
...~**🦅**~...
...**...
...*...
antrian panjang yang akan membawa ku menuju kampung halaman semakin memendek, perasaan gelisah yang semula bergelayut dalam benak kini terkikis, tergantikan dzikir yang tak henti terlantun dalam diam.
tangis yang semula menghiasi pelupuk mata kini sudah menghilang terhapus sejuk angin malam yang berhembus
aku melirik pada Elio yang tertidur lelap dalam gendongan ku, merebahkan kepalanya dengan nyaman di pundak ku, riuh percakapan dengan bahasa Indonesia yang fasih melalui sambungan telefon tak sedikitpun mengganggu tidurnya
seolah Elio telah tenggelam dalam imajinasi pulau mimpi yang penuh dengan kejutan dan petualangan
melihat wajah damainya membuat ku sedikit tenang, bayi ini benar-benar tidak sedikitpun terusik dengan situasi yang menegangkan saat ini, masker mungil pemberian Louis tak sedikitpun mengganggu tidurnya
aku mengusap pelan pipi gembul Elio yang tertutup masker, mencoba tersenyum menguatkan hati yang sebelumnya kalut
lihatlah bayi ini, manusia mini yang mengajarkan bagaimana ikhlas dan tawakkal yang seharusnya. dalam pikirannya yang sederhana tak sedikitpun dia memikirkan apa yang akan terjadi beberapa detik ke depan. yang dia tau hanya satu, selama dia bersama sang ibu dia akan tenang
mengapa kita orang dewasa tidak bisa melakukan hal yang sama....? bukankah harusnya kita merasa tenang selama masih ada Allah, kita merasa aman karena tak ada sesuatupun yang akan terjadi pada kita kecuali atas izin Allah...?
“Ketahuilah sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakan mu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakan mu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering”
[HR, Ahmad 1/293, Tirmidzi 2516]
dan mengapa aku harus khawatir jika apapun yang Allah kehendaki atas ku adalah jalan yang terbaik untuk ku
“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu… .”
[Al-Baqarah 2 : 185]
bagai mantra yang sangat mujarab. ketenangan itu perlahan menyelimuti benak ku, otak ku yang semula buntu kini dapat berfikir jernih
langkah demi langkah yang terayun semakin terasa mantap tanpa sedikitpun tersirat keraguan di dalamnya
sekali lagi aku menoleh kebelakang saat pintu kaca itu tertutup aku melihat kilasan dan bayangan Louis berlarian di balik kaca besar yang menjadi penghalang kami, tapi sayangnya aku tidak bisa lagi berbalik. aku sudah memasuki pintu pemisah yang akan membawa langkah ku mendekati landasan burung besi yang telah siap membawa ku pulang
aku tersenyum dan menguatkan hati ku sebelum berpaling dan melangkah bersiap meninggalkan tempat ini
bagaimana dengan Elio....?
bayi gemoy ku masih terlelap dengan nyaman dan malah mengeratkan genggamannya pada leher ku, pintu sudah ruangan telah tertutup. aku tidak punya cukup waktu untuk berteriak memanggil Louis yang aku yakin saat ini tengah kelimpungan mencari keberadaan ku dan juga Elio
jika aku melihat Louis lebih awal, aku mungkin masih memiliki sedikit waktu untuk sekedar menyerahkan Elio atau mungkin aku bisa sekedar meminta Louis untuk ikut pulang bersama ku
tapi kembali lagi ku kuatkan hati ku, tidak ada gunanya berandai-andai, lagi pula waktu tidak bisa di mundurkan apalagi kembali di ulang
yang bisa ku lakukan hanya berdo'a kepada Allah dan menitipkan belahan jiwa ku yang lain agar selalu dalam lindungan Allah
...'ya Allah, ku titipkan tulang punggung yang telah kau anugrahkan kepada hamba, sebagai partner terbaik hamba dalam meniti setiap langkah dalam menuju ridho mu, jaga dia, jaga hati dan pandangannya, dan pertemukan kami kembali dalam keadaan yang lebih baik....
...hanya padamu meminta, hanya padamu hamba memohon ya Hafidz'...
...~**TBC**~...
...**...
...*...