Thaha

Thaha
Rindu



Malam datang menghadirkan gelap dan sunyi, gemerlap redup dari rembulan tak mampu menggantikan cahaya sang mentari yang telah bersarang di peraduan, malam ini terasa lebih gelap dari malam sebelumnya, bahkan sunyi-nya malam seakan makin mencekam tanpa kehadiran Louis, sudah sejak sore tadi aku mencoba menghubunginya, tapi tak satupun dari sekian banyak panggilan ku yang ia jawab, bahkan texts ku tak satupun yang ia baca


"sesibuk itu kah.....?" aku bergumam lirih, mencoba menguatkan hati, dan menepis segala pemikiran buruk yang lalu lalang dalam benak ku


aku berdiri mendekat pada jendela depan di ruang tamu yang terbuka, menghantarkan angin malam yang bertiup lembut, dinginnya angin malam tak membuat ku berpaling dari gerbang rumah yang tertutup rapat


aku masih berharap bisa melihatnya pulang, ibu tak memberi tahu ku kemana perginya Louis dan apa yang dia lakukan diluar sana, bahkan dia tidak sempat berpamitan pada ku dan membiarkan ku tertidur pulas tanpa tau apa-apa, apa yang membuatnya seterburu-buru itu hingga tidak sempat menungguku untuk terbangun.....? bukan kah Louis mengatakan jika hari ini dia sedang off kerja


perasaan khawatir yang bercokol di dalam dada bukan sesuatu yang ku suka, aku juga tida suka mengetahui fakta jika saat ini aku tidak tau apakah Louis sudah baik-baik saja atau masih merasa resah seperti tadi siang.....?


apa sebenarnya yang tengah Louis lakukan diluar sana.....?


apakah dia baik-baik saja....?


apakah di sudah menyantap makan malamnya....?


banyak pertanyaan melintas di benak ku dan tak satupun dari pertanyaan itu yang terjawab, bahkan angin malam pun seakan membisu ikut merahasiakan apa yang tengah dilakukan oleh Louis di luar sana


entah mengapa aku sedikit resah malam ini, jika hari-hari sebelumnya Louis sering pulang larut aku akan baik-baik saja dengan hal itu, karena setidaknya Louis memberitahu ku lebih dulu, dan aku juga tahu bahwa dia baik-baik saja


"Zu, sudah malam, tidak baik terlalu lama terkena angin malam" ibu datang menghampiri ku yang saat ini masih berada di balik jendela yang terbuka


"Louis belum pulang Bu" aku memberikan senyum tipis pada ibu, aku tidak ingin ibu merasakan kegelisahan yang tengah menggenggam erat benak ku


"eeemm, tadi katanya mau telfon Louis...? Zu belum telfon......?" ibu bertanya dengan lembut, tangan hangatnya menyentuh tangan ku yang dingin dan memberinya sapuan hangat, aku tau ibu sedang mencoba menghalau rasa dingin yang menari-nari di atas telapak tangan ku yang tak tertutup


"belum di angkat, ibu kasih tau Zu, Louis kemana boleh....?" aku merayu dengan nada manja seperti yang biasa aku lakukan saat aku menginginkan sesuatu, dan jangan lupakan puppy eyes andalan ku


"ibu sebenarnya tidak mau memberi tau Zu, biar Zu tanya langsung pada Louis, tapi sepertinya Louis memang sedang sibuk, bahkan telfon istri tidak sempat untuk di angkat" ibu malah menggodaku dengan menekan kalimat terakhirnya


ini ceritanya ibu lagi nyindir Zu atau bagaimana.....?


