
"ya sudah"
Louis membuang nafas berat seakan dia telah kalah dalam pertarungan sengit
"sudah, tidak ada salahnya mengala"
aku tersenyum geli melihat bagaimana Elio dengan berani menjulurkan lidahnya untuk mengejek Louis
setelahnya tangan Louis dengan penuh perhatian membetulkan posisi Elio dan juga Khimar ku yang tidak lagi simetris
...******...
...*...
...*...
...*...
kami melanjutkan untuk membaca Al-Qur'an sedikit lagi, sembari menunggu Leo datang
"Bismillahi ar-rahmani ar-rahim"
Louis memulai
"Bismillahi ar-rahmani ar-rahim"
dan aku mengikuti setelah nya
"him"
aku menunduk untuk memastikan jika baru saja mahluk mungil menggemaskan yang duduk di pangkuan ku juga mengikuti bacaan kamin
aku menatap Elio dengan tatapan tak percaya
"Allazii ja'ala lakumul arda mahdanw wa salaka lakum fiihaa subulanw wa anzala minas samaaa'i maaa'an fa akhrajnaa bihiii azwaajam min nabaatin shatta"
aku kembali menyimak untuk mengikuti Tartil bacaan Louis, sebelum kemudian kembali mengikuti bacaannya
"Allazii ja'ala lakumul arda mahdanw wa salaka lakum fiihaa subulanw wa anzala minas samaaa'i maaa'an fa akhrajnaa bihiii azwaajam min nabaatin shatta"
"taaaaaaaaa"
suara menggemaskan Elio membuat ku tak lagi dapat menahan tawa, bagaimana tidak, saat batita itu menirukan kepalanya ikut bergerak seakan memberi penekanan jika Elio juga ikut membaca, jangan lupakan gerakan telunjuknya yang juga ikut mengacung dan menunjuk pada Al-Qur'an yang di pegang Louis
"ya Allah gemesnya, hahaha"
aku menanamkan ciuman dengan menekan pipi tembemnya sedikit kuat
"Mommy no, nadi"
wajah Elio berubah serius dengan jari telunjuk yang di gerakkan ke kanan dan ke kiri, persisi seperti orang dewasa yang coba menegur anaknya yang bandel
"aku malah semakin gencar menciumnya dan membuatnya tertawa dan coba menyembunyikan wajahnya di balik Khimar ku
"stop Mommy, nadi, nadi, hahahahahha"
aku masih melancarkan aksiku dengan menciumi bagian mana saja yang mampu ku jangkau dari tubuh Elio yang bersembunyi di Bali Khimar
"ehem"
deheman dari Louis membuat ku mematung seketika, takut-takut aku melirik kearah Louis, dan saat melihat wajahnya yang datar seperti bisa aku melebarkan senyum ku dengan gerakan kaku yang menampakkan deretan gigi ku yang berjajar rapi
"maaf"
Elio yang menyadari gerakan ku yang tiba-tiba berhenti, dia mengintip dari balik Khimar
saat melihat wajah kaku Louis dia juga sama seperti ku menampakkan deretan gigi susunya yang berjejer rapi dengan ukuran mini yang menggemaskan
"sorry"
"Elio mau ngaji.....?"
