa tidak ingatkan dari tadi, ya Allah, adek tunggu sini, kakak mau mandi sama ganti baju, awas jangan di jailin adeknya, awas kalau nangis, kakak cubit nanti"


"ih takut....., lagi si kakak, telat banget sadarnya, keburu virusnya bertebaran kak" bukannya takut Absyar malah menatap ku dengan tatapan mengejek


kenapa juga aku bisa lupa dengan kondisi ku yang baru datang dari rumah sakit, astagfirullah semoga tidak ada virus yang menempel di tubuh ku. dan semoga semua keluarga ku sehat ya Allah.....Aamiin


...~**TBC**~...


...**...


...*...