"dah, ayo masuk, Louis tidak akan pulang malam ini, dia tadi izin berangkat ke Italia" mendengar perkataan ibu membuat ku sedikit kaget dan juga sedikit lega, kaget karena bisa-bisanya Louis pulang kampung tapi tidak bilang-bilang, tapi aku juga lega mengetahui fakta jika saat ini Louis berada dekat dengan Mommy dan Daddy


"oh, pulang kampung ternyata, kenapa ibu tidak bilangnya dari tadi sih, kan sayang rasa khawatirnya terbuang percuma" aku melakukan sedikit protes terhadap ibu karena sudah tega membiarkan ku khawatir sejak sore tadi


"makanya, kalau suami tidak di rumah, jangan menggalau ria, tapi banyak berdo'a jangan lupa titipkan suami pada Allah, dan yakin jika Allah yang akan menjaganya, tawakal ala Allah" inilah hebatnya ibu, dia bisa berubah menjadi apa saja sesuai dengan kebutuhan anak, bahkan ibuku bisa menjadi seorang counselor hebat yang mampu menyelesaikan masalah ku, dan yang lebih bagus lagi aku mendapatkan konseling secara gratis


dari ibu aku banyak belajar, jika menjadi seorang ibu tidaklah mudah, dan seorang ibu juga di tuntut untuk menjadi wanita cerdas yang harus mampu menyelesaikan setiap masalah yang ada di dalam rumah tangganya, mampu menghadirkan solusi dari setiap permasalahan anak yang pastinya akan sangat beragam, mengurusi setiap keperluan dalam rumah tangga, memastikan suasana rumah tetap nyaman bagi semua anggota keluarga, tak heran menjadi seorang ibu adalah pekerjaan yang paling mulia di dalam Islam, dan pahalanya juga sangat besar disisi Allah, jadi akan sangat di sayangkan jika peran vital dan tugas utama bagai seorang ibu ini malah di gantikan oleh baby sitter atau yang lainnya


"Astaghfirullah, ia Bu, In sya Allah Zu akan ingat slalu pesan ibu" aku tersenyum dengan penuh rasa syukur, hati ku berangsur-angsur tenang, kegelisahan yang mencengkram benak ku perlahan mulai terlepas


kadang kita melupakan poin yang sangat penting saat di hadapkan dengan maslah, lupa jika kita memiliki Allah tempat kita bergantung, Allah tempat kita meminta pertolongan, dan harusnya harus kepada Allah-lah kita berserah diri


aku kembali ke kamar dengan perasaan yang lebih tenang, walau perasaan sepi dan sunyi itu masih berkeliaran dengan bebas, bagaimana mungkin tidak terasa sepi dan sunyi, biasanya selama dua Minggu terakhir akan ada Louis yang menemaniku bercengkrama sekarang aku harus kembali pada kebiasaan sebelumnya, membaca buku, walau hal itu adalah kegiatan yang ku suka, tapi saat bersama Louis aku lebih suka menghabiskan waktu bersamanya melakukan hal baru bukanlah sesuatu yang buruk untuk di lakukan, asalkan hal yang kita lakukan tidak melanggar syariat dan tidak mendatangkan kemurkaan Allah, dan akan lebih bagus lagi jika hal baru yang kita lakukan akan mendatangkan pahala dan cinta Allah


sekali lagi aku melirik pada benda pipih canggih yang selalu menemani ku, tapi yang ku temukan hanya layar gelap yang sunyi


'sepertinya dia memang sedang sangat sibuk, atau dia lupa sudah punya istri cantik yang ia tinggalkan di rumah....?'


aku membuah nafas lelah, saat pertanyaan itu kembali melintas dalam benak


sudahlah, lebih baik ngaji dulu


tak ingin bergelung dengan rindu yang semakin lama semakin meresahkan, aku beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu, daripada ku habiskan sisa malam hanya untuk berdiam diri, termenung merindukan Louis dan menghabiskan sisa malam dengan percuma, lebih baik ku habiskan malam dengan mendekat kepada Allah


lebih baik aku merayu pada Allah dan bercengkrama dalam do'a dan dzikir yang ku munajatkan padanya, karena hanya dengan melakukan itu rindu ku akan sampai pada Louis dan waktu ku akan lebih bermakna


lest get wudhu dan read Al-Qur'an