Thaha

Thaha
Kisah Louis



"tentang bagaimana aku bisa mengenal Islam"


akhirnya tanpa aku yang meminta lebih dulu, Louis dengan senang hati mau berbagi kisa itu, Alhamdulillah


"boleh"


...***🦀***...


...*...


...*...


...*...


"ehem....ehem....ehem"


Louis membersihkan tenggorokannya sebelum memulai


"Masya Allah bagus ceritanya, hihihihi"


aku menatapnya dengan mata berbinar yang di buat-buat


"belum mulai, jadi cerita tidak....?"


Louis menatap ku dengan ekspresi datar seperti biasa, tapi aku cukup tau bahwa saat ini dia sedikit gemas dengan tingkah ku


"ya maaf, soalnya dari tadi tes suara terus, nggak mulai-mulai"


aku menekuk bibir ku untuk menunjukkan wajah cemberut dengan suara pelan bahkan tangan ku dengan tanpa sadar tengah menjadikan jari-jari Louis sebagai mainan baru


aku sangat sadar jika sejatinya hal itu sudah tidak cocok dengan usia ku saat ini


tapi tidak ada salahnya kan bermanja-manja dengan suami....?


bahkan Islam sendiri menganjurkan untuk itu


aku pernah membaca sebuah penelitian yang mengatakan jika laki-laki lebih suka saat istrinya berbicara dengan nada manja, karena hal itu dapat memunculkan refleks alami untuk suami berkeinginan memanjakan istri dan melindunginya


tidak ada salahnya di coba, lagi pula Zu dengan Louis kan sudah jadi pasangan halal dong, yang masih jomblo tahan nafas dulu


Louis kembali mengeratkan dekapannya yang melingkari kepala ku dan dengan jail Louis mencubit hidung ku dengan pelan


"ok, aku mulai ni,.....jadi dulu waktu ulang tahun ku yang ke-18 Daddy memberi ku hadiah salah satu anak perusahaannya yang berada di Indonesia, aku mencoba untuk mempelajari tentang perusahaan itu juga tentang Indonesia, hingga sampai pada titik dimana aku sudah mulai tertarik dengan Indonesia dan meminta pada Daddy untuk di izinkan pindah dan menetap di sana"


"di usia 18...? memangnya boleh sama Mommy....?"


aku tidak bermaksud untuk menyela ceritanya, aku bertanya karena memang Louis tengah memberi jeda sebelum melanjutkan


dia menatap kearah ku, mungkin ingin memastikan jika aku masih mendengarkan kisahnya atau hanya ingin memastikan sesuatu yang lain...?


"awalnya tidak, tapi aku berusaha meyakinkan Mommy jika aku bisa hidup mandiri di Indonesia, Mommy membolehkan asalkan aku setuju untuk pulang ke Itali satu Minggu sekali"


"satu Minggu sekali....? apa tidak capek...? Italia-Indonesia, itu butuh waktu yang lumayan lama"


aku sedikit kaget dengan syarat yang harus dipenuhi oleh Louis agar di izinkan menetap di Indonesia, satu Minggu sekali....? yang benar saja, Italia-Indonesia.....? pinggang ku bisa lepas!


"mau bagaimana lagi, bahkan dari saking niatnya, Mommy sampai meminta pada Daddy untuk di siapkan private jet"


orang kaya memang selalu sukses membuat ku geleng-geleng kepala


sekarang aku sudah tidak heran bagaimana aku bisa berakhir di dalam private jet saat pertama kali terbangun di malam saat Louis menculik ku waktu itu


bayangkan!!, dari SMA sudah menikmati private jet untuk PP (Pulang Pergi) Italia-Indonesia, kurang gila apa lagi coba....?


aku....?


SMA....?


jalan kaki!!!


ibu bahkan tidak membolehkan aku mengayuh sepeda untuk berangkat ke sekolah, beruntung jaraknya tidak terlalu jauh, dan yang membuat ku lebih bersyukur lagi karena Kak Abyan selalu siap sedia menjadi bodyguard yang diberi mandat oleh Rama untuk menjaga ku


setelah kak Abyan lulus saat aku sudah mulai masuk kelas dua, tugas mulia itu pindah tangan kepada adik tercinta ku, Absyar. yang saat itu masih SMP


"ok, private jet-nya di skip boleh....? terus....terus..."


aku masih penasaran dengan ceritanya, bukan tentang fasilitas yang Daddy siapkan untuk Louis, karena kalau cerita tentang itu, aku yakin tidak akan selesai-selesai


"itu juga termasuk loh!"


"eh...eh, ini bukan makanan, Zu lapar....?"


aku dapat merasakan pundaknya yang bergetar karena menahan tawa, entah sejak kapan sifat jail-nya mulai sering muncul akhir-akhir ini, walau ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali. datar!


"ih, Zu gigit beneran nih!"


aku kembali mengangkat tangannya lebih tinggi dengan susah payah


"nih"


melihat aku yang kepayahan Louis malah mendekatkan lengannya tepat di depan bibir ku


dengan cepat aku menggigitnya dengan bibir ku dan menyembunyikan gigi ku di balik bibir agar tidak menyakiti tangan Louis


"sudah...?"


dengan lembut Louis memberi kecupan dan sapuan lembut di pucuk kepala ku


"belum, nyicil dulu, nanti kalau marah lagi, Zu gigit lagi, sekarang lanjut dulu ceritanya"


"dicicil...? kayak apa aja di cicil"


"ok lanjut, setelah di Indonesia Deddy menempatkan aku di sekolah internasional yang mungkin sudah Zu tau jika anak inter kebanyakan adalah orang luar, atau mix"


"di antara banyaknya anak luar negri yang mayoritas dari mereka agamanya sudah pasti bukan Islam, ya walaupun ada juga yang Islam tapi tidak banyak, dan entah takdir atau bagaimana, ada satu anak yang cukup berbeda dari kami, dia anak yang baik, ceria dan juga alim dalam ilmu agama, entah bagaimana bisa dia kesasar sampai di sekolahan kami...?"


