Thaha

Thaha
Hi thaha



aku kembali pada aktifitas ku seperti biasa mengisi kajian umum di masjid kampus, tak ada yang berbeda dari sebelumnya, teman-teman masih aktif bertanya mengenai materi yang ku sampaikan, dan aku mencoba menjelaskan dengan menyertakan contoh yang bisa mereka Indra secara langsung, karena sejatinya Islam akan selalu sesuai dengan zaman, Islam itu menembus ruang dan waktu, Islam adalah agama yang bisa di terima baik dari mereka yang masih mudah hingga mereka yang lanjut usia, Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, fa in sya Allah setiap permasalahan hidup manusia akan ada penyelesaiannya di dalam Islam, besar kecilnya maslah manusia kesemuanya dapat di selesaikan dengan Islam, hanya saja kadang orang yang menyampaikan Islam lah yang kurang menguasai seni dalam berdakwah, untuk itu aku selalu memacu diri mempelajari setiap fakta baru yang akan aku sampaikan saat mengisi kajian, seperti saat ini misalnya, aku harus bisa menjelaskan bagaimana Islam menyikapi permasalahan yang di hadapi dalam bidang ekonomi, resesi yang mengguncang negri ini, dan kondisi perekonomian yang kian hari kian terpuruk, aku mencoba menjelaskan secara gamblang bagaimana solusi yang di tawarkan Islam atas persoalan yang menimpa negri ini, tentunya dalam bidang ekonomi


permasalahan ekonomi adalah topik yang paling di sukai oleh para mahasiswa di kampus ini, maklum saja sebagian besar dari mereka adalah anak pengusaha yang sudah memiliki anak perusahaan dan bahkan tak jarang diantara mahasiswa disi yang sudah memiliki bisnis mereka sendiri


aku melirik pada kerumunan mahasiswa yang masih menyimak dengan seksama penjelasan ku, mata ku tertuju pada salah satu mahasiswi yang baru aku jumpai dalam kajian kali ini, dia sebelumnya tidak pernah ikut kajian ku, aku bahkan tidak pernah tau jika dia merupakan salah seorang mahasiswi di kampus ini


aku masih mencoba fokus, dan mencoba mengabaikan keberadaan Renata, ia dia gadis yang waktu itu datang ke acara pernikahan ku dengan Louis, gadis yang membawa drama percintaan dengan adik tercinta dari suami ku, Leo


aku masih menunggu satu pertanyaan terakhir dari salah seorang teman Leta, gadis yang cukup cerdas karena beberapa kali menanyakan beberapa pertanyaan yang cukup menarik, aku bahkan harus berusaha keras merangkai kata saat menjawab pertanyaannya


Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menyelesaikan kajian kali ini, walau materinya cukup berat, tapi para mahasiswa disini memang juara, bahkan mereka menghadirkan fakta baru yang baru ku tau tentang perekonomian global, tak heran mereka adalah anak dari seorang pembisnis handal yang track record nya tidak perlu di ragukan lagi


aku berjalan mendekati Renata yang masih tampak berbincang dengan salah seorang temannya


"Salam, Rena kan.....?" Aku menyapanya dengan ramah berharap dia masih mengenali ku


"salam, kak, iya saya Renata, Kakak istrinya kak Louis bukan.....?" Alhamdulillah dia masih ingat ternyata, walau dia hanya mengingat ku sebagi istri Louis


"iya, Rena apa kabar....?" dia anak yang ramah, tak heran jika Leo sampai menangis saat memutuskan untuk berpisah dengan gadis ini


"baik kak, Kakak apa kabar sama kak Louis......? saya baru tau kalau kakak sering ngisi kajian di masjid ini" kami berdiskusi hingga pada topik yang sedikit sentimentil, tentang hubungannya dengan Leo dan bagaiamana kondisinya sekarang, bahkan aku sempat menanyakan tentang kepercayaannya, dan saat mengetahui jawabannya aku baru mengerti perasaan Leo, tak heran jika Leo memutuskan untuk berpisah dan bukannya melamar gadis ini, ternya mereka sudah berbeda keyakinan


aku sudah menduga jika Rena memang bukan seorang muslim saat aku menyapanya Pertaman kali, aku hanya menyapanya dengan salam dan bukannya menggunakan assalamualaikum seperti biasanya, aku sempat heran awalnya bagaimana bisa Rena mengikuti kajian di masjid ini, tapi saat mendengar jawabannya membuat ku sedikit terharu