Louis bertanya setelah beberapa kali menghembuskan nafas berat
aku makin salah tingkah di buatnya, pasalnya aku yang membuat Elio iku bergurau di saat kami tengah khusu' dalam membaca Al-Qur'an
"nadi"
dengan penuh antusias dan semangat Elio mengangguk-anggukan kepalanya yang kini sudah tidak lagi bersembunyi di balik Khimar ku
"Shadaqallahul-adzim"
"Shadaqallahul-adzim"
aku mengikuti Louis yang menutup bacaan Al-Qur'an kami, karena tidak mungkin juga di lanjutkan, akan sangat sulit berkonsentrasi jika sudah begini
"sit here"
dengan patuh Elio turus dari atas pangkuan ku dengan kesusahan saat hendak mengangkat kaki kirinya, aku dan Louis hanya mengawasi, kami mencoba menghargai usahanya untuk mandiri dalam setiap tumbuh kembangnya
Elio merangkak dan duduk di tempat yang sudah Louis sediakan untuknya, tapi saat Louis tengah mencari aplikasi untuk belajar huruf Hijaiyah dengan jail Elio menggeser bokong kecilnya dan duduk tepat di hadapan Louis dan menghadap pada ku
Louis tidak menegurnya tapi aku dapat melihat saat Louis menghembuskan nafas pasrah saat pertama kali berpaling dan menjumpai Elio sudah pindah posisi
aku tersenyum melihatnya, aku bukannya jahat, hanya merasa lucu saja saat Louis tengah mencoba bersabar menghadapi keusilan Elio
"here"
Louis meletakkan tablet yang sudah berisi aplikasi yang di butuhkan tepat di hadapan Elio, dan lagi batita itu malah mengangkatnya dan meletakkannya di atas perut ku, bahkan dia memajukan bokongnya untuk mendapatkan posisi yang pas
"munduran dikit"
entah keceplosan atau bagaimana, Louis malah mengatakan hal itu pada Elio yang tampak cuek dan pasrah saat Louis menariknya agak mundur
tapi tak berselang lama Elio kembali maju dengan tablet yang kembali di letakkan di atas perut ku
"sudah, nggak akan selesai kalau pada nggak mau ngalah"
aku coba menahan tangan Louis yang akan kembali menggeser tubuh Elio yang tengah fokus meneliti setiap huruf yang ada di sana
"ta"
menunjuk huruf ta dan membacanya
jujur aku cukup kaget saat anak itu mengenali dan tau bagaimana membaca huruf Hijaiyah yang ada di hadapannya
"what's this"
rasa penasaran itu membuat ku menunjuk satu huruf yang bentuknya sangat jauh berbeda dari "ta" dan menanyakannya pada Elio
"ma"
aku menatap pada Louis dengan pandangan penuh tanya
"aku pernah mengajarinya"
Louis mengatakan hal itu dengan sikap biasa saja, sedangkan aku semakin diliputi rasa penasaran dan kebingungan yang bukannya berkurang malah semakin menukik
"emang boleh....?"
aku sangat penasaran bagaimana Louis bisa dengan santai mengajari anak orang, walaupun Elio adalah keponakan kandungnya, tapi Mommy dan Daddy jelas menganut kepercayaan yang berbeda dengan Louis
"Luca tidak masalah dengan itu, dia membebaskan Elio mau mengikuti kepercayaan yang mana, bahkan dia menangis dan meronta saat Luca mengajaknya untuk beribadah, bahkan dia pernah kabur dari dalam mobil saat Luca membawanya paksa"
sungguh demi apapun aku semakin penasaran dengan kisah hidup Elio dan orang tuanya, juga dengan kisa hidup Louis bagaimana Louis. bisa memeluk Islam, atau mungkin tentang keIslaman Leo, walau aku sedikit menduga jika masuknya Leo kedalam Islam karena Leo mengenal Islam saat dia memperhatikan Louis, mungkin....?
mungkin aku akan tanyakan nanti, harus!
"kenapa gitu...?"
ya Allah wanita dengan rasa penasaran memang tidak terpisahkan, bagaikan gosip dan akun gosipnya, seiring sejalan
"percaya atau tidak Elio lebih dekat dengan ku daripada dengan orang tuanya, kamu boleh tanya itu pada Elisa"
satu lagi sifat laki-laki yang sering tidak cocok dengan kepribadian wanita
wanita yang banyak bicara dan suka bergosip, sedangkan laki-laki sedikit bicara dan malas untuk berbicara panjang lebar
walau tidak menutup kemungkinan jika diluar sana ada sejumlah kecil laki-laki yang berprilaku ke wanita-wanitaan
nah, kalau yang itu jelas salah jalur
bukannya sudah ada penelitian yang menyatakan jika wanita bisa mengucapkan kurang lebih sekitar 20.000 kata per hari, sementara lelaki sekitar 7.000 kata per hari
perbedaan yang sangat mencolok kan....?
tapi bukan berarti wanita itu cerewet, Allah memang menempatkan kemampuan itu khusus untuk wanita, untuk menjalankan tugas utamanya sebagai ibu dan juga pengurus rumah tangga
lah, kebayang kalau anaknya lagi aktif banget sampai membahayakan diri mereka misal, terus ibunya diam saja....?
itu sepertinya ada yang kurang beres juga, tapi kadang terlalu banyak bicara dari pada tindakan, apalagi berbicara hal yang tak penting, itu juga tidak bisa di benarkan
betul nggak....?
~TBC~
..."Allazii ja'ala lakumul arda mahdanw wa salaka lakum fiihaa subulanw wa anzala minas samaaa'i maaa'an fa akhrajnaa bihiii azwaajam min nabaatin shatta"...
...(Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan menjadikan jalan-jalan di atasnya bagimu, dan yang menurunkan air (hujan) dari langit." Kemudian Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan....
...~thaha : 53~...