Thaha

Thaha
Elio is a Baby 2



...~**🐥**~...


...**...


...*...


aku membawa Elio masuk kedalam kamar, dan membawanya untuk duduk di tengah tempat tidur dimana aku meninggalkan telfon genggam ku sebelumnya


dan disana masih menampilkan gambaran Louis yang tengah berkutat dengan beberapa kertas dan laptop miliknya


saat mendengar suara tangis Elio, atensi Louis berganti, menghentikan acara mengetiknya dan meletakkan laptop yang berada dalam pangkuannya di atas meja, dan kini berganti meminta perhatian Elio


"hi, Baby....., what happen.....? why you crying....?"


(hi, baby....., ada apa....? kenapa menangis....?)


aku meninggalkan Elio bersama Louis sebentar untuk melepas jilbab dan Khimar yang ternyata masih ku pakai, aku lupa untuk melepasnya.


"Mommy...."


Elio kembali memanggil,masih dengan tangisnya yang belum selesai walau tak sekeras tadi saat di ruang keluarga


"sebentar sayang Mommy lepas Khimar dulu"


Elio menatap ku dengan tatapan protesnya, dia selalu memberi tatapan seperti itu setiap kali melihat ku hanya menggunakan mihna. mungkin Elio belum terbiasa melihat ku tanpa Khimar.


aku kembali duduk di tengah kasur dengan Elio yang kini berpindah duduk di atas pangkuan ku, kepalanya ia rebahkan bersandar pada tubuh ku sepenuhnya


tangan ku mengambil HP yang masih tergeletak di atas kasur dan mengarahkannya pada Elio


"Elio, can you tell Daddy what happen.....? if you tell Daddy, Daddy Will give you what do you want.... ok....?"


(Elio, bisakah Elio memberitahukan kepada Daddy apa yang terjadi....? jika Elio memberitahu Daddy, Daddy akan memberikan apa yang Elio mau...ok...?)


"Bi, Elio kenapa....?" Louis mengalihkan pertanyaannya pada ku saat tak mendapat jawaban dari Elio yang masih setia sesegukan


"Daddy nya di cuekin" aku mencibir pada Louis


"kita juga bingung, dia sudah nangis saat sampai rumah, ibu sama Absyar sampai bingung, apa Elio kangen Elisa kali ya....?" aku mencoba menebak takutnya Elio memang tengah merindukan ibunya


bukankah dia baru saja melihat mbak Diaz dan bayinya.....?


"sebentar......"


"By, aku sudah lepas khimar, jangan panggilan video, panggilan telepon bisa saja" aku tak mungkin menerima panggilan video saat ini, tidak lucu jika Louis menghubungi Luca, atau Elisa dengan kondisi ku yang hanya menggunakan pakaian rumah


bukannya apa, karena pada dasarnya Islam memandang jika saudara ipar bukanlah mahram kita, jadi mereka tidak boleh melihat pada aurat yang seharusnya hanya boleh dilihat oleh mahram kita saja


tak berapa lama Louis mematikan sambungan video dan menggantinya dengan telfon biasa, setelahnya baru Louis menyambungkan panggilan untuk menggabungkan dengan Elisa dan Luca


"hi, Zu" Luca menyapa lebih dulu


" hi, Zuuu, oh my God, what happen, did Elio cry....?"


(hi Zu, ya tuhan, ada apa....? apakah Elio menangis....?)


fokus Elisa langsung tertuju pada suara Elio yang hanya menyisakan tangisan lemah


"baby, do you miss big Mommy.....? say hi to big Mommy, i don't know, we don't know, he crying after visiting my cousin "


(baby, apakah kamu merindukan big Mommy...? sapa big Mommy, aku tidak tau, lebih tepatnya kami tidak tau, Elio menangis setelah mengunjungi sepupuku)


"what happen with your cousin...?"


(ada apa dengan sepupu mu)


"My cousin just gave birth this morning....?" (sepupuku baru melahirkan tadi pagi)


"Elio, do you want to have a little brother...?"


(Elio, apakah Elio ingin seorang adik....?)


kali ini Luca yang bertanya


saat mendengar pertanyaan dari Luca aku merasakan perasaan yang tidak mengenakkan muncul di hati ku, perasaan kehilangan itu kembali muncul dan ingatan buruk itu kembali muncul tanpa bisa ku cegah


walau aku berusaha untuk membendungnya, tapi perasaan tidak mengenakkan itu tidak bisa ku tepis begitu saja, aku bahkan belum berani menanyakan bagaimana kondisi calon bayi ku yang sudah lebih dulu berpulang


tangan ku dengan spontan memeluk Elio, mencoba menenangkan dan menghibur diri agar tidak terlalu larut dalam kesedihan


"Luc!" suara Louis terdengar memperingatkan


"sorry, i don't mind it..." (maaf, aku tidak bermaksud)


suara Luca terdengar menyesal


"it's ok, I know " ( tak apa, aku tahu)


bagaimanapun juga aku tidak pernah berfikir jika Luca mengatakan hal itu dengan maksud sengaja, Luca hanya ingin menanyakan apa yang Elio inginkan, mungkin ibu dan Absyar juga akan berfikiran yang sama dengan Luca. hanya saja mereka lebih memilih untuk tidak mengatakannya karena takut aku akan bersedih saat mendengar pertanyaan itu


"noooo, I'm still a Baby....I don't want brother, Ndak'o Mommy, nooo"


(tidak, aku masih bayi, aku tidak ingin saudara)


Elio menolak dengan tangis yang kembali menggema


"oe oe, ok, ok... Elio still a Baby, don't cry....ok?" (iya Elio masih bayi, jangan menangis ok?)


aku kembali mencoba menenangkan Elio, entah apa yang dia inginkan bahkan Elisa sampai menanyakan banyak hal dan Luca sampai menawarkan untuk menjemput Elio, yang sudah tentu langsung di sambut dengan teriakan Elio, hingga akhirnya pernyataan Louis membuat Elio terdiam beberapa saat dan mencoba untuk menahan tangisnya


(Elio, jika Elio tidak ingin bersama Mommy di Indonesia, Daddy akan meminta Sam untuk membawa Elio kembali ke Italia, Elio masih amu bersama Mommy atau tidak....?)


kali ini Louis berbicara dengan nada tegasnya yang terdengar dingin, jangankan Elio aku saja sampai di buat merinding saat mendengarnya


"so, would you tell us baby....?"