"aku ingin mengenal, Agama seperti apa yang saat ini di yakini oleh orang yang aku cintai, bagaimana agama ini mampu menjadikan seseorang meninggalkan orang yang dia cintai dan lebih memilih untuk taat pada aturan agamanya, dia bahkan mampu mengesampingkan perasaan pribadinya" saat Rena mengatakan itu seakan timbul dorongan dari hati ku untuk membantunya mengenal Islam, gadis baik ini ingin mengenal Islam bukan hanya sekedar ingin mendapatkan cinta Leo kembali, tapi lebih kepada rasa penasaran terhadap Islam itu sendiri, entah nantinya dia akan bersama Leo atau tidak, yang pasti untuk saat ini aku ingin membantunya untuk mengenal Islam


"kalau Rena mau, kakak boleh ajarkan Rena tentang Islam" aku mencoba menawarkan diri, walau pemahaman ku tentang Islam belumlah memadai, tapi in sya Allah aku akan membantu Rena dengan semampuku agar dia bisa mengenal Islam


"Rena mau kak, tentu saja, terimakasih" kami masih berbincang hingga senja menjelang, membicarakan tentang banyak hal, aku ingin mengenalnya lebih dekat, agar aku lebih memahami dari sisi mana Islam akan dengan mudah Rena terima nantinya


aku memutuskan untuk pamit pulang setelah sholat ashar, Rena bahkan masih menunggu ku hingga aku selesai sholat berjamaah, dan aku berharap dia tidak hanya menunggu ku di lain kesempatan


setelah kejadian terakhir kali aku sudah tidak pernah pulang larut, cukup satu kali saja membuat masalah dengan pulang larut, kan tidak lucu kalau tiap pulang larut akan mengundang kejadian aneh yang lainnya, jantung ku tidak cukup kuat untuk sering-sering terkejut, jadi kuputuskan untuk "sedia payung sebelum hujan" alias ngelak dulu sebelum kesandung


waktu yang ku habiskan untuk mengisi kajian adalah waktu yang paling aku suka karena dengan itu membuat otak ku sibuk untuk memikirkan bagaimana cara penyampaian yang benar tentang Islam, tentunya itu akan membuat otak ku tidak terlalu fokus memikirkan Louis, suami ku yang tengah pulang kampung dan hilang tanpa kabar selama hampir 3 hari ini, atau sudah 3 hari dia tidak menghubungi ku


'se sibuk apa coba sampai lupa udah punya istri, setidaknya telfon kek, text kek, apa kek' entahlah memikirkan itu hanya akan membuat rambut ku rontok semakin banyak, setidaknya dia meninggalkan dua kartu ATM dengan nominal yang bisa membeli rumah tipe A di perumahan mewah dan juga dengan mobil Lexus impian ku sebagai pelengkap, aku hampir saja menjatuhkan bola mata ku saat melihat banyaknya jumlah angka yang berbaris menunjukkan nominal saldo yang mengisi dua kartu itu


aku tidak tau sekaya apa Louis hingga dengan mudah meninggalkan kartu itu di atas meja kamar


dan aku berencana jika Louis tak kunjung pulang hingga akhir pekan, aku akan mengosongkan isi dua ATM itu untuk ku serahkan pada pihak properti, setidaknya jika Louis berencana tidak pulang, aku masih punya rumah dan juga mobil sebagai jaminan, biar ku buat rumah itu sebagai rumah pembinaan untuk anak-anak tidak mampu atau ku wakafkan saja sekalian, lumayan buat nambah-nambah pahala


memikirkan itu membuat mata ku kering seketika, ingin nangis saja rasanya


sampai di rumah aku mencoba menyibukkan diri dengan menemani ibu mencoba menu baru untuk menghilangkan bayang-bayang Louis yang selalu menghadirkan rasa jengkel dan niat tidak baik untuk mengosongkan isi dua kartu ATM miliknya


jurus ini lumayan ampuh memang, tapi tidak, sampai aku memasuki kamar menjelang waktu istirahat, perasaan gelisah itu kembali muncul, bayang kan tiga hari tanpa kabar.....? apa dia bercanda atau bagaimana....?


biar ku adukan saja kelakuannya pada Allah


tanpa sadar mata ku yang mulai berat berangsur-angsur terpejam, melupakan setiap beban yang di pikul benak, melupakan setiap masalah yang tercipta baik di sengaja atupun tidak, termasuk masalah tentang Louis