"dia cerdas, ketua kelas yang bertanggung jawab, dia satu-satunya anak cowok yang tidak pernah minum dan merokok, jomblo abadi yang anti dekat dengan perempuan kecuali masalah pelajaran saja"


"terus bagaimana teman-teman di sekolahnya memperlakukan dia....? dia di bully.....?"


aku bertanya di sela-sela ceritanya saat Louis memberi jeda


"tidak, tidak ada adegan pembullyan seperti itu, kami terlalu sibuk dengan nilai-nilai dan tugas kami, jadi untuk melakukan hal itu kami tidak punya waktu"


"awalnya aku tidak peduli dengan anak itu, hingga ada satu kejadian yang membuat ku penasaran dan mendekati anak itu"


"hihihi"


aku tertawa lirih saat mendengar kalimat terakhirnya, bukan kerena apa, tapi di telinga ku itu terdengar ganjil, seorang Louis mendekati orang lain lebih dulu....? Masya Allah sekali pasti orang ini


"malah ketawa, jadi lanjut nggak ceritanya...?"


"jadi, kejadian apa...?, terus.... terus....."


"nabrak Zu, kalau keterusan "


"maaf, hihihi"


aku mendongakkan kepala ku untuk melabuhkan satu kecupan ringan pada tempat yang terjangkau bibir ku


bibir ku mendarat di dagunya karena tidak bisa menggapai pipinya yang berada di atas kepala ku


"waktu itu tepat hari Jum'at di minggu pertama anak itu pindah ke sekolah ku, kita tengah belajar seperti biasa saat itu, tepat waktu jam istirahat ke dua, aku melihatnya keluar gerbang, padahal ada aturan khusus yang tidak memperbolehkan para siswa meninggalkan sekolah sebelum jam pembelajaran berakhir, pihak sekolah bahkan menyewa beberapa penjaga khusus untuk menjaga gerbang, entah bagaimana bisa dia mendapat izin untuk keluar gerbang saat itu"


"kali pertama aku masih abai, hingga kejadian itu berlanjut setiap Jum'at, bahkan dia sering terlambat waktu pembelajaran berikutnya setelah istirahat dan itu sukses membuat ku makin penasaran"


"akhirnya aku mencoba untuk bertanya tentang itu dan dia mulai menjelaskan, jika dia seorang Muslim dan tentang kewajibannya untuk sholat Jum'at dan dari situ aku mulai penasaran juga dengan Islam"


"karena semakin aku mengenal anak ini, aku semakin menyadari jika dia punya kepribadian dan sifat yang unik, dan anehnya semua sikap dan sifatnya bukan karena keinginan nafsunya, tapi kerena dia mencoba melaksanakan perintah agamanya dengan semampunya"


"dia tidak pacaran di saat banyak teman-teman kita yang pada pamer gebetan, itu masih wajar karena aku juga tidak pacaran, hanya alasan kami berbeda, dia karena ta'a, sedangkan aku karena malas, ribet"


"dia tidak minum alkohol di saat sekolah selalu mengadakan pesta yang sering kali di adakan di tempat, Zu tau lah tempat apa..?, dan alkohol adalah minuman wajibnya, dia absen, aku juga, walau dengan alasan yang berbeda, dia karena ta'at, sedangkan aku, karena tidak suka pesta dan keramaian"


"bahkan hampir semua rasa suka dan bencinya karena keta'atannya pada Allah, sedangkan aku...? sudah pasti karena sesuai mood dan keinginan ku secara pribadi"


"rasa penasaran itu semakin lama semakin besar, hingga aku sedikit demi sedikit mempelajari Islam, dan yang membuat ku semakin kagum saat dia mengatakan jika ingin mempelajari Islam harus menggunakan akal, sedangkan yang aku tau selama ini, tidak ada agama yang masuk akal, jadi aku sempat tidak memiliki agama apapun sebelum masuk Islam dan aku penggemar berat teori 'semua hal di dunia ini adalah materi, dan yang terjadi adalah perubahan dari satu materi menjadi materi yang lain', salah satu teori dalam penelitian ilmiah, Zu taukan...?"


aku mengangguk mengiyakan


"hingga akhirnya dia menjelaskan segala sesuatunya dengan gamblang, bagaimana kita harus mencari keberadaan dan kebenaran Allah melalui akal, kerasulan Nabi Muhammad, hingga Al-Qur'an sebagai Kalamullah pun coba dia jabarkan melalui penjelasan yang sangat masuk akal"


"dan yang paling membuat ku tertantang saat dia memberi ku pertanyaan di setiap diskusi yang kami lakukan, seperti, darimana kita berasal.....?, untuk apa kita hidup di dunia ini.....?, dan apa yang terjadi saat kita sudah mati nanti"


"terus, Hubby jawabnya apa....? Zu penasaran"


...~TBC~...