
dia meninggalkan ku tanpa mengatakan sepatah katapun
aku tak lagi mampu membendung tangis ku yang sejak tadi ku tahan, tubuh ku berguncang hebat dan tangis itu pecah memenuhi ruangan yang semula sepi dan semakin ramai saat tangis Elio juga saling bersautan dengan tangis ku yang menggema lirih
"Mommy"
"Daddy"
...******...
...*...
...*...
...*...
mendengar tangis Elio yang juga menggema membuat ku berusaha keras untuk menenangkan tubuh ku yang berguncang hebat, aku takut dia juga merasakan kegelisahan yang aku rasakan, bukan kah anak kecil adalah mahluk yang paling sensitif....?
tangan ku dengan susah payah menghapus lelehan air mata yang membanjiri pipi ku dengan gerakan kaku dan terbatas
dengan tangan yang masih bergetar aku mencoba menenangkan Elio yang juga dengan keras kepala tidak ingin jauh dari ku, bahkan dia menepis dengan kasar tangan Elisa dan laki-laki yang mirip dengan Daddy saat hendak menggendongnya
tangan Mommy dengan lembut mengusap punggung ku yang masih berguncang lemah, sedangkan Daddy duduk di atas sofa dengan tangan yang memijat ujung hidungnya dengan lembut bersama Leo dan Leora
Leo sudah hendak mengejar Louis namun Daddy mencegahnya
"don't, let him alone"
Leo kembali duduk di samping Daddy setelah membuang nafas dengan keras
ruangan kembali tenang hingga malam kian berangsur menuju fajar, meninggalkan jajak kantuk yang mulai tampak di wajah si kembar
"go, to sleep" suara tegas Daddy memecah keheningan meminta Leo dan Leora untuk beristirahat lebih dulu
aku tersadar bahwa mereka merelakan tidurnya untuk menjaga ku di kamar ini
rasa syukur merambat memenuhi relung dada ku karena Allah memberikan keluarga yang begitu baik dan mau menjaga ku dalam kondisi terburuk dalam hidup ku, walau rasa sedih itu masih mencubit sudut hati ku
"Mommy tidak tidur....?"
aku bertanya pada Mommy yang masih duduk di samping tempat tidur
Alhamdulillaah, Elio sudah kembali tenang setelah aku menyandarkan kepalanya di dekat jantung ku, aku melakukan itu agar Elio bisa mendengar detak jantung ku yang mulai tenang, berharap dengan begitu Elio juga akan ikut tenang, dan Alhamdulillah, cara itu cukup efektif
aku yakin Mommy pasti lelah karena menjaga ku sepanjang malam, sama seperti halnya Leora dan Leo yang kini sudah terlelap di ranjang samping, satu ranjang berukuran besar dengan satu kasur yang bisa di tarik di bawahnya
kasur itu memang di khususkan untuk keluarga yang menjaga pasien
Leora tidur di ranjang atas sedangkan Leo tidur di kasur bawahnya
bahkan di kamar ini juga terdapat ranjang kecil khusus untuk tempat tidur anak, mungkin Mommy yang memesannya untuk Elio
"tidak apa, Mommy tidur setelah ini"
Mommy dengan senyum hangatnya mampu membuat ku tenang walau saat ini aku tengah jauh dari ibu dan Rama, mereka juga keluarga ku tentu saja!
"tidak apa, Mommy dan Daddy juga perlu istirahat, Elisa dan....."
aku menghentikan perkataan ku saat aku ingat jika aku tidak mengetahui namanya
"dia Luca kakak Louis, suami Elisa"
aku cukup kaget saat mendengar hal itu dari Mommy, bagaimana tidak, selama ini aku mengira jika Elisa adalah istri Louis.....?
"dia suami Elisa.....? Daddy-nya Elio....?"
aku bertanya pada Mommy untuk memastikan, mata ku dengan tanpa sadar melirik pada Elisa dan Luca untuk memastikan
senyum lebar yang membelah pipi Elisa sudah cukup memberi jawaban tanpa perlu untuk menyuarakannya lagi
ya Allah kesalahan apa yang telah ku perbuat.....?
bagaimana mungkin aku langsung menyimpulkan tanpa mengecek kembali kebenarannya, Astaghfirullah hal adzim
tapi bagaimana bisa Elio memanggil Louis dengan sebutan Daddy....?