(jadi maukah Elio memberitahukan pada kami...?)


suara Elisa terdengar lembut dari sebrang sana, itu sedikit meredakan


"it's ok, don't tell us then, you can tell us if you ready, it's late, time to sleep"


(tidak apa, jangan beritahu kalau begitu, Elio bisa memberitahu kami jika Elio sudah siap, ini sudah malam, waktunya untuk tidur)


suara Luca terdengar seperti perintah yang mutlak, mungkin itu tidak hanya di tujukan pada Elio tapi juga pada kami


tapi saat Luca akan mengucapkan selamat tidur dan menutup telfon suara Elio terdengar malu-malu, tapi aku cukup yakin jika mereka dapat mendengarnya


Elio yang semula menyembunyikan wajahnya perlahan mendekat pada telfon genggam yang masih ku arahkan menghadap Elio


"Daddys,......"


semua diam menunggu apa kiranya yang akan Elio sampaikan


"Deddy....." Elio kembali memanggil mungkin untuk memastikan


"yes, Baby..." terdengar suar Luca yang menjawab dari sebrang


"Elio still Baby right....?" (Elio masih bayi kan......?)


Elio berkata dengan pelan, tapi aku yakin mereka bisa mendengar, terbukti dengan adanya jawaban dari Elisa


"yup, Elio Will always be our Baby, always"


(yeah, Elio akan selalu menjadi bayi kami, selalu)


"Daddy, can I have my milk....? Mommy can I....?"


(Daddy, bisakah Elio mendapatkan susu Elio.....? Mommy apa boleh....?)


aku terdiam beberapa saat mencoba mencerna pertanyaan Elio, bukankah tadi Elio sudah di tawari susu miliknya, yang dia tolak tadi....?


"Elio mau minum susu, mau....?" aku mencoba menanyakan kembali yang mendapat anggukan semangat dari Elio


dengan cepat tangan ku yang tidak memegang HP mengambil susu botol yang suda di buatkan oleh ibu


"ini" aku mencoba mendekatkan botol susu itu pada bibir Elio


dan anehnya malah di tepis oleh Elio, den sekarang botol itu menggelinding sampai di ujung tempat tidur


astagfirullah, sabar, sabar


"sayang, nggak boleh marah-marah, calm down, can you tell me what do you want...?"


ok, baiklah sekarang aku sudah mulai bingung, otak ku sudah mulai lelah, belum lagi kondisi mata yang tengah melawan kantuk. dan bayi gembul ku masih menangis dan serba salah


"Elio!" kali ini Luca yang memperingatkan Elio dengan nadanya yang sama dinginnya dengan nada yang di pakai Louis sebelumnya


bicara soal Louis, kemana perginya dia....? sambungan masih tetap terhubung, tapi terdengar sunyi tanpa suara. mungkin Louis tengah mencoba menjadi penonton yang baik


"no, Mommy, not that one, Ndak'o Mommy Ndak'o" tangis Elio kembali menggelegar, membuat ku sekali lagi harus meningkatkan tingkat level kesabaran ku


banyak orang bilang jika kesabaran seseorang itu ada batasnya, tapi jika orang tersebut mencoba untuk tetap bertahan, adakah batas dari kesabaran.....?


eeemmm, aku juga penasaran


"this Mommy......this!" tangan Elio menepuk dada ku dengan cukup kuat dan mencoba untuk menarik kancing baju ku


"eh, jangan di tarik" aku dengan cepat menahan tangan Elio yang hampir membuat kancing baju bagian atas ku terlepas, yang benar saja.....?


mihna yang ku gunakan saat ini adalah baju tidur lengan panjang yang senada dengan warna celananya, entah siapa yang memasukkannya kedalam lemari pakaian yang katanya milik ku



"Albi, apa yang Elio mau....?" suara Louis terdengar dari balik sambungan


aku bingung mau bilang apa, mau jawab jujur malu, tidak ku jawab takut tidak sopa, tapi ini Elio juga ada-ada saja, mana bisa.....?


apa Elio tadi melihat saat bayi mbak Diaz tengah menyusu.....?


lagi ada-ada, mana bisa aku memproduksi ASI....?


"eemmm, Elio mau....itu...., minum susu" aku berkata dengan terbata-bata antara bingung dan juga malu, pasalnya ada Luca dan Elisa juga yang masih mendengarkan


"eeemmm, by, nanti ku telfon lagi, sekarang aku mau bujuk Elio dulu, good night everyone, Assalamualaikum Hubby" aku dengan cepat mematikan sambungan telfon ku Tampa lagi menunggu balasan dari mereka


sekarang fokus ku tengah beralih pada Elio yang masih mencoba membuka kancing bajuku dan menepuk dada ku dengan bibir yang terus berucap " this Mommy, this!" dan jangan lupakan musik pengiringnya yang masih terus mengalun.


heran juga dengan tangis Elio yang sangat awet, walau air matanya sudah tak lagi menetes


"ya Allah, kuatkan hamba" aku berdo'a agar Allah memberi ku stok kesabaran lebih banyak untuk malam ini


...~**TBC**~...


...**...


...*...