********


aku terbangun dengan perasaan lebih segar setelah tadi malam menghabiskan beberapa menit untuk mencurahkan segala kegelisahan yang merongrong hati dan ketenangan ku, apa lagi yang bisa ku lakukan selain mengadu pada Allah tentang kegelisahan ku, karena hanya Allah yang tidak akan mengkhianati ku dan sudah barang tentu mampu memberikan solusi terbaik dalam setiap masalah yang ku hadapi, coba kalau aku curhatnya pada manusia, bisa jadi itu rahasia hati sudah menyebar kemana-mana


aku melihat sekeliling ku dengan penuh selidik, aku merasa ada yang aneh dengan penataan kamarku, tangan ku merambat mengambil benda pipih canggih dan multifungsi aku tidak hanya bisa mengetahui waktu dari benda itu tapi aku juga bisa menyalakan penerangan, disini gelap dan aku butuh senter, tentu saja aku tidak tau dimana benda itu berada, dan HP adalah solusi terbaik, cahaya yang terpancar dari layarnya membuat ku samar-sama mampu melihat kondisi kamar yang semula gelap, masih kurang puas dengan pencahayaan yang minim aku beranjak mencari saklar lampu, dan saat aku menyalakannya aku bisa mengenali dengan pasti jika saat ini aku bukan berada di kamar ku


'ini dimana....?' aku kembali mengedarkan pandangan meneliti setiap benda yang berada di ruangan ini, kamar yang cukup luas, dan furniture yang lengkap, mewah tentu saja, tapi atapnya sedikit aneh seperti atap di dalam cabin pesawat dengan jendela yang berderet rapi di samping kanan kirinya


'apa aku sedang berada di atas pesawat.....?'


'tidak mungkin kan aku di culik.....?'


'apa aku sedang bermimpi....?'


pertanyaan itu berputar dalam benak, walau pertanyaan terakhir membuat ku sedikit sangsi, karena aku yakin aku baru saja selesai membaca do'a bangun tidur, apa di dalam mimpi orang masih sempat berdo'a.....? sepertinya tidak


"jadi apakah aku di culik.....?"


aku menelan ludah dengan keras saat benak ku memberikan sinyal bahaya, tidak lucukan kalau aku sampai diculik, niat benget lagi penculiknya jika harus sampa menggunakan fasilitas semewah ini hanya untuk menculik seseorang


mata ku mengedar dengan penuh waspada, meneliti setiap celah yang ada dalam ruanga ini, bahkan saat ini tangan ku dengan gemetar mencoba meraih vas bunga yang terletak dimeja kecil di samping tempat tidur, aku menggenggamnya dengan erat, untuk jaga-jaga, walau bagaimanapun aku harus tetap punya senjata, setidaknya tidak menghadapi siapapun di luar sana dengan tangan kosong, walau aku bisa bela diri, tapi bukan berarti aku bisa menghadapi siapapun diluar sana dengan mudah, dan masalah terbesarnya saat ini sepertinya aku sedang berada di dalam pesawat yang tengah mengudara


"ini turunnya bagaimana.....?" aku sudah hampir menangis mengetahui fakta yang satu itu, lagian kalau lah seandainya aku cukup hebat bisa mengalahkan mereka yang ada di luar sana, tapi bagaimana dengan fakta bahwa aku sama sekali tidak tau bagaimana cara mengemudikan pesawat, ini namanya, selamat tidak selamat endingnya tetap tidak bisa sampai di rumah juga


Astaghfirullah


aku mencoba menenangkan diri sebelum beranjak keluar kamar dengan hati-hati dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara


pesawat ini cukup sepi, aku bahkan tidak menemukan seorang pun disini termasuk awak kabin nya, kosong!


"hanya aku kah disini.....?" aku bertanya pada diri ku sendiri, jelas saja tidak ada orang yang bisa ku ajak berbicara disini


aku melangkah lebih jauh, ke ruangan yang ku perkirakan ini adalah ruang pertemuan....? ruang bersantai.....? tidak mungkin kan ini ruang tamu....? mana ada pesawat punya ruang tamu


aku memicing dengan penuh waspada pada bayangan laki-laki yang tengah duduk di sofa dengan banyak berkas di depannya, tangannya sibuk mengetikkan sesuatu pada laptop yang berada di pangkuannya, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas


siapa dia....?


aku mendekat dengan langkah ringan berharap dia tidak akan menyadari keberadaan ku, tangan ku semakin erat menggenggam vas bunga yang tadi ku ambil dari kamar, aku sudah bersiap saat jarak kami sudah sangat dekat, tangan kanan ku bahkan sudah mengangkat vas bunga itu tinggi, siap menghantamkan vas itu tepat di kepalanya, jika dia macam-macam tentu saja, sedangkan tangan kiri ku terulur menyentuh pundaknya


"hi, Thaha"