"iya, dia Daddy-nya Elio"
anggukan Mommy semakin menguatkan perkataanya
perasaan bahagia yang membanjiri benak ku membuat ku tanpa sadar mengukir senyum, tanpa bisa ku bendung lagi otak ku langsung merancang cara terbaik bagaimana aku bisa meminta maaf kepada Louis dengan cara terbaik yang ku mampu dangan kondisi ku saat ini
dan bagaimana aku harus menarik kata-kata ku yang pasti cukup mengejutkan Louis saat di restoran waktu itu
Astaghfirullah, maafkan Zu ya Allah, baru kali ini aku bertindak gegabah seperti saat ini, langsung menarik kesimpulan padahal aku bahkan belum mencari tau kebenarannya.....?
cemburu yang berlebihan memang bukan hal yang baik!
"kenapa Zu tersenyum....?"
Mommy menatap ku dengan penuh tanda tanya, mungkin Mommy heran dengan perubahan raut wajah ku yang sangat drastis
baru beberapa saat lalu aku menangis dengan air mata yang menggenang, tapi sekarang....? aku malah tersenyum dengan sangat lebar sepeti tidak terjadi apa-apa beberapa saat lalu
perubahan mood yang luar biasa bukan.....? jangankan Mommy, aku sendiri saja cukup heran dengan tingkah ku
"tidak apa-apa Mom, sebaiknya Mommy dan Daddy istirahat sekarang, Elisa juga, Zu sudah tidak apa-apa, lagipula ada Nurse yang selalu terjaga jika Zu membutuhkan sesuatu"
aku tidak ingin mereka juga sakit jika harus begadang menjaga ku, mereka juga butuh istirahat cukup agar besok bisa kembali beraktifitas, aku tau mereka sudah cukup sibuk dengan segudang pekerjaan yang sudah menunggu untuk di selesaikan
"baiklah, biarkan Leora dan Leo yang menjaga Zu malam ini, Mommy akan menginap di hotel milik Luca, letaknya cukup dekat dengan rumah sakit ini, jika butuh apa-apa Zu minta Leora untuk menghubungi Mommy, ok"
Mommy berpesan sebelum menyetujui usulan ku untuk beristirahat, kakinya sudah hendak beranjak saat dia kembali mendekat dan membisikkan sesuatu yang membuat senyum ku semakin lebar
"Louis selalu menunggu Zu di luar, dia hanya tidak suka melihat keadaan Zu yang sedang sakit, percaya sama Mommy kalau Louis sangat menyayangi Zu"
Mommy mengedipkan sebelah matanya sebelum mendekat pada Daddy yang sudah membereskan beberapa barang di atas meja
aku hanya menunduk berusaha menyembunyikan rona merah yang mungkin sudah membayang di atas permukaan kulit pipih ku
Elisa datang mendekat untuk menggendong Elio yang tertidur dengan tangan yang membelit dada ku
tangan ku membantu Elisa untuk melepaskan belitan tangan Elio yang melingkari dada ku, namun sayangnya batita menggemaskan ini selalu menepis dan menggeliatkan tubuhnya bahkan dia merengek saat Elisa mencoba menjauhkan kepalanya dari dada ku
"tidak apa, biarkan dia tidur disini bersama ku alam ini, kasihan jika dia harus kembali menangis"
aku mengatakannya se-sopan dan lembut yang ku bisa, aku tak ingin Elisa memikirkan hal yang bukan-bukan, aku juga tak ingin Elisa merasa sakit hati saat melihat bagaimana sikap Elio saat ini yang sangat manja pada ku
"are you sure....? I'm just afraid that he will disturb you, you need some rest"
Elisa malah menatap ku dengan tatapan menyesal yang membuat ku tersenyum, bagaimana mungkin mahluk semanis Elio akan mengganggu ku, aku bahkan akan tidur dengan sangat nyenyak jika bersamanya
situasinya sudah tak sama, aku tak lagi merasakan cubitan di hati ku saat melihat Elio atau bahkan mungkin aku akan baik-baik saja saat Elio memanggil Louis dengan sebutan Daddy
lagipula Elio juga memanggil ku Mommy!
akhirnya mereka menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan Elio bersama ku dan si kembar yang sedang terlelap di kasur samping, tentu saja Louis yang saat ini juga sedang menunggu ku di balik pintu kamar ini
aku melirik pada jam yang menggantung di dinding kamar, walau aku sudah memperkirakan namun tetap saja aku merasa sedikit terkejut saat mengetahui jika saat ini jam sudah menunjukkan jam dua dini hari, waktu yang sangat tepat untuk bermunajat kepada Allah
tapi bagiamana caranya aku sholat....?
tentu Elio bukan menjadi persoalan, tapi bagaimana aku harus bertayammum...?
tangan ku cukup sulit untuk ku angkat, apalagi jika harus mengusap wajah dengan sempurna
dan selang infus yang menggantung di tangan kiri ku semakin memperburuk keadaan!
aku mencoba memikirkan cara yang memudahkan ku untuk bertayammum, namun aku harus mengurungkan niat ku saat pintu kamar berderak pelan
aku dengan spontan memejamkan mata, aku takut jika Louis melihat ku terbangun dia akan kembali berbalik dan meninggalkan ku lagi
tidak ada apapun yang kudengar saat pintu itu terbuka, jeda cukup panjang yang sangat mendebarkan itu menciptakan sunyi yang semakin membuat alat pendeteksi tanda vital ku menggema memenuhi ruangan
ingin rasanya aku membuka kelopak mata ku dan melihat langsung, apakah Louis masih ada di kamar ini atau kembali berbalik untuk menunggu di luar pintu....?
tuk....tuk....tuk.....
bunyi langkah pelan yang terdengar semakin mendekat menggelitik tulang-tulang pendengaran ku yang tengah mencuri dengar
derak bunyi kursi yang di geser mampu membuat jantung ku berpacu lebih kencang walau aku sudah mencoba mengontrolnya
aku berdo'a dalam hati berharap Elio tidak terbangun karena gemuruh detak jantung ku yang terlalu bersemangat, dan Louis tidak menyadari peningkatan irama jantung ku yang terpantau alat
sebuah sentuhan ringan menyapa kulit pipi ku yang dingin, tangan itu memberi sapuan lembut di sana, menghantarkan rasa nyaman yang menghadirkan senyuman tersembunyi dalam benak ku
"Assalamualaikum, Albi"
"maaf sudah membuat mu menangis tadi, aku juga minta maaf karena membuat mu terluka saat tengah bersama ku"
aku sangat mengenali suara ini, tentu saja!
ini suara milik Louis, kekasih halal ku
aku dapat merasakan tangan besarnya yang lain meraih tangan ku yang berada di atas punggung Elio,
masya Allah, jangan biarkan Louis menyadari jika aku masih terbangun, jangan sampai dia kembali kabur dan membatalkan niatnya untuk mengatakan sesuatu yang sepertinya sudah sejak tadi Louis tahan
"aku tidak bermaksud meninggalkan Zu seperti tadi, aku hanya terlalu marah saat melihat Zu harus terbaring lemah dan bagian terburuknya aku belum bisa menemukan siapa dalang dibalik penculikan Zu, maaf"
terdapat jeda yang sangat singkat sebelum Louis kembali memulai
"aku sudah mencoba menangkap orang yang menembak Zu, dia menyamar sebagai polisi, tapi dia sudah meninggal lebih dulu"
"bagaimana bisa aku membiarkan hal itu terjadi....? padahal aku sendiri yang meminta mereka untuk mencari Zu, bukankah aku cukup bodoh....?"
sedikit demi sedikit aku bisa memahami apa yang menyebabkan Louis menatap ku dengan tatapan seperti tadi
dia kecewa, kecewa karena gagal menjaga ku walau dia sudah mengusahakan semampunya
aku bisa memakluminya, panik dan kecewa membuatnya kalut, dia bahkan lupa bahwa ada kalanya manusia tidak bisa melampaui batas yang terbentang pada ranah takdir yang manusia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menerima
ada kadar dimana manusia bisa berusaha dan dengan usahanya dapat memperoleh hasil yang sesuai keinginannya
tapi ada pula kadar dimana manusia hanya bisa menerima, bersabar dan bertawakal kepada Allah tanpa bisa melakukan apa-apa
tangan ku bergerak pelan untuk menggenggam tangannya yang menggenggam tangan ku dengan lembut
mata ku perlahan terbuka dan menatap pada Louis yang sempat terkejut
aku bahkan harus mengencangkan pegangan ku semampu yang tangan ku bisa agar Louis tidak kembali kabur
"wa'alaikum salam, Hubby"
"Zu sudah tidak apa-apa, jangan khawatir"
aku menampakkan senyum semanis yang aku bisa, berharap senyum itu tidak terbentuk dengan kaku
setidaknya aku ingin membuatnya sedikit tenang dengan kondisi ku
"maaf"
Louis menunduk untuk melabuhkan kecupan hangat di telapak tangan ku yang ia genggam
"it's ok, Zu juga minta maaf sudah membuat semua orang khawatir"
aku mencoba mendekatkan tangan ku dengan susah payah untuk menyentuh pipinya
melihat hal itu, dengan penuh pengertian Louis mendekatkan wajahnya untuk ia letakkan di atas tangan ku
"Zu tau Hubby sudah mengusahakan yang terbaik, Thank you so much, tapi kita juga harus ingat jika Allah sudah membuat rencana terbaik itu kita, kadang kita cukup bersabar dan menerima, mungkin Allah sedang ingin menguji rumah tangga kita, agar kita memiliki ikatan yang semakin kuat"
"iya, mungkin ini cara Allah menghapus keinginan Zu untuk pergi"
dia tersenyum dengan tatapan jail yang mulai berkobar dengan semangat menghiasi binar matanya yang sejak tadi sayu
"kapan Zu mau pergi....?"
aku mencoba mengelak dengan berpura-pura lupa, jangan sampai ini menjadi topik empuk untuk Louis menjahili ku
"bukannya kemaren siang ada yang samapi nangis-nangis minta untuk di lepaskan.....?"
ya Allah kenapa aku baru tau jika Louis memiliki sifat se-jail ini....?
"ih, orang Zu nggak bilang gitu"
aku mencoba menyembunyikan wajah ku yang sudah memerah karena malu dengan menunduk dalam
"iya nggak ada yang bilang, sepertinya aku kemaren salah dengar"
Astagfirullah malah di lanjutin, udah dong kan Zu malu!
Louis memindahkan tangan kirinya untuk menggenggam tangan ku yang masih setia menyentuh pipinya
dia kembali menggenggam tangan kanan ku dengan tangan kirinya setelah kembali duduk dengan tegak, sedangkan tangan kalanya terulur untuk mengangkat dagu ku yang tertekuk
"kenapa belum tidur....?"
aku kembali tersenyum karena Louis dengan sangat pengertian mengganti topik pembicaraan
aku mencoba menggerakkan kedua tangan ku dengan susah payah, Louis yang melihatnya tanpa banyak bicara membantu ku meletakkan tangan kiri ku di atas punggung Elio, aku menghadapkan kedua tangan ku padanya dan meletakkan di atas tangannya
seolah aku sudah bersiap untuk menerima hukuman darinya
"bagaimana Zu bisa tidur kalau ada yang marah tadi...? maafkan Zu, boleh....?"
dengan tulus aku meminta maaf, agar tak lagi ada rasa yang mengganjal baik di hati ku ataupun di hatinya
aku cukup kaget saat Louis mengangkat tangan kanannya dan bersiap memukul tangan ku
dia tidak akan memukul ku kan.....?
dengan cepat aku memejamkan mata ku bersiap menerima tamparan kuat pada tangan ku yang terbuka
ya Allah semoga infusnya baik-baik saja, Zu tidak mau di tusuk jarum lagi kalau sampai infusnya bermasalah karena pukulan tangan Louis
aku mencoba mengintip karena tangan ku yang belum juga menerima apa-apa
"aaggrrr"
aku tanpa sengaja mengeluarkan teriakan tertahan saat Louis hendak menurunkan tangannya untuk memukul tangan ku
aku sudah mengira akan merasakan sakit dan perih di tangan ku, aku sudah bersiap dengan itu walau hati ku sedikit was-was, tidak, tidak sedikit, tapi sangat was-was
tak
aku membuka mata ku dan menatapnya dengan bingung saat tepukan pelan yang menggelitik hinggap di kedua telapak tangan ku
dan tindakan Louis setelahnya mampu menerbitkan senyum lebar di bibir ku tanpa bisa ku sembunyikan lagi
dia menanamkan kecupan lembut di atas kedua telapak tangan ku yang sebelumnya ia tepuk
" in sya Allah aku akan selalu ridho dalam setiap langkah yang Zu ambil, asalkan tidak melanggar syariat-nya Allah"
dia menetap ku dengan tatapan hangat yang mampu menghantarkan ketenangan dalam jiwa ku yang tadi sempat gelisah
aku yakin dengan ini aku bisa tidur dengan nyenyak, setelah mengamalkan hadis Rasulullah yang mengajarkan cara terampuh untuk meredam amarah suami yang tengah bergejolak
"ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath Thabrani)
"tapi jika Zu meminta seperti yang kemaren siang, ingatlah sampai Allah yang menetapkan takdir di antara kita aku akan tetap berusaha sekuat yang aku mampu untuk menjaga dan membimbing Zu in sya Allah, hingga nanti Allah pertemukan kita di surganya yang abadi"
tak dapat dipungkiri jika hati ku penuh dengan bunga yang bermekaran, rasa bahagia yang menyelubungi kami seakan menjadikan ingatan tentang kejadian mengerikan yang sempat kurasakan tadi memudar terselubung kebahagiaan yang Louis taburkan pada hati ku yang perih
"Zu janji itu yang terakhir kalinya, terimakasih sudah mau memaafkan Zu"